Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Dilarang Keras


__ADS_3

Bergelut dengan cinta dari masalah masa lalunya seolah tak mau lepas dari dirinya, melihat itu Ibunya Juariah begitu ngiris melihatnya, Anaknya yang diharapkan untuk bahagia, kini terpuruk lagi dengan kisah cinta lamanya lagi, batin Ibu Juariah menangis menyaksikan hal itu, dalam otaknya, Salsa harus keluar dari pengaruh dan sisa- sisa masa lalunya yang tertoreh kelabu.


Malamnya Ibu Juariah pun mengajak Salsa untuk bicara berdua, Ibu Juariah ingin tahu apa yang ada dalam hati Salsa tentang Darwis,


"Salsa, Ibu mau bicara padamu!" ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan perasaan haru,


"Ada apa, Bu?" tanya Salsa pada Ibunya sambil berjalan menghampiri,


"Ibu ingin Kamu bahagia, kalau memang Kamu harus menikah, menikahlah! Tapi jangan dengan Darwis." ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa memberi tahu,


Mendengar itu Salsa terdiam, mungkin sedang mengkaji ucapan yang terlontar dari Ibunya yang membuatnya harus berpikir,


"Kok Ibu bicara seperti itu sih, seperti tidak senang Salsa berhubungan dengan Darwis." jawab Salsa pada Darwis dengan perasaan kesal,


"Bukannya tidak senang pada Darwis, tapi merasa tak pantas untukmu, Dia sudah menikah, Salsa!" ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan menerangkannya,


"Salsa juga tahu Darwis sudah menikah, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan hati bertanya- tanya,


"Ibu mau tanya, Apakah Kamu cinta Pada Darwis?" tanya Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa ingin segera tahu,


Mendengar ucapan Ibunya Juariah, Salsa merasa malu dibuatnya, rentetan rasa sayang dan hangat Darwis mulai terbayang di pelupuk matanya, dengan menahan rasa malunya akhirnya Salsa pun menjawab,


"Kalau jujur Salsa mencintainya, mungkin dulu bila Kita tidak menjauh darinya, Aku sudah menjadi Istrinya, walau Salsa sadar pertemuan dengan Darwis hanya aib semata, terlebih orang melihat sosok Darwis yang menggagahi Salsa disaat tak berdaya, tapi setelah itu perasaan hati Salsa merasa nyaman berada di dekatnya, gak tahu itu cinta atau bukan, yang jelas Salsa merasakannya," jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan panjang lebar menjelaskan.


Lalu Ibu Juariah pun menatap Salsa dengan penuh rasa ingin tahu yang besar tentang cintanya,


"Kamu harus belajar sedikit demi sedikit untuk menjauhi Darwis, Kamu boleh menikah tapi bukan dengan Darwis, mengerti!" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan kerasnya bicara,


"Tapi, Salsa sudah merasa Darwis itu pria yang pas buat pendamping hidup, Ia mengerti semua yang Salsa rasakan." jawab Salsa pada Ibunya Juariah menjelaskan,

__ADS_1


"Mungkin perasaan itu muncul karena Kamu belum mengenal pria lain, jadi berkutat hanya disitu- situ saja perasaanmu, cari pria lain yang lebih baik dari Darwis." ucap Ibu Juariah pada Salsa menerangkan dengan gamblang,


"Salsa merasa berat meninggalkan perasaan hati yang memang menyukai Darwis." jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan nada harap yang membelenggunya,


"Sudahlah jangan berdebat lagi, pokoknya Kamu harus bangkit dari keterpurukan masa lalu." ucap Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa menerangkan,


Salsa diam seribu bahasa, yang ada di otaknya hanya Darwis seorang yang menyeruak muncul dalam sanubarinya.


"Apa Salsa bisa menjauh dari Darwis, Bu?" tanya Salsa pada Ibunya Juariah dengan perasaan pesimis,


"Ibu yakin Kamu pasti bisa, bayangkan buruknya bila Kamu terus melayani Suami Orang, apa yang akan mereka katakan pada Kita, Kita sudah merasakan kepahitan hidup yang pahitnya terasa sampai kini, Ibu percaya pasti Kamu bisa." jawab Ibu Juariah pada Salsa dengan rasa optimis yang besar pada Anaknya itu.


"Semoga saja bisa." ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan perasaan hampa,


"Masa Anakmu tidak Kamu pikirkan masa depannya, dan juga pikirkan perasaan Istrinya Darwis, Dia juga punya hati seperti Kita, yang bisa pahit karena Rumah tangganya Kamu usik." jawab Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa memaparkan kebenarannya.


Sore itu tampak Yohana sedang sibuk dengan perangkat sapunya, dan Darwis sedang duduk di sofa sambil pikirannya melayang memikirkan nasib cintanya dengan Salsa, keadaannya mengharuskan Dia untuk menjauh dari Salsa, sedangkan batinnya menjerit seolah enggan untuk menjauh dari sosok Salsa.


"Dari tadi Aku perhatikan melamun terus, ada persolan apa yang membuat Kamu melamun terus?" ucap Yohana pada Suaminya Darwis merasa penasaran,


"Ah, biasa hanya masalah kecil di kantor." jawab Darwis pada Istrinya Yohana sedikit berbohong,


"Oh, begitu," ucap Istrinya Yohana pada Darwis Suaminya dengan jawaban singkat,


Dan takut Yohana merasa curiga terhadapnya, yang akan menjadi bertambah runyam, lalu Ia coba untuk merubah fokus pembicaraannya,


"Kamu masak apa hari ini, Aku sudah lapar!" jawab Darwis pada Istrinya Yohana ingin tahu,


"Lihat Saja sendiri nanti, kalau begitu Ayo Kita makan sekarang!" ucap Istrinya Yohana pada Suaminya Darwis sambil mengajaknya makan,

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pun pergi bersama ke ruang makan, dalam benak Darwis terus memikirkan Salsa, dan tak lama mereka berdua menikmati makan Siangnya dengan lahap.


Di rumah Mama Suci sangat mengkhawatirkan akan perkawinan Anaknya Darwis, pikiran yang menempel dalam otaknya terus bercokol seolah gak mau pergi juga, perasaan hatinya sering gusar bila mengingat Darwis,


"Salsa menjadi momok perhatian Darwis dan melupakan Istrinya, bagaimana caranya agar Darwis bisa melupakan Salsa?" tanya dalam hati,


"Dan lagi memang tak pantas, sudah berkeluarga kok bisa- bisanya mengharapkan wanita lain untuk menikah," begitu pikiran Mama Suci di benaknya.


Dalam keheningan lamunannya, dari jauh sosok Suaminya sedang memperhatikannya, dengan senyum di bibirnya Papa Hanapi pun menghampiri lalu berkata,


"Mama kelihatan gelisah dari tadi, Ada masalah Apa?" tanya Papa Hanapi pada Mama Suci ingin tahu,


Merasa kaget Suaminya menghampiri dan bertanya padanya, wajah Mama Suci pun berubah kemerahan merasa malu, dan tak lama Ia pun menjawabnya,


"Ini pikiranku teringat Anak Kita. Darwis!" jawab Mama Suci pada Papa Hanapi menerangkan,


"Jika memang Mama Sudah kangen pada Darwis, Bagaimana jika besok Kita main kerumahnya?" ucap Papa Hanapi pada Mama Suci dengan senyum manis dibibirnya,


"Boleh, sekalian kita masak disana!" jawab Mama Suci pada Suaminya Hanapi dengan perasaan senang di hati,


"Ya, sudah jangan melamun lagi, Papa pamit berangkat kerja dulu!" ucap Papa Hanapi pada Istrinya Suci sambil melangkah pergi,


"Hati- hati di jalan!" jawab Mama Suci pada Suaminya Hanapi sambil melambaikan tangannya.


"Assalamualaikum," ucap Papa Hanapi pada Istrinya Suci unjuk Salam pergi bekerja,


"Waalaikum Salam," jawab Mama Suci lagi pada Suaminya Hanapi dengan riangnya.


Sengaja rasa gelisahnya tidak Ia ceritakan pada Suaminya Hanapi, takut jika Suaminya mengetahuinya menjadi amarah yang tak bisa di bendungnya, mengingat Suaminya temperamennya keras, dan lagi kecewa yang dulu atas perjodohan itu masih terasa pahitnya hingga kini, jadi untuk rasa ketakutan dan kekhawatiran tentang rumah tangga Anaknya Darwis Ia simpan dengan erat, agar tidak menimbulkan masalah baru.

__ADS_1


"Besok Aku harus bicara pada Darwis, agar Dia tidak sampai salah mengambil keputusan demi cintanya, Dan lagi Aku harus tahu perasaan Anakku itu." ucap Mama Suci pada diri sendiri.


Dan akhirnya dalam kegelisahan dan kekhawatiran tentang Darwis Anaknya, Mama Suci pun beranjak pergi ke kamarnya untuk menuju peraduannya, dengan segenap harapan di hatinya.


__ADS_2