Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Depak Keprihatinan


__ADS_3

Cinta seseorang membawanya dalam sangkar kehangatan, prilaku jiwa dalam nada kepiluan yang bertabuh kegelisahan, menjadi paduan hati yang berselimutkan luka, dengan dawai- dawai pilu yang datang silih berganti.


Perasaan hati yang sakit tiada terkira, jantung Papa Hanapi semakin sakit terasa, tangannya terus memegangi dadanya, laju mobilnya tertahan rasa sakitnya, yang memaksanya untuk berhenti,


"Sudah jangan dipaksakan untuk mengemudinya, berhenti dulu!" ucap Mama Suci pada Suaminya Hanapi dengan perasaan sedihnya,


Akhirnya Suaminya pun menurut, lalu Suaminya merebahkan tubuhnya pada kursi mobilnya, sambil berucap,


"Aduh sakit sekali, Bu!" ucap Papa Hanapi pada Istrinya Suci dengan menahan rasa sakitnya itu,


"Kita langsung ke Dokter!" jawab Mama Suci pada Suaminya Hanapi mengingatkannya,


Suaminya tak menjawab, hanya diam sambil terus saja memegangi dadanya yang terasa sakit,


"Ovi, Kamu yang mengemudi, pelan- pelan saja, Kita ke Dokter yang terdekat dulu!" ucap Mama Suci pada Anaknya Ovi menjelaskannya,


Bergegas Ovi turun, dan langsung mengemudikan mobilnya ke arah klinik Dokter Ridwan yang berada pas di pinggir jalan, dan mereka pun langsung memasuki pekarangan parkir Dokter Ridwan, tak lama merekapun segera masuk ke tempat prakteknya,


"Dengan gelisah Ovi menunggu di ruang tunggu, menunggu Orang Tuanya yang sedang di periksa,


"Mudah- mudahan Papa cepat sembuh," ucap hati Ovi pada dirinya sambil berdoa,


Selang beberapa lama, mereka pun akhirnya keluar juga, melihat Kedua Orang Tuanya keluar Ovi pun berlari menghampiri mereka,


"Bagaimana dengan Papa, Ma?" tanya Ovi pada Mamanya ingin tahu,


"Alhamdulillah tak seberapa parah jantungnya, Dokter memberikan obat anti sakitnya." jawab Mama Suci pada Anak perempuannya Ovi menjelaskan,


"Syukur Alhamdulillah, sudah nyetir pulang biar Ovi lagi, Papa istirahat dulu." ucap Ovi lagi pada kedua Orang Tuanya.


Begitulah hantaman dari hasil perbuatan Anaknya itu, ditambah dengan perasaan malunya yang gak ketulungan, benci menjadi andalan semua orang dalam tindaknya untuk membalas segala sakit hatinya.


Dirumahnya tampak Ibu Gayatri bersama Anaknya Yohana yang sekaligus menantunya, menunggu yang punya rumah datang, mereka datang untuk bertamu,


Setelah tiba di depan rumahnya, Betapa sangat kagetnya Papa Hanapi beserta Istrinya melihat Ibu Gayatri dan Yohana sedang menunggunya di depan rumahnya sambil bercakap dengan santainya,

__ADS_1


"Ibu itu mereka datang!" ucap Yohana pada Ibunya Gayatri sambil menengok ke arah mobil datang,


"Syukurlah, akhirnya Kita bisa bertemu dengan Mertuamu." jawab Ibu Gayatri pada Yohana menjelaskannya,


Terlihat mereka turun lalu menghampiri Mereka berdua,


"Maaf, sudah menunggu lama, kenapa tidak telepon dulu, supaya tidak menunggu lama." ucap Mama Suci pada Mereka berdua mengingatkannya,


"Ini sekalian lewat saja, akhirnya mampir!" jawab Ibu Gayatri pada Mereka memberi tahu,


Lalu mereka pun masuk kedalam rumah, Mama Suci sambil menggandeng tangan Ibu Gayatri berjalan menuju ruang tamu,


"Silahkan duduk!" ucap Mama Suci pada mereka berdua dengan ramahnya,


Tak lama berselang akhirnya mereka duduk bersama- sama dengan perasaan akrabnya,


"Sebentar! Ibu dan Yohana duduk dulu, sementara Mama mau membuatkan minum dulu buat Kamu dan Ibumu," ucap Mama Suci pada Menantunya Yohana dengan beregegas pergi ke dapur,


"Jangan repot- repot, Ma!" jawab Yohana pada Mertuanya Suci sambil duduk di kursi,


"Memang Ibu dan Yohana habis dari mana?" tanya Mama Suci pada Keduanya Ingin tahu,


"Tadi habis dari Bidan, untuk memeriksa Yohana, Alhamdulillah Yohana hamil masuk bulan kedua usia kandungannya," jawab Ibu Gayatri pada Mereka menjelaskan,


Mendengar informasi Yohana hamil sungguh di luar dugaannya, mereka kaget bukan kepalang mengetahui menantunya hamil, hingga Papa Hanapi yang tadinya diam pun, akhirnya ikut bicara juga,


"Apa Yohana hamil?" tanya Papa Hanapi pada mereka berdua dengan kagetnya,


"Betul, Pa!" jawab Yohana pada mereka dengan wajah berseri- seri dengan senangnya,


"Alhamdulillah akhirnya Kita akan mempunyai Cucu." ucap Mama Suci pada Ibu Gayatri dengan kegirangan,


Jauh dari lubuk hati mereka justru merasa gusar akan hamilnya Yohana, karena di belakangnya Darwis ingin menikah lagi, sungguh kasihan pada Yohana,


"Kalian semua tadi dari mana, seolah penting terlihat dari tampang kalian yang gelisah saat datang,"ucap Ibu Gayatri pada mereka ingin tahu,

__ADS_1


"Tadi dari rumah sanak Saudara, biasa urusan keluarga," ucap Papa Hanapi pada Ibu Gayatri sedikit berbohong,


"Ohh, kirain kemana gitu!" ucap Ibu Gayatri pada mereka sambil melihat Papa Hanapi yang sakit di dadanya,


"Ini saya mohon maaf, Saya tinggalkan dulu hendak rebahan, ini dada Saya sakit!" ucap Papa Hanapi pada mereka berdua memberi tahunya,


"Silahkan monggo!" jawab Ibu Gayatri pada Papa Hanapi dengan rasa perhatiannya.


Percakapan demi percakapan membuat Papa Hanapi ketakutan terbongkar, jika Istrinya membuka darimana tadi pada Ibu Gayatri dengan perasaan was- wasnya,


Karena desakan waktu yang terus begulir, hingga menjadi tak ingin berlama- lama berada disitu, Akhirnya Ibu Gayatri beserta Yohana pun pulang,


"Kami mohon mau pamit pulang dulu, takut kesorean pulangnya!" ucap Ibu Gayatri pada mereka dengan perasaan senangnya.


Tak lama setelah itu, akhirnya Ibu Gayatri dan Yohana pun segera bergegas pergi.


Sepulangnya mereka, Papa Hanapi dan Istrinya Suci bercakap- cakap tentang Anaknya,


"Kasihan Yohana, Ia tidak tahu bahwa Suaminya ada wanita lain di hatinya, malah tega- teganya Ia hendak menceraikan Yohana, Apa Anak Kita Darwis itu sudah gila dan tak punya perasaan?" tanya Papa Hanapi pada Istrinya Suci dengan rasa jengkel yang sudah meninggi,


"Gak tahulah, Ia ingin menikah sementara Istrinya Yohana sedang hamil, Bagaimana ini bila terjadi?" tanya Mama Suci lagi pada suaminya Hanapi dengan rasa ketakutannya,


"Yang Papa tak habis pikir, kok bisa- bisanya Anak Kita Darwis ingin menikah lagi dengan Anak yang tadinya di gagahi disaat tak berdaya itu, jadi betul mungkin Darwis sudah tak waras lagi." ucap Papa Hanapi dengan rasa kesal di hatinya,


"Mungkin Depresi dengan Cinta dan kesalahan yang dilakukannya, Mama merasa itu bukan Anak Kita," jawab Mama Suci pada Suaminya Hanapi dengan dugaan masalahnya.


Hidayah berjalan menyusuri angan sadar dengan damainya, serta kearifan mengbumbung tinggi di seantero jiwa, mengoyak perasaan angkuh Sang penerima Karmanya sendiri dengan seribu janji,


"Gak nyangka masalah Kita ini menjadi sulit, puing- puing kehancuran mulai terendus oleh jiwa- jiwa yang merasa sedih melihat pribadi yang menuntut hak dengan egonya." ucap Mama Suci pada Suaminya Hanapi dengan prasangkanya,


"Kasihan juga melihat Ibu Salsa yang terus di tekan oleh Anak Kita Darwis dengan tak pakai otak untuk niatnya itu," jawab Papa Hanapi pada Mama Suci dengan rasa geramnya,


"Apakah Dia bisa sadar kembali seperti dulu?" tanya Mama Suci pada Papa Hanapi dengan perasaan ragu dalam pikirannya.


Mereka dengan tetpaksa menerima semua imbas yang diberikan Darwis Anaknya, seolah menuai di hari tuanya, dengan perasaan terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2