Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Gelisah melanda


__ADS_3

Waktu terus bergulir, sedangkan kesalahan tak pernah pergi dari hati kita, persembunyian di dunia tak akan bisa membawanya pergi, tak bisa Kita pungkiri kesalahan adalah momok derita Sang Empunya.


Pagi itu di kediaman Orang Tuanya Arjuna tampak sepi, maklum Karena Mereka hidup hanya berdua, rasa keprihatinan Mereka pada kehidupan Anaknya Arjuna semakin terasa berat untuk Mereka, dan ditambah gundahnya Bapak Wijaya pada Bos atasannya yang mencari Anaknya yang dulu, membuat seluruh pikiran dan rasa kekhawatirannya terbelenggu di dalam batinnya, kelakuan salahnya selalu terpampang dalam setiap pikirannya,


"Tumben pagi ini sudah bangun." ucap Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan perasaan tak biasanya,


"Gak tahu semalam Bapak tak bisa tidur, Bu!" jawab Bapak Wijaya pada Istrinya Widia memberi tahunya,


"Memang mikirin apa, sampai tak bisa tidur begitu?" tanya Ibu Widia pada Suaminya Wijaya ingin tahu,


"Bapak gelisah bila teringat Bapak Sebastio, dan lagi sewaktu di pasar kemarin Kita melihat Salsa, perasaan Bapak menjadi ketakutan, Bu!" jawab Wijaya pada Istrinya Widia menerangkannya,


"Jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi, berdoa saja semoga Bapak Sebastio Mau mengerti atas tindakan Kita Kala lalu." ucap Ibu Widia pada Suaminya Wijaya menberi tahunya,


"Apa Bapak Sebastio sudah bertemu dengan Anaknya Salsa, kalau sudah, celakalah Kita, Bu!" jawab Bapak Wijaya pada Widia dengan rasa penasaran yang teramat dalam,


Ibu Widia sejedak diam, lalu kedua matanya menatap Suaminya dengan Iba, melihat Ibu Widia hanya diam terpaku, Bapak Wijaya pun berucap kembali,


"Bapak bicara Ibu kok diam sih, seolah acuh begitu?" ucap Bapak Wijaya lagi pada Istrinya Widia dengan perasaan kesalnya,

__ADS_1


"Ini Ibu mendengarkan Bapak bicara, Ibu teringat Anaknya Salsa, Pak!" jawab Ibu Widia pada Suaminya Wijaya menjelaskannya,


"Lalu untuk apa Ibu mengingat Anaknya Salsa, Bu!" ucap Bapak Wijaya pada Istrinys Widia dengan rasa ingin tahu,


Ibu Widia menarik napasnya dengan panjang, kepalanya Ia geleng- gelengkan seolah merasa tak percaya dalam benaknya, memori lama Ia putar kembali untuk mengingat kejadian dulu, yang hampir semua Mereka lupakan, dan tak lama Ibu Widia pun bicara,


"Walaupun bagaimana tetap saja Ayah dari Anak Salsa itu adalah Arjuna Anak Kita, Pak!" jawab Ibu Widia pada Suaminya Wijaya mengingatkannya.


Torehan prilaku yang mereka lakukan kembali muncul ke permukaan, bayangan Salsa nampak jelas di pelupuk matanya, membuat Bapak Wijaya merasa khawatir karenanya, tak lama Ia pun bicara lagi,


"Omongan Ibu itu betul, Anaknya Salsa seharusnya Cucu Kita, dan memang begitu seharusnya!" ucap Bapak Wijaya pada Istrinya Widia menjelaskannya,


"Tapi Kita telah melupakannya, membiarkannya dalam penderitaan yang telah Kita lakukan pada Salsa, dan tak pernah berpikir walaupun Kita menjauhkannya tetap saja darah di dalam dirinya adalah darah daging Arjuna, bila waktu mempertemukan Kita dengan Anaknya Salsa, bagaimana tindakan Kita, Aku tidak tahu." jawab Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan rasa menyesal,


"Kasihan Anak itu, coba dulu Kita mau untuk menerima Salsa untuk menjadi Istri Arjuna, pastilah keadaannya tidak akan seperti sekarang ini jadinya." ucap Widia pada Suaminya Wijaya dengan rasa bersalah yang menderanya,


"Jadi mau gak mau Kita harus mau menerimanya, walaupun sampai saat ini pun masih ragu dan bingung harus bagaimana?" jawab Suaminya Wijaya pada Widia dengan perasaan bingung,


"Jika memang harus bertemu, Aku pun sudah siap untuk resiko yang akan terjadi, pasti Kita akan dihadapkan pada situasi yang sangat sulit, dan hubungan dengan Bapak Sebastio pun ujungnya pasti perihal Anaknya Salsa, dan mau gak mau semua pasti bertemu bersama, tidak bisa tidak!" ucap Ibu Widia pada Suaminya Salsa menegaskannya.

__ADS_1


Lirih hati Istrinya menjadikan Suaminya terus merasa bersalah, rasa bingung dan kehampaan akan batinnya membuat perasaan Suaminya bergejolak tak mau menerima dan tak mau bertemu, karena rasa malu yang sangat dalam akan menamparnya tanpa ampun, begitu benak Wijaya dengan segala kesalahannya.


"Seolah Bapak merasa berdiri di pinggir jurang yang dalam, dan siap didorong untuk terjatuh kedalamnya, tidak bisa tidak." jawab Suaminya pada Istrinya menjelaskan dengan perasaan bersedih dalam hatinya.


Mereka berdua bagai telur di ujung tanduk, Mereka tak bisa menebar rasa pongah dan Angkuhnya seperti dahulu yang pernah lakukan pada Salsa dan Ibunya, dan terlebih lagi Mereka tahu bahwa Salsa adalah Anak Big Boss mereka.


Kegetiran yang hampir sama pun terpikirkan oleh Ibunya Salsa, akan Sang Ayah dari bocah lucu Cucunya itu, keadaan membuatnya serba sulit untuk ditindakkan apa yang harus mereka lakukan untuknya,


"Ibu merasa kasihan pada Andreas, Sosoknya terlahir tanpa Ayah di sampingnya, tapi yang lebih dan sangat Ibu tidak inginkan jika Arjuna dan Orang Tuanya mengakui bahwa Andreas adalah Keturunannya, walau bagaimanapun tetap saja memang Andreas adalah darah daging Arjuna dan Kamu, Ibu sangat tak menginginkannya." ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan perasaan tak menentu,


Mendengar Ibunya bicara, perasaan pilu terasa menyelimuti diri Salsa, perang batin di dalam jiwanya berkecamuk antara ada dan tiada, rasa benci dan fakta yang tidak bisa dibohongi tentang Anak kesayangannya Andreas, lalu dengan menahan tangis, Salsa pun lalu bicara,


"Memang keadaan Anakku tak selazim orang lain, Kita bisa menjauhi mereka dari Andreas, tapi nanti di saat Andreas tiba waktunya, mungkin Dia pun Akan bertanya siapa Ayahnya, sejauh ini Kita bisa menutupi itu semua, dan jika tidak di beri tahu pun mungkin akan membuat Dia mencari, sebetulnya Salsa tidak mau untuk membicarakan ini, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah sambil menitikkan air matanya,


"Ibu mengerti, Kamu bingung untuk menentukan pilihan untuk Andreas, Kita bisa menjauhkan dari mereka, tapi Apakah nanti Anakmu itu bisa menerimanya?" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa menerangkannya,


"Sebenarnya Salsa sudah muak pada Arjuna dan kedua Orang Tuanya sampai saat ini, tapi Salsa enggan berbohong bila nanti Andreas menanyakan siapa Ayahnya, toh memang Dia yang menghamili Salsa, dalam posisi sulit ini perasaan sakit dan hancur dalam diri ini, terasa sangat ingin mencengkram habis Salsa, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan merasa terpuruk akan dirinya,


"Tiada lagi selain Sabar dan sabar, selain berdoa pada Tuhan untuk menunjukkan jalan yang benar pada Kamu dan Andreas, Ibu Yakin semuanya Tuhan yang menentukan, Jangan lupakan masalah lalu yang membuat Kamu terlunta- lunta akibat mereka, Kamu harus kuat menghadapinya, Nak!" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan penuh perasaan pilu dalam batinnya.

__ADS_1


Salsa terdiam oleh bicara Ibu dengan hatinya.


Akibat kesalahan yang telah jauh kita tinggalkan, kadang lupa menghapus tapak- tapak coretan jejak di masa lalu, sehingga kesalahan itu terus mengejar kemana dan dimana mereka pergi.


__ADS_2