Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Dramatis perubahan


__ADS_3

Pagi itu Bapak Sebastio tampak sedang duduk santai di teras depan, senyum terkulum dalam bibirnya, wajahnya berseri- seri nampak terlihat jelas.


Melihat Suaminya sedang duduk dengan rasa bahagianya, Istrinya pun langsung menghampirinya,


"Wah kayaknya lagi bahagia, dari kejauhan nampak tersenyum- senyum sendiri." tanya Widuri Istrinya pada Suaminya Sebastio ingin tahu,


"Aku lagi bahagia, Anakku Salsa mau menerima Aku sebagai Ayahnya lagi." jawab Bapak Sebastio pada Istrinya Widuri dengan rasa bahagia,


"Syukur, Ibu ikut merasa senang, kapan- kapan ajak kemari, Pak!" ucap Ibu Widuri pada Suaminya Sebastio menawarkannya,


"Iya nanti Kita ajak berkumpul di rumah Kita, ini saran Ibu yang sangat hebat." jawab Bapak Sebastio pada Istrinya Widuri dengan menegaskan,


Memang rasa bahagia itu atas dukungan dari Istrinya Widuri, Ia yang menyarankan untuk mencari Salsa Anaknya, yang menasehati Sebastio sehingga akhirnya Ia bisa bertemu dengan Salsa dengan segala kebahagiaannya.


Perasaan hati yang tertambat oleh sekeping kebahagiaan semu tambatan hati, cinta yang ada tak memuaskan hasrat hatinya, membludak ambisinya dengan torehan gelap keinginan, keterpaksaan untuk berjalan dengan sikapnya, dengan tidak mengindahkan norma kebijakan hidup sesamanya,


Di kehidupan nyata tampak Darwis sedang termenung sendiri, pikirannya berkutat pada keinginan ambisinya yang tak bisa ditahannya,


Naluri untuk berjuang mendapatkan segala keinginannya seolah terus mengikutinya tanpa berpikir akan ketidak enakan Orang lain,


"Kamu gak langsung pulang, Wis?" tanya Sahabatnya Ruslan pada Darwis merasa aneh melihatnya,


"Gak tahu nih, lagi malas pulang cepat." jawab Darwis pada Ruslan memberi tahunya,


"Yaudah, ke kontrakan saja kita ngobrol." ucap Ruslan pada Darwis mengajaknya,


"Setuju, Aku pun ingin minta masukan dari kamu." jawab Darwis pada Sahabatnya Ruslan menjelaskan,


Ruslan hanya menggeleng- gelengkan kepalanya pada Darwis, mungkin merasa aneh atas sikap Darwis hari ini.


Mereka berdua akhirnya berjalan mengikuti langkah kakinya menuju kontrakan, dan tak seberapa lama akhirnya mereka pun sampai juga,


"Aku sedang bingung, Rus?" tanya Darwis pada Sahabatnya Ruslan mengeluh,


"Bingung terus, bingung kenapa?" jawab Ruslan pada Darwis dengan rasa penasaran,


"Begini, Aku punya rencana untuk menikahi Salsa, gadis korban Aku dulu." ucap Darwis pada Ruslan memberi tahu,

__ADS_1


Mendengar kemauan Darwis yang tak pake otak itu, Ruslan merasa keinginan Sahabatnya itu terlalu, tanpa memikirkan perasaan dan selalu tak mengindahkan bijaknya akan hidup, dengan menarik napas panjang, lalu Ruslan pun bicara,


"Kamu ada- ada saja, sudah syukur Kamu mempunyai Istri yang baik seperti Yohana, mau apa lagi coba." jawab Ruslan pada Darwis dengan perasaan terlalu,


"Ini Aku serius, Rus!" ucap Darwis pada Ruslan menegaskan,


"Lalu maumu Aku harus berkata apa coba?" jawab Ruslan pada Darwis merasa sangat bingung,


Mendengar Ruslan bicara seperti itu, Darwis pun terdiam membisu, dalam pikirannya semua Orang seolah tak mengijinkan dirinya untuk melaksanakan niatnya itu, mukanya kusut dan pandangannya kosong sambil melirik ke arah Darwis,


"Semua Orang seolah melarang Aku, semua terasa menutup diri untuk keinginanku ini!" ucap Darwis pada Ruslan dengan sewotnya,


"Jangan sewot seperti itu, kaji sendiri kenapa semua Orang seolah tidak memberikan dukungannya." jawab Ruslan pada sahabatnya Darwis memberi tahu,


"Masa untuk menikah lagi saja gak boleh, sedangkan Orang di luaran banyak yang berpoligami." ucap Darwis pada Ruslan dengan perasaan jengkelnya,


"Poligami itu tidak mudah, itu bagi Orang pengecualian jika mampuh, dan lagi Apa Yohana mengijinkan Kamu untuk menikah lagi?" tanya Ruslan pada Darwis Sahabatnya menjelaskan,


Darwis diam seolah Ia sedang mengkaji kata- kata Sahabatnya Ruslan, pikirannya terus berputar mencari jawaban dari segala keinginan niatnya itu,


Mendengar Sahabatnya bicara seperti itu, perasaan ngiris terasa dalam batin Ruslan, Ada- ada saja keinginannya, tanpa berpikir efek dari keinginannya,


"Gila, demi keinginanmu itu kamu seenaknya menceraikan Istrimu, Yohana?" ucap Ruslan pada Sahabatnya Darwis dengan rasa tak masuk akal,


"Ayo dong berikan Aku masukan untuk niatku itu," ucap Darwis pada Ruslan mendesaknya,


"Menurut hematku, keinginanmu itu terlalu berlebihan, tak ada angin dan tak ada hujan Kamu ingin menikah lagi, pikirkan nasib Yohana Istrimu," jawab Ruslan pada Darwis memberikan masukannya,


"Lalu Aku harus bagaimana?" tanya Darwis pada Ruslan dengan terus mendesaknya,


"Hidup itu harus penuh dengan rasa syukur, jangan neko- neko seperti itu, jadikan keluargamu itu pusat untuk kebahagiaan, perkawinan masih seumur jagung malah mau menikah lagi, otakmu di mana, Wis?" ucap Sahabatnya Ruslan pada Darwis dengan memberikan nasehatnya.


Pikiran Darwis semakin mumet dibuatnya, cerahan jiwa yang terlontar tidak membuat dirinya menyadarinya,


Pongah rasa yang menelantarkan perasaan hati, tersibak niat yang melayang terbang, naluri hati pengaruhi angan, ciptakan sunyi pengaruhi jiwa.


"Banyak Orang di luar sana menginginkan punya keluarga sepertimu, tapi Kamu akan menghancurkannya, sudah jangan macam- macam, jalani saja rumah tanggamu dengan Istrimu Yohana, jangan pernah ingin menghancurkan biduk rumah tanggamu dengan keinginan yang tak pantas!" ucap Ruslan pada Darwis menjelaskan dengan tegas pada Sahabatnya itu.

__ADS_1


Darwis diam seribu bahasa, pikirannya pusing luar biasa, memaksakan niatnya untuk terwujud.


Berbeda dengan Salsa, Ia sedang menapaki hidupnya dengan torehan hidup baru yang akan Ia lalui, perubahan dunia untuk perwujudan masa depannya dengan berusaha untuk meninggalkan citra buruk masa lalu,


"Ibu, Salsa berangkat!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah Salam untuk pamit berangkat,


"Iya, hati- hati di jalan!" jawab Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa mengingatkannya.


Getar semangat Anaknya terasa indah bagi diri Ibunya, perlahan semangat itu akan membawanya ke ujung rasa bahagia dalam hidupnya, mata memandang sosok Anaknya seolah menemukan kedamaian, yang menggantikan peran penderitaan dari kehidupannya.


Di perjalanan menuju setiap perusahaan dan perkantoran, semua untuk Salsa masuki, hari ini hari untuk melamar pekerjaan,


Di saat langkah kakinya berjalan keluar dari perkantoran, terdengar samar- samar Suara Wanita memanggilnya dengan teriaknya yang keras,


"Salsa!" teriak Wanita itu memanggilnya sambil melambaikan tangannya,


Dengan rasa penasaran dalam dirinya, Salsa pun menengoknya, tak diduga dan tak dinyana ternyata dari kejauhan terlihat Sahabat kecilnya Yuli dengan tangan melambaikan kearahnya,


Dan tanpa pikir panjang Salsapun langsung menghampirinya,


"Yuli, Apa kabarnya?" tanya Salsa pada Yuli dengan rasa senangnya,


"Baik, tadi Aku lihat Kamu keluar dari kantor itu, Kamu bekerja disitu?" tanya Yuli pada Salsa ibgin tahu,


"Oh, Aku lagi masukin lamaran, ajak Aku kerja dong!" jawab Salsa pada Yuli dengan penuh harap,


"Memang sudah yakin ingin bekerja?" tanya Yuli pada Salsa menggodanya,


"Iya, boring di rumah terus!" jawab Salsa pada Yuli memberi tahunya,


Akhirnya merekapun saling melepas rasa rindu dan kangennya, perbincangan dihiasi canda serta tawa membuat suasana hati saat itu terasa hangat.


"Nanti Aku coba tanya atasanku, ada apa gak lowongan buat Kamu, untuk sementara lamaranmu Aku bawa, tunggu kabar dariku!" ucap Yuli pada Salsa dengan rasa perhatiannya,


"Terima kasih banyak, Yul!" jawab Salsa pada sahabatnya Yuli dengan perasaan senang.


Tak terasa langit mulai bergeser menuju malam, lalu mereka berdua pun akhirnya berpisah untuk pulang, rasa senang tak bisa mencukupi hari yang sedang bertabur rasa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2