
Mendung seakan mau turun hujan, langit tertutup oleh Awan kelabu, riak air sungai layaknya bercerita, dan suara serangga seolah menyanyikan lagu senja.
Sebastio tampak duduk sambil melamun, matanya di penuhi pijaran kebingungan, hatinya seolah berjalan ketepian cinta, rasa yang dulu kini muncul tiba- tiba, lekatkan jiwanya yang telah pergi.
"Maaf, Bapak sedari tadi terlihat duduk melamun, Ada apa, Pak?" tanya Sekretarisnya Rani pada Sebastio ingin rahu,
Bapak Sebastio melirik Sekretarisnya Rani dengan tajamnya, lantas bicara,
"Biasa, masalah keluarga!" jawab Bapak Sebastio dengan menutupinya,
"Kayaknya bingung, gitu!" ucap Rani pada atasannya Sebastio dengan rasa penasarannya,
"Begitulah, Ran!" jawab Bapak Sebastio lagi pada Rani pula,
Hari itu memang Bapak Sebastio terlihat banyak pikiran, keruwetan pikirannya lantaran niat Mantan Istrinya Juariah ingin rujuk dan hidup bersama lagi, walau bayang- bayang kecewa atas perlakuan Mantan Istrinya masih terasa hingga kini, tapi dalam hati cintanya masih ada.
"Oh, Ya! Hari ini ada jadwal meeting gak, Ran?" tanya Bapak Sebastio pada Sekretarisnya Rani ingin tahu,
"Hari ini kosong, paling besok ada!" jawab Rani pada Bapak Sebastio dengan melihat jadwalnya,
"Kalau begitu Aku mau pulang cepat, perasaanku kurang enak hari ini." ucap Bapak Sebastio pada Rani menjelaskan,
"Semoga lekas sembuh, Pak!" jawab Rani pada Bapak Sebastio dengan mendoakannya,
Akhirnya Rani pun kembali ke ruangannya, dan Kini Bapak Sebastio sendiri lagi dengan semua pikiran gelisahnya.
Begitu pun perasaan Ibu Juariah pada hari itu pun memikirkan tentang niatnya itu, bayangan Impian untuk rujuknya seolah tak mungkin, alasan yang jelas sudah Juariah maklum, semua kembali pada Sang yang punya masalah.
Gusar dan gelisah Ibunya membuat Salsa bertanya- tanya dengan heran, karena tak biasanya Ibunya Juariah seperti itu, Ia selalu optimis dan gembira kapanpun,
"Ibu ada apa? Pasti tentang Ayah!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan rasa perhatiannya,
Mendengar Anaknya bertanya, Ibu juariah tertunduk dengan malunya, deretan cinta yang dulu kini hidup lagi, seolah ingin mengambangi Ibu Juariah dengan sengaja.
"Kemarin Ibu bertemu dengan Ayahmu, lalu Ibu bicara tentang keinginan Ibu padanya." jawab Ibu Juariah pada Salsa memberi tahukan,
"Keinginan? Keinginan apa, Bu?" tanya Salsa pada Ibunya dengan rasa penasaranya,
__ADS_1
Lalu Ibu Juariah menjelaskan tentang niat rujuknya pada Anaknya Salsa, dengan perasaan malu, yang membuat jantungnya seakan lebih cepat berdetak,
"Apa rujuk? Dengan Ayah?" tanya Salsa pada Ibunya Juariah dengan kagetnya,
"Kenapa? Kamu kaget bila Ibu ingin rujuk lagi bersama Ayahmu itu?" ucap Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa ingin tahu,
"Bukan begitu, Bu! gak ada hujan gak ada angin, tahu- tahu Ibu kepikiran rujuk lagi sama Ayah, ceritain dong alasannya pada Salsa?" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan hati penasaran,
"Alasannya satu, yakni demi masa depan kalian," jawab Ibu Juariah pada Salsa memberi tahu,
"Maksudnya? Salsa masih belum mengerti, Bu!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah merasa bingung,
Dan dengan sepenuh hati serta rasa malu di dalam dirinya, Ibu Juariah langsung menceritakan tentang niat dan maksudnya itu pada Anak semata wayangnya itu,
Dan dalam ingatannya jelas Ibu Juariah membayangkan bagaimana bila Ia rujuk kembali dan semua harapan dan keinginannya,
"Bila kita bersama lagi, pilar- pilar karena kehormatan yang ditunggu karena cinta kita berdua dalam hati pasti tumbuh kembali, bahagia yang akan datang dengan hari- hari bersamamu,semoga bisa terlaksana terlebih lagi sekarang kita sudah punya Cucu, lalu akan membungkam omongan miring mereka atas tidak sukanya hubungan tentang perjalanan cinta Kita." begitu perasaan Ibu Juariah di dalam angannya,
"Maafkan Aku, Mas!" ucapnya dalam hati. Jawab Ibu juariah pada Sebastio menegaskannya.
Dalam hayalannya Ia bicara sendiri pada Mantan Suaminya Sebastio, seperti orang kasmaran, dengan menahan sejenak untuk menjawab pertanyaan Anaknya Salsa, dan akhirnya Ibu Juariah pun angkat bicara pada Salsa akan maksudnya itu,
"Semua itu mungkin hanya sementara dibuatnya, Aku merasa sangat mendambakan sosok Suami disampingku." ucap Ibu Juariah pada salsa dengan bingungnya.
Duka nestapa akibat perbuatannya, seolah olah ingin menghampiri, menjauhkan dari keinginannya itu,
"Andreas kemana, Sa!" tanya Ibunya Juariah pada Salsa ingin tahu,
"Ada didalam lagi asik tidur." jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan hati kesal,
Tak lama Ibunya pun segera masuk rumah untuk istirahat.
Siang itu tampak Yuli sedang sendirian, Ia sengaja menunggu Salsa di depan kantin karena rasa kangen pada Sahabatnya itu, dan tak lama terlihat Salsa menghampirinya,
"Makan di mana, Kita?" tanya Salsa pada Yuli yang sedang menunggunya,
"Bakso saja, gimana?" tanya Yuli pada Salsa memberi tahu,
__ADS_1
"Boleh, Ayo!" ucap Salsa lagi pada Yuli pula.
Lalu mereka berdua pun segera pergi ke kedai bakso sebelah tempatnya kerjanya, dengan santai mereka berdua berjalan, lalu akhirnya tiba juga,
Mereka langsung memesan dua porsi Bakso kesukaannya, lalu mereka pun duduk menunggu pesanan datang, dan akhirnya datang juga, tanpa menunggu lama mereka pun langsung menyantapnya,
Disela menyantap Baksonya mereka pun saling berbincang,
"Sa, ada salam dari Arjuna, kemarin Dia kerumahku!" ucap Yuli pada Salsa memberi tahukannya,
Mendengar nama Arjuna, rasa benci Salsa pada Arjuna mulai menguasai diri Salsa,
"Kenapa? Kok diam, masih marah pada Arjuna?" tanya Yuli pada Salsa ingin tahu,
Salsa hanya menggeleng- gelengkan kepalanya pada Yuli dengan tatapan tidak senangnya,
"Kalau Kamu masih merasa benci sama Arjuna, Aku minta maaf untuk ucapan salamnya tadi!" ucap Yuli pula pada Salsa menjelaskan,
"Gak tahu kenapa, jika Aku mendengar nama Arjuna, hatiku ini merasa sakit, rasa benci di dada ini muncul dengan sendirinya, dan rasa muak terhadapnya masih tertanam dalam hati ini, mungkin imbas masa lalu yang membuat Aku seperti ini, pasti Kamu mengerti!" jawab Salsa pada Yuli dengan panjangnya menjelaskan.
"Aku pikir Kamu sudah tidak marah lagi, tapi sudahlah. Kita ngobrol yang lain saja!" ucap Yuli pada sahabatnya Salsa memberi tahunya.
"Davi kemana, Sa? Kok hari ini gak terlihat?" tanya Yuli pada Salsa merubah fokus pembicaraannya,
"Gak tahu, tadi pagi saat mau masuk kerja sih ada, tapi gak tahu kemana sekarang!" jawab Salsa pada Sahabatnya Yuli menjelaskan,
"Atau dia pulang, kali?" ucap Yuli lagi pada Salsa pula,
"Nanti Aku cari tahu, biasanya selalu ada, aneh gak biasanya Dia begini," jawab Salsa pada Yuli menegaskan,
"Sudah hampir jam satu, buruan nanti kena omel lagi." ucap Sahabatnya Yuli pada Salsa mengingatkan.
Mereka berdua pun akhirnya buru- buru pergi dari kedai Bakso itu, menuju tempat mereka bekerja.
Setelah tahu kabar terbaru tentang Kekasihnya dulu, dari sosok Sahabatnya itu, pikiran dan perasaan Salsa tak henti menggelayuti pikirannya, rasa sakit akan masalah dulu sangat terasa penderitaanya, setiap detik rasa sakit dan bencinya timbul seolah- olah ingin menyerang untuk menghantam kedamaian yang Kini mulai Salsa rasakan,
"Yuli, sampai ketemu lagi, Sore setelah pulang kerja Aku tunggu di gerbang, Kita pulang bareng!" ucap Salsa pada Yuli sahabatnya, sambil melambaikan tangannya,
__ADS_1
"Iya, nanti kita pulang bareng." jawab Yuli pada Sahabatnya Salsa sambil tersenyum.
Lalu mereka pun berpisah ke bagian masing- masing untuk meneruskan bekerjanya.