
Prahara akan rencana perkawinan Ibu Juariah, seolah momok kekhawatiran bagi Salsa dan keluarga, hati yang membantu, dan ketas kepala atas wataknya, seolah Ibu Juariah mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang lain,
"Kalau begini siapapun tak akan bisa untuk merubahnya, seolah ada kelainan pada diri Ibumu itu, Salsa!" ucap Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan perasaan haru,
Salsa terdiam mendengar Ayahnya bicara padanya, pikirannya melayang tak karuan, dan bayangan kehancuran atas pernikahan Ibunya itu seolah menjelma dalam pelupuk matanya,
"Salsa juga bingung, harus bagaimana, selain berharap dan berdoa, Ayah!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan perasaan sedih di hatinya,
Ayahnya Sebastio lalu diam terpaku menatapnya, tiba- tiba terdengar Ibu Widury bicara,
"Tapi jangan menyerah, kita harus mengingatkannya, kalau memang Ia tak terima dan tetap pada pendiriannya itu, biarkan saja!" ucap Ibu Widury pada mereka berdua dengan rasa yang mengharukan itu.
"Memang semua itu hanya Ibumu sendiri yang tahu dan merasakannya, serta tahu maksud dari perbuatannya itu!" jawab Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan terus berjalan untuk pergi bekerja.
Selepas pulang kerja, terlihat Anwar berjalan bersama Rusli untuk segera pulang, dan dengan tiba- tiba Anwar menghentikan langkahnya seolah berpikir dalam pikirannya itu, lalu berkata pada Sahabat Rusli,
"Aku sekarang ke kontrakanmu, yah?" tanya Anwar pada Rusli memberi tahunya,
Rusli hanya diam sambil tersenyum pada Anwar, seolah- olah Ia tahu Anwar sedang ada masalah yang menderanya, dengan perhatiannya tak lama Ia pun menjawabnya,
"Gak usah sungkan padaku, monggo!" jawab Rusli pada Anwar meledeknya sambil tertawa,
Dan Anwar pun ikut tertawa dengan guyonan Rusli tadi,
"Lalu motormu bagaimana? Sudah bawa saja ke kontrakannku, jadi gak kepikiran!" ucap Rusli pada Anwar memberi tahu,
Akhirnya Anwar pun segera pergi untuk mengambil motornya itu.
Mereka pun akhirnya pergi bersama menuju kontrakan Rusli yang tak jauh dari situ,
tak lama mereka pun tiba juga, dan Rusli pun langsung membuka pintu dan mempersilahkan Anwar untuk masuk,
"Masuklah, War!" ucap Rusli pada Anwar mempersilahkannya,
Akhirnya Anwar pun masuk, mereka pun akhirnya berbincang- bincang dengan santainya sambil melepas lelah sehabis bekerja,
__ADS_1
"Gak tahu hari ini Aku lagi jenuh di rumah, Rus!" ucap Anwar pada Rusli memberi tahu,
"Memangnya kenapa? Di rumah kan enak, Ada Istri dan Anak?" tanya Rusli pada Anwar dengan rasa Aneh dalam hatinya,
"Aku memikirkan masalah Kakakku, Rus!" jawab Anwar pada Rusli menjelaskan,
"Memang masalah apa sampai gak betah di rumah segala?" tanya Rusli pada Anwar merasa penasaran,
Dan Akhirnya Anwar pun menceritakan tentang rencana pernikahan Kakaknya itu pada Rusli, dengan semuanya dan tak ada yang terlewatkan,
"Nah ceritanya begitu, Rus!" ucap Anwar pada Rusli dengan perasaan kesal di hatinya itu,
"Oh begitu masalahnya, Aku sekarag baru mengerti masalahmu itu!" jawab Rusli pada Anwar menjelaskan.
"Jadi menurutmu Aku harus bagaimana?" tanya Anwar pada Rusli ingin tahu,
Mendengar Anwar bertanya kepadanya, pikiran Rusli pun terus berputar seolah mencari jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu, dan tak lama Rusli pun menjawabnya,
"Menurutku, biarkan saja dulu Kakakmu itu berjalan dengan caranya, rencana perkawinan itu mungkin sudah di perhitungkan dengan cermat oleh Kakakmu itu, dengan segala resikonya yang ada, kadang hidup menurut kita benar, belum tentu benar untuk orang lain!" jawab Rusli pada Anwar yang sedari tadi mendengarkan dengan hidmat.
Mendengar masukan dari Sahabatnya itu, Anwar terus berpikir, Ia mengkaji ucapan Rusli di dalam otaknya sambil rasa bingungnya menyelimuti seluruh pikirannya, dan dengan sambil menarik napas panjang Ia pun berucap,
"Tak ada yang salah yang Kamu lakukan itu, tapi biasanya cara menyampaikannya yang salah, jadi kita cenderung merasa masukan kita itu yang paling benar, itu menurutku, War!" jawab Anwar pada Rusli dengan panjangnya bicara,
Mendengar Rusli bicara dengan panjang lebarnya itu, membuat pikiran dalam otak Anwar menjadi mumet dibuatnya,
"Gak tahulah, Pikiranku menjadi bingung karenanya." ucap Anwar pada Sahabatnya Rusli dengan harapnya itu.
Sore itu tampak Yuli sedang berjalan menuju parkiran motor, Ia sudah janji untuk di jemput Arjuna hari itu, tiba- tiba Davi memanggilnya,
"Yul, Yuli tunggu!" ucap Davi pada Yuli sambil berlari,
"Ada apa, Dav?" tanya Yuli pada Davi dengan rasa bingung di hati,
"Lihat Salsa, Gak?" tanya Davi pada Yuli ingin tahu,
__ADS_1
"Seharian Aku gak bertemu Salsa, atau mungkin Dia sakit?" tanya Yuli pada Davi mengingatkan,
Mendengar ucapan Yuli lantas Davi pun berpikir dalam pikirannya, atau mungkin sibuk dengan rencana Ibunya itu, begitu pikiran Davi di benaknya,
"Yaudah, makasih Yul!" jawab Davi pada Yuli sambil berpaling dan terus berjalan mencari keberadaan Salsa,
Melihat Davi seolah kebingungan, Yuli pun turut ikutan bingung di kepalanya, sambil tersenyum Ia pun melanjutkan jalannya untuk pulang di jemput oleh kekasihnya Arjuna, yang sudah menunggunya di parkiran.
Ternyata yang dicarinya sedang duduk melamun di tepi jalan persis di sebrang kantornya, dan tak lama sambil berlari Davi menghampirinya, lalu segera bertanya padanya,
"Aku cari kemana- mana ternyata ada disini!" ucap Davi pada Salsa memberi tahunya,
Melihat Davi berlari kearahnya hingga membuat Davi kecapaian, Salsa pun tertawa geli, dan matanya menatap Davi dengan tertawa, seraya berkata,
"Kalau lagi begitu, Kamu kelihatan lucu!" ucap Salsa pada Davi dengan tawa di mulutnya itu,
Melihat Salsa tertawa kepadanya, Davi pun bertanya lagi,
"kok tertawa dan meledek Aku terus, senang yah?" tanya Davi pada Salsa sambil mencubit mesra pipi Salsa dengan gemasnya,
"Auww, sakit tahu!" jawab Salsa pada Davi lagi,
"Bodo!" jawab Davi pada Salsa dengan meledeknya.
Sebenarnya rencana Salsa sore itu ingin menjenguk Ibunya lagi, tapi perasaan ragu dalam hatinya yang membuat Salsa mengurungkan niatnya itu.
Di rumah Ibu Sandy, terdengar samar keluarga itu sedang berbincang, mungkin hal serius yang dibicarakannya,
"Ibu khawatir pada pernikahanmu, Zak! Apakah Kamu bisa menafkahi Istrimu yang mantan orang kaya itu, sedangkan Kamu sendiri juga nganggur, kalau Kamu jadi menikah, lalu mau di kasih makan apa Istrimu nanti?" tanya Ibu Sandy pada Anaknya Zaki dengan perasaan ragu dan bingung,
Mendengar ucapan Ibunya yang khawatir padanya, lantas Zaki pun menjawabnya,
"Secara sadar, justru itu yang menjadi keraguan, tapi Ibu doakan saja agar Zaki cepat mendapatkan pekerjaan, Bu!" jawab Zaki pada Ibu Widury dengan merasa pasrah dalam dada.
Sesungguhnya, perasaan Zaki merasa ragu, persiapan untuk pernikahannya itu sudah di ambang matanya, dan lagi Ibunya sangat mengkhawatirkannya, yang membuat pikiran Zaki resah dan bimbang dalam hatinya.
__ADS_1
"Loh...kok menjadi diam? Kamu sakit bukan?" tanya Ibu Sandy pada Anaknya Zaki dengan merasa kasihan,
Zaki hanya menggeleng- gelengkan kepalanya pada Ibunya itu, padahal dalam hati kecilnya itu, merasa sangat khawatir dan ragu untuk rencana perkawinannya itu.