
Pagi itu terasa sejuk udaranya hingga ke dada, gegap jiwa seiring rasa cita yang mengembara, jeritan hati terbias membelah jiwa ini, mendesak harapan untuk segera terwujud.
Salsa tampak sedang berpikir dalam otaknya, pikirannya melayang jauh mencari Sang empunya hati, getar napas tertahan rasa sunyi dalam hati, menyeruak jiwa untuk datangkan hari.
"Aku harus mencoba hidup dengan dunia baru, kadang ucapan Ibu terasa membebani diriku untuk maju, perlahan akan kucoba untuk menapaki peruntungan di luar sana." begitu pikiran Salsa dalam benaknya.
Dengan seutas senyum yang muncul di saat Salsa mengiyakan jalan yang ditempuhnya untuk mencoba melupakan cintanya pada Darwis,
Melihat Salsa senyum- senyum sendiri, Ibunya merasa penasaran, ada apa dibalik senyum yang tak biasa itu, dengan rasa sangat penasaran akhirnya Ibu Juariah pun memberanikan diri untuk bertanya pada Anaknya Salsa,
"Kamu kenapa, kok senyum- senyum sendiri? tidak ada angin tidak ada hujan seolah aneh Ibu melihatnya," ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan rasa penasaran,
Mendengar rasa kecurigaan Ibunya terhadap dirinya, Salsa pun tersenyum pada Ibunya, dengan menatap matanya dengan tajam seolah meminta perhatiannya, seraya menjawab,
"Ini, Salsa akan mencoba melupakan Darwis dari hidup Salsa, tapi Salsa butuh bantuan Ibu." jawab Salsa pada Ibunya Juariah memberi tahu,
"Bantuan, bantuan apa?" tanya Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan rasa penasaran,
Salsa sedikit terdiam, pikirannya sedang berpikir untuk mengutarakan keinginannya pada Ibunya,
"Salsa akan mencari pekerjaan, supaya bisa melupakan Darwis, dan bisa hidup di dunia baru, tapi Andreas di titip sama Ibu, gimana Bu?" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan menahan malu di hatinya,
Mendengar Anaknya bicara dengan keinginan untuk merubah nasibnya dan mendengar nasihatnya untuk menjauhi Darwis, tak bisa di pungkiri rasa senangnya membuat jantungnya berdetak kencang karena bahagia, sampai tanpa sadar air matanya menetes di pipinya, lalu Ibu pun bicara pada Salsa,
"Sungguh Ibu merasa bahagia, Kamu mau mendengar Nasehat Ibu, Andreas biar bersama Ibu, toh Kamu merasa pahit pun itu imbas dari kelakuan Ibu di masa lalu, Ayo bangkitlah Anakku, lupakan masa lalu!" jawab Ibu Juariah pada Salsa sambil merangkul Anaknya dengan merasa terharu.
Dengan tak menyangka sosok Ibunya akan sebahagia itu, membuat semangat Salsa untuk mencari pekerjaan semakin kuat, belum pernah selama ini Ia melihat Ibunya sebahagia itu,
"Ibu doakan Supaya Salsa dapat pekerjaan cepat, toh dalam hidup Salsa hanya Ibu seorang yang Salsa sayangi, semoga rasa sakit dan rasa cinta Salsa pada Darwis bisa hilang oleh kesibukan bekerja," ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan segenap perasaan hatinya,
"Itu pasti Ibu doakan, Nak!" jawab Ibu Juariah pada Salsa dengan rasa terharu,
"Nanti malam Salsa akan langsung menulis surat lamaran kerjanya, jadi besok pagi sudah siap untuk berangkat." ucap Salsa pada Ibunya dengan rasa senang hati,
"Iya siapkan dulu apa yang harus dibawa sekarang, jadi pagi Kamu benar- benar sudah siap!" jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan rasa perhatiannya.
Salsa mengangguk pada Ibunya, terbayang dalam pikirannya kesibukan kerjanya yang akan mencurahkan segala pikiran dan tenaganya demi untuk dunia baru yang Ia harus tapaki guna melupakan masa lalunya.
Lalu Salsa menghampiri Anaknya Andreas, lalu mengecupnya dengan sayang, Sambil seraya berkata,
__ADS_1
"Maafkan Ibu, Anakku!" ucapnya pada Andreas dengan rasa sedihnya yang mendalam.
Mentari pagi bersinar dengan hangatnya, menyibakkan Dewi malam untuk menepi, cerita dunia pandangi hati, menapaki titian fajar ilahi,
Degup semangat pagi itu, melihat Salsa sudah berdandan cantik untuk niatnya yang akan meruntuhkan tirani masa lalunya dengan harapan baru, seutas senyum di bibirnya pada hari itu, membuat siapa saja yang melihat terpana, harapan terbesit dalam pikirannya, cita tertuai dalam ingatannya, mengajak semua fatamorgana pergi mencari asa, tembang kenangan seakan lenyap ditelan bumi, berganti rasa bahagia pada Sang Empunya, untuk dibukakan peruntungan dalam hidupnya.
"Kamu sudah siap, Nak?" tanya Ibu Juariah pada Anaknya Salsa mengingatkan,
"Sudah, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya menjelaskan,
"Hati- hati, Ibu doakan Kamu mendapatkan pekerjaan segera." ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan harapan berbunga,
"Kalau begitu Salsa berangkat, Bu!" ucap Salsa pada Ibunya mohon pamit,
"Ya, jangan lupa berdoa!" jawab Ibu Juariah pada Salsa Anaknya memberi tahu,
Salsa mengangguk pada Ibunya, dan langsung menghampiri, lalu tak lupa mencium tangan Ibunya,
"Doakan Salsa, Bu! Assalamualaikum," ucap Salsa pada Ibunya dengan perasaan semangat,
"Waalaikum Salam, Ibu doakan selalu." jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan rasa bahagianya.
Akhirnya Salsa pun pergi, Ibu Juariah pun masuk ke dalam rumah untuk melihat Cucunya Andreas yang sedang tertidur lelap.
Sambil bersenandung lembut untuk menidurkan Cucunya, Ibu Juariah dengan sayangnya menina bobokan Cucunya Andreas tanpa letih, tanpa disadari dari belakang Ia berdiri, sepasang mata memperhatikannya dengan serius, wajahnya mengisyaratkan kekagumannya pada Ibu Juariah, dan tak lama Ia pun mengucapkan Salam,
"Assalamualaikum," ucap Pria itu pada Ibu Juariah yang sedang menggendong Andreas,
Dengan merasa kaget, akhirnya Ibu Juariah menengok kebelakang, tampak Sosok mantan Suaminya Bapak Sebastio dengan seutas senyum di bibirnya,
"Waalaikum Salam," jawab Ibu Juariah pada Bapak sebastio dengan perasaan kagetnya,
Lalu Ibu Juariah berjalan untuk membukakan pintu pagarnya, seraya berucap,
"Silahkan masuk, Mas!" ucap Ibu Juariah pada Bapak Sebastio dengan senangnya, lalu Bapak Sebastio pun masuk, dan tak lama mereka duduk di teras depan,
"Itu Anakmu?" tanya Bapak Sebastio pada Ibu Juariah ingin tahu,
"Bukan ini Cucuku, Anak dari Salsa." jawab Ibu Juariah pada Bapak Sebastio menerangkan,
__ADS_1
Mendengar itu Bapak Sebastio pun merasa kaget dibuatnya,
"Apa? Anaknya Salsa?" tanya Bapak Sebastio pada Ibu Juariah dengan rasa penasaran,
"Iya betul, ini Anaknya Salsa." jawab Ibu Juariah pada Bapak Sebastio menjelaskan,
"Oh jadi Salsa Anakku sudah menikah dan punya Anak, lalu mana Suaminya, Aku ingin mengenalnya?" tanya Bapak Sebastio pada Ibu Juariah dengan ingin tahu yang dalam,
Pertanyaan Mantan Suaminya itu bagaikan pijaran api yang menghanguskan dirinya, rasa sedih, rasa sakit dan rasa tak berharga semua bercampur satu seolah ingin menghabisinya, detak keras jantungnya semakin menyempitkan kemuliaannya sebagai Ibu, dan haus akan amarahnya seraya tak bisa ditahannya.
Wajah memerah dan tatapan tajamnya menghunus ke dalam sanubari hati Bapak Sebastio, perlahan air matanya mengalir deras dipipinya, dan suara sedu sedan menangis terdengan layaknya guntur di pagi hari,
Dengan merasa heran mantan Istrinya diam tidak menjawabnya, terlebih perubahan atas dirinya yang seolah akan menerkamnya, dengan memberanikan diri Bapak Sebastio pun berkata pada Ibu Juariah,
"Maaf, Apakah pertanyaanku salah? Apa Aku menyinggungmu?" tanya Bapak Sebastio pada Ibu Juariah dengan tak mengerti,
Mendengar itu dari mulut mantan Suaminya, akhirnya sedikit demi sedikit rasa dendam dan amarah Ibu Juariah pun perlahan mereda, melihat itu Bapak Sebastio pun semakin lega,
"Ceritanya panjang, Mas!" ucap Ibu Juariah pada Bapak Sebastio dengan menahan emosinya,
"Coba ceritakan tentang Anakku Salsa, ada apa yang telah terjadi padanya?" tanya Bapak Sebastio lagi pada Ibu Juariah ingin tahu,
Akhirnya Ibu Juariah pun menceritakan tentang kisah perjalanan hidupnya bersama Anaknya Salsa,
Hinaan demi hinaan, Aib demi aib serta masalah demi masalah tak luput Ibu Juariah ceritakan semua pada Mantan Suaminya, sampai dengan bagaimana Sosok Andreas berada hidup dengan mereka,
"Kamu tahu, setelah pengusiran itu rasa dendam terhadapmu semakin membebaniku, tapi Salsa yang selalu menasehatiku hingga Aku tersadar akan kesalahanku dulu, Aku tersadar akan kelakuan Aibku itu, sehingga membuat Anakku terlunta oleh penderitaan dan hinaan pada dirinya, kadang Aku berpikir kenapa Salsa yang Anakmu itu ikut menanggung dosaku, Ia pun Kau usir dengan teganya, sekarang Kamu sudah melihat nasib Anakmu itu dengan mata mu sendiri, Dimana kebahagiaan bagi dirinya, sampai saat ini pun Dia belum merasakannya, sekarang pun Dia sedang berperang dengan masalahnya, Salsa pergi untuk mencari pekerjaan di luar sana, demi untuk memutus mata rantai masa lalunya, Aku sangat kasihan padanya." ucap Ibu Juariah pada Bapak sebastio dengan panjang lebarnya, mencurahkan perasaan tentang Salsa anaknya,
Mendengar itu kesadaran hakiki dari seorang Ayah timbul bersama kesedihannya, Bapak Sebastio menangis karenanya, batinnya menjerit mengingat kesalahannya, dan pikirannya terpampang bayangan gelap akan dosanya, dengan rasa pilu yang dalam Bapak Sebastio pun berucap,
"Sungguh aku merasa berdosa dengan Salsa Anakku, hantaman beribu kesengsaraan menghantamnya tanpa ampun, Aku sadari semua walaupun mungkin telat, tapi Aku bersungguh- sungguh untuk mengakui Salsa itu Anakku, Bagaimana Aku bisa menebus segala salahku pada Salsa, Aku sudah berdosa menyia- nyiakan Dia." ucap Bapak Sebastio pada Ibu Juariah sambil menangis hebat,
Rasa bersalah menghujam dengan ganasnya, tapi hikmah yang kuasa akan menunjukan jalannya, betapapun kita menjerit sampai ke langit, tapi bila tak ada cinta di hati seolah hanya kebodohan untuk berupaya.
"Sudahlah, itu sudah terjadi, mulai sekarang tolong jangan sia- siakan Salsa, dan Akui Andreas ini sebagai Cucumu, bila tak sedikit menerima maklumi, Dia butuh sosok Ayah dalam hatinya." jawab Ibu Juariah pada Bapak Sebastio dengan perasaan luka yang menyayat hati,
"Aku berjanji akan mencari Orang- orang yang telah menghina Anakku Salsa, Akan ku robek hidupnya dan kubuat perhitungan dengannya." jawab Bapak Sebastio pada Ibu Juariah dengan rasa dendamnya yang datang,
Mendengar janji terlontar dari mulut Mantan Suaminya, membuat ketakutan pada diri Ibu Juariah muncul, Ia takut masa lalu yang sudah lewat akan kembali menghampiri, karena rasa dendam yang sangat besar sedang menghunuskan belatinya pada orang- orang yang telah menyakiti Salsa. Itu janji Bapak Sebastio.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan hanya dendam yang Kamu kobarkan tapi rasa cinta dan perhatian yang harus menuntun Salsa dengan tanganmu itu," ucap Ibu Juariah pada Bapak Sebastio memberi tahu,
Bapak Sebastio mengangguk pada mantan Istrinya, dan tampak wajahnya merah saking menahan dendam dan sakit hatinya yang sangat dalam.