Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Keras kepala


__ADS_3

Sepulang dari rumah Kakaknya Juariah, Anwar tidak langsung pulang kerumahnya, dengan perasaan sakit di hatinya, yang membuat Ia ingin mencurahkan segala perasaanya pada keponakannya Salsa,


Di perjalanan menuju komplek perumahan elite, dimana sekarang Salsa tinggal, dengan sangat cepat Anwar memacu sepeda motornya itu, dan tak lama Anwar pun tiba di rumah mewah milik Bapak Sebastio Mantan Kakak Iparnya itu,


Ting! Tong! Ting! Tong!, bunyi bel di pijit Anwar dari luar pagar rumah itu, dan tak lama pintu pagar terbuka, dan terlihat Bibi Ulpa sedang tersenyum menyambutnya, lalu bertanya pada Anwar,


"Maaf, mau cari siapa?" tanya Bibi Ulpa pada Anwar dengan rasa ingin tahunya itu,


Sambil mata Anwar menatap Bibi Ulpa dengan rasa penasarannya, lalu dengan sedikit menarik napasnya segera Anwar menjawabnya,


"Maaf, Salsanya ada, Bi?" tanya Anwar pada Bibi Ulpa dengan tersenyum kepadanya,


"Ini Siapa? nanti Saya bilang ke non Salsanya," jawab Bibi Ulpa pada Anwar dengan memberi tahunya,


"Bilang saja, Anwar datang!" ucap Anwar pada Bibi Ulpa dengan sedikit merada kesal karena menunggu,


"Sebentar, Bibi bilang dulu pada Non Salsa," jawab Bibi Ulpa pada Anwar menjelaskannya,


Segera Bibi Ulpa bergegas masuk lagi ke dalam rumah, untuk memberi tahu majikannya Salsa.


Dengan langkah cepat, Bibi Ulpa pergi ke ruang keluarga, disitu Salsa beserta Tuan Sebastio dan Ibu Widury sedang berkumpul bersama dengan riangnya, terdengar Ibu Widury bertanya,


"Tamunya Siapa, Bi?" tanya Ibu Widury pada Bibi Ulpa dengan rasa penasarannya itu,


"Anwar mencari Non Salsa katanya!" jawab Bibi Ulpa pada Ibu Widury menegaskan,


"Suruh masuk, Bi!" ucap Ibu Widury pada Bibi Ulpa menyuruhnya,


Dan tak lama Bibi Ulpa kembali lagi untuk menghampiri tamunya Anwar, untuk segera masuk ke dalam rumah,

__ADS_1


"Salsa, tumben Pamanmu itu mau kemari untuk mencarimu, mungkin ada keperluan kepadamu, Sa!" ucap Ayahnya Sebastio pada Salsa yang sedari tadi hanya diam terpaku,


"Gak tahu, Ayah!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan hati penasaran,


Dan tak beberapa lama Anwar pun datang, seraya berucap salam pada mereka semua,


"Assalamualaikum," ucap Anwar pada Mereka sambil tersenyum simpul di wajahnya itu,


"Waalaikum Salam," jawab mereka semua dengan kompaknya,


Lalu Sebastio bergegas menghampirinya, serta diikuti oleh Salsa dengan Ibu Widury di belakangnya,


"Silahkan duduk, War!" ucap Sebastio pada Anwar mempersilahkannya,


"Terima kasih, Mas!" jawab Anwar pada Sebastio dengan rasa senangnya.


Akhirnya Mereka duduk bersama- sama di ruang tamu yang tampak besar itu, dan terlihat mata Anwar menatap pernak- pernik hiasan dinding yang terpasang di dinding rumah mewah itu dengan Indahnya,


"Terima kasih, Bi!" ucap Anwar pada Bibi Ulpa dengan ramahnya,


"Kalau begitu, Bibi ke dapur dulu!" jawab Bibi Ulpa pada mereka semua sambil bergegas pergi dari situ menuju ke dapur.


"Tumben Paman kemari, Ada apa, Paman?" tanya Salsa pada Pamannya Anwar dengan penasaran,


Anwar diam sejenak tidak menjawabnya, dengan wajah ditekuknya karena merasa kecewa yang masih bercokol di dalam hatinya, lalu dengan sedikit merasa gundah, Ia pun bicara,


"Tadi Paman habis mampir ke rumah Ibumu, untuk mengetahui rencana pernikahannya itu, Paman pun merasa tidak enak seolah tidak di hargai, kok Paman tahunya dari orang lain, karena merasa kasihan Akhirnya Paman pun kesana, tak tahunya malah kena semprot Ibumu itu, karena Paman katanya hanya bikin susah masalahnya saja, lantas Paman diusirnya, Sa!" jawab Anwar pada Salsa dengan panjangnya Ia bicara,


Mendengar cerita dari Pamannya itu, Salsa merasa sangat sedih, terlihat dari raut wajahnya yang seolah tak terima Pamannya itu di rendahkan oleh Ibunya Juariah, lalu dengan perasaan tak enak di dirinya, lantas Salsa pun bertanya lagi padanya,

__ADS_1


"Sebegitu marahnya sampai Paman diusir Ibu, memang Paman ngomong apa pada Ibu?" Tanya Salsa pada Pamannya Anwar dengan ingin tahu,


Anwar sejenak diam tak menjawab, batinnya seolah sedang merasakan sakit yang baru saja Ia alami itu, lalu sambil menatap Sebastio seolah ingin memberi tahukannya, dengan merasa tak enak hati, akhirnya dengan terpaksa Anwar pun menjawabnya,


"Sebetulnya Yang Paman katakan itu bukan bermaksud menasehati, tapi hanya rasa perhatian seorang Adik pada Kakaknya itu!" begitu ucap Anwar pada Salsa dengan merasa kesal di dadanya,


Melihat mereka berdua saling merasa tak enak, tiba- tiba Sebastio pun bicara pada mereka ikut menimpali perbincangan Mereka itu,


"Dari sedikit ceritamu itu, mungkin Kakakmu salah paham, jadi tersulut emosinya!" ucap Sebastio pada mereka berdua,


"Betul apa yang dikatakan Ayah itu, atau mungkin menyinggung terlalu dalam, bisa jadi!" ucap Salsa pada Pamannya Anwar dengan hati bertanya- tanya,


Dengan menggeleng- gelengkan kepalanya seolah tak percaya Kakaknya telah mengusirnya, akhirnya Anwar pun bicara lagi pada mereka bertiga,


"Begini, Paman mendapatkan kabar pernikahan itu dari tetangga sebelah yang mengenal calon Suami Ibumu itu, Zaki. Akhirnya Paman tanya padanya tentang Zaki, ternyata masih muda untuk menjadi Suami dari Ibumu itu, dan lagi Ia belum bekerja, tepatnya mungkin belum bisa untuk mandiri, jika Ibumu menikah dengan lelaki seperti Zaki itu, Bagaimana nasib kedepannya, Coba?" ucap Anwar pada Salsa dengan memberi tahunya,


Salsa diam dengan perasaan sedih dihatinya, dan terlihat pula Sebastio dengan menahan rasa sedikit tak enaknya setelah mendengar cerita dari Anwar itu,


"Ibumu itu keras kepala, wajar seorang Adik memberi masukan, dan melarang jika Saudarinya itu akan kena masalah, Lalu salah Paman di mana, Coba?" tanya Anwar lagi pada keponakannya Salsa dengan merasa jengkel di hatinya itu,


kegamangan dan perasaan ketakutan atas kekhawatiran mereka itu wajar adanya, mengingat tidak biasanya melihat pengantin pria dengan begitu jauh umurnya, dan menjadi tabu di mata orang banyak.


"Itu juga ketakutan yang selalu ada dalam hati Salsa, dulu dengan Davi, Salsa sudah pernah bicara seperti itu pada Ibu, tapi apa dapatnya, hanya kekecewaan saja, Davi pun menggeleng- gelengkan kepalanya seolah tak masuk akal, katanya." ucap Salsa pada Anwar Pamannya seolah sedikit paham untuk menenangkannya,


"Hal ini semakin sulit untuk kita rubah, karena hidupnya kini seakan- akan hanya dalam impiannya, bukan dari realita, jadi wajar kalau kalian di marahi olehnya," ucap Ibu Widury pada mereka bertiga seolah memberikan masukan untuk di pahaminya,


"Iya, tapi kan itu hal yang sepele, masa sih tidak bisa untuk mengerti, nanti jika jadi menikah, lalu Zaki tidak bekerja, Apakah tidak akan menjadi beban baru bagi Dia?" tanya Anwar pada Mereka bertiga dengan rasa emosi yang sedikit meledak- ledak,


"Kalau begitu hanya satu cara yang paling aman, yakni dengan berdoa, gak ada lagi!" ucap Sebastio pada Anwar dengan sedikit tertawa di bibirnya itu,

__ADS_1


Melihat segala masalah berasal dari Ibunya Juariah, yang membuat perasaan Salsa seolah merasa bersalah karenanya, tapi rasa cinta dan sayang pada Ibunya itu, tak akan pernah bisa luntur dalam dirinya.


__ADS_2