
Seakan hari itu hari yang sangat menegangkan, bagi Ibu Widury, teriakan, sumpah serapah serta ucapan menakutkan dari mulut Salsa yang terlontar secara misterius itu, membuat dirinya merasa tegang dan ketakutan, pikirannya bercampur aduk dengan kekhawatiran pada Suaminya Sebastio, yang terus berputar- putar di dalam benaknya itu.
Di perjalanan kesana, dalam ketegangannya itu, Ia berusaha untuk berani, dan beribu pertanyaan seolah tak bisa Ia hilangkan, sehingga memicu hatinya untuk bertanya pada Salsa,
"Cepat ceritakan pada Ibu, ada apa sebenarnya, Salsa?" tanya Ibu Widury pada Salsa dengan terus memaksa ingin tahu,
Salsa terus diam sambil menatap kedepan dengan tegangnya, dan tiba- tiba Ia mengeluarkan Hp nya dari dalam kantong celananya, dan tak lama Ia pun menelpon seseorang,
Kring! Kring! Kring!, bunyi dering telpon sangat jelas terdengar, dan tak beberapa lama, terdengar sayup- sayup seseorang mengangkatnya nun jauh di sana,
"Halo, Ada apa Salsa?" tanya seseorang di ujung telpon menjawabnya,
"Paman, bisa cepat pergi ke rumah Arjuna sekarang! yang orang paling kaya di kampung dekat rumah Ibu dulu, cepat Paman, Salsa mohon!" jawab Salsa pada Pamannya Anwar dengan penuh harap dalam dirinya itu,
"Memang ada apa, Salsa?" tanya Pamannya Anwar pada Salsa dengan penasaran,
"Pokoknya sekarang Paman pergi dulu, Nanti Salsa ceritakan semua di sana, cepat Paman sebelum ada korban, Salsa bersama dengan Ibu Widury sedang menuju kesana!" ucap Salsa pada Pamannya Anwar dengan tergesa- gesa bicara,
"Baik sekarang juga Paman pergi kesana!" ucap Paman Anwar pada Salsa sambil menutup Hpnya itu,
Salsa dengan cepat langsung memasukan kembali kedalam saku celananya, sambil matanya terus menatap kedepan dengan terus mulutnya memberi arahan jalan pada sopirnya itu Kang Joni.
"Nanti di depan sana ada gang, Kang Joni belok!" ucap Salsa pada Kang Joni memberi tahu,
"Baik, Non Salsa!" jawab Sopirnya Kang Joni dengan rasa penasaran di hatinya itu,
Di kediaman Arjuna, terlihat mereka seakan- akan sedang merasakan kebahagiaan, karena Arjuna sudah memiliki kekasih, jadi ketakutan yang dulu menghimpitnya kini telah pergi menjauh, berganti dengan kegembiraan yang mereka rasakan seperti sekarang ini,
"Bagaimana hubunganmu itu dengan Yuli, Arjuna?" tanya Ibu Widia pada Anaknya Arjuna dengan rasa senangnya,
Mendengar pertanyaan Ibunya itu, wajah Arjuna memerah karena menahan malu pada Ibunya itu, dan Sambil melirik pada Ayahnya Wijaya, tak lama Arjuna pun menjawab,
__ADS_1
"Ya, begitulah! Sesuai yang Ibu lihat sekarang- sekarang ini!" jawab Arjuna pada Ibunya Widia dengan menahan malu,
"Ajak kemari sekali- sekali, Ayah ingin bertemu!" ucap Ayahnya Wijaya menimpali mereka berdua bicara,
Arjuna mengangguk pada Ayahnya itu, dan tak lama Ibu Widia pun bicara lagi pada Arjuna,
"Bagaimana dengan keluarganya, setuju Yuli dengan Kamu?" tanya Ibu Widia lagi pada Arjuna serasa ingin tahu yang dalam pada hubungan Anaknya itu,
Arjuna sejenak diam tak bicara, mungkin sedang berpikir untuk jawabannya itu, setelah itu Arjuna pun menjawabnya,
"Alhamdulillah semuanya mau menerima Arjuna, malah Arjuna semakin akrab dengan mereka, Bu!" jawab Arjuna pada Ibunya Widia dengan senyum senang di wajahnya itu,
"Wah, bagus itu, jadi bisa lebih cepat kamu melamarnya nanti, bukan begitu, Ayah?" tanya Ibu Widia pada Suaminya Wijaya ingin tahu,
"Betul yang Ibu ucapkan itu, Ayah sudah kepingin Arjuna cepat menikah, supaya cepat punya Cucu!" jawab Ayahnya Wijaya pada Anaknya Arjuna menegaskan,
Arjuna tersenyum senang mendengar Ayahnya itu bicara, dan terlihat Ibunya Widia menatapnya dengan rasa perhatiannya yang besar pada Anaknya itu.
Wijaya bingung siapa yang berani- beraninya membuat keonaran dan menantang dirinya itu, dengan tersulut rasa amarahnya itu, Ia pun dengan segera berjalan menuju ke sumber keonaran itu,
Lalu dengan sekonyong- konyong pembantunya Bibi Heni datang dengan kikuknya, dan ketakutannya terlihat dari wajahnya yang pucat itu, sambil memanggil Ibu Widia, lalu Bibi Heni pun akhirnya bicara,
"Ibu....Ibu Widia, di luar ada orang lagi ngamuk, dengan teriak- teriak sangat kasar memanggil Bapak, Bu!" ucap Bibi Heni pada Ibu Widia dengan rasa takutnya itu,
Mendengar itu, segera Ibu Widia bicara pada Suaminya Wijaya untuk memperingatkannya agar hati- hati padanya,
Lalu Arjuna pun seolah terpancing emosinya, dengan sumpah serapahnya sambil tangannya mengepal seolah menantang, lalu mereka berdua pun menghampiri sumber keonaran itu,
Di depan rumah tampak Sebastio sedang teriak- teriak memanggil Wijaya dengan amarah tinggi di kepalanya, pot bunga serta barang- barang di depannya Ia tendang dengan keras, hingga berantakan, sambil terus teriak menunggu Wijaya keluar,
"Hey Setan, keluar! Cepat Wijaya keluar kamu, sebelum rumahmu ini Aku hancurkan!" ucap Sebastio pada Wijaya dengan amarahnya yang tak terkontrol itu,
__ADS_1
Disaat Wijaya hendak teriak pada orang yang telah berani padanya, tiba- tiba Ia mengenal sosok yang mengamuk di depannya itu, Sebastio begitu dalam otaknya bicara,
Betapa kagetnya hati Wijaya, setelah tahu orang yang membuat onar itu adalah Sebastio yang punya perusahaannya, langsung pikirannya kacau, batinnya hancur dan rasa ketakutannya seolah mencengkramnya tanpa ampun, laksana tersambar petir di siang bolong yang meluluh lantahkan semuanya, hingga membuat dirinya seolah di ambang kematiannya,
Melihat Wijaya yang dicarinya itu muncul, dengan segera Sebastio berlari kearahnya, dan terus bicara padanya dengan emosi gilanya itu,
Bukk! Bikk! Bukk!, suara pukulan tangan Sebastio pada Wijaya yang mendarat telak di perutnya, yang membuat Wijaya terpental kebelakang sambil teriak kesakitan, Auw!!,
"Setan alas yang merendahkan Anak dan Istriku itu ternyata Kamu, dasar keparat!" ucap Sebastio pada Wijaya yang memegangi perutnya karena sakit,
Plakk! Plikk! Plukk!, suara tamparan Sebastio dengan dangat kuatnya pada Wijaya yang langsung tubuhnya tersungkur ke lantai,
"Aku sudah menganggapmu Saudaraku, tapi ternyata demi gengsi seenaknya merendahkan Anak gadisku itu, monyet!" ucap Sebastio pada Wijaya yang terus menganiayanya dengan pukulan dan tendangannya yang tersulut emosi itu, sehingga darah berceceran di lantai tak elak lagi,
segera Sebastio menjambak rambut Wijaya dan menyeretnya bagai kompeni, dan membenturkannya pada lantai yang membuat Wijaya seolah tak berdaya,
Dengan sekonyong- konyong Ibu Widia menghampirinya sambil berlari untuk memohon pada Sebastio itu,
"Aku mohon hentikan menyiksa suamiku itu, tolong Ampuni Kami!" ucap Ibu Widia pada Sebastio sambil bersimpuh di kaki Sebastio,
Melihat Ibu Widia bersimpuh di kakinya, tak ayal lagi, kaki sebastio menendangnya dengan keras, yang membuat Ibu Widia terpental sambil teriak kesakitan, auww!....sakit!!
Sorot mata Sebastio terus menatap Ibu Widia dengan garangnya,
"Dulu, Apakah kamu merasa kasihan pada Anakku itu saat Kamu hina, hey Wanita edan!" ucap makian Sebastio pada Ibu Widia dengan menunjuknya,
Lalu mata Sebastio berpaling dari Ibu Widia, kini Ia melihat sosok Arjuna yang dengan takutnya hingga Ia menunduk,
Lalu Ia menghampiri Arjuna dengan napas terengah- engah dengan emosi gilanya, dan tanpa tedeng aling- aling, hingga
Bak!! Bikk!! Bukk!!, Auw! Pluk Bukk!! Plakk! Uuhh!.....
__ADS_1