Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Pelipur lara, Ovi


__ADS_3

Kebuntuan akan jalan untuk bicara pada Ibunya itu, seakan tak bisa untuk dilakukan Darwis, rasa takut bersedih bila keterus terangan untuk tidak menyetujui Mamamya itu, untuk menikah lagi dengan Om Anton,


"Pokoknya sih sekarang Aku tak bisa untuk membicarakannya dengan Mama, takut jika terus terang, Mama menjadi sedih, untuk saat ini, kita biarkan saja dulu, sambil mencari waktu yang tepat untuk bicara pada Mama!" ucap Darwis pada Adiknya Ovi dengan menegaskannya,


Mendengar Kakaknya itu bicara seperti itu, lantas Ovi pun mengangguk, karena mereka sangat tidak mau melihat Mamanya itu bersedih lagi.


Mendengar Suaminya itu bicara dengan tegasnya pada Adiknya Ovi, Yohana pun segera menimpali pembicaraan itu,


"Itu bagus jika memang begitu, harus mencari waktu yang tepat untuk bicara, lihat Salsa dengan pernikahan Ibunya itu Juariah, yang bila dilihat sangat tak masuk akal, dan banyak omongan miring tentang pernikahan Ibunya itu, tapi Salsa tetap bicara dan berani terus terang dengan tidak setujunya itu, walaupun tidak setujunya itu, tidak menjadikan Ibunya, mengurungkan niatnya untuk menikah lagi, tapi Salsa sangat menerimanya dengan lapang dada, contohlah itu untuk gambaran!" ucap Yohana pada mereka berdua dengan rasa penuh perhatiannya itu.


Darwis pun menatap Istrinya sambil tersenyum, dan Adiknya pun Ovi dengan diamnya mendengarkan Kakak Iparnya itu bicara.


Semua terhanyut dalam suasana ketidak pastian, bias bayangan yang mengikuti mereka itu seakan tak bisa lepas dari niat Mamanya untuk menikah lagi.


Hari itu terlihat pasar baru, terasa sangat ramai pengunjung, hiruk pikuk penjual dan pembeli saling tawar menawar harga dengan serunya itu, di tambah bunyi peluit tukang parkir dengan sibuknya, serta lalu lalang kendaraan bermotor hilir mudik dengan silih berganti memasuki area pasar tanpa henti.


Tampak siang itu Ovi terburu- buru hendak membeli buku untuk persiapan ujiannya, Ia saking terburu- buru, karena hari akan turun hujan, percikan air sudah sedikit menetes terbawa angin, hingga Ia dengan tidak memperhatikan jalannya, tersenggol motor hingga terpelanting jauh, brukk!!, roda motor menyenggol Ovi dengan sedikit kencang, dan terdengar teriak Ovi kesakitan,


"Auwww..aduh! Uhh!" rintih Ovi sambil memegang lututnya yang berdarah itu, dengan kedua tangannya sambil duduk di aspal jalan,


Lalu Si pengendara motor pun langsung turun dan bergegas ingin menolongnya,


"Kenapa jalannya terburu- buru, hampir saja Aku lepas kendali tidak sempat untuk mengerem, jadinya begini, untung sedikit tersenggol motorku pelan, Kamu sakit, Neng?" ucap pengendara motor itu pada Ovi menjelaskan,


Dengan merasa sakit dan malu, lantas Ovi pun segera berdiri dengan pincang kakinya menahan sakit dan malu, karena orang- orang menggerumutinya,


"Maaf, maafkan Aku, tadi Aku buru- buru takut hujan turun!" jawab Ovi pada pengendara motor itu dengan merasa salah dalam dirinya itu,

__ADS_1


Mendengar ucapan Ovi dengan maafnya itu, lantas si pengendara motor itu pun mengangguk pada Ovi, lantas bicara padanya,


"Memang kamu mau beli apa, sampai terburu- buru takut hujan segala?" tanya pengendara motor itu pada Ovi dengan rasa perhatiannya itu,


Dengan menunduk malu, dan kaki merasa sakit di dengkulnya itu, lalu Ovi pun menjawab,


"Tadinya niatnya mau beli buku di toko sebelah sana itu, terburu- buru, eh...malah begini akhirnya!" jawab Ovi pada pengendara itu sambil menerangkan padanya,


Mendengar ucapan Ovi itu, lantas Pengendara motor itu pun langsung bicara pada Ovi merasa kasihan padanya,


"Ya sudah, biar Aku antar kesana, Kamu Aku bonceng dengan motorku, Ayo naik, biar nanti lukamu itu, Aku obati sekalian beli obat merah di toko obat!" ucap Pengendara motor itu pada Ovi dengan membantu memapahnya untuk berjalan menuju motornya itu,


"Maaf jadi membuat repot, gara- gara kecerobohanku!" ucap Ovi pada pengendara motor itu dengan merasa sungkan padanya,


Akhirnya mereka berdua meninggalkan kerumunan orang- orang yang menyaksikan mereka itu, dan dengan dengkulnya terasa sakit, tapi Ovi berusaha untuk menahannya,


"Sudah kamu duduk dulu disitu diatas motor, biar Aku mengoles lukamu itu!" ucap Pengendara itu pada Ovi dengan menyuruhnya untuk diobatinya,


Lalu Ovi segera menaikkan celananya yang sedikit robek itu, hingga terlihat luka lecet dan memarnya terlihat, lalu pengandara itu pun mengoles lukanya itu,


"Tahan sebentar, ya!" ucap.Pengendara itu pada Ovi dengan langsung mengoles lukanya itu,


"Auw...aduh perihh!" ucap Ovi pada pengendara motor itu,


"Tahan...sebentar juga sudah!" jawab pengendara motor itu dengan memperhatikan lukanya itu,


Disaat mata Ovi menatap dengan tajam wajah pengendara itu, alangkah senangnya Ovi, ternyata pengendara motor yang berada di hadapannya itu, dan mengoles lukanya itu, berwajah tampan sekali, hingga jantung Ovi pun berdetak kencang saking gembiranya, melihat tampang keren dan tampan sedang mengobati lukanya itu, hingga rasa ingin memiliki dan sukanya pun datang, dengan secawan cinta dihatinya itu,

__ADS_1


Pengendara motor itu pun langsung menoleh keatas ke wajah Ovi itu, Saat melihatnya, desir hatinya seolah ingin memilikinya, hingga Ia pun merasakan sesuatu yang aneh pada Ovi, sampai hatinya bicara pada dirinya itu,


"Bujug buneng, ternyata Gadis ini cantik sekali!" ucapnya pada dirinya itu,


Melihat Pengendara itu meliriknya dengan matanya yang nakal itu, Ovi pun tersenyum kepadanya, lantas berucap,


"Oh..ya, nama Saya Ovi, dari tadi kita berdua belum berkenalan!" ucap Ovi pada pengendara motor itu sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan padanya,


Dan dengan tanpa menunggu lama, Si Pengendara motor itu pun langsung meresponnya, dengan segera menyodorkan tangannya pada Ovi, sambil berkata padanya, dengan menyebutkan namanya,


"Kenalkan nama Saya Davi!" ucap Davi pada Ovi sambil tersenyum dengan rasa bahagianya itu,


Lalu mereka berdua pun akhirnya berjabat tangan, tampak rasa senang terukir dari wajah mereka, di tambah percikan- percikan cinta yang seakan ingin Menghampiri mereka dengan pasti,


Ternyata pengendara motor yang menyenggol Ovi itu adalah Davi kekasih Salsa, yang sore itu memang sedang mencari sesuatu di pasar itu untuk dibelinya, dan tak tahu suka dan cinta datang dari mana, sehingga pas melihat Ovi, tubuhnya seolah bergetar hebat, seakan merasakan panah Asmara, yang mulai terasa menancap di hatinya, dan seakan melupakan kekasihnya Salsa.


Lalu mereka pun melangkah dengan perasan senang dan bahagia, tautan hati kian bersemi dengan cepatnya, hingga suasana mendung hari itu, terasa sangat indah bagi mereka berdua,


"Masih sakit, gak?" tanya Davi pada Ovi dengan rasa penasaran padanya akan sakitnya itu,


"Sedikit masih ada!" jawab Ovi pada Davi dengan sedikit malunya itu,


"Mau Aku gendong ke toko bukunya itu?" tanya Davi pada Ovi dengan sedikit meledeknya,


"Gak mau, Ah! Takut nanti ada yang marah!" jawab Ovi pada Davi dengan sedikit ingin tahunya itu,


"Yang punya Ibu dan Ayahku di rumah, wew!" jawab Davi pada Ovi sambil mencubit hidungnya dengan gemasnya itu,

__ADS_1


"Aduh sakitt!" ucap Ovi pada Davi dengan manjanya berteriak cinta....he..he..he.


__ADS_2