Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Kegelisahan tiada tara


__ADS_3

   Harapan Ibu Srie tentang Anaknya terbias di dalam benaknya, merasa harapannya itu tak bisa dia tahan di dalam pikirannya , lantas Ibu Srie pun bertanya.


   "Ibu sangat berharap Davi bersama Ovi nanti bisa merengkuh dayung sampai ke pelaminan, sudahlah jangan terlalu memikirkan Orang lain lagi, fokus pada masa depan hubunganmu itu!" Ucap Ibu Srie pada Mereka itu dengan tersenyum.


   Semua seolah terdiam mendengarkan Ibu Srie bicara dari dalam hatinya, dan tak lama dia pun bertanya sebagai Ibu yang berharap pada Anaknya itu.


   "Apakah kalian berdua bisa menjadi Suami Istri kelak? Ibu sangat berharap itu terjadi, bisakah kalian berdua mewujudkannya?" Tanya seorang Ibu pada Anaknya itu.


   Pertanyaan tentang keinginan seorang Ibu kepada Anaknya itu seolah menggambarkan kegelisahan di dalam dirinya, dan tak lama Yohana segera untuk menjawabnya.


   "Semua tergantung dari niat dan kelakuan kalian sendiri, percik api yang berkobar sekarang sebetulnya tidak lepas dari kelakuan buruk kalian sendiri, sekarang jaga sikap dan bicaramu itu, kuatkan piranti cintamu itu dengan rasa sayang dalam dirimu itu, jangan kecewakan Ibumu itu!" Ucap Yohana dari lubuk hatinya yang paling dalam menimpali Ibu Srie bicara.


   Ibu Srie tersenyum mendengar jawaban dari Yohana, senyumnya terbias di wajahnya itu, menandakan dia sudah bisa untuk mengerti.


   "Benar segala ucapanmu itu, Yohana! Ibu senang jika nanti Davi menikah dengan Ovi, Kamu adalah Kakak Ipar yang sangat Ibu andalkan kelak!" Ucap Ibu Srie sambil tersenyum lega.


   Ovi melihat Ibu Srie tersenyum padanya membuat hatinya gembira, dan tak lama dia pun langsung bicara mengisi perbincangannya diantara mereka itu.


   "Semoga saja harapan Ibu itu menjadi kenyataan, itu pun tak lepas dari Doa Ibu pada Kami berdua ini!" Ucap Ovi pada Ibu Srie merasa terharu.


   Selang beberapa lamanya mereka berbincang bersama, akhirnya Yohana dan Ovi pun pamit pulang meninggalkan Mereka.


   "Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, Kami berdua mohon pamit, soalnya takut kemalaman di jalan, senang kami bisa bertemu kalian berdua!" Ucap Yohana pada Mereka berdua untuk pamit.


   Di perjalanan pulang mereka berdua sambil berboncengan saling bicara mengenai tanggapan penerimaan Ibu Srie dan Davi kepada mereka itu.


   "Bagaimana menurut Kakak tanggapan Ibunya Davi itu pada Ovi?" Tanya Ovi pada Kakak Iparnya itu Yohana ingin tahu.


   Yohana merasa kaget mendengar Adik Iparnya itu bicara tentang tanggapan Ibu Srid kepadanya itu.


   "Menurut Kakak sih lumrah, dan biasa. Semua Orang Tua akan bersikap seperti itu jika posisinya sama seperti yang dialami oleh Ibunya Davi itu." Jawab Yohana pada Ovi menjelaskan.

__ADS_1


   Dan tak beberapa lama diperjalanan, akhirnya mereka pun tiba juga di rumah mereka, dan terlihat Mama Suci sambil memangku Cucunya Anggi yang sedang duduk di teras depan menunggu mereka datang.


   Mama Suci merasa penasaran ingin tahu dan langsung bertanya tentang keadaan Davi.


   "Bagaimana keadaan Davi itu, Yohana?" Tanya Mama Suci pada Yohana ingin tahu.


   Yohana tampak tersenyum pada Ibu Mertuanya itu, lantas dia pun menjawabnya.


   "Hanya sedikit luka lebam di wajahnya saja akibat terbentur trotoar!" Jawab Yohana menjelaskan pada Ibu Mertuanya itu.   


   Ovi yang sempat melihat Mama Suci resah mendadak tersenyum manis pada Mamanya itu, dia pun langsung menjawabnya.


   "Gak apa- apa, Ma! Cuma biru memar yang agak parah di wajahnya saja!" Ucap Ovi pada Mamanya Suci merasa lega.


   Mama Suci berpendapat, "Mungkin semua ini pelajaran, mengingat pada dasarnya Davi itu orang baik, hanya karena merasa cemburu buta saja dia berubah, jadi cenderung senang jika menghina dan merendahkan mantan kekasihnya itu." Ucap Mamanya itu Suci.


   Yohana pun berpikiran yang hampir sama dengan Mama Suci itu, dia hanya membingungkan si pelaku pemukulan itu.


    "Yohana juga berpikiran seperti itu, Ma! Yang Yohana bingung Si pelaku ini kok sama sekali tidak dikenal Davi, atau mungkin Orang Asing atau suruhan?" Tanya Yohana pula pada Mama Suci bingung.


   "Mama juga berpikiran seperti itu, atau mungkin orang dekat yang pintar memanfaatkan situasi pelik itu!" Jawab Mama Suci menerangkan padanya itu.


    Saking asyiknya mereka bercengkrama, tiba- tiba datang Darwis berjalan menuju mereka bertiga itu, lantas dia bertanya seolah ingin tahu apa yang dibicarakannya itu.


    "Ada apa sih, kok kelihatannya serius sekali bicaranya?" Tanya Darwis pada mereka itu ingin tahu.


   Mama Suci merasa kaget melihat Anaknya Darwis datang menghampiri mereka.


   "Kamu dari mana? tadinya Ovi minta diantar untuk pergi menjenguk Davi ke rumahnya!" Tanya Mama Suci pada Darwis penasaran.


    Lantas Darwis menjawab pertanyaan Mamanya itu, sambil menatap Istrinya Yohana.

__ADS_1


    "Tadi keluar ada perlu, Ma! Memang kenapa dengan Davi?" Tanya Darwis pada Mamanya itu ingin tahu.


    Lantas Mama Suci menjawab sambil menyodorkan Anggi pada Yohana.


    "Gak tahu, tuh! Katanya ada yang menghajarnya!" Jawab Mama Suci singkat.


    Merasa penasaran lalu Darwis pun langsung bertanya pada Adiknya itu Ovi tentang keadaan Davi.


    "Benar Davi ada yang menghajar, Vi?" Tanya Darwis pada Adiknya itu ingin tahu.


   Dengan merasa sedih di hatinya Ovi pun menjawab pertanyaan dari Kakaknya itu dan langsung menerangkan.


    "Tadi pagi dia sehabis ribut dengan Salsa, tiba- tiba seseorang langsung memukulnya hingga terjatuh ke trotoar jalan!" Jawab Ovi pada Darwis menegaskan.


    "Kok bisa tidak mengenal yang memukulnya, ini Aneh!" Jawab Darwis pada Adiknya itu Ovi heran.


    Darwis menggeleng- gelengkan kepalanya sambil matanya tak henti bercanda dengan Anaknya itu Anggi yang sedang duduk dalam pangkuan Istrinya itu.


   Semua yang berada disitu sungguh merasa sedikit bersedih setelah tahu keadaan sebenarnya dari mereka berdua itu.


   Lalu Darwis pun bicara lagi pada Ovi menasehatinya.


   "Bilang pada Davi agar menjaga sikap dan bicaranya itu pada Salsa, mulai sekarang jangan pedulikan Saksa, biarkan dia hidup tanpa diganggu oleh kalian berdua, dan lagi apa gunanya coba, hanya membuat masalah baru yang sebenarnya tidak ada." Ucap Darwis pada Adiknya itu Ovi pula.


   Ovi mengangguk pada Kakaknya Darwis dan mau mendengarkan nasehatnya itu, merasa sedih Ovi pun bicara pada Darwis Kakaknya itu.


   "Ovi merasa sedih melihat Davi menderita, harus bagaimana coba untuk menghentikannya!" Ucap Ovi pada Darwis mengeluh.


   Darwis merasa Ovi memang sangat mencintai Davi, jadi perasaan kasihan padanya itu pun muncul di dalam dirinya itu, yang membuat diri Darwis pun ikut bersedih karenanya itu.


    "Sudah jangan terlalu dipikirkan, fokus pada masa depan hubunganmu itu dengan Davi, jangan membuka masakah baru dengan orang lain!" Jawab Darwis menjelaskab pada Adiknya itu Ovi.

__ADS_1


   Mereka seakan terbawa arus kesedihan setelah mereka berdua itu menjenguk Davi di rumahnya itu.


  


__ADS_2