
Jelang pagi hendak pergi mengundang siang, bisikan angin untuk tahtakan Sang Bayu, perisai kebahagiaan yang kalahkan sendu, memantapkan langkah menuju peraduan.
"Salsa, sini Ibu mau kasih kabar penting buat Kamu." ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan perasaan hati yang senang,
Salsa menghampiri Ibunya yang sedang duduk di kursi teras depan, dan seketika itu pula Salsa langsung duduk di samping Ibunya,
"Ada kabar penting apa, Bu?" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan ingin tahu,
"Kemarin Ibu pernah cerita tentang mimpi Ibu, bukan?" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa mengingatkannya,
Salsa berpikir sejenak dalam otaknya, dan tak lama Salsa pun ingat, segera bicara,
"Mimpi Ibu tentang Ayah, Bukan?" tanya Salsa lagi pada Ibunya Juariah,
"Benar itu," jawab Ibu Juariah pada Salsa mengiyakannya,
"Terus kenapa, Bu?" ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan rasa bingung,
"Kemarin Ibu ke pasar, tak di duga bertemu Sekretaris Ayahmu, namanya Ibu Rita, Dia bilang Bapak Sebastio sedang mencari keberadaan Kita, Dia juga bilang sering bercerita tentang Kita padanya, tabir mimpi Ibu akhirnya terjawab sudah." ucap Ibu Juariah pada Salsa Anaknya dengan hati senangnya,
"Yang benar, Betul Ibu Rita bicara seperti itu pada Ibu?" tanya Salsa pada Ibunya dengan sedikit merasa tak mungkin,
"Iya, masa Ibu ngomong Bohong." jawab Ibu Juariah pada Salsa menerangkan.
Mendengar apa yang di katakan Ibunya Juariah, membuat rasa emosi menjalar dalam diri Salsa, mengapa baru sekarang Ayahnya baru mengingatnya, padahal Salsa dulu sangat mendambakan Sosok Ayah dalam hidupnya, tatanan dan siksaan akan statusnya yang tak mempunyai Ayah membuatnya tersirat rasa jengkel dan marah dalam benaknya,
"Kok kayaknya Kamu gak merasa senang akan berita ini, Salsa?" ucap Ibu Juariah pada Salsa Anaknya dengan penasaran,
Salsa terdiam sejenak mendengar Ibunya bertanya padanya, kepalanya di geleng- gelengkan pada Ibunya seolah tak percaya,
"Salsa, kok Kamu malah diam." ucap Ibu Juariah lagi pada Salsa Anaknya,
"Masih adakah rasa bangga terhadap Ayah yang sedari Salsa kecil dilupakannya?" tanya Salsa pada Ibunya Juariah dengan perasaan kesal,
Ibu Juariah pun mulai mengerti kenapa Anaknya tidak ada respon akan kabar baik menurutnya tentang Ayahnya itu, dengan perasaan terharu di dalam hatinya Ibu Juariah pun berkata,
"Ibu mengerti akan rasa tidak senangmu itu pada Ayahmu, dan semua itu adalah salah Ibu, yang membuat Kamu merasakan keputus asaan dan penderitaan dalam hidupmu." ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan menitikkan air matanya,
"Ibu jangan menangis, Salsa tidak menyalahkan Ibu, hanya Salsa berpikir hidup ini tak adil bagi Salsa." jawab Salsa pada Ibu Juariah dengan perasaan sedih,
__ADS_1
"Ibu mengerti, Nak!" ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan segenap jiwa raganya,
"Dalam hidup Salsa yang tertoreh dalam hati hanya Ibu seorang, tiada sosok lain selain Ibu." jawab Salsa pada Ibunya dengan rasa sakit di hatinya,
Ibu Juariah langsung merangkul Anaknya Salsa, Ia merasakan pedih dan sakitnya Salsa lantaran prilakunya kala itu,
"Maafkan Ibu, Sungguh Ibu tak menyuruh Kamu untuk menerima kembali Ayahmu itu, Ibu hanya sekedar memberi pilihan hidup untukmu atas dasar mimpi- mimpi Ibu itu, semua terserah padamu, Nak!" ucap Ibu Juariah pada Salsa sambil tangannya membelai sayang rambut Anaknya.
"Yang Salsa kuatirkan setiap hari hanya Ibu seorang, bukan yang lain." jawab Salsa pada Ibunya sambil menangis haru.
Tak kuat dengan suasana kesedihan mereka, akhirnya Ibu Juariah pun tidak melanjutkan ceritanya tentang mimpi dan tuan Sebastio lagi.
Terbawa perasaan membuat hati siapapun terlunta dengan segenap jiwanya, keterpurukan mengilhami hati yang membawa sadar akan kenyataannya, tautan bahasa hati terumbar keluar, menyayat akan jiwa- jiwa yang melayang.
Setelah merasakan ucap dan derai kepahitan, mereka pun bergegas untuk masuk rumah, belum keduanya melangkah masuk, tiba- tiba terdengar suara Orang berunjuk Salam pada Mereka,
"Permisi, Assalamualaikum," ucapnya dengan nada suara yang tidak asing bagi Ibu Juariah, seketika itu pula Ibu Juariah menengok kebelakang dan,
Terlihat dua Orang pria di depan pagar rumahnya berdiri dengan senyumnya, satu Orang masih muda berpakaian safari layaknya sopir pribadi dan yang satunya lagi Orang yang sudah tidak asing baginya, Dialah mantan suaminya, Tuan Sebastio.
Ibu Juariah tertegun melihatnya, matanya seolah tak percaya membuat Ia bisu seribu bahasa, jantungnya berdetak keras, dan pikirannya lupa akan dirinya, lalu Salsa menjawab Salamnya,
"Waalaikum Salam," jawab Salsa pada Kedua Orang Pria itu,
"Sudah, biar Saya tinggalkan disini, Kamu tunggu Saja di mobil." ucap Tuan Sebastio pada Sopirnya memberikan perintah,
"Baik, Pak!" jawab Si Sopir pada Tuan Sebastio dengan bergegas berjalan menuju mobil.
Lalu dengan memberanikan diri, Tuan Sebastio langkahkan kakinya melangkah, walaupun sedikit ragu, Bapak Sebastio tetap memberanikan diri menghampiri mereka yang terdiam atas kedatangannya,
"Maafkan Aku, kedatanganku membuat kalian semua kaget." ucap Bapak Sebastio pada mereka berdua menjelaskan,
Dengan perlahan- lahan akhirnya Ibu Juariah mulai bisa menguasai dirinya lantaran kagetnya,
"Seperti petir yang menyambar tanpa permisi, Mas datang mengunjungi Kami." jawab Ibu Juariah pada Bapak Sebastio menyinggungnya,
Bapak Sebastio hanya mengangguk pada Mereka, lalu Ibu Juariah pun berkata pada Salsa,
"Salsa, itu Ayahmu." ucap Ibu Juariah pada Bapak Sebastio memberi tahu,
__ADS_1
Salsa hanya menganggukkan kepalanya, Ia terus dekat dengan Ibunya seolah takut,
"Ini Salsa, putri cantik yang terlupakan itu." ucap Bapak Sebastio pada Salsa pula,
"Maksud kedatangan Aku kemari bukan untuk membuka masalah lalu, Aku Kemari atas rasa sadarKu pada Anakku, Salsa." ucap Bapak Sebastio pada mereka berdua,
"Benar apa yang Aku dengar ini?" tanya Ibu Juariah pada Bapak Sebastio ingin memastikan,
"Ya, atas segala prilaku yang aku buat terhadap Kalian, Aku mohon maaf!" ucap Bapak Sebastio pada Mereka dengan perasaannya,
Setelah beberapa lama saling curiga, rasa canggung pun mulai berangsur hilang, setelah satu dua percakapan dan pertanyaan yang sempat di lontarkan,
"Silahkan duduk, Mas!" ucap Ibu Juariah pada Mantan Suaminya Sebastio mempersilahkan,
"Terima Kasih," jawab Bapak Sebastio pada mereka berdua dengan senang,
"Salsa, tolong Ambilkan air untuk Ayahmu!" ucap Ibu Juariah pada Salsa menyuruhnya,
"Sudah, gak usah repot- repot." jawab Bapak Sebastio pada Mereka lagi.
Lalu Salsa pun segera pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk Ayahnya, dan tak lama Iapun kembali,
"Silahkan diminum, Yah!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio menawarkan,
"Terima Kasih, Nak!" jawab Bapak Sebastio pada Salsa dengan menatap tajam dengan sayangnya.
Lalu Bapak Sebastio menjelaskan tentang maksud dan kedatangannya itu pada mereka berdua, Mereka merasa seolah itu mimpi yang tak mungkin, tapi wajah Salsa seolah kurang bersahabat pada Ayahnya itu, mungkin rasa jengkelnya yang sudah lama tak diakuinya.
"Sebetulnya, Mas hendak kemari Kami sudah tahu sebelumya." ucap Ibu Juariah pada Mantan Suaminya Sebastio menjelaskan,
"Tahu dari siapa?" tanya Bapak Sebastio pada Ibu Juariah ingin tahu,
"Dulu sempat Aku bermimpi Mas datang pada Kami dan memanggil- manggil Salsa, dan tanpa di duga saat ke pasar bertemu Ibu Rani Sekretaris Mas, Dia memberi tahu Jika Mas mencari Kami berdua." ucap Ibu Juariah pada Bapak Sebastio memberi tahu.
Bapak Sebastio menggeleng- gelengkan kepalanya karena merasa takjub atas cerita mantan Istrinya itu,
"Dulu karena emosi atas aibmu itu, rasa sadarku hilang, di otakku hanya amarah yang menguasai diriku, dengan tak sengaja Aku menemukan foto kalian dulu dalam laci, dan disaat itu Aku sadar Salsa adalah Anakku, yang seharusnya tidak ikut Aku usir tempo hari, Ia tidak bersalah apa- apa, Aku menangis setiap ingat Salsa, dan Kuputuskan untuk mencari kalian, dan sekarang Aku bisa melihatnya lagi." ucap Bapak Sebastio pada mereka berdua dengan segenap perasaan hatinya,
Salsa melihat itu hanya seolah drama badut belaka, sayatan kepahitannya masih Ia rasakan sampai kini, muka tak bersahabat pun terlihat jelas di mata Bapak Sebastio,
__ADS_1
"Kenapa kok tampangnya seolah tak senang Ayah datang?" tanya Bapak Sebastio pada Salsa dengan herannya,
Salsa hanya diam, tak bergeming sedikitpun, air matanya mulai menetes jatuh di pipinya, menanggapi kedatangan Ayahnya Tuan Sebastio.