Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Cemas pikiran


__ADS_3

Perubahan dari Anaknya membuat Orang Tua Arjuna semakin cemas, prilakunya seolah datar tak banyak keinginan seperti dahulu, hanya terlihat menurut tatkala mereka menyuruhnya,


"Bagaimana perasaan lama di sini, kerasan gak?" tanya Ibu Widia pada Arjuna ingin tahu,


Arjuna tak langsung menjawab, Dia diam sejenak mungkin sedikit berpikir,


"Ya, seperti yang Ibu lihat sekarang." jawab Arjuna pada Ibunya Widia dengan seenaknya,


"Kata Pamanmu, Kamu sering pulang malam?" tanya Ibu Widia pada Arjuna ingin tahu,


"Ya, sesekali supaya gak jenuh dan lagi paling kerumah teman." jawab Arjuna lagi pada Ibunya Widia pula,


"Bapak sama Ibu kemari merasa khawatir tentang Kamu, takut berbuat seenaknya mentang- mentang hidup ngontrak sendiri, disuruh tinggal dengan Pamanmu kamu menolaknya, sekarang rencana ke depannya gimana?" tanya Bapak Wijaya pada Anaknya Arjuna ingin tahu,


"Gak tahulah, Pak!" jawab Arjuna pada Bapaknya seenaknya,


"Tunanganmu yang dulu Rita, menanyakan Kamu terus, Dia masih belum menikah mungkin masih suka pada Kamu." ucap Ibu Widia pada Arjuna menambahkan,


"Gak mau Ah, biar saja kawin sama Orang lain, Arjuna lagi senang sendiri, Bu." jawab Arjuna pada Ibunya Widia seolah tak perduli,


"Kok sensi gitu jawabannya, mencari pasangan itu harus, dan lagi teman sebayamu sudah semuanya berkeluarga, tinggal Kamu yang belum , Kapan Kamu mau menikah?" ucap Ibu Widia lagi pada Arjuna memaksa,


"Apa menikah? Dulu sewaktu Arjuna hendak menikah dengan Salsa Bapak dan Ibu menolaknya, tapi sekarang malah menyuruh menikah, Bagaimana Ini?" jawab Arjuna pada Ibu Widia dengan wajah ditekuknya,


Mendengar Arjuna menjawab seperti itu, membuat hati Bapak Wijaya berang dengan emosinya, wajahnya memerah dan napasnya tertahan seakan amarahnya akan meledak,


"Kamu gak pantas bicara seperti itu pada Ibumu, sudah dikasih enak malah kurang ajar, dulu kalau perempuannya bukan Salsa Si Wanita bejat itu pasti Kamu sudah Bapak nikahkan, mengerti Kamu!" ucap Pak Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan emosi,


Melihat Suaminya kalap, segera Ibu Wijaya meredam agar emosi Suaminya tak meledak- ledak lagi, lalu Ia alihkan perhatian pembicaraannya,

__ADS_1


"Kata Orang rujak disini enak, coba seenak apa Ibu ingin beli, sudah cepat antar Ibu!" ucap Ibu Wijaya pada Arjuna mengalihkan selisih paham,


"Ibu tunggu disini saja, biar Arjuna yang beli." jawab Arjuna pada Ibunya sambil bergegas berdiri,


"Yaudah kalau begitu. Ibu sama Bapak menunggu disini." ucap Ibu lagi pada Arjuna mengalah menyetujuinya,


Dan tanpa lama segera Arjuna bergegas membeli rujak buat Orang Tuanya,


"Bapak kalau ngomong jangan terlalu keras pada Arjuna, kasihan Dia," ucap Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan sabar,


"Biar saja, biarkan jangan terlalu dimanja supaya Arjuna berpikir, Orang hidup masih dari Orang Tua saja sudah seenaknya." jawab Bapak Wijaya pada Istrinya Widia dengan sedikit emosi,


Melihat Suaminya masih bernuansa emosi akhirnya Ibu Widia mengalah diam.


Harapan senja untuk datangnya malam kadang terhalang matahari yang enggan untuk terbenam, Asa yang sengaja Ia persiapkan untuk Impiannya, kadang terbentur jurang pemisah yang tanpa sadar dibuatnya sendiri.


Begitu sosok Kedua Orang Tua Arjuna pada Anaknya bila kita lihat, jadi hamparan rumput yang tadinya hijau berubah hitam lantaran rasa ingin di hargainya yang begitu tinggi ingin mendapat penghargaan Orang tanpa melihat yang di bawah tanahnya.


Dan Karena perbedaan sudut pandang memaknai cinta dan hidup mereka, membuat Arjuna tertelungkup dalam kenikmatan semu, terbuai kehidupan miring para pemabuk dan pecinta wanita sesaat, hingga dua bulan kemudian Arjuna terjeruji hukuman akibat menggunakan Narkoba, dan tak Ayal lagi Kedua Orang Tuanya merasa hancur hati dan reputasinya, ngiris memang melihat Sang Orang Kaya terhina.


"Malu Aku, Bu! Punya Anak dari kecil kita sayang, tapi sudah besar malah melempar kotoran pada Muka Kita." ucap Bapak Wijaya pada Istrinya Widia dengan murkanya,


"Sudahlah, Kamu terlalu keras pada Arjuna, membuat Ia mencari perhatian pada barang busuk itu, lihat sekarang Arjuna terpuruk di penjara, dan Aku tak sanggup untuk melihatnya." jawab Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan ketus dan jengkelnya,


"Tapi semata- mata itu untuk kebaikannya," ucap Bapak Wijaya lagi pada Ibu Widia pula,


"Mungkin Dia merasa tidak dihargai, dulu Ibu menolak keras disaat Arjuna ingin menikah dengan Salsa, Ibu menyesal sekali." ucap Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan sedih,


"Sudahlah kalau masalah itu gak ada yang salah, memang seyogyanya Salsa itu tidak pantas dengan Anak Kita Arjuna, Dia bukan kelas kita, Bu!" jawab Bapak Wijaya pada Istrinya Widia dengan sombongnya,

__ADS_1


Melihat masalah itu bukan sebagai pelajaran, tapi malah berangsur rasa angkuhnya yang timbul kembali dengan tidak bisa meragap diri, disaat Anaknya Arjuna terjatuh dan perlu sosok sandaran untuk berpaling dari keterpurukan akan frustasi cinta dan hidupnya,


Pagi itu terlihat Salsa sedang duduk sendiri di kursi teras rumahnya, sambil matanya tak lepas memandangi Andreas Anaknya di pangkuannya, segelintir rasa sedih mengiringinya bila melihat Anaknya Andreas, Dia terlahir tidak mempunyai figur sosok seorang Ayah, rasa getir dan sakit di hati bila mengingat itu, bayangan masa lalu pun mulai menyeruak keluar, seolah hari itu Salsa diberi tontonan akan kesedihannya tempo dulu,


Terlihat Salsa bersedih sambil terus memandang Anaknya dengan menangis,


"Maafkan Ibu, Nak! Sungguh jika dulu Ayahmu mengawini Ibu atas restu mereka, mungkin keadaanmu tidak begini, tapi sayang hanya kepahitan dan penderitaan yang Kita rasakan." ucap Salsa pada dirinya.


Tak lama Ibu Juariah menghampirinya, melihat Salsa menangis Ibu Juariah pun bertanya,


"Kenapa lagi dengan Kamu? Menangisi masa lalu lagi? Sudah yang dulu- dulu Kamu lupakan. Apalagi dengan Orang Tua Si Arjuna brengsek itu, bikin hati ini ingin segera membunuhnya." ucap Ibu Juariah pada Salsa mengingatkan akan hidupnya,


Salsa menggeleng- gelengkan kepala pada Ibunya, seakan Ia merasa tak percaya dan merasa tak mungkin akan nasib buruknya,


"Salsa hanya memikirkan Andreas, Bu!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan rasa sakit di hatinya,


"Kenapa dengan Andreas, Sa?" tanya Ibu Juariah pada Salsa ingin tahu,


Karena merasa sangat sedih di hatinya, Salsa tidak langsung menjawab pertanyaan Ibunya, Ia terus memandangi sosok Anaknya Andreas, sambil tangannya mengusap dan membelai pipi Andreas dengan sayangnya, setelah itu Salsa pun menjawab,


"Semua Anak terlahir dengan Sosok Ayah di sampingnya, tapi Andreas Ia berbeda, Bu!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan menangis sedih,


Mendengar itu sontak Ibu Juariah pun terbawa perasaan sedihnya, Dia tak bisa membuat Anaknya bahagia, detak jantungnya seolah tenggelam tertutup dengan rasa sakit bila mengingat segala penderitaan Anaknya Salsa, dengan teurai air mata, Ibu Juariah pun berkata,


"Kadang Kita harus bijak dengan ketidak adilan akan hidup, mungkin di dunia ini banyak pundi- pundi yang kosong untuk kita tempati dan memang berbeda dan tak sama dengan orang lain, walau rasa itu pahit akan deritanya tapi itulah pilihan Kita, semua akan mengalir sesuai pilihan Kita, yang sewaktu- waktu akan menagihnya." jawab Ibu Juariah pada Salsa dengan memaparkan arti hidup,


"Kasihan Andreas, pasti akan menjadikan beban untuknya, masih kecil saja sudah memangku beban yang berat karena orang tuanya." ucap Salsa pada Ibu Juariah sambil mencium kening Andreas,


"Sudah Kamu doakan saja Dia, biarkan Andreas hidup pada hak dan tempatnya, lalu luangkan cinta hatimu untuk Andreas, nanti bisa Kamu lihat akan jadi apa Anakmu itu nantinya, Sabarlah, Sabar Nak!" jawab Ibu Juariah pada Salsa Anaknya sambil menepuk- nepuk punggung Anaknya dengan hati bersedih.

__ADS_1


__ADS_2