Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Azab birahi


__ADS_3

Darwis sekarang menjadi Orang yang egoisitasnya tinggi, mudah tersinggung dan mudah menyalahkan siapapun, selalu curiga seolah Ia berada di tepi jurang tandus yang siap menjadikannya korbannya.


Dalih ingin menikahnya semakin kuat terendus dalam dirinya, tak memperdulikan masukan khalayak yang Ia temui, Cintanya berkobar tanpa arah membakar jiwanya, pundi- pundi kesetiannya hanya pada sebotol arak ditangan, bagai dewa mabuk jika Darwis sudah memegang botol yang memabukannya itu.


"Kenapa semua Orang seolah melarang Aku menikah lagi, Apakah mempunyai Istri lebih dari satu tak layak bagiku, Apakah hanya Orang lain saja yang bisa, Akupun bisa!" teriak Darwis pada dirinya sendiri dengan alunan di penuhi semerbak arak di mulutnya.


Entah kenapa pada hari itu Darwis marah- marah di rumahnya, Istrinya pun merasa takut dibuatnya, omongan kasar dan sumpah serapahnya terlontar sebagai bumbu dari ucapan- ucapannya, ketulusan hati dari Sang Istri yang setia mendampinginya tak terlihat pada saat itu, Ia terus teriak tanpa sadar menghujat dan menyalahkan Orang lain, ujung- ujungnya hanya untuk menikah lagi, mengapa begitu, mungkin pengaruh kejiwaannya sedang labil, ditambah hari- hari belakangan ini tangannya selalu memegang botol araknya, jadi rasa sadarnya tergantikan hayalan yang mencengkramnya menjauhi jiwa sadarnya, sehingga Ia lupa sudah menikah atau lupa segala- galanya.


"Perduli Apakah Aku punya Istri atau tidak, Aku tetap akan menikah lagi, bila Kamu tak mau tinggalkan Aku!" ucap Darwis pada Yohana sambil mabuk,


Yohana ketakutan, tubuhnya bergetar dan rasa sakitnya seolah menancap kuat di hatinya, belum pernah ada Orang yang berani membentaknya sekasar itu, di tambah sumpah serapah kasarnya keluar dari mulutnya yang busuk itu, dengan memberanikan diri Yohana pun berkata,


"Sadar, Sadarlah! Jangan Kamu ikuti pikiran kotor yang ada dalam pikiranmu itu, kembalilah pada Darwis yang dulu!" kata Yohana pada Darwis Suaminya dengan ingin mengingatkannya,


"Perduli apa denganmu, seenaknya saja mengatur- ngatur Aku, Aku harus menikah lagi dengan Salsa, gak perduli semua orang melarangku, Aku akan tetap menikah!" jawab Darwis pada Yohana dengan marahnya tanpa menyadari itu Istrinya


pikiran Yohana semakin bingung dibuatnya, ketakutan pun semakin menjadi, terlebih Darwis menunjuknya sambil matanya melotot kearahnya hingga jantungnya serasa mau copot,


"Sudah, Aku mohon sudah jangan teriak dan marah- marah seperti ini, malu dilihat tetangga!" ucap Yohana pada Darwis Suaminya mengingatkannya untuk sadar,


Tapi yang diingatkan malah semakin kalap dan lupa diri, Darwis malah mengejar Yohana, lalu dengan rasa takut sambil menangis tersedu- sedu akhirnya Yohana dengan memberanikan untuk menelpon Mama Suci dengan Hpnya,


Kring! Kring! Kring!, bunyi Hp Yohana terdengar,


Dan tak lama dari nun jauh disana terdengar Mama Suci mengangkatnya,


"Assalamualaikum," ucap Mama Suci pada Yohana dengan ucap Salamnya,


"Waalaikum Salam," jawab Yohana pada Mama Suci sambil menangis tersedu- sedu,


"Ada apa, Yohana?" tanya Mama Suci pada Yohana ingin segera tahu,


"Ma, cepat kemari, Mas Darwis mengamuk seperti kesurupan setan, Yohana takut sekali!" ucap Yohana pada Mama Suci dengan hati berdebar- debar dan menangis,

__ADS_1


"Apa Darwis mengamuk, bentar Mama kesitu." jawab Mama Suci dengan bergegas berjalan sambil menutup telponnya,


Mama Suci terlihat tergopoh- gopoh hendak menghampiri Suaminya dengan wajahnya ditekuknya karena terimbas mendengar tangisan Yohana di hpnya tadi,


Karena merasa sangat aneh dengan tampang Istrinya, Papa Hanapi pun akhirnya bertanya padanya,


"Ada apa, Bu? Kelihatannya Ibu sedang menahan amarah?" tanya Suaminya Hanapi pada Istrinya Suci merasa sangat penasaran,


"Ada- ada saja Anak Kita itu, Darwis sedang mengamuk seperti sedang kesurupan di rumahnya, barusan Yohana telpon sambil menangis ketakutan, Ibu harus cepat kesana, Pak!" jawab Mama Suci pada Suaminya Hanapi menjelaskan,


"Iya, Cepatlah Kamu kesana sebelum telat, nanti tambah besar amarahnya." ucap Papa Hanapi pada Istrinya dengan sakit di dadanya mulai kambuh lagi,


"Sudah Papa dirumah saja, ada Ovi menemani Papa di rumah, biar Mama pakai motor saja," jawab Mama Suci pada Suaminya Hanapi dengan langsung berjalan menuju motornya,


Melihat itu Pikiran Papa Hanapi semakin ruwet dibuatnya, belahan jiwanya yang diurus sedari kecil kini berulah lagi, jantungnya terasa sakit lebih sakit dari sebelumnya, membuat Ia tersungkur tak sadarkan diri, jatuh ke lantai.


Melihat itu Anaknya berteriak sambil berlari menghampirinya,


"Papa, Papa kenapa?" tanya Ovi pads Papa Hanapi yang tak sadarkan diri,


"Pa, Bangun!" ucap Ovi pada Papanya sambil terus menangis,


Dan selang beberapa lama Papa Hanapi pun membuka matanya, langsung melihat wajah Anaknya Ovi yang sedang menangisi dirinya,


"Sudah jangan menangis, Nak! Papa tak apa- apa!" ucap Papa Hanapi pada Anaknya Ovi dengan perasaan sedih di hati.


Mendengar ucapan Papanya bicara padanya membuat hati Ovi semakin lega dibuatnya.


Lain Papa Hanapi lain juga ceritanya pada Darwis,


Ia semakin tak terkontrol karenanya, sumpah serapahnya semakin terdengar keluar rumah, membuat rasa malu dan takut senantiasa menghantui diri Yohana yang menunggu di luar rumah, menjauh dari Darwis yang mengamuk kesurupan.


Dan tak beberapa lama, akhirnya Mama Suci tiba juga,

__ADS_1


Melihat Mama Suci datang, dengan berlari kencang Yohana menghampiri Mama Suci dan langsung merangkulnya diiringi tangisannya,


"Mama, tolongin Yohana, Mas Darwis ngamuk seolah kesurupan, Yohana takut sekali!" ucap Yohana pada Mama Suci menjelaskannya,


"Sudah jangan takut ada Mama ini sekarang." jawab Mama Suci pada menantunya Yohana mengingatkannya,


Lalu Mama Suci buru- buru menghampiri Darwis yang sedang mengamuk itu,


Prok! Prok! Prok!, terdengar suara tepuk tangan Mama Suci pada Anaknya Darwis seolah mengejeknya,


"Bagus, Bagus sekali mengamuk seperti Orang gila kesurupan, Gak ada rasa malu sama sekali!" ucap Mama Suci pada Anaknya Darwis dengan marahnya,


Melihat Mamanya datang menghampirinya, Darwis berhenti mengamuk dan langsung bicara,


"Ngapain Mama Kemari?" tanya Darwis pada Ibunya Suci ingin tahu,


"Apa, ngapain katamu, berani benar Kamu tidak sopan pada Ibumu ini, hanya ingin kawin gak kesampaian akhirnya gila, Apakah gak malu?" tanya Mama Suci pada Anaknya Darwis mengingatkannya,


"Sudahlah jangan ikut campur urusan Darwis, biar Darwis mengurus perikahan dengan Salsa sendirian tanpa Orang lain." jawab Darwis pada Mama Suci dengan angkuhnya,


"Sadar Kamu sudah menikah, dan Kamu sudah punya Yohana yang sedang mengandung Anakmu, dan Kamu sudah menjadi calon Ayah bagi Anakmu yang dikandung Istrimu, Sadarlah!" ucap Mama Suci pada Anaknya Darwis dengan sekelumit nasehatnya,


Entah kenapa setelah Mamanya bicara seperti itu, Darwis perlahan diam lalu menangis sendiri, melihat itu Akhirnya Mama Suci menghampiri Darwis Anaknya sambil mengelus kepala Darwis seraya berucap,


"Sadarlah sayangi Yohana Istrimu Yang sedang mengandung Anakmu, Salsa tak akan mungkin menikah dengan Suami Orang seperti Kamu, lupakan semuanya!" ucap Mama Suci pada Darwis dengan rasa sayangnya,


Yohana melihat takjub dengan cara Mertuanya meluluhkan Anaknya Darwis dengan mudahnya, mungkin itu pertalian Ibu dan Anak yang tak bisa dipisahkan.


Dan tanpa lama- lama Mama Suci pun memanggil Yohana untuk duduk bersama dengan Darwis, disaat hendak mengobrol bersama, tiba- tiba,


Kring! Kring! Kring!, Suara Hp Mama Suci berbunyi memecahkan kesunyian yang habis berperang, lalu Mama Suci mengangkatnya,


"Halo, Ovi ada apa?" tanya Mama Suci pada Ovi ingin tahu,

__ADS_1


"Mama cepat pulang, Papa tak sadarkan diri!" jawa Ovi pada Mamanya Suci sambil menangis.


__ADS_2