
Tak menyangka rasa penderitaan Anaknya sebegitu sakitnya, hampir di setiap relung kehidupannya tertutup kemasan derita yang mengharuskannya untuk menjerit, Sosoknya kini seolah tangguh terbiasa dengan kepahitan, yang mungkin semua orang tak bisa untuk bertahan.
Jeritan batin Ayahnya seolah hanya mengisi persendiannya, matanya terlihat buta di saat Mantan Istrinya bercerita bagaimana perjuangan hidup Anaknya untuk mencari kebahagiaannya, luluh Sang Pengusaha kaya dengan rasa penyesalannya, membuat mulutnya bisa tak berwarna oleh kata- kata hebatnya, kini Ia tersungkur tak berdaya oleh belati yang telah ditancapkannya kala lalu, terombang- ambing bagaikan rasa kehilangan akan sejatinya, Ia pun menangis keras dengan tanpa daya untuk bicara.
Begitu mungkin sekelumit perasaan Bapak Sebastio adanya, Ia tertunduk dengan rasa sedih yang dalam di depan mantan Istrinya Juariah,
"Sekarang belum terlambat untuk memperbaikinya, kedepan Kita lebih bijak lagi bila bertindak pada Salsa, Anak Kita." ucap Ibu Juariah pada Bapak Sebastio memberi masukan,
"Benar yang Kamu ucapkan itu, bantu Aku untuk mencoba memperbaiki diri terhadap Anakku Salsa." jawab Bapak Sebastio pada Ibu Juariah dengan menahan tangisnya,
Ibu Juariah mengangguk pada Bapak Sebastio tanda setuju.
Mereka terselimuti asap ketidak berdayaan, dilingkari kabut kesalahan yang mencengkramnya, sehingga mereka terlena dibuatnya, dan tanpa sadar Salsa berdiri diantara mereka dengan suara merdu ucapan salamnya,
"Assalamualaikum," ucap Salsa pada mereka berdua yang kaget atas kemunculan Salsa,
Dengan rasa menahan malu dengan perasaan sedihnya, mereka pun menjawab,
"Waalaikum Salam," jawab mereka pada Salsa dengan kompaknya,
Lalu tanpa disuruh Salsa mencium tangan keduanya sebagai adab prilaku pada Orang Tua,
"Kamu sudah pulang, sa? Gimana dapat gak?" tanya Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa ingin tahu,
"Belum, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan sedikit lesu,
"Tak apa- apa, biasa ujian pencari kerja begitu." ucap Bapak Sebastio pada Salsa menimpali,
"Ayah sudah lama disini?" tanya Salsa pada Ayahnya ingin tahu,
Mendengar Anaknya sudah mau bertanya kepadanya, sontak rasa Bapak Sebastio merasa sangat senang, dengan senyum bahagianya Ia pun menjawab,
"Sudah dari tadi mengobrol dengan Ibumu." jawab Bapak Sebastio pada Salsa dengan rasa senangnya,
"Andreas gimana, Bu?" tanya Salsa pada Ibunya Juariah ingin tahu,
__ADS_1
"Itu, baru saja tidur." jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa menjelaskan,
Dengan memberanikan diri, Bapak Sebastio pun bertanya pada Salsa,
"Apakah Kamu memang benar mau bekerja, Sa?" tanya Bapak Sebastio pada Salsa ingin tahu
Salsa tak menjawabnya, hanya menganggukkan kepalanya pada Bapak Sebastio,
"Kalau Kamu mau dan berkenan, Ayah bisa bantu Kamu, gimana?" tanya Bapak Sebastio pada Salsa menjelaskan,
"Maksudnya?" jawab Salsa pada Bapak Sebastio sambil melirik Ibunya,
"Begini, Kamu bisa bekerja pada perusahaan Ayah, dan Ayah bisa titipkan Kamu!" ucap Bapak Sebastio pada Salsa menerangkan,
Salsa berpikir keras atas kemurahan hati Ayahnya itu, pikirannya merasa tak enak hati dibuatnya,
"Gimana, Ya?" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan rasa ragu,
"Ayah tidak memaksa, itu kembali lagi pada Kamu, tapi kalau Kamu mau bilang ke Ayah kapan pun, nanti Ayah masukan Kamu bekerja di perusahaan Ayah sendiri." ucap Bapak Sebastio pada Salsa menjelaskan.
Mendengar Salsa berkelakar padanya, Bapak Sebastio pun bertambah gembira.
"Memang gak boleh Anaknya bekerja di perusahaan Ayahnya?" tanya Bapak Sebastio pada Salsa dengan tersenyum lebar,
"Gak mau ah, takut nanti Ayah jadi bahan olokan lantaran punya Anak kayak gini." jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan rendah dirinya,
"Siapa yang berani mengolok- olokan Kamu, bila ada bisa berhadapan dengan Ayahmu ini." ucap Bapak Sebastio pada Salsa menegaskan.
" Pokoknya untuk sekarang- sekarang ini Salsa menolak, ingin belajar mencari sendiri dulu, Ayah gak marah kan?" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio ingin tahu,
"Masa Ayah marah, itu Kamu yang menentukan." jawab Bapak Sebastio pada Anaknya Salsa dengan tersenyum.
Mereka bertiga bercengkrama dan berbincang dengan asyiknya, waktu bergerak maju dan hari pun beranjak menuju malam.
"Saking asyiknya mengobrol sampai lupa waktu, Ayah pamit dulu, nanti Ayah akan sering mampir kemari untukmu." ucap Bapak Sebastio pada Anaknya Salsa memberi tahu,
__ADS_1
"Nanti Kita ngobrol lagi, Mas hati- hati!" ucap Ibu Juariah pada mantan Suaminya Sebatio mengingatkan,
"Assalamualaikum," ucap Bapak Sebastio pada mereka berdua sambil melambaikan tangannya,
"Waalaikum Salam," jawab mereka pada Bapak Sebastio dengan perasaan senangnya.
Ibu Juariah merasa bertanya- tanya atas sikap Anaknya Salsa pada Ayahnya Sebastio, masih teringat dalam benaknya penolakan Salsa pada Ayahnya itu, tapi hari ini sungguh di luar dugaan, Salsa seolah tanpa beban bicara dan bergurau dengan Ayahnya, seolah tak bisa di mengerti kelakuannya itu, dengan perasaan bingung akan itu semua, Ibu Juariah pun bertanya pada Salsa,
"Tadi Ibu tak habis pikir, Kamu menerima Ayahmu tanpa beban, padahal kemarin Kamu menolak Ayahmu dengan keras, ada apa ini, tolong jelaskan pada Ibu?" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa merasa bingung sendiri,
Salsa tersenyum melihat kebingungan Ibunya itu, dengan perasaan ingin tertawa, akhirnya Salsa menjawabnya,
"Pasti Ibu bingung dengan sikap Salsa pada Ayah tadi, bukan begitu, Bu?" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan tersenyum di bibirnya,
Ibu Juariah hanya mengangguk pads Salsa tanpa menjawabnya,
"Kemarin Salsa hanya berpikir untuk diri sendiri, tanpa memikirkan masa depan Andreas nanti, Boleh Salsa tidak butuh Sosok Ayah, tapi Andreas perlu untuk mempermudah hidupnya dengan segala fasilitas yang Ayah punya sekarang." jawab Salsa pada Ibunya Juariah memberi tahu,
"Pintar juga Kamu tentang masalah ini, darimana Kamu dapat ide secanggih ini?" tanya Ibu Juariah pada Anaknya Salsa ingin segera tahu,
"Benar Ibu ingin tahu, tapi janji jangan marah setelah Salsa beri tahu?" jawab Salsa pada Ibunya Juariah menjelaskan,
"Iya, Ibu Janji!" ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan rasa penasarannya,
"Saran itu Salsa dapat dari Darwis, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan jujur bicara,
Dalam benak Ibu Juariah sungguh bijak nasihat Darwis pada Salsa, Ia bisa mengubah watak keras Salsa dengan mudah untuk mengubah pendiriannya,
"Dapat dari mana Dia mempunyai Nasihat sehebat itu?" tanya Ibu Juariah pada Anaknya Salsa penasaran,
Salsa tersenyum mendengar Ibunya memuji- muji Darwis dihadapannya, terbias ingatannya terlihat Darwis tersenyum dengan senangnya.
"Dia bilang, Kamu harus pegang erat tangan Ayahmu, Kamu tidak butuh Sosok Ayah, tapi Anakmu mungkin butuh untuk masa depannya kelak, begitu katanya." ucap Salsa lagi pada Ibunya Juariah pula,
"Pantas tadi Kamu berubah drastis, sampai Ibu bingung." jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan menggelengkan kepalanya,
__ADS_1
Itulah secarik ungkapan rasa peduli akan cinta, bila rasa sudah menasihatinya, maka yang keluar adalah seuntai kata bijak yang bisa menghancurkan gunung karang yang keras, hingga menyadarinya.