
Melihat Sosok Ibu Juariah dengan tegarnya bicara, perasaan Salsa seolah tersayat pisau sembilu di dalam hatinya, ternyata Ibunya memikirkan tentang kesenangan dan kebahagiaan Anaknya dan Cucu kesayangannya Andreas kelak, dan untuk masa depannya, dengan ketidak perdulian dirinya sendiri yang sudah tak punya siapa- siapa lagi,
Dengan menahan tangis di matanya, Salsa berlari dan langsung bersimpuh di kaki Ibunya itu, dengan merasa sedih dan pilu dihatinya, Salsa pun bicara dengan sedihnya pada Ibunya itu,
"Aku tersadar akan ketegaran akan Ibuku yang sangat kusayangi, dan Aku pun merasa bangga pada Ibu yang tidak memikirkan tentang kesendiriannya itu, sungguh Aku malu melihat Ibuku sendiri berjuang mengantarkan Aku seperti sekarang ini, merelakan buah cinta dan sebagian dari hidupnya itu demi kebahagiaan dan kesenangan untuk Orang yang dicintainya, Maafkan Salsa, atas semua ini!" ucap Salsa pada Ibu Juariah dengan sedihnya dari lubuk hati yang paling dalam,
Mendengar Salsa menangis sambil berkata atas bangganya pada Ibunya, membuat semua orang yang menyaksikannya seolah luluh terpesona dengan perasaan harunya, detik- detik mengharukan itu seolah membawa mereka kenirwana dengan perasaan sedih dalam doanya, dengan diiringi para pengiring kesejukan dalam alam kejujuran yang nyata.
Sambil memegang pundak Salsa yang bersimpuh di kakinya, Ibu Juariah langsung membangunkan putrinya itu dengan linangan air matanya, dan dengan membelai mesra Salsa dengan cintanya, yang membuat orang yang menyaksikannya bergetar hatinya, seolah siraman kehangatan cinta mereka itu serasa membungkam keegoisannya untuk pergi dari singgasana kemunafikan pada mereka.
"Bangunlah Anakku, tak akan kubiarkan Anakku untuk bersimpuh di kakiku yang kotor oleh penghianatan itu, Anakku tak pantas melakukan itu, karena penderitaan yang Kamu punya sampai detik ini adalah Karena Aku, hempaskan semua kegelisahan dan segala keraguan itu Anakku, raihlah kebahagiaan bersama Anakmu Andreas dalam lingkup keluarga barumu, olesi mereka dengan tabir cintamu yang telah menyala lama tanpa kau duga, bisikan kepada mereka arti dari semua rasa luka dan pedih atas segala penderitaanmu itu dengan senyum manismu itu, percayalah pada Ibumu yang baru, bukakan hatimu untuknya, dan menurutlah kepadanya, pasti esokmu akan mendapatkan kebahagiaan itu, percayalah!" ucap Ibu Juariah dengan panjang lebar pada Salsa sambil menangis dan mendekapnya dengan hangatnya seorang Ibu pada Anaknya itu.
Tanpa disadari semua yang melihat adegan itu ikut terbawa sedih karenanya, torehan kasih sayang dari Ibu dan Anak itu sungguh di luar dugaan kedekatannya, tapi semua maksud dan tujuan terbentur waktu dan suasana, hingga tak disadarinya malam pun beranjak mendekati fajar, seolah mengharuskan semua drama laras kejujuran itu usai.
"Ibu Juariah, sungguh hatimu mulia sekali, Aku sangat berterima kasih untuk semua kejujuran dan kata hatimu itu, untukku kuambil sebagai tanda kenangan akan sebuah pengorbanan cinta seorang Ibu pada Anaknya itu, untuk menjadikan kita dalam jalan ketulusan dihati." ucap Ibu Widury pada Ibu Juariah sambil berangkulan,
"Kamu adalah Ibu dan penasihat Suamimu, tak mungkin sosok seperti Aku ini bisa menyaingi kehebatan dan keiklasan dirimu itu, Mohon titip Anak dan Cucuku, jadikan Dia faktor penghebat untukmu dan untuk Suamimu kelak, dan Maafkan Aku yang tak berkelas ini bicara padamu dengan sedikit menyuruh, tapi semua ini untuk kebaikan bersama, saya pamit dulu semuanya!" jawab Ibu Juariah pada Mereka sambil terus berjalan pergi untuk pulang di ikuti olah Zaki di belakangnya,
"Ju, terima kasih untuk semua jiwa besarmu itu!" ucap Sebastio pada Ibu Juariah sambil melambaikan tangan ke arahnya,
Ibu Juariah pun hanya bisa mengangguk pada Sebastio dan langsung pergi dengan motor yang meluncur dengan cepatnya, karena hari sudah menjelang pagi.
__ADS_1
Besoknya Salsa sudah terbangun dengan semangat baru dalam dirinya, dengan menggendong Anaknya Andreas, Ia bersenandung dengan sangat merdunya, hingga Ibu Widury turun dari tangga terus menghampiri dirinya yang sibuk dengan sapunya itu,
"Dari mana Kamu bisa bersenandung dengan merdu seperti itu?" tanya Ibu Widury pada Salsa seolah ingin tahu,
"Ibu yang mengajari Salsa sewaktu Andreas masih bayi," jawab Salsa pada Ibu Widury dengan sejujurnya,
"Enak nadanya menyentuh ke hati!" jawab Ibu Widury pada Salsa dengan rasa penasarannya itu,
"Ibu mau Salsa ajarin?" tanya Salsa pada Ibu Widury dengan sepenuh hatinya itu,
"Iya, nanti Ibu ajarin bersenandung itu supaya Ibu bisa seperti Kamu merdunya!" jawab Ibu Widury pada Salsa seolah merasa senang pagi itu,
"Ayah belum bangun, Bu?" tanya Salsa pula pada Ibu Widury ingin tahu,
Sekonyong- konyong dari belakang mereka, Ayah Sebastio menjawab, karena Ia tahu mereka sedang membicarakan dirinya,
"Enak saja masih tidur, sudah dari tadi Ayah bangun, tapi gak langsung turun, nyantai dulu diatas sambil ngopi buatan Si Bibi!" jawab Sebastio pada mereka berdua dengan tersenyum,
Mendengar Ayah Sebastio bicara sambil ngedumel, membuat mereka tertawa seakan lucu melihat Ayahnya itu,
"Kamu gak masuk kerja, Sa?" tanya Ayah Sebastio pada Anaknya Salsa ingin tahu,
__ADS_1
"Ayah ini bagaimana, kan ini hari libur, Ayah!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan senyum di wajahnya itu,
"Iya Ayah lupa hari ini hari libur, Sa!" jawab Ayahnya pada Salsa sedikit bingung dengan penuh rasa riang dalam hatinya itu,
Dan tak lama Salsa pun berpikir sejenak, setelah itu, lalu Ia pun bicara kembali pada Ayahnya itu,
"Ayah hari ini kan hari libur bersama, bagaimana kalau hari ini Kita gunakan untuk jalan- jalan ke pantai, mumpung liburnya bareng, kapan lagi coba? Sekalian merayakan kebersamaan Kita, Bagaimana?" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan penuh harap dalam dirinya,
"Ibu setuju, Kita ke pantai liburan, lagian Ibu sudah lama sekali tidak bermain pasir di pantai!" ucap Ibu Widury pada Suaminya Sebastio dengan menimpali Salsa bicara,
Sambil berpikir sejenak, dan setelah ditimang- timang dengan perasaannya, Akhirnya Ayah Sebastio pun mengangguk setuju,
"Ok, Kita siap- siap untuk liburan hari ini ke pantai!" ucap Ayahnya Sebastio pada mereka berdua dengan nada gembira di hatinya,
"Hore, akhirnya Kita bisa berlibur bersama ke pantai!" jawab mereka berdua dengan kompaknya dengan hati riangnya,
"Sekalian Si Bibi Kita ajak juga liburan, sekali- sekali jangan di rumah terus!" jawab Ayahnya Sebastio pada Mereka berdua mengingatkannya,
Mereka berdua pun mengangguk, Akhirnya Mereka merasa kegirangan dibuatnya, lalu Salsa dengan segera memberitahukan Bibi Ulpa untuk ikut bersamanya pergi berlibur bersama ke tepi pantai yang indah.
Setelah semuanya siap, mereka pun akhirnya pergi juga berlibur bersama- sama, terlihat semua menikmatinya dengan perasaan riang dan senangnya.
__ADS_1
Diperjalanan mereka berbincang ringan dengan hangatnya, cerita dan tertawa mengiringi di sela perbincangannya itu, hingga tak terasa waktu pun berlalu, dan tak beberapa lama, Akhirnya mereka pun tiba juga di pantai luas nan indah itu, mereka sangat menikmati pesona indah pantai yang tak bisa di lukiskan dengan kata- kata.
Kebersamaan menautkan Cinta yang nyata, dan menjauhkan dari segala rasa kecurigaan atas besarnya pengorbanan untuk dirasakan.