
Yuli hanya merasa pasrah bila ingat Arjuna tak bisa lepas dari sosok Salsa, Ia sadar mungkin Salsa adalah cinta pertama dan memory yang susah untuk di hapus dalam hatinya,
"Ayo bicara Arjuna, Ibu mengerti akan semua yang terjadi, tapi bila Kamu bicara dari hatimu itu, mungkin sedikit bisa mengobati rasa sakitmu itu?" tanya Ibu Widia pada Arjuna dengan perhatiannya itu,
"Betul apa yang diucapkan Ibumu itu, Arjuna!" ucap Ayah Wijaya pada Arjuna dengan menimpali Istrinya bicara,
Sejenak mereka terdiam karenanya, matanya saling pandang, seolah- olah sedang memaksakan Arjuna bicara, Yuli pun menggeleng- gelengkan kepalanya, seakan tak mengerti apa yang ada dipikirkan kekasihnya itu.
"Yaudah kalau Kamu tak mau bicara, terus Kamu menyikapi Arjuna ini Bagaimana, Yul?" tanya Ibu Widia pada Yuli ingin tahu,
Sejenak Yuli melirik Arjuna dengan tersenyum, dan pikirannya tak henti memikirkan kekasihnya itu, lantas Yuli pun menjawabnya,
"Memang siapapun Akan seperti Arjuna, bila mengalami hal yang sama, walaupun dari hati Yuli merasa berat ada wanita lain selain Yuli dihatinya itu, tapi Yuli memakluminya, toh Salsa sendiri membencinya, dan lagi Salsa sudah punya kekasih yang akan menjadi Suaminya kelak!" jawab Yuli pada Ibu Widia dengan menjelaskannya,
Mereka berdua mengangguk pada Yuli, seolah mengerti akan perasaan Yuli, dan Arjuna menatap Yuli dengan gusarnya, hingga pandangannya terbentur senyum manis Yuli kepadanya,
"Dengar Arjuna, Yuli memaklumi keadaanmu itu, sekarang jalani hubunganmu itu dengan Yuli, Ibu percaya pasti Kamu akan bisa menghapus noda dalam hatimu itu." ucap Ibu Widia pada Arjuna dengan nasehat terbaiknya itu.
Mereka merasa memaklumi atas diamnya Arjuna itu, benih penderitaannya berasal dari kelakuan mereka, sehingga tak bisa memaksakan kehendak seperti dulu, sudah cukuplah Arjuna menderita, biar semuanya berjalan apa adanya.
"Kamu mau pulang kapan, Yul?" tanya Arjuna pada Yuli ingin tahu,
"Sorean saja, panas siang- siang begini, sekalian ngaso dulu, gimana?" jawab Yuli pada Arjuna dengan memberi tahu,
"Terserah Kamulah, Aku sih setuju saja walau menginap sekalipun!" ucap Arjuna pada Yuli sambil tersenyum,
Mendengar Arjuna dengan sedikit meledeknya, Yuli pun berbisik pada Arjuna itu,
"Aku mau minta tanggung jawabmu, Anuku masih sakit, dan lagi masih separo kayaknya nanggung!" jawab Yuli pada Arjuna dengan mencubit tangan Kekasihnya itu,
Melihat Anaknya saling melepaskan kemesraan itu, kedua Orang Tua itu akhirnya segera untuk meninggalkan mereka berdua, mungkin merasa malu melihatnya,
"Sudah Ayah dan Ibu mau Isitirahat dulu, Yuli Ibu masuk dulu!" ucap Ibu Widia pada Yuli sambil bergegas pergi dari situ,
"Baik, Bu! Silahkan!" jawab Yuli pada Ibu Widia dengan mengangguk padanya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua pun menuju teras depan rumah, untuk sekedar menghilangkan jenuh, karena sejak tadi berada dia dalam terus,
"Eh..Eh..sakit, gendong Aku!" ucap Yuli pada Arjuna yang hendak berjalan ke teras,
"Manja amat sih, jalan sendiri dong!" jawab Arjuna pada Yuli dengan kesalinya itu,
"Mau nanti Aku bilang ke Ibumu Anuku sakit tak bisa berjalan karenamu?" ucap Yuli pada Arjuna dengan mengancamnya,
Mendengar ancaman Yuli itu, terlihat senyum malu Arjuna pada Yuli, itu terlihat dari merah wajahnya,
"Ayo cepetan, dasar manja!" jawab Arjuna pada Yuli sambil menggendongnya,
"Nah begitu dong, nanti gak Aku beri lagi baru tahu!" ucap Yuli pada Arjuna dengan berkelakar.
Mereka pun duduk santai di teras depan rymah mereka itu, hingga tawa dan canda mereka terdengar dengan hangatnya.
Di dalam kamar terdengar Kedua Orang Tua mereka bicara dari hati ke hati, kepunahan keinginan cepat untuk segera mendapatkan momongan itu kini hilang,
"Arjuna mungkin ingin menjalani hubungannya dulu dengan Yuli itu, Yah!" ucap Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan harunya itu,
"Semoga saja Yuli bisa melupakan kenangan Arjuna itu dengan cintanya itu!" ucap Widia pada Suaminya Wijaya dengan berharap,
"Ya, semoga saja begitu!" jawab Wijaya pada Istrinya Widia dengan rasa kegelisahannya itu.
Sedangkan Salsa, hanya merasa benci pada Arjuna itu, kegetiran jiwanya dulu, seakan masih terasa hingga kini, terlebih lagi bila melihat Anaknya Andreas, seketika itu pula rasa benci dan marahnya akan muncul tiba- tiba.
"Non Salsa, dipanggil oleh Bapak di ruang tamu sedang menunggu" ucap Bibi Ulpa pada Salsa dengan memberi tahunya,
"Iya, Terima Kasih, Bi!" jawab Salsa pada Bibi Ulpa sambil bergegas berjalan ke ruang tamu,
Di ruang tamu tampak Ayah Sebastio sedang duduk menunggu Salsa, sambil matanya memandang ke depan, dengan perasaan tak menentu di dalam hatinya itu,
Tak lama Salsa pun datang menghampiri Ayahnya itu, dengan tersenyum padanya, lantas bertanya,
"Ayah memanggil Salsa, Ada apa, Yah?" tanya Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan rasa penasaran,
__ADS_1
"Ayah hanya ingin bicara sedikit pada Kamu!" jawab Ayah Sebastio dengan menjelaskannya,
Mendengar Ayahnya seperti itu, membuat beribu tanya menghantui pikirannya, dan dengan penasarannya, lantas Salsa pun bicara lagi,
"Soal apa, Yah?" ucap Salsa pada Ayah Sebastio dengan tersenyum,
"Duduklah dulu, Sa!" jawab Ayah Sebastio lagi pada Anaknya Salsa dengan harapnya itu,
Salsa pun akhirnya duduk juga, dan dengan menatap sayang wajah Ayahnya itu, segera Salsa pun bertanya, pada Ayahnya itu,
"Kayaknya Serius amat, ada apa, sih?" tanya Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan penasarannya,
Tak lama setelah Sebastio berpikir dalam otaknya, lalu Sebastio pun bicara pada Salsa,
"Setelah Ibumu menikah, Ayah kepikiran tentang hubunganmu dengan Davi, sudah ada rencana menikah untuk kalian itu?" tanya Ayah Sebastio pada Anaknya Salsa dengan rasa ingin tahunya itu,
Mendengar Ayahnya Sebastio berkata tentang hubingannya dengan Davi, sontak pikiran Salsa melayang jauh, biduk hubungannya belum pernah Ia bahas dengan kekasihnya Davi, sehingga rasa cemas dirinya, untuk menjawab pertanyaan dari Ayahnya itu,
"Sejujurnya Salsa dan Davi belum ada pembicaraan kearah situ, hanya pacaran layaknya orang pacaran!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan jujurnya bicara,
Sebastio menatap wajah Anaknya itu, dan pikirannya menerawang jauh, seolah ingin mencari sesuatu dalam diri Anaknya itu,
"Kenapa kalian belum membicarakannya?" tanya Sebastio lagi pada Salsa pula,
"Belum sempat saja, Ayah!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan wajah tersenyum,
"Nanti sekali- sekali singgung ke arah itu, biar Davi berpikir untuk mempersiapkannya!" ucap Sebastio pada Salsa dengan harapannya itu,
"Iya, Ayah! Dan lagi Salsa pun belum pernah mengenal keluarganya!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan harunya itu,
"Masa, jadi selama kenalan dan menjalin hubungan Kamu belum Bertemu dengan Kedua Orang Tuanya?" tanya Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan sedikit kaget,
Salsa terdiam dan tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya pada Ayahnya itu Sebastio,
Semua seolah diam, setelah tahu hubungaan Salsa yang sebenarnya itu, hingga Ayahnya Sebastio pun tersenyum pada Anaknya itu Salsa.
__ADS_1