
Kepongahan Arjuna itu, tak lain hanya ingin merasa dirinya itu bebas untuk mencari cinta bagi dirinya, Yuli adalah kekasih, itu terjadi berlandaskan kejenuhan dan tuntutan yang menghujamnya, karena rentetan kepedihan dan masalah yang terjadi, yang dialaminya dan membuat dirinya mengesampingkan akan nurani akan cintanya itu,
"Sudahlah, jangan terus menekan Anakmu itu, biarkan Dia senang dengan pilihannya, toh walau Kita paksakan, Apakah menjamin hubungannya itu Aman dengan Yuli?" ucap Ayah Hanapi pada Widia dengan rasa gelisahnya itu,
Widia sejenak terdiam mendengar Ayahnya itu berucap kepadanya, dengan menggeleng- gelengkan kepalanya, lantas Ia pun menjawabnya,
"Benar juga apa Yang Ayah ucapkan itu, Aku jadi bingung harus bagaimana menyelesaijan persoalan ini!" jawab Widia pada Ayagnya itu Hanapi,
Semua mendengarkan apa yang di ucapkan mereka itu, lalu dengan sorot mata takut marah Widia, Suaminya Wijaya pun menimpali pembicaraan mereka itu,
"Coba pikirkan lagi, Kita bingung memutuskan akan hal ini, tapi sebagai Orang Tua, toh tetap mencari kebahagiaan bagi Anak Kita itu, tinggal kita pikirkan bagaimana seharusnya, Karena Yuli masih masa penjajaan pacaran biasa, belum ada keterikatan secara resmi dengan Arjuna, dan kenapa Arjuna menjauhi Yuli, pastikan ada sebabnya, Bu!" ucap Wijaya itu pada Istrinya Widia dengan panjangnya menjelaskan padanya,
Dengan wajah menunduk haru, Widia pun berpikir dengan otaknya itu, mengkaji ucapan mereka itu, dan dengan merasa bingung, Ibunya Subarkah pun menimpali bicara mereka semua,
"Semua juga benar adanya, tapi bila Kita memilih, belum tentu juga pilihan itu merasa benar, sekarang kita biarkan saja Arjuna itu, yang harus kita lakukan hanya berdoa, supaya ada jalan yang terbaik, bagi hubungan Yuli dan Arjuna itu, Ibu kira hanya itulah jalan yang terbaik sekarang ini!" ucap Ibu Subarkah pada mereka dengan menatap sayang Anaknya itu Widia,
Semua merasa setuju, atas ucapan yang terlontar dari mulut Ibu Subarkah itu.
Tapi jauh di lubuk hati Arjuna, kini merasa gelisah adanya, pikiran kekhawatiran Ibunya pada Yuli kekasihnya itu membuatnya resah, benaknya berpikir tentang ketidak pastian akan cintanya pada Sonya itu,
Dalam heningnya hatinya, gelisahnya diri menanggapi masalahnya itu, tiba- tiba datang Ibunya menghampiri dengan tersenyum padanya,
"Sudah jangan bersedih, Arjuna!" ucap Ibunya Widia pada Anaknya itu Arjuna,
Mendengar Ibunya bicara seperti itu, lantas dengan rasa ingin tahu yang besar dalam dirinya, Arjuna pun bicara pada Ibunya itu Widia,
"Gak salah dengar Ibu bicara tidak melarang Arjuna, ada apa dengan Ibu ini?" tanya Arjuna pada Ibunya Widia dengan penasaran,
Lalu Widia menghampiri dan duduk disebelah Anaknya Arjuna, dengan menepuk bahu Arjuna, lantas Widia pun bicara pada Anaknya itu,
"Ibu mungkin sedikit merasa khawatir, tapi setelah Ibu pikir, toh kalau Kamu memang tidak merasa cocok dengan Yuli, mau bagaimana lagi?" tanya Ibunya Widia pada Arjuna dengan menerangkannya itu,
__ADS_1
Mendengar ucapan Ibunya itu, lantas Arjuna pun merangkul dengan rasa sayangnya itu,
"Makasih, atas rasa bijak Ibu pada Arjuna ini!" ucap Arjuna pada Ibunya Widia dengan rasa senangnya itu,
"Iya, tapi jika harus berpisah dengan Yuli, Kamu harus cari cara yang baik, kalau bisa kalian masih berteman, Arjuna!" jawab Ibunya pada Arjuna dengan hati yang sangat resahnya itu,
Arjuna tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya pada Ibunya itu Widia.
Tiba- tiba Jaenab datang, menghampiri mereka berdua dengan sedikit meledeknya,
"Wah sudah pada akur rupanya, nah begitu dong, Kak!" ucap Jaenab pada Widia Kakaknya itu dengan senyum menggodanya,
Mendengar Adiknya Jaenab bicara seperti itu, lantas dengan sedikit sensinya, Widia pun menjawabnya,
"Ini semua ulah Kamu, yang bikin Kakak merasa cemas dengan Arjuna, dasar!" jawab Widia pada Jaenab dengan sensinya itu,
Lalu dengan tersenyum pada Kakaknya itu, lantas Jaenab pun bicara meledek lagi pada Kakaknya itu Widia,
Mendengar ucapan Jaenab dengan jeplaknya itu, terlihat wajah Arjuna merah menahan malu, sambil menatap wajah Anaknya dengan penasaran itu, lantas Widia pun bertanya pada Arjuna dengan rasa ingin tahunya itu,
"Ibu sudah bebaskan semuanya, Tapi apa benar yang diucapkan oleh Tantemu itu, Arjuna?" tanya Ibunya Widia pada Arjuna dengan rasa penasaran dalam otaknya itu,
Mendengar pertanyaan Ibunya itu padanya, lalu mata Arjuna melirik pada Tantenya itu Jaenab, yang sedari tadi mentertawakan mereka berdua itu, lalu Arjuna pun menjawab pada Ibunya itu,
"Iy....Iya, Ibu! Gak tahu Arjuna tertarik padanya!" jawab Arjuna pada Widia Ibunya itu,
Lalu sekonyong- konyong Jaenab bicara menimpali mereka berdua bicara itu, yang membuat Ibu Widia gemas padanya itu,
"Ya, terang saja, Sonya itu sangat cantik, mana ada lelaki yang tidak menoleh padanya!" ucap Jaenab pada Arjuna dengan rasa guyonnya itu,
Mendengar Tantenya berkelakar terus padanya, yang membuat Arjuna pun tertawa geli, mendengar candaan Tantenya itu Jaenab,
__ADS_1
"Sudah jangan bercanda terus, Nab! Kakak sudah pusing melihat Kamu bercanda terus!" ucap Kakaknya Widia pada Adiknya Jaenab dengan rasa tak senangnya,
"Kok, Kak Widia seolah marah pada Jaenab, Salah Jaenab apa?" tanya Jaenab pada Kakaknya itu Widia dengan sedikit merasa heran padanya,
"Siapa yang marah, hanya pusing saja melihatmu, kakak menjadi tak bisa berpikit waras, mengerti!" jawab Widia pada Adiknya itu Jaenab dengan bergegas pergi meninggalkan mereka berdua itu,
Melihat Kakaknya itu dengan marahnya, lantas Jaenab pun tertawa pada Adiknya itu, sambil bicara meledek pada Kakaknya itu,
"Wew, sebegitu marahnya, Awas jika nanti Anak Kakak berdua dengannya itu, nanti Kakak akan merasa bangga melihatnya, coba saja nanti lihat!" ucap Jaenab pada Kakaknya itu Widia sambil tertawa lepas padanya,
"Uhh...dasar Kamu itu, Jaenab!" jawab Widia pada Adiknya itu Jaenab dengan geramnya itu sambil tertawa padanya,
Mereka pun tertawa lepas, Ha..ha..ha..ha,
Arjuna jadi merasa senang dengan kelakuan Ibu dan Tantenya itu, lalu dengan merasa bangga pada Tantenya itu, lantas Arjuna pun bicara pada Tantenya itu,
"Tante hebat, bisa sebegitu mulusnya cinta Arjuna pada Sonya itu, Makasih Tante!" ucap Arjuna pada Tante Jaenab dengan tersenyum senang padanya itu,
Melihat Keponakannya senang, dengan merasa bahagia, lantas Tante Jaenab pun bicara sambil menatap wajahnya Arjuna,
"Itu semata- mata Tante lakukan demi Kamu Arjuna, karena Tante merasa sedih mendengar Cerita tentang masa lalu tentang cintamu itu, Cuma Tante titip, jangan mengecewakan Sonya, Arjuna!" jawab Tante Jaenab pada Keponakannya Arjuna dengan harapannya itu,
Mendengar itu, lantas dengan merasa haru dan menangis pada Tantenya itu, lalu Arjuna pun bicara pada Tantenya itu sambil merangkulnya,
"Arjuna berjanji pada Tante, Tak akan menyia- nyiakan Sonya, Arjuna akan mencintainya dengan sepenuh hati, dan dengan bersungguh- sungguh akan menikahinya secepatnya, Tante!" ucap Arjuna pada Tante Jaenab dengan bersungguh- sungguh itu,
Mendengar itu, Tante Jaenab merasa kaget karenanya itu, lalu Ia bertanya pada Arjuna lagi,
"Apa benar Kamu akan menikahi Sonya secepatnya, Arjuna?" tanya Tante Jaenab pada Arjuna dengan penasaran,
Arjuna hanya diam pada Tantenya itu Jaenab, sambil Kepalanya mengangguk pada Tante Jaenab yang hebat itu, Tante Jaenab merasa tak percaya dengan merasa bahagianya itu.
__ADS_1