
Sepeninggal Suaminya Hanapi, hidup Mama Suci semakin merasa kesepian, di dalam hidupnya kini hanya Ovi gadis bungsunya yang selalu menemaninya dengan sabar, dan rasa dan predikat Jandanya itu seolah menjadikannya mudah untuk di goda para lelaki, sehingga seiring waktu keinginan mempunyai pendamping hidupnya lagi seolah muncul dalam pikirannya itu.
Apalagi melihat Anaknya Darwis sudah mempunyai keluarga yang mengurusnya, sehingga untuk keinginan untuk mempunyai Suami baru, sungguh tak bisa dielakan lagi,
Disaat lamunannya mulai semakin dalam di pikirannya tentang keinginannya itu, tiba- tiba terdengar suara lelaki memanggilnya,
"Suci, Suci, tunggu Sebentar!" ucap lelaki itu pada Ibu Suci dengan berlari dari eskalator menghampirinya dengan cepatnya,
Mama Suci terdiam, dan kepalanya langsung menengok ke arah seseorang yang memanggilnya itu, dan disaat melihat orang itu berlari menghampirinya,
Betapa kaget dan merasa senang dalam dirinya itu, ternyata yang menghampirinya adalah Randy, teman sekolahnya dulu, dengan wajah berseri- seri Ibu Suci pun menyapanya,
"Randy, Kamu ngapain di disini, lagi belanja bukan?" tanya Mama Suci pada Randi merasa bingung temannya ada di Mall itu,
Dengan merasa cape karena berlari, Randi sedikit mengatur napasnya dahulu, lantas Ia pun menjawabnya,
"Ini lagi nyari kado buat Anak saudara ulang tahun, tapi dari jauh Aku lihat Kamu berjalan sendirian, dan langsung saja Aku panggil Kamu!" jawab Randy pada Suci dengan ngos- ngosan karenan cape berlari tadi,
Mendengar ucapan Randy itu, wajah Suci tersenyum padanya, rasa kangen akan kenangan dulu muncul ke permukaan di otaknya itu, hingga tak sanggup untuk menolaknya, dan tak lama Sucipun bicara pada Randy,
"Kamu sendirian, mana Istrimu?" tanya Suci pada Randi seolah ingin tahu,
"Istriku di rumah, Aku sendirian ke mari, sekalian pulang kerja langsung kemari," jawab Randy pada Suci dengan menatap wajahnya dengan senangnya itu,
Akhirnya mereka pun berjalan berdua, hendak membeli kado buat Saudaranya Randy yang berulang tahun, dan tak lama setelah mendapatkan Kadonya, mereka pun langsung menuju Cafe untuk makan dan minum sekaligus untuk mengusir rasa kangennya itu.
"Maaf, saat Suamimu wafat, Aku gak bisa datang ke pemakamannya, biasa tuntutan kerja!" ucap Randy pada Suci dengan perasaan tak enaknya itu,
"Gak apa- apa, toh yang lain juga pada datang ngewakilin!" jawab Suci pada Randy sambil tersenyum padanya.
Pertemuan mereka pun semakin hangat, percakapan dan perbincangan dengan diiringi canda dan tawa, mengiringi mereka berdua bicara dengan hangatnya itu.
__ADS_1
"Si Anton nanyain Kamu terus, Dia minta nomor telpon Kamu, tapi Aku gak punya, Dia sudah lama menduda, tadi pagi pun Dia telpon Aku!" ucap Randy pada Suci dengan memberi tahunya itu,
Mendengar nama Anton, pikirannya melayang pada masa sekolah dulu, benaknya berkutat pada sosok Anton yang mantan di saat SMA dulu, dan dengan tersenyum senang, lantas Suci pun bertanya pada teman sekolahnya dulu itu,
"Dia masih kerja di tempat dulu, setahuku sudah pindah?" tanya Suci pada Randi seolah lngin tahu kabarnya,
Randy diam sejenak, untuk berpikir tentang pertanyaan Suci itu, dan tak lama Randy pun menjawabnya,
"Setahuku sih masih di tempat yang lama, mungkin rumahnya yang pindah, karena dulu nyari yang dekat dengan kerjaannya!" jawab Randy pada Suci sambil tangannya mengambil teh botol di hadapannya,
"Oh jadi rumahnya yang pindah, terus Kamu anaknya berapa?" tanya Suci pada Randi dengan ingin tahunya,
"Baru dua, sepasang!" jawab Randy pada Suci menjelaskannya,
"Terus kegiatanmu sekarang apa?" tanya Randy pada Suci seolah ingin tahu,
"Ya, begini, Ibu Rumah Tangga!" jawab Suci pada Randy dengan ringannya menjawab,
Kekangenan mereka sudah terobati dengan perbincangan dan gurauan yang mereka lakukan itu, dan tak lama karena waktu jua yang memisahkan mereka, dan sebelum berpisah Suci pun bicara lagi pada Randy sahabatnya itu,
Lalu Randy dengan segera memberikannya pada Suci, dan tak lama mereka pun berpisah, menuju jalannya masing- masing.
Setelah Randy tak terlihat, dengan penasaran Suci pun menghubungi Anton mantannya dulu, dan tak lama terdengar suara Hpnya berbunyi,
Kring! Kring! Kring!, dan tak lama terdengar suara Anton di nun jauh di sana menjawabnya,
"Halo, dengan siapa ya?" tanya Anton pada Suci dengan rasa ingin tahunya,
Betapa senang hati Suci mendengar Anton menjawabnya, dan dengan rasa iseng di otaknya Suci pun menjawabnya,
"Ini penagih hutang, Mas belum bayar tunggakan bulan kemarin!" jawab Suci pada Anton dengan isengnya itu,
__ADS_1
Mungkin jawaban Suci membuatnya bingung, lantaran Suci sedang mengerjainya, dan dengan sedikit naik amarahnya, dan dengan suara yang nge gass Anton pun menjawabnya,
"Tunggakan apaan, seenaknya saja, maaf mbak salah orang!" jawab Anton dengan marahnya pada Suci seakan mau menutupnya, tak lama Suci pun menjawabnya,
"Memang Iya, tunggakan hati yang dulu pernah janji!" ucap Suci pada Anton seolah ingin mengerjainya lagi,
"Tunggakan hati, ntar dulu...pasti ini Aku kenal!" ucap Anton pada Suci dengan penasaran,
"Kalau mau tahu, Aku tunggu di Cafe jenggot sekarang." ucap Suci pada Anton dan langsung menutup telponnya itu.
Setelah itu Suci pun berjalan dengan santainya menuju Cafe Jenggot yang berada tak jauh dari dirinya itu, sambil berjalan Ia membayangkan masa- masa indah bersamanya, cerita masa lalu yang meumbuat dirinya terbuai nuansa indah bersamanya itu, dan dengan tak sadar langkahnya hampir tetabrak mobil sedan merah itu, ngikkk! Bunyi rem mobil di depannya itu,
Sontak Suci pun kaget, dan terjatuh ke trotoar jalan, dan matanya menatap Lelaki yang keluar dari mobilnya sambil menghardiknya dengan keras, dan wajah ditekuknya itu,
"Kalau jalan pake mata, jangan sambil melamun, dasar kampret, sudah sana minggir, Aku sudah di tunggu seseorang!" hardik Orang itu pada Suci dengan geramnya,
Melihat sosok lelaki itu, ingatan Suci langsung membayangkan sosok Anton dulu, dengan tahi lalatnya di pipinya itu, lalu Ia pun berdiri dan segera bangun dan menghampiri orang itu, yang sudah hendak menginjak pedal gasnya itu,
"Tunggu, Tunggu sebentar!" ucap Suci pada Orang itu dengan teriak kerasnya itu,
Melihat itu, sontak orang itu keluar dengan marahnya, dan terlontar sumpah serapahnya dengan kerasnya itu,
"Hey monyet, berani- beraninya Kamu menghalangi jalanku, mau Aku tabrak, atau Aku panggil security untuk membawamu pergi, sudah minggir, Aku sudah muak melihatmu!" ucap dan hardik lelaki itu pada Suci dengan segera masuk kedalam mobilnya lagi,
Tapi dengan sekonyong- konyong dan teriak dengan keras, Suci dengan lantangnya bicara pada orang itu seraya menantangnya,
"Kalau Kamu mau tabrak Aku, tabraklah sekarang juga Anton tompel!" ucap Suci pada lelaki itu sambil wajahnya manisnya tersenyum pada lelaki itu,
Dengan merasa sangat penasaran, lelaki itu terus berpikir untuk mengingat siapa yang telah berani menantangnya itu dengan senyum, dan tak lama, lelaki itu menghampiri,
"kamuu...Suci bukan?" tanya lelaki itu pada Suci seakan- akan mengenalnya,
__ADS_1
Lalu dengan suara tantangannya semakin keras terdengar lagi, yang memekakkan telinganya,
"Aku Suci....Apa Kamu berani menabrakku Anton tompel!" begitu marahnya Suci pada Lelaki itu.......hingga,