Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Dua rasa bertemu


__ADS_3

Celoteh antara dua mahluk Tuhan bertemu, mewakilkan satu perasaan sendu nan indah, dari belah masalah yang terpampang, rasa Egois dan rasa cinta saling mengalahkan,


Mungkin itu yang bisa Kita gambar dari sekelumit cerita cinta mereka yang terasa tabu, keraguan menjadi gamang dalam dirinya, sehingga cinta tidak timbul keluar terlihat oleh Sang Empunya.


"Sakit, gak?" tanya Salsa pada Darwis saat membersihkan sedikit noda darah yang menempel di pipinya,


"Sedikit, sebentar juga hilang." jawab Darwis pada Salsa sambil memegang tangannya,


"Sudah berapa lama Kamu melahirkan?" tanya Darwis pada Salsa ingin tahu,


"Pas bulan besok Anakku Setahun." jawab Salsa pada Darwis lagi,


"Bagaimana kabar Ibumu, Sa?" tanya Darwis lagi pada Salsa pula,


"Alhamdulillah baik," jawab Salsa pada Darwis menerangkan.


Melihat mereka berdua saling mencurahkan isi hatinya, Anwar dan Istrinya pun merasa tak enak mereka segera meninggalkanya kedalam,


"Kami masuk dulu, Kalian berdua teruskan ngobrolnya, biar hari ini rasa kangen yang Kalian pendam dulu, Bisa Kalian rasakan satu sama lain. Wis, Aku dan Istriku masuk ke dalam dulu!" ucap Anwar pada Darwis memberi tahu,


"Aku jadi gak enak ini, tapi malah senang, sih!" jawab Darwis pada Anwar sedikit nyeleneh mencairkan suasana,


"Yaudah, Kalian ngobrollah biar puas." ucap Novi pada mereka berdua.


"Makasih, Bibi!" jawab Salsa pada Bibinya Novi dengan senang,


Akhirnya mereka masuk meninggalkan Darwis dan Salsa berdua di ruang tamu.


Curamnya jurang memacu mereka untuk mendalami, hamparan bunga yang layu mereka paksakan untuk tumbuh, hingga melupakan apa yang mereka punya sekarang, dan membebani hatinya dengan perasaan hati masa lalu,


"Kamu jahat, Salsa! Kamu meninggalkan Aku di saat rasa cintaku tumbuh dalam diriku, sungguh Kamu begitu kejam." ucap Darwis pada Salsa merasa terabaikan perasaannya,


"Saat itu Kamu pun tahu Aku merasa kalut, berontak pun tak bisa menjauhkan Aku dari masalah yang menderaku, dan Kaupun sadar Aku ini hanya wanita yang bila batinnya sakit akan cenderung lama untuk sembuhnya, dan lagi Aku memikirkan dua hal, yakni Anak di rahimku, dan cinta yang baru bersemi, itu tidak mudah, Wis!" jawab Salsa pada Darwis dengan mengingat masa lalunya,


"Lalu kenapa Kamu melupakan Aku?" tanya Darwis pada Salsa dengan antusiasnya,


"Untuk pancaran matamu, tampan wajahmu itu tertanam dalam sanubariku, hanya rasa tak percaya seorang pecundang bisa berubah cepat demi cinta, ha ha ha.!" jawab Salsa pada Darwis sedikit bercanda,


Mendengar Salsa bicara seolah meledeknya wajah Darwis pun memerah memendam malu, Salsa melihat Darwis seperti itu malah

__ADS_1


tersenyum.


"Oh, ya! Kamu santai- santai saja di sini dulu, Aku akan pamit, kasihan Anakku ditinggal pergi kelamaan walaupun ada Ibu menjaganya." ucap Salsa pada Darwis memberi tahukan,


"Nggak Kita bareng, dan lagi Aku sekalian ingin bertemu Ibumu, sudah lama tak bertemu." jawab Darwis pada Salsa sambil bergegas berdiri,


"Gak usah, Kamu cape harus istirahat, " jawab Salsa pada Darwis lagi,


"Gak, pokoknya Kita pulang bareng." ucap Darwis pada Salsa memaksa,


"Yaudah kalau memang Kamu memaksa, tapi awas jangan menyesal nantinya?" jawab Salsa Pada Darwis menakuti,


"Menyesal kenapa?" tanya Darwis pada Salsa dengan penasaran,


"Menyesal nanti Kamu bakalan sering mampir ke rumahku." jawab Salsa pada Darwis sambil tersenyum gembira,


Mendengar celotehan Salsa wajah Darwis pun berseri- seri bahagia.


Tak beberapa lama Salsa pun masuk menghampiri paman dan Bibinya di ruang makan hendak pamit pulang, tak lama mereka pun menghampiri Darwis,


"Wis, jadi benar Salsa mau Kamu antar pulang sekarang?" tanya Anwar pada Darwis ingin tahu,


Terlihat Salsa mencium tangan Paman dan Bibinya pamit hendak pulang, tapi terdengar Anwar bicara lagi,


"Wis, Maafkan Aku, tadi Aku spontan memukulmu sekehendak hatiku, Aku tak bermaksud seperti itu, tapi naluri lelaki dan emosiku tak bisa Aku bendung, muntah begitu Saja, jangan menjadi dendam diantara Kita." ucap Anwar pada Darwis sambil menepuk pundak Darwis,


"Gak apa- apa, War! Lumrah bila Sang Paman berbuat seperti itu untuk seorang keponakannya, Aku sangat paham dan mengerti, menurutku tragedi ini mungkin akan membuat Kita lebih dekat lagi, gak usah dipikirkan, War!" jawab Darwis pada Anwar dengan rasa harapnya.


Dan Akhirnya Darwis dan Anwar saling berangkulan untuk menghapus segala kegamangan dan dendam diantara mereka berdua.


"Sudah, Ya! Salsa pamit sekarang!" ucap Salsa pada mereka dengan senangnya,


"Ya, hati- hati di jalan!" jawab Bibi Novi pada Salsa mengingatkan,


"Aku pun pamit, War! Terima kasih untuk semuanya," ucap Darwis pada Anwar pamit pulang,


"Sama- sama, nitip Salsa jangan sampe hilang di jalan, he he he!" jawab Anwar pada Darwis sambil berkelakar,


"Dah Djamilah, Kakak Salsa pulang!" ucap Salsa pada Djamilah yang sedang di gendong Bibi Novi sambil melambaikan tangannya kearahnya.

__ADS_1


Diperjalanan pulang mereka pun bercakap riang tak ada yang ditutupi, dengan senyum dan canda, tawa mereka berbincang tanpa arah,


"Kamu sudah menikah?" tanya Salsa pada Darwis ingin tahu,


Mendengar pertanyaan itu Darwis terlihat kikuk, mungkin merasa tak enak terhadap Salsa,


"Setelah pencarian itu, dan berbagai masalahku, akhirnya Aku menerima perjodohan itu demi Ayahku, dan Aku menikah baru tiga bulan ini." jawab Darwis pada Salsa dengan berat hati,


"Oh, pengantin baru dong." ucap Salsa pada Darwis menutupi rasa hatinya,


"Ya, begitulah, sejujurnya dari lubuk hati yang paling dalam Aku menginginkan Kamu menjadi Istriku, bukan yang lain." jawab Darwis pada Salsa dengan segenap perasaannya,


Mendengar perkataan Darwis seperti itu, Salsa pun berubah wajahnya,


"Sudahlah, Wis! Mungkin nasib Kita memang tak berjodoh, walau rasa ini sama kita rasakan, tapi keadaan sudah terlanjur Kita pilih, aku pun tak bisa membohongi hatiku ini, Kamu tak bisa Aku lupakan." ucap Salsa pada Darwis sambil menunduk malu,


"Aku bingung harus bagaimana, tapi untuk sekarang, Ku mohon jangan meninggalkan Aku lagi, setidaknya Aku bisa melihat dan bercanda dengan perasaan dan impian masa laluku, Kamu harus berjanji padaku." ucap Darwis pada Salsa mengingatkan,


"Ya, Aku janji, dan sekaligus Kamu adalah tempat dimana Aku dalam kesedihan, Aku butuh perhatianmu di saat bawelmu keluar untuk mengingatkanku seperti dulu," jawab Salsa pada Darwis dengan tersenyum,


Saking asyiknya mereka mencurahkan perasaannya, tak terasa akhirnya merekapun tiba, di depan rumah terlihat jelas Ibu Juariah berjalan keluar,penasaran dengan siapa Salsa datang,


Mereka berdua turun, Salsa langsung berlari menghampiri Ibunya yang merasa penasaran,


"Assalamualaikum, Ibu lihat siapa yang datang?" tanya Salsa pada Ibu Juariah membuat lebih penasaran,


"Waalaikum Salam, bukannya itu Darwis!" jawab Ibu Juariah pada Salsa sambil matanya melihat tajam pada Darwis yang menghampiri,


"Ibu ini Aku Darwis, Maafkan Darwis, Bu!" ucap Darwis pada Ibu Juariah sambil hendak mencium tangannya,


Tiba- tiba wajah Ibu Juariah mendadak berubah, disaat Darwis menghampirinya, lalu Ibu Juariah pun berkata,


"Tak Kupercaya, Akhirnya Kamu bisa bertemu juga dengan Aku, tak bisakah sedikit untuk melupakan Kami yang temaran oleh waktu, kadang detak jantungku menggunjingkan Kamu dalam jiwa ini, berontak disaat lalu hanya membuahkan penyesalan, kemana kaki melangkah, tetap pahatan salah Kamu berlaku terbentang dalam ingatan yang seakan ingin membalasMu, Hey pecundang kecil!" ucap Ibu Juariah pada Darwis dengan tidak bisa mengendalikan perasaan hatinya untuk terlontar keluar dari mulutnya,


Melihat itu Darwis menangis, hatinya kembali luka dan hancur terhantam kembali pukulan akibat aib yang Ia lakukan waktu dulu,


"Mengapa akibat ulahku dulu, hantaman pukulannya seolah terasa mengikutiku tanpa ampun, Maafkan Aku Tuhan." begitu ucap Darwis di hatinya,


Melihat Ibunya meluapkan kekesalannya pada Darwis, Salsa pun bersimpuh di kaki Ibunya, sambil berucap,

__ADS_1


"Maafkan Darwis, Bu! Ibu marah seperti apapun tak akan merubah keadaan menjadi baik, sengaja Salsa bawa kemari, agar kita bisa merenung memaknai hidup dengan sadar tanpa dendam, Salsa merasa bahagia bisa melihat lagi Darwis, hari ini Salsa merasa senang, Sudah lupakan kebencian Ibu, Salsa mohon!" ucap Salsa pada Ibu Juariah dengan perasaan batinnya.


__ADS_2