Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Depresi Cinta tabu


__ADS_3

Tai kotok serasa coklat, itu mungkin yang dirasakan Darwis yang sedang jatuh cinta yang seolah tak ada lagi rasa sadarnya, masukan dan nasihat belum juga membukakan matanya, tirani hasrat cintanya semakin kuat melingkari dirinya, tak seorang pun bisa menyadarkan dirinya yang diselimuti perasaan cintanya pada Salsa, adab dan kesadaran untuk kebaikan senantiasa Ia terobos dengan keegoannya, betapa malangnya Darwis yang di butakan oleh napsu cintanya.


Perangai Darwis yang terkoyak oleh mimpi kebahagiaan, mencoreng kedamain hati dari Orang yang mengkasihinya, prilaku tak terpujinya seolah membawanya pergi jauh ke antah berantah, menelungkupkanya dengan bias keangkuhan jiwanya akan makna cinta, kepercayaan nun jauh disana pun mulai enggan menghampirinya.


"Semua Orang seolah tak ingin niatku ini terwujud, biarlah Aku jalani sendiri, toh ini keinginanku." begitu ucap Darwis dalam hatinya.


Sore harinya Darwis hendak pergi menemui salsa untuk mengutarakan niatnya, dengan berdandan rapi Ia pacu mobilnya dengan cepat, dalam otaknya terbersit mimpi- mimpi akan niatnya itu, yang membuat Ia bersemangat karenanya, dan tak lama akhirnya Darwis pun tiba di rumah kediaman Salsa,


"Assalamualaikum," ucap Salam Darwis setibanya di depan pintu,


"Waalaikum Salam," jawab Ibu Juariah pada Darwis sambil membukakan pintunya,


Brakk!, pintu dibuka Ibu Juariah, dengan senyum sedikit sinis pada Darwis, lantas Ia pun berkata,


"Mau apalagi Kamu kemari?" tanya Ibu Juariah pada Darwis dengan perasaan tak senangnya,


"Mau ketemu Salsa dan Ibu, Salsanya ada, Bu?" jawab Darwis pada Ibu Juariah ingin tahu,


"Gak ada, lagi pergi!" jawab Ibu Juariah pada Darwis memberi tahunya,


Mendengar jawaban Ibu Juariah padanya, rasa kecewa muncul dalam dirinya, keinginan bertemu dengan pujaannya kini sirna, ketiadaan Salsa pun tak membuat Darwis patah arang, dengan sekelumit keyakinan dirinya, Ia paksakan untuk bicara dengan Ibunya Juariah, demi meloloskan keunginan niatnya itu.


"Yaudah, dengan Ibu saja bicaranya, ada hal penting yang akan Darwis bicarakan dengan Ibu," ucap Darwis pada Ibu Juariah dengan stil yakinnya,


Mendengar itu rasa penasaran Ibu Juariah pun tambah besar, mau apa sesungguhnya Darwis, begitu pikiran Ibu Juariah yang bergelayut kuat dalam otaknya,


"Kalau begitu, masuk dulu kita bicara di dalam saja!" jawab Ibu Juariah pada Darwis menegaskan,


"Baik, dengan senang hati!" jawab Darwis pada Ibu Juariah dengan tak sabaran,


Lalu Darwis segera masuk ke dalam rumah, dan akhirnya mereka pun duduk di ruang tamu, dengan perasaan tak sabar Ibu Juariah pun langsung bertanya,

__ADS_1


"Mau bicara apa? Ibu sampai tak habis pikir merasa penasaran?" tanya Ibu Juariah pada Darwis ingin segera mengetahuinya,


Tatapan tajam mata Darwis tertuju pada Ibu Juariah, dengan senyum dan tarikan napas yang panjang akhirnya Darwis pun mengutarakan maksud kedatangannya pada Ibu Juariah,


"Begini, mungkin Ibu sudah tahu kedekatan Darwis dengan Salsa, bukan rahasia lagi Darwis pun mencintai Salsa," ucap Darwis pada Ibu Juariah dengan berhenti sejenak,


"Iya, itu Ibu sudah tahu, lalu maksudnya apa?" tanya Ibu Juariah pada Darwis menambah penasarannya,


"Justru karena kedekatan itulah Darwis ingin menjauhi omongan miring Orang tentang hubungan ini," ucap Darwis lagi pada Ibu Juariah menjelaskan sedikit,


Bicara seolah mempermainkan rasa penasarannya Ibu Juariah pun merasa kesal dibuatnya,


"Sudah jangan kelamaan, to the point aja!" jawab Ibu Juariah pada Darwis dengan kesalnya,


"Niat Darwis ingin segera menikahi Salsa, Bu!" ucap Darwis pada Ibu Juariah dengan tegasnya bicara tanpa menghiraukan apapun,


Ucapan Darwis yang tak berdasar itu sontak Ibu Juariah pun kaget dibuatnya, Bagai halilintar di siang bolong yang serasa akan menghajarnya dengan kilatan api binasanya, kemarahan tak ayal lagi keluar dengan napsu emosinya, napas terengah mengisyaratkan murka yang begitu besarnya pada Darwis, dengan tatapan tak senang di selingi wajah merah amarah muncul untuk menghajarnya,


Kemarahan Ibu Juariah di ibaratkan awan panas yang siap menghanguskan orang yang berada di bawahnya tanpa ampun, bisikan niat kuat Darwis menjadikan awan itu tak berasa apa- apa,


"Di luaran sana banyak Orang mempunyai Istri dua bahkan lebih, mereka toh bisa dan bahagia, dan lagi Darwis tak akan menyia- nyiakan Yohana, mereka akan menjadi Istri pendamping hidup yang setia," jawab Darwis pada Ibu Juariah dengan antusias yang salah,


"Gila! Kamu sudah tidak waras lagi, sebaiknya Kamu pikirkan dulu sebelum berucap, dasar lelaki edan!" ucap Ibu Juariah pada Darwis dengan kasarnya berucap,


"Maaf, Darwis tak bermaksud membuat Ibu Marah, Ini ungkapan jujur Darwis pada Ibu, bukan maksud lain!" jawab Darwis pada Ibu Juariah dengan dalihnya bicara,


Menghadapi Orang yang sudah gila akan hasrat cinta butanya, membuat kesabaran Ibu Juariah pun semakin habis, dan dengan amarah serta emosi di kepalanya, tanpa ampun Ibu Juariah pun langsung mengusir Darwis dari rumahnya,


"Wong edan, segera tinggalkan rumah ini sebelum aku teriak untuk mengusirmu, cepat keluar!" usir Ibu Juariah pada Darwis sambil bertolak pinggang sambil berdiri dan telunjuknya menunjuk wajah Darwis,


"Maafkan Darwis, tanpa teriak pun Darwis akan keluar, pokoknya nanti Aku akan kembali demi niat Darwis itu!" jawab Darwis pada Ibu Juariah sambil bergegas berjalan menjauh dari rumah itu.

__ADS_1


"Jangan coba- coba untuk kemari lagi, Aku sudah muak melihat wajah bejatmu itu, hey lelaki dungu!" ucap Ibu Juariah pada Darwis yang semaput karena takut.


Sepeninggal Darwis, tampak Ibu Juariah luluh dan letih perasaannya, betapa tidak orang yang tadinya baik berubah menjadi tidak waras, menganggunya dengan niatan yang tak pake otaknya, sehingga perasaan hening ditinggalkan sumber emosi menjadi seolah hampa tak berasa,


"Gak Aku duga, Cintanya pada Salsa membuatnya gila!" begitu ucapan dalam pikiran Ibu Juariah dengan merasa tak percaya.


Sambil diam dengan seribu bahasa dari apa yang dialaminya tadi membuat Ibu Juariah sedikit tak menyadari Anaknya Salsa sudah berada disampingnya,


"Assalamualaikum," ucap Salsa pada Ibunya Juariah sambil menatap khawatir,


Dengan sedikit kaget dalam dirinya Ibu Juariah pun terbangun dari perasaan kagetnya,


"Waalaikum Salam," jawab Ibunya Juariah pada Salsa sambil tanganya mengucek matanya seolah bangun dari kantuknya,


"Kenapa? Kok loyo begitu, Ibu Sakit?" tanya Salsa pada Ibunya dengan rasa khawatir yang dalam,


Ibu Juariah menggeleng- gelengkan kepalanya pada Salsa,


"Lalu kenapa, Bu?" tanya Salsa lagi pada Ibunya ingin tahu,


"Tadi Ibu sangat Kaget dan kecewa, tadi Darwis kemari, lantas Ia bicara ingin menikahi Kamu, lalu amarah Ibu meledak tanpa disadari, lama juga konfrontasi tentang niatnya dengan Ibu, Ibu melihat Darwis sudah tidak waras lagi, Ibu jadi kasihan dan terus memikirkannya, Kasihan karena cintanya pada Kamu, Ia menjadi depresi!" jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa menjelaskannya,


Dengan perasaan sedih dalam diri Salsa, Ia pun menangis sedih, rentetan perjuangan panjang akan cintanya, Darwis menjadi berubah watak asalnya, berubah karena cintanya tak diimbangi dengan iman, hanya demi ambisi hasrat cinta yang seakan membuatnya bahagia, kasihan.


"Maafkan Aku, perjalanan Kita menemukan tikungan perubahan yang berbeda untuk perwujudan dan kebahagiaan Kita, kenangan lamamu selalu kurasa dengan ingatan dari serpihan rasa yang selalu kubayangkan, bawa cintaku kemana Kau pergi, tapi jangan lupakan penderitaanku atas apa yang telah engkau lakukan padaku, maafkan Aku, Sayang!" begitu pikiran yang terpikir oleh Salsa dalam otaknya.


Membuat Salsa terdiam, Ibu Juariah pun lalu merangkul Salsa dengan rasa kegetirannya, walaupun bagaimana, mendengar Darwis berubah pasti imbasnya akan mengena ke hatinya,


"Sudahlah, bukannya Ibu akan menghancurkan puing- puing yang tumbuh dalam relung kalbumu, Ibu tahu Darwis punya tempat yang khusus dalam hatimu, tapi bukankah itu menjebakmu ke dalam masa lalu, sudah lupakan Darwis, lihat Andreas seolah menyuruhmu berlari dari kepungan penderitaan yang mengejarmu, Maafkan Ibu, Nak!" ucap Ibu Juariah pada Salsa Anaknya dengan sepenuh jiwa raganya,


"Itu mungkin sudah di catatkan ilahi untukku, bidukku akan ku kayuh dengan piranti hasrat yang tabu, bicara tentang hati hanya terpaan angin panas yang mengalun menghantamku, biarlah Ia hidup dengan keinginan dalam paksaan hatinya, lalu akan bersandar dalam kegelapan yang akan merubah nasibnya, selamat jalan, Darwisku Sayang!" ucap Salsa pada dirinya dengan berlinang air matanya.

__ADS_1


__ADS_2