
Hari yang terlewati membuahkan kekaguman pada apa yang yang mereka berikan, cinta dan seruntutan kebijaksanaan akan mencari bahtera indah untuk dipijaki,
Begitu hari- hari Salsa dan Ibunya yang terbaring sakit itu, pengorbanan dan kecintaan atas semua pilar kesungguhan untuk mencari jalan yang seolah terbelah menghampirinya,
Pagi itu tampak Salsa bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit, dalam pikirannya terlintas Pamannya dengan kesendiriannya menunggu Ibunya dengan sabarnya, perasaan kasihan padanya hingga terpikirkan untuk pergi pagi- pagi untuk menggantikan Pamannya itu untuk menunggu Ibunya, yang terbaring tak berdaya,
"Tapi naik apa? Atau minta Antar Zaki saja jadi bisa membantunya disaat perlu, dan tak perlu lagi sungkan padanya!" begitu pikiran Salsa dalam hatinya,
Akhirnya dengan menggendong Andreas, Salsa berjalan ke rumah Zaki untuk minta diantarnya,
Setelah berjalan sebentar tak lama Salsa pun tiba juga di rumah Zaki, dan langsung Salsa berunjuk Salam dengan sedikit teriaknya,
"Assalamualaikum," ucap Salsa pada Orang rumah yang terlihat sedang berkumpul pagi itu,
"Waalaikum Salam," ucap Ibu Sandy pada Salsa sambil menghampirinya,
"Zaki nya ada, Ibu?" tanya Salsa pada Ibu Sandy sambil menganggukkan kepalanya,
"Eh Salsa, Ada Zaki sedang mandi, Bagaimana keadaan Ibumu, Salsa?" tanya Ibu Sandy pada Salsa dengan perhatiannya,
"Kemarin Sore sih sudah siuman dari tak sadarnya, Bu! Ini juga mau kesana, Mau minta diantar ke Rumah Sakit, bisa gak yah?" tanya Salsa seolah ragu pada Ibu Sandy lagi,
"Sebentar tunggu saja dulu, bentar juga Zaki keluar," jawab Ibu Sandy pada Salsa memberi tahunya,
Salsa pun mengangguk pada Ibu Sandy, sambil terus masuk dan duduk di kursi teras depan rumah Zaki,
"Yang sabar, jangan menangis terus, tetap berdoa untuk kesembuhan Ibumu!" ucap Ibu Sandy pada Salsa dengan nasihat dan rasa pedulinya,
"Terima Kasih, Bu!" jawab Salsa pada Ibu Sandy dengan penuh perhatiannya,
Mereka berdua dengan seriusnya berbincang perihal sakitnya Ibu Juariah, dan tak begitu lama Zaki pun datang menghampirinya,
"Ada apa Kak Salsa?" tanya Zaki pada Salsa dengan ingin tahu maksud kedatangannya,
"Ini Salsa minta Kamu antar ke Rumah Sakit, bisa gak?" tanya Ibunya Sandy pada Anaknya Zaki memberi tahukan,
"Bisa, kebetulan gak ada acara hari ini!" jawab Zaki pada Ibunya Sandy menjelaskan,
__ADS_1
"Kalau begitu, sebentar Zaki ambil motor dulu, Kak Salsa tunggu saja di luar sana, jadi kita langsung bisa segera berangkat," jawab Zaki pada Salsa memberi tahunya,
Dan Akhirnya mereka pun pergi juga ke Rumah Sakit dengan perasaan was- was, karena khawatir semalaman Ibunya ditinggalkan,
Di Rumah Sakit ternyata sudah ada Bapak Sebastio dan Istrinya Widury, sedang berbincang dengan Anwar seputar keadaan Ibu Juariah,
"Gimana keadaannya, disaat Aku tinggalkan?" tanya Sebastio pada Anwar ingin mengetahui keadaannya,
"Dari semalam masih tertidur, dokter bilang itu dampak obat yang Ia berikan untuk mengurangi beban pikirannya!" jawab Anwar pada Sebastio dengan panjang lebar menjelasksnnya,
"Tapi terus membaik kan grafiknya?" tanya Sebastio pada Anwar mengingatkannya,
"Alhamdulillah membaik, Mas!" jawab Anwar pada Sebastio menjelaskan,
"Jadi hari ini bisa ditengok?" tanya Sebastio pada Anwar dengan rasa khawatirnya,
"Sebentar Saya tanyakan dulu ke dokter, deh!" jawab Anwar pada Sebastio lagi,
Akhirnya Anwar pun bergegas pergi untuk bertanya pada dokter, perihal boleh tidaknya Ibu Juariah di tengok hari ini.
"Gimana Pak, boleh masuk ke dalam?" tanya Istrinya Widury pada Suaminya Sebastio dengan penasaran,
Saking asyiknya mereka berdua berbincang, tiba- tiba Salsa datang bersama Zaki dan Anaknya Andreas, lalu langsung menghampirinya,
"Selamat pagi, Ayah!" ucap Salam Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan senyum manis dibibirnya,
"Selamat pagi juga, Andreas tidur dirumahmu?" tanya Sebastio pada Salsa ingin tahu,
"Iya, Ayah! Habis kalau disini Kasihan!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio menerangkan,
"Salsa, ini kenalin Ibu Widury, Ibumu juga!" ucap Sebastio pada Anaknya Salsa memperkenalkan,
"Salam Ibu Widury, perkenalkan Saya Salsa, dan ini Zaki yang setiap hari mengantar Salsa pergi!" jawab Salsa pada mereka berdua dengan begitu senangnya,
"Pagi, Om dan Tante!" ucap Zaki pada mereka berdua menimpali Salsa bicara,
"Senang bertemu denganmu, Salsa!" ucap Ibu Widury pada Salsa sambil tersenyum,
__ADS_1
"Ini Anakmu, Salsa?" tanya Ibu Widury pada Salsa ingin tahu,
"Iya ini anak Salsa, namanya Andreas!" jawab Salsa pada Ibu Widury menjelaskan,
"Boleh Ibu gendong, Sa?" tanya Ibu Widury pada Salsa sambil tangannya disodorkan pada Andreas dengan lucunya,
"Dengan senang hati!" jawab Salsa pada Ibu Widury dengan merasa senangnya,
Lalu Ibu Wudury pun segera menggendong Andreas, lalu Ia ajak berjalan yang membuat Andreas betah dalam gendongan Ibu Widury,
Tak beberapa lama, Anwar pun menghampiri mereka, lalu Ia pun bicara,
"Sebentar lagi di cek dokter dulu, setelah selesai Dokter akan kasih kabar!" ucap Anwar pada mereka semua memberi tahu,
Mereka pun dengan sabar menunggu kabar Dokter yang merawatnya, untuk masuk keruangan Ibu Juariah, agar bisa untuk membesuknya.
Berbeda suasana pagi itu di kediaman Arjuna, di dalam kamar Arjuna sedang duduk dengan diam, terlihat matanya berkaca- kaca menandakan Ia lagi bersedih yang teramat dalam, pikirannya seolah sedang memikirkan sesuatu masalah yang berat dan tak sanggup untuk dipikulnya,
"Kenapa Aku ini seolah tak ada gunanya, terhadap Anakku dan Ibunya, sekarang Ibunya Salsa sedang terbaring sakit seharusnya Aku ada disampingnya, menemani dalam kesedihannya, karena Aku tahu Salsa tidak punya siapa- siapa lagi selain dari Ibunya itu." ucap Arjuna dalam benaknya dengan rasa yang sakit dalam batinnya,
Melihat Anaknya Arjuna seolah melamun seorang diri di kamarnya, dengan kedua matanya menitikkan air mata, yang membuat Ibu Widia ingin segera tahu apa sebenarnya yang dipikirkan Anaknya Arjuna itu, dengan sedikit perlahan Ia berjalan menghampiri Arjuna, dan dengan sayangnya Ibu Wudia pun bertanya Pada Anaknya Arjuna,
"Kamu, Ibu lihat dari tadi menangis sendiri, apa yang Kamu pikirkan?" tanya Ibunya Widia pada Anaknya Arjuna ingin tahu,
Arjuna dengan memendam persoalan dalam jiwanya, dengan mendengar Ibunya bertanya seperti itu, menbuat rasa sedih Arjuna semakin menjadi, tampak tangisanya terdengar lebih keras dengan pilunya,
"Ayo cerita pada Ibu, jangan Kamu pendam sendiri, biar Kita bisa mencari jalan keluarnya bersama, Anakku!" ucap Ibu Widia pada Arjuna dengan menahan rasa kesedihannya,
Arjuna menatap Ibunya dengan tatapan dalam, seolah menginginkan perhatian padanya, dengan berat hati menahan rasa malu dalam dirinya, lantas Arjuna pun menjawabnya,
"Aku ini Pria yang tak berguna, demi Anakku saja Aku tak bisa berbuat apa- apa, di tambah sekarang Ibunya Salsa sedang dirawat di Rumah Sakit, Bu!" ucap Arjuna pada Ibu Widia dengan rasa penyesalan di hatinya,
Mendengar Ibunya Salsa Sakit, lalu Ibu Widia pun bertanya lagi dengan rasa ingin tahunya yang ada dalan hatinya,
"Kamu tahu darimana, Ibunya Salsa dirawat di Rumah Sakit?" tanya Ibu Widia pada Arjuna dengan rasa ingin tahunya yang besar,
"Dari Yuli, Ia pun mengajak Arjuna untuk bersama- sama menengoknya, tapi Arjuna tolak, Karena rasa tak berani dan tak pantas ini, yang selalu ada dalam hati, Bu!" jawab Arjuna pada Ibunya Widia dengan menangis dalam sanubarinya,
__ADS_1
Ibunya tak bisa bicara apa- apa selain ikut bersedih bersama, walaupun dalam lubuk sanubarinya tertanam tentang harapan dan cinta pada Anaknya Arjuna.