Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Kecurigaan dan rasa amarah


__ADS_3

   Sehabis bekerja terlihat Seno merasa letih, dia lalu duduk di parkiran di samping motornya itu, wajah kusutnya terlihat jelas menandakan dirinya sedang tak berdaya mungkin terkuras tenaganya karena aktivitas bekerjanya itu.


   Saking asyiknya dia duduk merasakan lelahnya itu, tiba- tiba di tengah keresahannya itu muncul sosok bayangan Salsa dalam pikirannya itu, senyum Salsa seolah jelas di pelupuk matanya itu sehingga dirinya tanpa sadar cengar- cengir sendirian.


   "Kenapa Kamu ini? Cengar- cengir sendirian kayak orang gila, pasti melamun jorok di otakmu itu!" Ucap Rusdi pada sahabatnya itu Seno penasaran.


   Mendengar sahabatnya datang tiba- tiba terus bicara padanya, kagetlah Seno dibuatnya, sambil terperanjat dan menahan malu lalu Seno pun menjawabnya.


   "Kamu kalau datang tiba- tiba kayak hantu tau gak, Aku jadi kaget jadinya!" Jawab Seno pada Rusdi menerangkan.


   Rusdi tertawa pada Seno, lalu dia bicara lagi.


   "Habis asyik sendirian sambil cengar- cengir begitu, Aku kasihan pada Kamu takut kesurupan makanya Aku langsung menegurmu, kalau kaget wajarlah orang lagi melamun jorok. Iya, Kan!" Ucap Rusdi lagi pada Seno pula.


   Seno tersenyum pada sahabatnya itu, lantas dia pun menjawab sedikit marah.


   "Enak aja melamun jorok, Aku sedang membayangkan wajah bidadariku yang cantik itu, jadi Aku lupa sekelilingku!" Jawab Seno pada Rusdi sedikit meledeknya.


   Dengan merasa tak senang, lantas Rusdi pun menjawab pada Seno lagi.


   "Baru punya incaran satu saja sudah sombong, bagaimana jika lebih dari satu!" Jawab Rusdi pada Seno menyinggungnya.


   Seno tersenyum sekali lagi pada Rusdi sahabatnya itu, lalu bicara padanya lagi.


   "Biarin satu juga yang penting laku, daripada tidak laku, Coba!" Ucap Seno pada Rusdi sambil menghidupkan mesin motornya itu.


   Mereka pun akhirnya berpisah menuju rumahnya masing- masing.


   Disaat Seno hendak berbelok ke kiri, tiba- tiba seseorang teriak memanggilnya.


   "Sen…Seno! Tunggu Aku!" Ucap Orang itu pada Seno yang sedang melaju pelan dengan motornya itu.


   Seno merasa mengenal sekali suara yang memanggilnya itu, lantas dia pun langsung menoleh ke arah suara itu, Alangkah terkejutnya Seno melihat sosok yang memanggilnya itu ternyata Salsa.


   "Salsa! Mau apa dia kemari menemuiku!" Ucap Seno pada dirinya itu.


   Terlihat Salsa berjalan ke arahnya sambil tangannya dilambai- lambaikan pada Seno.


   "Seno tunggu sebentar!" Ucap Salsa pada Seno sambil teriak keras.


    Akhirnya Seno pun memberhentikan laju sepeda motornya itu, lalu menyapa Salsa sambil tersenyum.


    "Apa kabar, Salsa! Kamu menunggu Aku dari tadi?" Tanya Seno pada Salsa ingin tahu.


    Salsa pun seakan senang melihat Seno menunggunya, terdengar nafasnya tersengal- sengal kecapean karena mengejar Seno, lalu dia pun menjawabnya.

__ADS_1


    "Gak juga, paling setengah jam!" Jawab Salsa pada seno menjelaskan.


    Merasa penasaran Seno pun langsung bertanya perihal maksud Salsa menunggunya itu.


    "Kamu gak kerja? Ada perlu apa menemuiku, Sa?" Tanya Seno lagi pada Salsa merasa penasaran.


    Sambil tersenyum manis pada Seno, lantas Salsa pun menjawab padanya.


    "Ada sedikit yang akan Aku tanyakan, ini sangat penting, bisa kita bicara berdua, Sen!" Tanya Salsa pada Seno merasa tak enak dalam hatinya itu.


    Lalu Seno mengangguk sambil bicara pada Salsa merasa penasaran.


    "Bisa, memang segitu pentingnya bagi Kamu, sehingga Kamu bela- belain menunggu Aku lama?" Tanya Seno pada Salsa ingin tahu.


    Wajah Salsa memerah mendengar Seno bicara sambil sedikit menggodanya.


     "Sudahlah jangan bicara terus, pokoknya kita bicara berdua di tempat yang aman!" Jawab Salsa pada Seno sedikit memaksanya.


   Salsa lalu mengajak Seno ke tempat yang aman untuk bicara serius dengan Seno, dan terpikirlah Bakso Mang Ujang di seberang jalan itu yang terkenal enak itu.


   "Kamu pasti sudah lapar, bagaimana kita bicaranya di kedai Bakso Mang Ujang yang ada di seberang jalan itu, bagaimana?" Tanya Salsa pada Seno ingin tahu.


   Seno mengangguk merasa setuju pada ide Salsa itu.


    Lalu Salsa bicara pada Sopirnya Kang Joni untuk meninggalkannya berdua, lalu Kang Joni pun segera kembali untuk pulang.


   "Kang Joni pulang duluan saja, biar nanti Salsa bersama Seno pulangnya, makasih ya Kang!" Ucap Salsa pada Sopirnya itu Kang Joni sambil tersenyum.


   Akhirnya mereka berdua pun langsung berangkat menuju kedai Bakso Mang Ujang seberang jalan itu sambil berboncengan.


   Dan tak lama Mereka berdua pun tiba juga di kedai Bakso Mang Ujang itu, dan terlihat sore itu di kedai itu tidak ramai pembeli, jadi dengan mudah mereka mendapatkan tempat yang diinginkan mereka itu, lantas Salsa segera memesan dua porsi Bakso campur buat disantap berdua sambil berbincang.


   Dan tak beberapa lama Salsa pun lalu bicara pada Seno.


   "Begini, Aku menemui Kamu sebenarnya ada sesuatu yang ingin Aku tanyakan kepadamu, tapi janji jangan marah!" Ucap Salsa pada Seno memberi tahu.


   Seno mengangguk pada Salsa tanda setuju.


    Lantas Salsa bertanya lagi pada Seno sedikit tegas kepadanya itu.


    "Apakah kemarin Kamu datang ke tempat kerjaku, lalu sekonyong- konyong menendang Davi hingga terjatuh, Sen?" Tanya Salsa pada Seno merasa tak enak dalam dirinya itu.


   Seno tak mengerti apa yang ditanyakan oleh Salsa itu, sehingga dalam pikirannya merasa bingung untuk menjawabnya.


   "Aku bingung atas pertanyaanmu itu, bagaimana Aku bisa menjawabnya!" Jawab Seno pada Salsa menegaskan.

__ADS_1


   Salsa seakan- akan merasa Seno tidak jujur dan menyembunyikan sesuatu darinya itu, sehingga wajah cemberut pun keluar terlihat.


   "Sudah mengaku saja Aku Hanya ingin tahu saja pelakunya, hanya itu!" Ucap Salsa pada Seno sambil merayunya.


   Seno menggeleng- gelengkan kepalanya, dia tetap menjawab tidak tahu karena dia tidak melakukan apa yang dikatakan oleh Salsa itu.


   "Aku bingung padamu, Kamu berpikir bahwa Aku Adalah pelakunya, dari mana Kamu tahu kalau Aku yang melakukannya, jika memang Aku pelakunya!" Jawab Seno pada Salsa sedikit keras nada bicaranya karena emosi.


   Salsa menatap sambil berharap agar Seno menjelaskan kepadanya dengan jujur.


   "Aku mohon Kamu jujur padaku, pengakuanmu itu yang Aku perlukan untuk keluar dari masalahku ini, Sen!" Ucap Salsa pada Seno sambil bersedih.


   Seno merasa dirinya seolah divonis melakukan yang tidak dia lakukan, sambil menahan emosinya itu, lantas dia bicara pada Salsa dengan menunjukan roman tak senangnya itu.


   "Aku sudah berulang menjawab pertanyaanmu itu dengan jujur, bahwa bukan Aku yang melakukannya, dan memang bukan!" Jawab Seno pada Salsa dengan emosi.


   Salsa langsung menunduk merasa dirinya telah membuat Seno marah, Salsa pun terdiam, terlihat matanya berkaca- kaca menahan rasa sedihnya itu.


   Merasa tak tega, Seno langsung bicara tegas pada Salsa.


   "Aku tidak melakukan apa yang dikatakan olehmu itu, kecurigaanmu itu tidak beralasan, Apakah Aku harus mengakui itu padahal bukan Aku Yang melakukannya?" Tanya Seno pada Salsa merasa resah dalam jiwanya itu.


   Salsa diam dengan sejuta kata, pikirannya mencari cara agar Seno mau mengakuinya, lantas Salsa bercerita kejadian dimana Davi terjatuh ke selokan dengan sekali tendangan, dan Salsa bicara juga bahwa Davi mencurigai Seno yang melakukannya.


   Betapa terkejutnya Seno mendengar bahwa dialah pelaku yang menendang Davi hingga terpental ke selokan itu, sehingga memancing amarah Seno keluar.


   "Apa? Davi menuduhku yang melakukannya? Atas dasar apa dia menuduhku?" Tanya Seno pada Salsa sambil matanya melotot serasa mau copot.


   Emosi Seno lantas ditahannya karena pesanan dua porsi Baksonya datang.


   "Ini Neng pesanan Baksonya!" Ucap Mang Ujang pada Salsa sambil memberikan dua mangkuk Bakso campur pesanannya itu.


   Lantas Seno pun mengurungkan niat marahnya itu.


    Salsa lantas mengambil pesanan itu dari tangan Mang Ujang, sambil berucap padanya itu.


    "Iya, terima kasih!" Ucap Salsa pada Mang Ujang sambil tersenyum.


    Lalu mereka berdua pun segera menyantap Bakso campurnya itu dengan suasana hati yang saling emosi di dalam dirinya itu, sehingga tak ada satupun yang bicara, mereka terdiam menahan emosi yang ditakutkan meledak pada saat itu.


   


  


   

__ADS_1


__ADS_2