Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Tersadar


__ADS_3

Pagi itu,


Secercah harap yang yang tergenggam,


Sebait asa yang seakan terus berjalan,


Sebelenggu cinta yang kini tertuang, Menelantarkan jiwa terseret arus kekhilafan,


Begitu gambaran jiwa Darwis, yang batin dan jiwanya saling mengalahkan, terus berperang memenuhi nuansa hatinya, khilaf dan salah yang membenturkannya hingga terhantam sukma cinta yang membelah dengan rasanya,


Antara mau dan tidak mau dengan rasa cinta yang mengalahkan satu sama lain dalam dirinya.


Tampak pagi itu Darwis sedang duduk di kursi di depan kontrakannya, sambil sorot matanya memandang seolah ingin menetapkan pilhannya,


"Benar juga apa kata Ruslan, Aku harus mempertanggung jawabkan segalanya pada Yohana, Dia sudah Aku rusak hidupnya, walaupun rasa cinta padanya tidak ada." begitu pikir Darwis di hatinya,


"Lari kemana pun tidak akan menjamin hidupku ini tenang, selama rasa bersalah terus menggerogoti hidupku, dan lagi kedua orang tuaku pasti terkena imbasnya, lantaran kesalahan bodoh yang Aku buat." ucapnya dalam hati.


Tiba- tiba dari dalam kontrakan muncul Ruslan menghampiri Darwis yang sibuk melamun sedari tadi,


"Pagi begini masih aja bengong, mikirin apa lagi?" tanya Ruslan pada Darwis ingin tahu,


"Aku mikiran ucapanmu tempo hari, dan kupikir Kamu benar, Aku harus bertanggung jawab pada Yohana, dan lagi Orang Tuaku pasti terkena Imbas susahnya dari masalah bodoh yang Aku lakukan," jawab Darwis pada Ruslan sambil menunduk,


"Kamu terbiasa membiarkan dampak dari masalah- masalah yang Kamu lakukan itu pergi, melakukan seenaknya seolah itu biasa, lalu membuat masalah baru, begitu lagi. Kamu semena- mena pada Orang lain, mulai sekarang rubahlah, jadikan diri Kita ini terbiasa dengan rasa tanggung jawab dari apa yang telah kita lakukan, Jangan jadi seorang pecundang yang kabur dari masalah." ucap Ruslan pada Darwis dengan panjang lebar menasihatinya.


Darwis mengangguk- anggukan kepalanya, sambil menarik napas dengan panjangnya, lalu Ia pun berucap,


"Aku putuskan dengan tekad bulat, bahwa Aku harus menghadap Orang Tua Yohana, mau apa yang terjadi itu sudah resiko yang harus kutanggung, Aku gak mau menjadi pecundang terus," jawab Darwis pada Ruslan memberi tahu,


"Nah begitu, Kalau Salsa berbeda masalahnya, Ia yang meninggalkanmu disaat rasa cinta dan tanggung jawabmu mulai Kamu lakukan, Mau Aku dampingi menghadap Orang Tua Yohana?" tanya Ruslan pada Darwis menawarkan,


"Gak usah, Rus! Biar Aku sendiri yang berangkat, Kamu doakan saja, Cukup." jawab Darwis pada Ruslan dengan kukuh dalam hatinya,

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, Aku doakan semoga semuanya lancar." ucap Ruslan pada Darwis memberi semangat.


Akhirnya setelah berbincang- bincang, dan tak lama Darwis pun pergi untuk menemui Kedua Orang Tua Yohana untuk mempertanggung jawabkan kelakuan akan aibnya dulu.


Dalam perjalanan terbayang selalu wajah Yohana, sebenarnya Ia cantik rupawan, tapi karena hati Darwis sudah tertarik pada Salsa jadi Ia tidak memperhatikannya, lalu wajah Ibunya yang selalu hinggap dalam pikirannya, membuat Ia susah tidur bila sosok Ibu hadir dalam pikirannya, begitulah campur aduk segala masalah dalam diri Darwis.


Hampir setengah jam perjalanan akhirnya tiba Juga, setelah letihnya terasa dan rasa laparnya mulai datang, lalu Ia putuskan untuk mampir dulu ke Warteg kesukaannya, untuk mengisi perutnya yang keroncongan,


Sehabis perutnya terisi, Darwis lalu pergi menggunakan ojek meluncur menuju rumah Yohana, berdebar rasanya sesaat ojek memasuki komplek rumah Yohana, dan rasa takut tiba- tiba muncul, takut dan gemetar kini menjadi satu dalam dirinya, Darwis berhenti dulu dalam berjalannya Ia mengingat ucapan Ruslan, lalu Darwis berjalan kembali menuju rumah Bapak Maruli.


Tak beberapa lama akhirnya tiba juga, tampak sedan BMW hitam milik Pak Maruli sudah terparkir didepan rumahnya, di saat Ia hendak mencari letak belnya, tiba- tiba Surti pembantunya Pak Maruli menghampiri dan bertanya,


"Mau bertemu dengan siapa, Mas?" tanya Surti pada Darwis ingin tahu,


"Maaf, Bapak Maruli nya ada?" tanya Darwis pada Surti ingin tahu,


"Maaf, Mas nya siapa?" tanya Surti lagi pada Darwis memastikan


"Saya Darwis Anaknya Pak Hanapi." jawab Darwis pada Surti menjelaskan,


Di luar tampak rasa gemetar dan rasa takut terlihat dari wajahnya yang memutih, Kikuk dan gelisah menyerangnya dengan dasyat, hingga Darwis tak mau diam, tak lama Surti datang menghampiri,


"Masuk saja Mas Darwis, Bapak Maruli menunggu di ruang tamu," ucap Bibi Surti pada Darwis memberi tahu,


" Terima kasih, Bi!" jawab Darwis pada Bi Surti pambantunya Bapak Maruli sambil berjalan masuk,


Perasaan Darwis semakin menggebu- gebu saking takutnya, segera Ia usir sebisanya sambil terus mengikuti Surti melangkah menuju ruang tamu, lalu tampak Pak Maruli beserta Ibu Gayatri menunggunya dengan wajah garang,


"Ini Dia Orangnya, Pak!" ucap Surti sesampainya di hadapan Pak Maruli,


"Makasih, Bi!" ucap Ibu Gayatri pada Bibi Surti,


Lalu Darwis unjuk Salam pada mereka berdua,

__ADS_1


"Selamat pagi, Om, Tante!" ucap Darwis pada mereka sambil kepalanya mengangguk,


"Duduklah, Wis!" jawab Ibu Gayatri pada Darwis lagi,


Lalu Darwis segera duduk sambil kepalanya menunduk malu, dengan muka garangnya Pak Maruli berdiri dan langsung menghampiri Darwis,


"Gak Kusangka, berani juga Sang pecundang datang kemari!" ucap Pak Maruli pada Darwis dengan nada marahnya,


Darwis tak menjawab terus menunduk, hingga tampak amarah Bapak Maruli semakin tinggi, dan dengan menunjuk mukanya sambil berkata,


"Biadabnya Kamu telah menghancurkan Anakku, Yohana!, Tega sekali Kamu melakukan itu padanya, Berdiri!" bentak Pak Maruli pada Darwis dengan marahnya serta menyuruh Darwis untuk berdiri, dan tak ayal lagi, Plak! Plakk! Plakkk!, tamparan keras mendarat di pipi Darwis dengan kerasnya hingga wajah Darwis memerah jelas terlihat,


"Kamu seperti binatang liar, dasar pemabuk!" bentak Pak Maruli lagi pada Darwis yang terus diam,


Melihat Darwis yang tidak bergeming diam, Pak Maruli malah semakin bringas dibuatnya, lalu Ia berjalan menghampiri Darwis dan terus menjambak rambut Darwis, seraya berkata,


"Mau apa Kamu kemari, hey pecundang jalan?" tanya Pak Maruli pada Darwis sambil tangannya seolah ingin mencekik Darwis,


Tiba- tiba dari dalam Yohana teriak sambil berjalan menghampiri mereka, lalu dengan tergesa- gesa seraya berkata dengan keras,


"Sudah cukup Pak, Sudah!" ucap Yohana pada Pak Maruli sambil berlari menghampiri Bapaknya,


Pak Maruli menengok kearah Yohana, dan tangan Yohana segera menarik tangan Pak Maruli untuk melepaskan cekikan pada leher Darwis,


"Istighfar Pak, Istighfar!" ucap Yohana pada Pak Maruli mengingatkan,


Mendengar ucapan Yohana akhirnya Pak Maruli luluh dan menurut, tangannya Ia lepaskan dan segera duduk, sambil menghela napas panjangnya Pak Maruli bicara lagi,


"Keluargamu mencari keberadaan Kamu, tapi Kamu dengan berani menghadapku kemari sendiri, Apa maksudnya, ini?" tanya Pak Maruli pada Darwis penasaran sambil menggeleng- gelengkan kepalanya,


Darwis terus diam seribu bahasa, terlihat di sampingnya Yohana duduk menemani sambil berjaga- jaga,


Dengan berat hati, dan dengan diiringi rasa takut dan gemetar dalam dirinya, dengan segera Darwis pun memberanikan diri untuk bicara,

__ADS_1


"Saya kemari bermaksud untuk meminta maaf atas kelakuan bejat Saya terhadap Yohana, sengaja Saya sendiri kemari agar tidak menambah beban kedua Orang Tua Saya, Saya siap untuk hukuman apapun yang akan diberikan pada Saya, Saya minta Maaf dan menyesal Yohana, Dan Saya kemari untuk bertanggung jawab." ucap Darwis sambil bersimpuh pada Yohana hingga tak terasa Ia menangis,


Melihat Darwis menangis dengan pilu, menyesali apa yang telah di perbuatnya membuat seisi rumah itu ikut terharu, citra hati yang terdalam terlontar dari barisan kalbu yang menggetarkan, hingga membuat semua jiwa terpana.


__ADS_2