
Nuansa hati nan bening yang tak mungkin untuk bisa kita sentuh dengan segala kekotoran akan buruknya perlakuan, Citra nan murni yang hanya bisa ditunjukkan oleh jiwa- jiwa yang berpacu dalam kebaikan, kehampaan tirani sanubari yang membuat semua cinta terlepas tak tentu rimbanya, yang membuat diri ini seolah terdepak dari jalan kehidupan.
Hari itu Ibu Juariah tengah berbaring, matanya memandang Orang- orang yang berada di hadapannya dengan hampanya, semua seolah mimpi buruk yang telah menimpanya, yang memaksanya untuk terbaring lemah dalam kesendirian.
Hari itu memang Dokter sudah memperbolehkan semua orang untuk membesuknya, tatapan senang Anaknya Salsa terlihat menghiasi wajahnya, senyum kekhawatirannya kini seolah sirna, berganti rasa cinta dengan bahagia di hatinya,
"Alhamdulillah, Ibu sudah membaik dan bisa untuk dibesuk, Salsa sangat senang rasanya!" ucap Salsa pada Ibunya sambil memeluk tubuh Ibunya itu,
Ibu Juariah dengan tangan lemahnya membelai rambut Anaknya Salsa dengan Sayangnya, membuat semua orang yang melihatnya disitu merasa Iba dalam hatinya,
"Syukur, Akhirnya Kamu bisa lepas dari keadaan parahmu itu, Ju!" ucap Mantan Suaminya Sebastio pada Ibu Juariah dengan perasaan lega,
"Sekarang hanya menunggu proses penyembuhan, makan jangan lupa, supaya cepat sehat!" ucap Sebastio lagi pada Ibu Juariah debgan segala perhatiannya,
Mendengar Sebastio bicara padanya, Ibu Juariah dengan menguatkan dirinya mengangguk- anggukan kepalanya pada Sebastio dengan lemahnya, seolah menjawab ucapan nasihat mantan Suaminya itu.
Pergeseran nilai cinta terlihat jelas dari apa yang kita lakukan, rasa lelah dan keterpurukan mengantarnya untuk mendaki dinding- dinding curam ketidak berdayaan, yang tumbuh subur beralaskan sifat iri dan dendam, yang menbuat hancur singgasana hati yang temaram.
Pagi itu Yohana tampak berseri- seri rona di wajahnya, seulas senyum pagi itu seolah cintanya kembali tumbuh dengan suburnya, kecurigaan akan ketidak berdayaan Suaminya atas cintanya pada Salsa, sudah bisa Ia tepis dengan jawaban- jawaban hati yang seolah menjadi landasan dalam berpijak akan ucapan nyata dari mulut Salsa dengan hati.
Melihat Istrinya begitu bahagianya, apalagi melihat perut buncitnya yang kian menggapainya untuk menepi di ujung kelahiran calon Anaknya,
Darwis tersenyum lega, pancaran indah kebahagiaan keluarganya seolah tertata rapih dalam sanubarinya, lalu dengan senyum di bibirnya, Darwis menghampiri Istrinya Yohana seraya berkata,
"Pagi ini perasaan ada yang berbeda dari senyum yang tersimpul di bibirmu, sungguh Aku sangat gembira melihatnya." ucap Suaminya Darwis pada Istrinya Yohana dengan mengungkapkan isi di hatinya,
Sejenak Yohana menoleh pada Suaminya yang menghampirinya dengan tanya dan ciuman sayang di keningnya, lantas Yohana menjawab,
"Hari tak seterusnya mendung, dan hujan pun tak selamanya turun, jika Aku hari ini sedang merasakan kebahagiaan, itu lantaran Salsa!" jawab Yohana pada Suaminya Darwis menjelaskan,
__ADS_1
Setengah kaget dibuatnya, mendengar alasan atas nama Salsa, Darwis pun bertanya seolah bingung,
"Apa Katamu, lantaran Salsa? Aku sangat tak mengerti dengan maksudmu?" tanya Darwis pada Istrinya Yohana dengan bingungnya,
Melihat Suaminya merasa bingung atas jawabannya itu, lantas Yohana menjawabnya lagi,
"Benar lantaran Salsa, kemarin di saat Kita menjenguk Ibunya, Aku bertanya pada Salsa tentang cinta dan harapan dirinya padamu!" jawab Yohana lagi pada Suaminya itu,
Benak Suaminya Darwis seolah masih penasaran juga atas jawaban dari Istrinya, Ia pun bertanya lagi,
"Lalu Salsa bicara Apa tentang Aku?" tanya Darwis pula pada Istrinya Yohana merasa penasaran di hati,
Senyum simpul Yohana pada Suaminya, membuat paras cantiknya terlihat jelas oleh Suaminya, seraya menjawab lagi,
"Ia bilang dengan sedikit kata, tapi cerita dengan hatinya yang mengungkapkan perasaan tentang Kamu dengan begitu meyakinkan terhadapku, hingga Aku menyadari tentang kesalahan Aku untuk menilai dirinya, jauh di lubuk hatinya Ia memikirkan Aku yang di sepelekan olehmu kala itu dengan rasa perhatian cintanya, hingga hati ini bergetar karenanya, dan dengan rasa haru yang yang seolah memecahkan keping keraguan pada diriku ini, hingga rasa percaya kepadanya terbentang di hadapanku dalam hati." jawab Yohana pada Suaminya Darwis dengan rasa cinta dan hati bahagia.
"Aku sungguh bahagia, Kamu bisa menerima Salsa dengan sepenuh hati, walau perasaan salah yang terukir dalam hati ini padamu, tak bisa pergi dalam kesakitan luka yang karam dalam tebing tinggi di dalam sanubariku ini, Dan terlebih lagi, Aku sangat bangga padamu!" ucap Suaminya Darwis pada Yohana dengan curahan rasa senang yang dalam pada dirinya.
Sore itu terlihat hanya Salsa yang menunggu Ibunya, Anwar pulang untuk mengganti pakaian dan beristirahat, karena sudah dua hari Anwar menunggu Ibu Juariah di Rumah Sakit,
"Ibu jangan banyak pikiran, bebaskan semua dari masalah yang membuat Ibu sakit," ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan rasa sayangnya itu,
Ibunya sejenak mengangguk pada Salsa, dengan terus mengunyah makanan yang masuk kedalam mulutnya, lalu Ia berkata,
"Ibu Kasihan padamu, pasti Kamu pontang- panting sendiri sewaktu Ibu tak sadarkan diri, Ibu sedih melihatmu tak ada sandaran untuk berpijak, dan lagi Anakmu dalam masa- masanya untuk menguras pikiran dan waktumu." ucap Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa dengan rasa yang tak menentu,
Mendengar ucapan perhatian Ibunya itu, Salsa sedikit menahan rasa sedih di hatinya, dan dengan tegar Ia pun bicara pada Ibunya,
"Sudah jangan berpikir yang macam- macam, baru saja Salsa ngomong, Ibu jangan banyak pikiran supaya cepat sembuh!" jawab Salsa pada Ibunya dengan menyuapi makannya hari itu.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!, tiba- tiba pintu ruang Ibu Juariah di ketuk, dan lantas Brakk! Pintu terbuka lalu,
Tampak Yohana sambil menenteng tas berisi roti datang menghampiri mereka dengan perut buncitnya itu,
"Assalamualaikum," ucap salam Yohana pada mereka berdua dengan senyum simpul di bibirnya,
serta merta Salsa merasa kaget melihat sekonyong- konyong Yohana datang sendirian untuk membesuk Ibunya itu, dengan sedikit kikuk dibuatnya, lalu Salsa pun menjawab salamnya itu,
"Waalaikum Salam," jawab Salsa pada Yohana dengan rasa kagetnya itu,
Yohana menghampiri mereka, Ia langsung mencium tangan Ibu Juariah yang memandangnya dengan tanya dan rasa penasaran dalam hatinya itu, lalu Ia bicara pada Ibu Juariah dengan perhatiannya,
"Aku turut senang melihat Ibu sudah baikan, gimana keadaannya sekarang, Bu?" tanya Yohana pada Ibu Juariah sambil tangannya memberikan tas berisi roti yang Ia bawa pada Salsa,
"Alhamdulillah membaik, Neng!" jawab Ibu Juariah pada Yohana dengan senangnya,
"Suamimu gak ikut, Yohana?" tanya Salsa pada Yohana ingin tahu,
"Mas Darwis lagi kerja," jawab Yohana pada Salsa memberi tahu,
"Tapi Darwis tahu kan Kamu kemari?" tanya Salsa lagi pada Yohana merasa perhatian,
Yohana tak menjawab hanya kepalanya saja yang mengangguk pada Salsa.
"Bukannya apa- apa, Aku hanya khawatir padamu, karena Kamu sedang hamil, Yohana!" ucap Salsa lagi pada Yohana pula,
"Ya, Aku tahu, Kamu perhatian padaku!" jawab Yohana pada Salsa dengan senyum senangnya.
Dengan pertalian hubungan dari hati, yang membuat semua keraguan dan ketidak percayaan menjauh berlari menuju alamnya, celoteh canda dan tawa mengiringi mereka berbincang dengan akrabnya yang membuat Ibu Juariah menyaksikannya dengan rasa bahagia.
__ADS_1