Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Torehan Sakit dalam hati


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Yuli seolah mulai terasa janggal dalam prilaku Kekasihnya itu Arjuna, debut cintanya dulu, seolah tak terlihat lagi, jangan kan empat hari tidak bertemu, satu hari pun biasanya Kekasihnya itu menelponnya, dengan mulutnya selalu melontarkan kata- kata sayangnya, sampai Yuli seolah tak percaya ini terjadi,


Ia teringat kata- kata Salsa yang memperingatkannya dulu, tentang Sang Kekasihnya itu Arjuna, hingga pikirannya bertanya- tanya tentang kelakuan Kekasihnya Arjuna itu.


"Apa Aku harus menelponnya? Masa perempuan yang lebih dulu mencari tahu tentang kekasihnya itu? Tapi biarlah Aku coba menelponnya, toh Aku sendiri yang sakit, bila Ia tidak menghubungiku saat ini!" begitu pikiran yang berkecamuk di dalam diri Yuli saat ini.


Yuli adalah wanita yang berwatak keras dengan pendiriannya, kadang Arjuna sendiri merasa bingung bila watak kerasnya itu datang, Apapun yang menjadi keputusannya kadang sulit untuk dirubahnya, kecuali dengan kepahitan yang dirasakan atas pendiriannya itu.


Yuli segera mengambil Hpnya, di dalam tasnya yang tersimpan di dalam kamarnya itu, dan tak lama, Ia pun kembali ke teras depan rumahnya, dengan membawa Hpnya itu,


Tak lama dengan rasa penasaran, Yuli pun lantas menelponnya,


Kring! Kring! Kring!, bunyi Hp Yuli berdering, dengan penasaran yang besar dalam dirinya, hingga Ia dengan sabar, menunggu Arjuna mengangkat telponnya itu, nun jauh disana,


Sudah beberapa jali di coba tapi Arjuna tidak mengangkatnya, hingga Yuli kehilangan akal sehatnya, hingga lontaran sumpah serapahnya keluar dari mulutnya itu, saking merasa sakit dalam hatinya itu,


"Dasar Setan Alas, lelaki tak tahu diuntung, sudah berani seenaknya padaku, dasar bedebah!" ucap dan sumpah serapah Yuli pada dirinya itu,


Mendengar Yuli marah- marah sendiri, dengan lontaran kasar keluar dari mulutnya itu, sehingga Ibunya Maemunah, merasa penasaran karenanya, dan dengan merasa penasaran dalam benaknya, lantas Ibu Maemunah langsung menghampiri Anaknya itu Yuli, lantas bertanya padanya,


"Kenapa dengan Kamu, Nak? Ibu perhatikan Kamu marah- marah sendiri, seperti sedang marah besar pada seseorang, Ada apa, Nak?" tanya Ibunya Maemunah pada Anaknya itu Yuli dengan rasa penasaran,


Melihat Ibunya datang dengan tiba- tiba, lantas Yuli pun langsung merangkul Ibunya Maemunah, dengan sedu sedan menangis,


Yuli tidak menjawab pertanyaan dari Ibunya itu Maemunah, Ia terus menangis dengan sejadi- jadinya di bahu Ibu tercintanya itu Maemunah, Ibunya pun merasa sangat Iba dibuatnya, perasaan sedih kini menghampiri, melihat Anaknya yang terus menangis dibahunya itu, dan dengan perasaan sayangnya, lalu Ibu Maemunah pun bicara dengan nada sayangnya itu, sambil tangannya membelai rambutnya itu,

__ADS_1


"Sudah jangan menangis, ceritakan pada Ibu, Nak! Supaya bisa membantumu untuk mencarikan solusinya, Ayo ceritakan, jangan Kamu pendam sendiri!" ucap Ibunya Maemunah pada Anaknya Yuli dengan harapnya itu,


Lalu Yuli pun menatap Ibunya dengan sendunya, dan dengan rasa berat, lantas Ia pun menceritakan pada Ibunya itu, dengan nada pilunya,


"Arjuna sudah melupakan Yuli, Bu!"ucap Yuli pada Ibunya Maemunah dengan sedihnya bicara,


"Maksudmu Bagaimana, Nak?" jawab Ibunya Maemunah dengan rasa ingin tahunya itu,


Lalu dengan sepenuhnya, Akhirnya Yuli pun menceritakan semua yang menjadi momok persoalan yang di deritanya itu,


"Begitu, Bu!" ucap Yuli pada Ibunya Maemunah dengan perasaan gelisah,


Mendengar cerita dari Anaknya itu Yuli, lantas Ibunya pun diam sejenak untuk berpikir tentang masalah itu, pikirannya berputar mencari jawaban dari masalah yang mendera Anaknya Yuli, dengan tersenyum pada Yuli, lantas Ibunya pun menjawabnya,


Yuli berpikir dengan ucapan Ibunya tadi, lantas Yuli pun bicara lagi pada Ibunya itu,


"Tapi kenapa di telpon tidak diangkat- angkat, malah bukan sekali lagi, tapi berulang- ulang kali, Bu!" ucap Yuli pada Ibunya Maemunah dengan emosinya itu,


"Biasanya kan selalu diangkat, berarti memang ada sesuatu yang terjadi dengan kekasihmu itu, sabarlah dulu, mungkin setelah itu, Arjuna menelponmu lalu menjelaskannya, sudah jangan nangis lagi!" ucap Ibunya Maemunah pada Anaknya itu Yuli.


"Tapi hati Yuli sakit, Bu!" ucap Yuli pada Ibunya Itu Maemunah dengan manjanya,


Dengan sabarnya, lalu Ibu Maemunah, mengelus- eluh punggung Anaknya itu, seraya berkata lagi pada Yuli Anaknya,


"Gak baik menilai yang belum tentu pasti, kita buksn Tuhan, Nak!" ucap Ibu Maemunah pada Anaknya itu Yuli dengan mengingatkannya.

__ADS_1


Rupanya pancaran rasa hati Yuli memang benar adanya, nyatanya Arjuna melupakan dirinya, dan sibuk mengejar wanita lain, yang memang disukainya.


Ibu Widia memperhatikan Anaknya Arjuna dengan rasa ingin tahunya, lalu seolah sudah mengerti tentang apa yang dilakukan Anaknya itu Arjuna, lantas Ia pun bicara pada Suaminya Wijaya tentang Anaknya Arjuna,


"Ibu bingung dengan kelakuan Anakmu itu?" tanya Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan rasa resahnya itu,


"Memang kenapa dengan Arjuna?" tanya Wijaya pada Istrinya Widia dengan rasa penasarannya itu,


"Ayah lihat, sekarang Arjuna sedang sibuk mengejar cinranya pada Temannya Jaenab, dengan tidak memperdulikan perasaan Yuli, seolah melupakan kekasihnya, Ayah!" jawab Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan perasaan khawatir dalam dirinya itu,


"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan Arjuna, pada saat kita disini saja Dia begitu, mungkin untuk mencari kesenangan dalam berliburnya, setelah pulang juga akan lupa, Bu!" jawab Suaminya Wijaya pada Istrinya Widia dengan menerangkannya,


Sejenak Widia pun diam, untuk berpikir tentang jawaban Suaminya itu, pikirannya berputar seolah mencari kebenaran apa yang tekah diucapkan Suaminya itu, lantas bicara lagi pada Suaminya,


"Mungkin juga begitu, tapi bila tahu Yuli bisa berabe, bakal runyam akhirnya nanti, Yah!" ucap Ibu Widia pada Ayah Wijaya dengan memberi tahu Suaminya itu,


Mendengar Istrinya Widia bicara seperti itu, lantas Wijaya pun tersenyum kepadanya, dan dengan perasaan lucu terhadapnya, lantas Wijaya pun bicara lagi padanya,


"Siapa yang akan memberi tahu Yuli, Orang hanya Kita saja yang tahu kelakuan Arjuna Anak kita itu, Bu!" jawab Wijaya pada Istrinya dengan tertawa pada Istrinya itu,


Ibu Widia tersenyum, mungkin pikirannya baru ngeuh adanya, bahwa hanya mereka sajalah yang tahu kelakuan Arjuna itu, dan akhirnya Ibu Widia merasa agak lega karenanya,


"Masuk akal juga omongan Ayah itu, Arjuna kemari niatnya liburan untuk menghilangkan stressnya, jadi disaat disini Ia tidak merasakan jenuh, karena ada sesuatu yang disenanginya!" ucap Ibu Widia pada Wijaya Suaminya lagi,


Ayah Wijaya seolah membayangkan apa yang dikhawatirkan Istrinya itu tentang Arjuna, mungkin ketakutan agar masa lalunya tidak mau kembali Ia alami lagi, kesalahan yang bisa meluluh lantahkan harapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2