
Keinginan Sebastio menjadikan momok polemik bagi Ibu Juariah, betapa tidak hanya Anaknya dan Andreas yang diinginkan Mantan Suaminya itu untuk diajaknya hidup bersama, pikiran carut marutnya senantiasa terus menerus mengikutinya, seolah tak lelah mengisi semua relung kalbunya,
"Mas, Apakah gak salah dengar tentang keinginanmu itu?" tanya Ibu Juariah pada Sebastio mengingatkan,
Sebastio berpikir dalam hatinya, seolah membayangkan jawaban Anaknya dan keberadaan mantan Istrinya atas ajakan keinginannya itu, tak lama Sebastio pun menjawab,
"Apa yang salah dengan keinginanku ini? Mungkin hanya sekilas terlihat memisahkan Kamu dan Salsa, padahal dalam hatiku ini tidak ada sedikit pun untuk memisahkan Kamu dan Anakmu itu!" jawab Sebastio pada Ibu Juariah seolah bingung,
"Lalu bagaimana dengan perasaan Salsa? Dia tak mungkin bisa jauh dari Aku, karena sedari kecil Ia hidup bersamaku dan tak ada lagi Orang lain di hatinya!" ucap Ibu Juariah pada Sebastio seolah mengingatkan,
Sebastio terdiam atas jawaban dan ucapan Mantan Istrinya itu, dengan menatap tajam kearah Salsa, Sebastio lalu bicara lagi,
"Iya mungkin Ayah tak memikirkan tentang keberadaan Ibumu disampingmu, Ayah pikir toh Ibumu bisa sedikit bebas untuk hidupnya, setelah bertahun- tahun mengurusi Kamu terus, kapan Ibumu memikirkan akan hidupnya, mungkin begitu pikiran atas keinginan Ayah ini." ucap Sebastio pada mereka berdua dengan curahan pertimbangannya,
Ibu Juariah dan Salsa saling pandang seolah tak mengerti akan maksud Sebastio itu, jauh di dalam hati mereka tak mungkin untuk berpisah walau apapu yang terjadi,
Dengan sedikit senyum simpul di bibirnya, dan dengan torehan hati yang sedikit pupus harapannya, lalu Ibu Juariah pun segera menjawab,
"Dari dasar hati ini atas segala niat baik Mas pada Anakku, Aku ucapkan terima kasih, tapi dari sisi hidupku tak mungkin bisa Aku berpisah dengan Anakku Salsa, karena hanya Dia segala pelipur lara selama ini, bila dipaksakan akan niat Mas ini, mungkin bisa membuat Mas kecewa, Kami tak mungkin dipisahkan dengan alasan apapun, Mas!" ucap Ibu Juariah pada Sebastio dengan tegasnya bicara,
Mendengar ketegasan Mantan Istrinya itu bicara padanya, batinnya seolah ingin menangis, tak terbayang mereka hidup dengan cinta dan kasih serta perhatian yang mereka punya yang membuatnya berkaca dari sepak terjang mereka, dengan merasa malu, lalu Sebastio pun menjawab,
"Aku sudah menduganya, keinginan ini bisa menjadi acuan untuk melihat Anakku bersama Ibunya merasa nyaman, dan ternyata memang benar adanya, Aku Iri padamu, Ju!" jawab Sebastio pada Mantan Istrinya Juariah dengan tersipu malu,
Ibu Juariah menahan segala rasa sedihnya atas keinginan itu, secara tidak langsung niat rujuknya tak mungkin bisa terwujud, kegalauan itu membuat Ia seolah enggan untuk bicara pada Mantan Suaminya itu,
__ADS_1
Tiba- tiba Salsa bicara pada Ayahnya Sebastio dengan perasaan ingin tahu sedalamnya, apa yang terkandung dalam keinginan Ayahnya itu,
"Maaf Ayah, Apakah keinginan Ayah itu di dasari oleh rasa cinta Ayah pada Salsa?" tanya Salsa pada Ayahnya yang sedang meratap pilu untuk keinginannya itu,
Pertanyaan Salsa membuat diri Sebastio seolah ditusuk belati sembilu, jantungnya seolah mengajak berlari dengan kencangnya, dan bilah pisau kasih selama ini seolah ingin menghancurkannya,
"Seharusnya sih begitu, Nak! Dalam pikiran Ayah sebenarnya hanya satu, Bagaimana Ayah bisa menebus dosa- dosa Ayah terhadapmu, itu saja!" jawab Sebastio pada Anaknya Salsa dengan berlinang Air matanya,
"Jika Ayah memang Sayang Salsa, Jangan berani untuk memisahkan Salsa dengan Ibu, dan lupakan tentang keinginan Ayah itu!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio mengingatkan,
"Ayah minta maaf, Nak! Tolong bantu Ayah bagaimana Ayah bisa menebus segala dosa Ayah padamu, Nak?" tanya Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan hati yang sedih,
Perasaan sedih Sebastio membuat rasa Ibu Juariah dan Salsa pun Ikut menangis melihatnya, jauh dalam paparan cinta yang telah jauh menghilang kala lalu, kini datang dengan berjalan menghampiri mereka dengan tak tahu untuk memberikannya,
"Sudah jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, Mas! Itu semu sudah terjadi, sekarang tinggal buktikan pada Anakmu ini rasa cinta dan perhatian layaknya Ayah bagi Salsa!" ucap Ibu Juariah pada Sebastio memberi tahu,
"Sudah Ayah, jangan menangis! Salsa sudah memaafkan Ayah, biarkan masa lalu berjalan pergi, jangan ditahannya, jadilah Ayah yang selayaknya bagi Salsa itu saja, Ayah!" ucap Salsa pada Sebastio Ayahnya dari lubuk hatinya yang paling dalam,
Dengan menangis malu, Sebastio pun langsung menghampiri Salsa lalu merangkulnya dengan erat, melihat itu Ibu Juariah pun tak bisa menahan perasaan sedih di dalam hatinya, melihat mereka berangkulan diiringi dengan air mata kesedihan atas imbas dari salah yang dilakukannya dulu.
"Sebenarnya jika harus disalahkan atas segala permasalahan ini, Adalah Aku!" ucap Ibu Juariah pada mereka berdua dengan perasaan bersalah yang dalam pada dirinya itu,
Dengan saling memandang dan saling bertanya dalam pikirannya melihat Ibu Juariah bicara sedikit dengan tidak diteruskannya,
"Maksud Ibu?" tanya Salsa Pada Ibunya Juariah merasa penasaran,
__ADS_1
"Iya, Ayah pun tak mengerti?" tanya Sebastio pada Ibu Juariah seolah sama yang dipikirkannya dengan Salsa,
Sambil berjalan mondar- mandir di depan mereka berdua, dan seolah hatinya teriak tanpa batas, lengannya Ia kepalkan persis seseorang yang ingin berkelahi adanya, dengan menarik napas yang amat panjang, sambil menangis akhirnya Ibu Juariah pun angkat bicara pada mereka berdua,
"Kalian adalah korban dari kelakuan aibku di masa lalu, salah dan dosa yang Aku lakukan sangat besar dari apapun itu, sungguh luar biasa tak bermoral Aku melakukan sesuatu yang hina, dan tak ada seorang pun yang bisa memaafkan Aku atas salahku itu," ucap Ibu Juariah pada mereka berdua dengan suka cita yang keluar tak bisa ditahannya,
Sebastio dan Salsa tidak berani untuk menimpali ucapan Ibu Juariah yang seolah dirinya mengaku semua dosa dan kesalahan dirinya pada masa lalu, terlihat mata Ibu Juariah melotot dengan sadisnya, napasnya terengah' engah menahan rasa bersalahnya, giginya bergemeretak seakan sudah tak kuat menahan dosanya, hari ini seolah Ibu Juariah mengakui seutuhnya kelakuan yang tidak dibenarkan dirinya sendiri hingga membludak keluar begitu saja tanpa ada yang bisa untuk menahannya,
"Aku yang sudah menyelingkuhi Suami yang baik, dan menghancurkan reputasinya dengan segala kelakuan aibku itu, lalu Aku juga yang menghancurkan biduk keluarga yang bahagia dengan prilaku bejatku itu, hingga Anak kesayanganku terpisah dari Ayahnya sendiri, lalu Ia harus menerima nasib hidup menderita tanpa Ayah disisinya, Ayahnya seolah bersalah atas keputusannya itu, itu bukan salahnya, Semua berawal dari prilaku yang sangat tak bermoral atas kalian berdua, Apakah Aku ini bisa hidup dengan dosa besar yang telah Aku perbuat, Semua itu Salahku!" ucap Ibu Juariah pada mereka seolah tak bisa menguasai rasa bersalah yang besar dalam dirinya,
Setelah bicara sebegitu panjangnya, Ibu Juariah pun terjatuh tak sadarkan diri, seolah tugas menyampaikan atas salahnya terpenuhi,
Blukk! terdengar tubuhnya terjatuh dengan tak berdaya,
Salsa langsung berlari menghampiri tubuh Ibunya itu, lalu kepalanya Ia rebahkan di pahanya, diikuti Sebastio dengan memegangi kakinya dan mengangkatnya, sambil menangis Salsa bicara,
"Ibu! kenapa Ibu? Sadar, Bu!" ucap Anaknya Salsa pada Ibunya yang tergeletak tak sadarkan diri sambil menangis,
Sebastio pun ikut menangis sedih melihat Mantan Istrinya pingsan tak berdaya di depannya,
"Aku masih merasakan denyut cintamu, Ju!" ucap Sebastio pada dirinya dalam hati dengan sedihnya,
Dengan segera Sebastio memanggil Ambulance, untuk membawa Ibu Juariah ke rumah Sakit,
"Salsa, Nanti Kamu Ayah jemput beserta Andreas, sekarang juga Ayah dampingi Ibumu dulu ke rumah sakit!" ucap Sebastio pada Salsa memberi tahu,
__ADS_1
Salsa mengangguk pada Ayahnya sebastio dengan perasaan hati yang hancur.