
Perasaan aneh menyelimuti hati Salsa, keterangan dari semua orang tentang sosok Pria berbaju hitam dan memakai Helm yang menendang Davi tadi, tidak ada yang mengetahuinya.
Salsa dan kedua sahabatnya itu merasa bingung dan penasaran dibuatnya, hanya terlihat wajah semakin benci pada mereka tergurat dari wajah Davi.
"Ini bingung jadinya, Apakah Seno yang melakukannya" tanya Yuli pada Salsa.
"Jika merujuk pada cerita Davi pastilah Seno pelakunya, sedangkan nyatanya Aku pun tak tahu!" Jawab Salsa pada sahabatnya itu bingung.
Davi tetap menyangka Senolah yang telah menendangnya, hingga dia merasakan rasa sakit yang teramat sangat karena tendangan itu.
"Davi tetap menyangka Seno yang melakukannya, hingga semakin bencilah dia padaku, Yul!" Ucap Salsa menjelaskan.
Davi semakin muak melihat Salsa, yang seakan Salsa memulai genderang peperangan pada dirinya itu, padahal Salsa sendiri tidak tahu dan lebih cenderung ingin menjauh dari segala masalah yang berhubungan dengan Davi.
"Gak tahulah Aku pusing memikirkannya." Ucap Salsa lagi merasa resah.
Hati penasaran Salsa menjadi semakin ingin mengetahuinya, atas tabir yang sedang bergejolak yang menyudutkannya, Pria misterius yang dicarinya itu tak bisa ditemukan.
"Tapi Aku harus menemukannya, akan Aku temui Seno untuk menanyakan hal ini padanya.
"Itu benar sekali, mengingat tanggapan semua orang tertuju padamu, Sa!" Jawab Yuli pada Sahabatnya itu.
Di perjalanan pulang Salsa berpikir dalam benaknya, Apakah ini memang Seno yang berbuat untuk membela nya, atau ada orang lain lagi selain Seno, begitu pikiran yang berkecamuk di dalam pikirannya itu.
Karena rasa penasarannya tak bisa ditahannya itu, lantas Salsa mengeluarkan Hpnya, dan langsung menelpon Seno tanpa menunggunya.
Tut!
Tut!
Tut!
Suara dering telepon Hp Salsa berbunyi, tapi tetap tidak ada yang mengangkatnya. Dan beberapa kali Salsa mencobanya tetapi tetap tidak aktif.
__ADS_1
"Kok gak diangkat sih? Dan kelihatannya tidak aktif, apa lagi di Cass, Ya!" Ucap Salsa pada dirinya itu.
Salsa sungguh merasa kecewa, pikirannya tetap penasaran akan pelaku tendangan terhadap Davi itu, saking seriusnya memikirkan kejadian itu, tanpa sadar Kang Joni Sopir pribadinya itu bicara padanya.
"Neng Salsa, kenapa sih? Kok kayaknya sedang ada masalah, diam terus dari tadi!" Tanya Kang Joni pada Salsa ingin tahu.
Lantas Salsa menoleh pada Kang Joni sambil menggeleng- gelengkan kepalanya pada Kang Joni, tak lama dia pun menjawab padanya.
"Ini ada masalah sedikit di kerjaan tadi, yang membuat Salsa bingung!" Jawab Salsa pada Kang Joni menerangkan.
Pikiran Salsa terus berpikir, mungkinkah Seno yang melakukannya? Sedangkan hampir semua yang berada disitu menjawab tidak tahu.
Tiba- tiba Kang Joni bicara lagi sedikit keras melihat majikannya itu sedang termenung sedih, supaya terdengar di telinganya.
"Memang apa masalahnya, Non?" Tanya Kang Joni pada Salsa penasaran.
Salsa merasa malu mendengar Kang Joni bertanya kepadanya, dengan wajah sedikit ditekuknya lantas Salsa pun menjawabnya.
"Ini tadi Davi ada seseorang yang menendangnya sambil berlari, tapi semua orang tidak tahu orang yang menendangnya itu, sekarang Davi menuduh Salsa yang menyuruhnya!" Jawab Salsa menjelaskan pada Kang Joni lagi.
Disaat Salsa diam untuk merenungi masalahnya itu, Kang Joni bicara lagi pada Salsa, "Aku tadi melihat sosok Seno dengan jaket hitamnya di pinggir jalan sambil matanya terus memandangi seikat bunga yang rusak di trotoar jalan dan tak lama dia langsung menginjak- injak bunga yang berserakan seolah sedang marah dan kesal." Ucap Kang Joni menjelaskan pada Salda menjelaskan.
Alangkah kagetnya Salsa mendengar Kang Joni bicara itu padanya, seolah mendapatkan jawaban atas permasalahannya itu, lantas Salsa pun menjawabnya.
"Memang Kang Joni bertemu dia dimana?" Tanya Salsa pada kang Joni ingin cepat tahu keberadaannya.
Sejenak Kang Joni diam, dia terus memperhatikan wajah Salsa yang merasa cemas akan sesuatu, dan tak lama Kang Joni pun bicara dimana dia bertemu dengan Seno itu.
"Diseberang jalan dekat Apotik Berseri itu, Non!" Jawab Kang Joni menjelaskan pada Salsa lagi.
Lalu Salsa menyuruh Kang Joni untuk menunjukkan tempat dimana dia melihat sosok Seno itu pada Kang Joni.
"Sudah sekarang juga tolong antar Aku ke sana, tempat dimana Kang Joni tadi melihat Seno!" Jawab Salsa pada Kang Joni menyuruhnya.
__ADS_1
"Baik, Non!" Jawab Kang Joni pada Salsa lagi.
Akhirnya Kang Joni segera berbalik arah untuk menuju tempat dimana dia melihat Seno yang sedang merasa jengkel itu.
Setibanya di tempat yang dituju itu, lantas Salsa menyuruh Kang Joni tetap tinggal di mobil sedangkan Salsa turun untuk menyelidiki tempat dimana Seno itu terlihat Kang Joni.
Salsa matanya tak henti melihat kiri dan kanan seakan dia ingin mencari seseorang, dia berjalan mondar- mandir sendirian sambil matanya menatap sesuatu di trotoar jalan.
"Jika dia tadi kemari kemungkinan besar dari arah dimana Aku bekerja, jadi ini bisa dijadikan tolak ukur untuk mengetahuinya, semoga saja Seno masih berada di sekitar sini!" Ucap Salsa dalam hatinya.
Lalu dia sambil berjongkok memperhatikan ada apa itu, ternyata beberapa tangkai dan bunga yang acak- acakan bertaburan di jalan dan trotoar itu, dan terlihat seolah- olah itu sudah diinjak- injak yang punya, itu bisa dari beberapa tangkai bunga itu yang gepeng menjadi terlihat pipih itu.
"Ini seperti seikat bunga ucapan yang hancur berantakan, apakah ini juga Seno yang punya?" Tanya Salsa di benaknya itu penasaran.
Pikiran Salsa bertanya- tanya jika Seno yang melakukannya itu, lalu buat apa dia menghancurkan bunganya itu dan untuk apa? Begitu pikiran Salsa dalam benaknya itu.
"Dari watak Seno yang jauh dari kata romantis, memang tak mungkin dia mengungkapkan kata hatinya dengan seikat bunga ini!" Begitu pikiran dalam otak Salsa itu kebingungan.
Hati cemas sungguh kini Salsa rasakan, benaknya bingung dan bertanya- tanya dalam dirinya itu, tiba- tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang ujung nya sedikit robek yang sudah kotor akibat injakan seseorang, itu terlihat tapak tanah sol sepatunya di kertas itu.
Langsung Salsa mengambilnya untuk sekedar ingin tahu, lantas Salsa berdiri lalu berjalan hendak pulang menuju mobilnya itu.
Tiba- tiba matanya melihat nama tujuan untuk seikat bunga itu masih tertera walau sedikit sudah sobek tapi masih terbaca dengan jelas, dan namanya itu adalah Salsa.
Alangkah kagetnya Salsa, pikirannya merasa penasaran, dan hatinya seakan terenyuh melihat namanya tertulis di kertas itu walaupun sedikit tertutup kotor dari sol sepatunya itu.
"Jadi bunga ini tertuju untukku, apakah Seno ingin mengungkapkan kata hatinya itu kepadaku?" Tanya Salsa serasa bingung sambil sedikit tersenyum pada dirinya itu.
Dia seakan menangis tak percaya, apakah ini pertanda Seno mencintainya atau membencinya, sungguh perasaan itu yang kini ada dalam hatinya itu.
__ADS_1