
Hari itu tampak Darwis sedang merasa gundah gulana, Ia memikirkan sosok Ibunya yang sedang di landa puber kedua, setelah ditinggalkan Suaminya itu Papa Hanapi, pikiran kusutnya seakan- akan selalu menghampirinya, berat rasanya melihat Ibunya dengan Suami barunya itu Anton, bayangan masa lalunya denfan Papanya itu seolah membebani dirinya dengan rasa tak terima dalam hatinya itu.
Sekonyong- konyong Adiknya Ovi datang dengan kabar yang membuat perasaannya semakin panas karenanya,
"Kak...Kak Darwis, tadi Ovi ketemu Mama dengan Om Anton di mal, mereka sangat mesra sekali, Ovi jadi malu melihatnya, lantas Ovi pun sembunyi di balik toko!" ucap Adiknya Ovi pada Darwis dengan antusiasnya bicara,
Senyum yang dipaksakan pada Adiknya itu Ovi tersungging di bibirnya, berat melihat Adiknya merasa malu pada Ibunya itu, dan dengan rasa resahnya itu, lantas Darwis pun bicara pada Adiknya itu,
"Kakak juga bingung, harus bagaimana?" tanya Darwis pada Adiknya itu Ovi dengan rasa gelisahnya itu,
Melihat Kakaknya bingung, Ovi pun merasa sangat resah padanya, mungkin masalah puber Mamanya ini yang sedang dipikirkan oleh Kakaknya itu Darwis,
"Benar sekali, Kak! Jika kita bicara keberatan pada Mama, pastilah Mama akan marah pada Kita, tapi jika di biarkan, nanti keterusan, Ovi belum siap punya Ayah baru, Kak!" ucap Adiknya Ovi pada Darwis dengan resahnya itu,
Sekonyong- konyong dari dalam rumah keluar Yohana, dengan langsung menimpali mereka bicara,
"Mau gak mau, dan pahit gak pahit kalian harus membicarakan pada Mama, supaya Mama tahu keinginan kalian sebagai Anak- anaknya, nanti toh Mama sendiri yang akan bicara tentang sebabnya kenapa Ia akan menikah lagi, dan jadi kalian nanti tahu semuanya!" ucap Yohana pada mereka berdua sambil tersenyum,
Darwis melirik Istrinya itu, sambil menyuruhnya untuk duduk disampingnya, dan tak lama terdengar mulut Ovi bicara,
"Benar juga ucapan Kak Yohana, kita belum tahu sebab kenapa Ibu ingin kawin lagi, yang kita tahu hanya keinginan dan kegelisahan kita saja, dengan tidak mau menerima Sosok Ayah baru!" ucap Ovi pada mereka dengan gamblangnya bicara pada mereka itu,
__ADS_1
Lalu pikiran Darwis seolah berputar untuk mencari jawaban atas permasalahan Mamanya itu, dengan gusarnya Ia pun bicara,
"Kakak setuju dengan Apa yang diucapkan Kakak Iparmu itu Yohana, jadi mungkin nanti kita tidak bisa menilai dengan satu pihak saja!" ucap Darwis pada Ovi dengan menjelaskannya,
"Dan lagi kita bisa lebih bijak untuk menilai masalah ini nantinya!" ucap Yohana pada Mereka dengan merasa tersentuh mendengarnya,
Semua menjadi diam, mungkin tak ada lagi yang akan diucapkan untuk masalah ini, mereka hanya saling pandang, seakan- akan niat pernikahan Mamanya itu, menjadi momok kekhawatiran bagi mereka itu.
Dan jauh dari lubuk hati Mama Suci, perasaan kegalauan kedua Anaknya itu sudah terasa, hingga Ia merasa bersalah pada mereka, tapi niatnya untuk menghapus kesedihan pada dirinya itu, hingga niat untuk menikah cepat belum ada di dalam otaknya itu,
Hari itu tampak kedua sejoli itu sedang nikmatnya menikmati sajian kopi nikmat di Cafe Jenggot di pertigaan pasar baru itu, tawa dan canda seolah mereka sedang menikmati kebahagiaan dalam hidupnya kini, celoteh mesra hingga kata syahdu, mengiringi hari itu dengan cinta mereka,
Mendengar Kekasihnya itu Anton bertanya padanya soal persetujuan Anak- anaknya itu, dengan perasaan gelisahnya itu, lantas Suci pun menjawabnya,
"Dari sorot dan cara mereka bicara, kelihatannya mereka seakan masih berat untuk kita menikah, mungkin secara resmi sih Aku belum bicara pada mereka itu, justru sebaiknya kita bicara pada mereka bersama- sama, supaya nanti mereka jelas, gak salah menilai!" jawab Suci pada kekasihnya itu Anton dengan matanya seolah menatap sayang padanya,
Sejenak Anton terdiam mendengarnya itu, dan jauh dalam pikirannya, terbersit untuk mengabarkan untuk mewujudkan keinginannya itu, ingin segera menikahi Suci, lalu dengan senyum yang terhimpit kekukuhan hatinya, lantas Anton pun bicara lagi pada kekasihnya lagi Suci,
"Itu Aku setuju, sekalian Aku ingin mengungkapkan tentang isi hatiku dan juga. Niatku pada mereka, agar mereka tahu!" ucap Anton pada Mama Suci dengan rasa senangnya itu,
Perasaan Mama Suci sangat gembira mendengar kekasihnya itu untuk mau bicara pada kedua Anaknya tersebut, rasa senang dan gembiranya terlihat dari raut wajahnya yang berseri- seri, hingga senyum manisnya itu menjadi senjata pamungkas untuk cerita bahagia pada kekasihnya itu Anton,
__ADS_1
"Sungguh Aku merasa sangat bahagia mendengar Kamu bicara seperti itu, Sayang!" jawab Suci pada Anton dengan mencium jemari kekasihnya itu Anton,
"Semua akan kulakukan demi cinta masa lalu kita yang tertunda itu, Sayang!" ucap Anton pada kekasihnya itu Suci dengan balas mencium jarinya itu dengan rasa gembiranya,
Perasaan dua sejoli itu, mengisyaratkan cinta untuk segera mendekapnya, pijaran hangat suka dan ketidak berdayaan untuk menunggu, yang membuat mereka sedikit menahan niat itu, untuk segera Ia raih bersama, dengan biduk rumah tangga yang sesuai dengan irama akan cintanya itu.
"Mari kita songsong cerita cinta dan kasih kita seutuhnya, untuk merajut kembali, benang hilang yang telah usang, yang dulu meninggalkan kita dengan rentang waktu lama untuk bersama, nikahi Aku Sayangku!" ucap cinta Suci pada kekasihnya itu Anton dengan barisan bait cinta yang menggelora,
Lalu dengan mendekap dan mencium bibir indah Kekasihnya itu, lantas Anton pun menjawabnya pada Suci kekasihnya itu,
"Tak akan aku biarkan suasana hati kita, menunggu lama untuk cintaku, semua akan kupertaruhkan dengan segenap jiwa ragaku ini, bisik orang tak akan kubuat menjadi besar berbunyi, dan akan kuhantam semua itu, dengan niat dan angan atas rasa cintaku ini, Sayang!" jawab Anton pada Mama Suci kekasihnya itu,
Hati Mama Suci bergetar mendengar ucapan puitis Sang kekasihnya itu, jeruji ketakutan dan rasa kekhawatiran seolah tenggelam bersama semua angan dan citanya itu, hingga Ia tak berdaya merasakan serangan hasrat Kekasihnya itu Anton dalam cumbuan pada bibirnya itu, dan dengan mendesah mesra Suci pun bicara pada kekasihnya itu Anton,
"Aku akan selalu menggapai nikmat dan Asaku hanya denganmu seorang, dan Aku hanya ingin bukti kesetiaanmu padaku, agar kelak Anak- anakku tak akan merasa menyesal dan malu mendapat Ayah baru untuk mereka itu!" ucap Suci pada Anton kekasihnya itu dengan memeluknya erat,
Mendengar Kekasihnya itu butuh bukti untuk cintanya itu, lantas dengan sorot mata yang tajam pada kekasihnya itu, dan dalam hati yang temaram harap yang belum terselesaikan, lantas Anton pun menjawabnya,
"Aku tak akan membuktikan bukti apapun padamu, kecuali cinta yang tulus dan besarnya ketulusan dan kesetiaanku padamu, hanya itu yang nanti kamu rasakan hidup bersamaku, dan rasa hormatku pada Anak- anakmu itu, jika Aku nanti sudah menjadi Ayah barunya itu!" jawab Anton pada kekasihnya Suci dengan segenap jiwa raganya dari mulutnya yang terlontar.
Sungguh menyebalkan jadinya...he..he..he.
__ADS_1