
Keikatan mereka tampak tertuang dari dua insan yang sedang memantapkan hubungan yang akan mereka lalui menjadi perjalanan yang panjang yang tak terusik oleh debu- debu pembangkangan yang dulu mereka pernah rasakan, sekarang mereka terenyuh oleh keadaan yang memaksa dan menyatukan mereka menjadi keluarga yang Sakinah, Mawahdah dan Warohmah, begitulah harapannya.
"Sekarang kalau gak menikah, mau apa coba?" tanya Darwis pada Yohana menggodanya,
"Dasar, pasti sudah gak tahan tuh!" jawab Yohana pada Darwis sambil mencubit paha Darwis kesal,
"Auww! Jangan mencubit sakit tahu, Memang bisa Kamu gak menikah dengan Aku?" tanya Darwis pada Yohana sambil terus semakin menggodanya,
Melihat Darwis yang terus menggodanya, wajah Yohana cemberut, matanya melotot dan pandangannya tak lepas memandang Darwis yang berada di depannya,
"Kalau gak diperkosa oleh Kamu, Kamu tak akan mungkin menikah denganku, Wew!" ucap Yohana pada Darwis balik meledek,
Mendengar Yohana bicara seperti itu, perasaan Darwis tersinggung, wajahnya terlihat perlahan memerah, dan wajahnya menunduk,
"Benar apa yang Kamu katakan, nada bicaramu seolah menyindir, Aku akui semua itu, bahkan Aku layak bila Kamu tidak mau menikah dengan pecundang lagi pemabuk seperti Aku." ucap Darwis pada Yohana dari dasar lubuk yang paling dalam sambil meneteskan air mata,
Melihat Darwis meneteskan air mata, dengan segera Yohana merangkulnya,
"Jangan menangis Aku hanya bercanda, semua yang telah Kau lakukan padaku, dari lubuk hati yang paling dalam Aku sudah memaafkanmu, Asal Kamu janji berubah, jangan mabuk- mabukan lagi, dan yang paling penting tidak memaksakan sesuatu sesuai kehendakmu, itu saja." jawab Yohana pada Darwis sepenuh hati,
"Ya, Aku berjanji padamu." jawab Darwis pada Yohana singkat.
Mereka terbuai oleh harapan dan kesetiaan, salah dan keinginan saling bertautan dengan tatanan perkawinan yang menjadi dasar peleburan akan semua itu, tiada yang lain.
"Jadi rencana Kita apa sekarang?" tanya Yohana pada Darwis yang sedang menepiskan air matanya,
Seolah disadarkan mendengar Yohana bertanya padanya, Darwis dengan cepatnya berdiri, lalu berkata,
"Kita kerumah Orang Tuaku, sekarang! Soalnya waktu ku sempit, besok Aku harus kerja pagi." ucap Darwis pada Yohana seraya bergegas hendak untuk pergi,
"Sebentar Aku ganti baju dulu!" jawab Yohana pada Darwis sambil bergegas ke kamar,
"Ia, cepetan gak pake lama!" ucap Darwis pada Yohana mengingatkan,
"Iya, bawel!" jawab Yohana pada Darwis sambil berjalan.
Dan tak lama mereka pun segera pergi kerumah Papa Hanapi dan Mama Suci, ingin menjenguk dan sekalian memberikan kabar bahagia pada mereka berdua.
Kedatangan mereka membuat Papa Hanapi dan Mama Suci sungguh sangat gembira melihatnya, ketakutan yang selalu hinggap dalam pikiran mereka seolah terbang menjauh, terlebih lagi melihat Anak lelakinya kembali dengan seuntai perjalanan akan rencana perjodohannya dulu kini bisa terlaksana,
"Syukur, akhirnya Kalian bisa bersatu juga, Papa merasa bahagia." ucap Papa Hanapi pada mereka berdua dengan gembiranya,
"Mama doakan semoga pernikahan kalian kelak lancar dan tidak ada halangan yang berarti." ucap Mama Suci pada mereka berdua menimpali,
"Terima Kasih banyak, Ma!" jawab Yohana pada Darwis dengan senang hati.
__ADS_1
Berkumpulnya mereka membuat semua yang disitu menjadi bahagia, rencana perjodohan dulu kini bersinar menerangi jalannya hingga bisa akan terlaksana.
"Terus Kamu tinggal dimana, Bapak cari- cari Kamu gak ketemu, bahkan semua teman kerjamu tidak tahu?" tanya Papa Hanapi pada Darwis ingin segera tahu,
"Gak jauh dari tempat kerja yang baru, Pa!" jawab Darwis pada Papa Yohana menjelaskan,
"Aku dulu mengusirmu lantaran sakit hatiku mendengar Kamu melakukan aib itu, tapi sekarang Papa yakin Kamu bisa merubahnya." ucap Papa Hanapi pada Darwis menerangkan.
Hari demi hari, waktu pun terus berlalu rencana perkawinan kedua sejoli ini pun sudah di tetapkan dua bulan kemudian, dan kedua keluarga itu pun merasa bahagia.
Di kontrakan, Ruslan sedang duduk berdua rekannya Anwar, mereka dengan santai sambil menikmati secangkir kopi dan gorengan hangat yang baru dibelinya,
"Darwis mau lama perginya?" tanya Anwar pada Ruslan ingin tahu,
"Bilangnya sih sebentar, kemungkinan sore atau malam pulang, besok kan Dia kerja pagi." jawab Ruslan pada Anwar menerangkan.
Tak disangka dan tak dinyana ternyata Anwar rekannya Darwis itu, Adik dari Ibu Juariah Ibunya Salsa, mereka bekerja di perusahaan yang sama, Anwar bekerja hampir sudah sepuluh tahu bekerja di situ, dan karena mereka bekerja di perusahaan yang sama dan kebetulan satu bagian akhirnya mustahil untuk gak mengenalnya.
"Rencananya Darwis ingin selesaikan masalah keluarganya, semoga cepat kelar semuanya, kasihan Dia melamun terus." ucap Ruslan pada Anwar dengan simpatinya,
"Iya, semoga pernikahannya juga lancar." jawab Anwar pada Ruslan menimpali,
Dan tak lama Akhirnya Anwarpun segera pulang, karena keluarganya menunggu,
Dua bulan kemudian Darwis dan Yohana akhirnya menikah, betapa bahagianya mempelai dan kedua keluarga itu, menyaksikan anaknya duduk di pelaminan dengan gembiranya, semua handai taulan, kolega dan rekan kerja berdatangan silih berganti, sehingga resepsi pernikahan itu pun berlangsung sangat ramai, mengingat sosok Pak Maruli boleh dibilang orang Kaya dan terpandang jadi wajar pernikahan itu sangat mewah.
"Selamat menempuh hidup baru, Wis!" ucap Anwar pada Darwis sambil bersalaman,
"Makasih, War!" jawab Darwis pada Anwar pula,
"Selamat jadi raja sehari, Wis!" ucap Ruslan pada Darwis setengah berguyon,
"Makasih banyak, Teman terbaikku." jawab Darwis pada Ruslan dengan riangnya.
Perjalanan resepsi pernikahan itu sangat lancar, walau banyak lika- liku tapi terwujud juga akhirnya.
Setelah perkawinan Darwis tidak tinggal mengontrak lagi bersama Ruslan, Ia tinggal bersama Keluarga Bapak Maruli, untuk kerjanya Ia bolak- balik dengan mobilnya.
Hari itu, tak biasanya bila pulang kerja Anwar mengeluh,
"Hadeuh mobil Aku mogok, masih di bengkel lagi, naik apa Aku pulang sekarang?" ucap Anwar menggerutu sendiri pada dirinya sambil matanya memandang ke jalan penuh harap,
"Sudah, gak usah cemas bareng Aku saja." jawab Darwis pada Anwar menawarkan jasanya,
"Tapi kan nanti Kamu harus muter lagi jauh, arahnya berbeda?" ucap Anwar pada Darwis menerangkan,
__ADS_1
"Gak apa- apa, gak usah Khawatir, sekalian ingin tahu rumahmu, jadi ntar kapan- kapan Aku bisa mampir." jawab Darwis pada Anwar menjelaskan,
"Kalau begitu, baiklah!" ucap Anwar pada Darwis sambil berjalan menuju parkiran.
Dalam perjalanan mereka banyak diam, mungkin kerja hari itu banyak menyita tenaga mereka, dan tak lama mereka pun tiba,
"Sudah belok kiri, itu rumahku yang bercat putih!" ucap Anwar pada Darwis memberi tahu,
Darwis tak banyak bicara, langsung Ia menuju pekarangan rumah Anwar dan segera memarkirkan mobilnya,
"Ayo, masuk dulu!" ajak Anwar pada Darwis lagi,
Darwis segera mengikuti langkah Anwar untuk masuk kerumahnya,
"Assalamualaikum," ucap Darwis pada Istrinya Anwar Novi,
"Waalaikum Salam," jawab Novi pada Darwis sambil mempersilahkan masuk,
Taklama Darwis dan Anwar duduk di kursi di ruang tamu,
"Bu, mana minumnya?" tanya Anwar Suaminya pada Novi memberi tahu,
"Sebentar, Pak!" jawab Istrinya Novi pada Anwar menjelaskan,
"Gak usah repot- repotlah!" jawab Darwis pada Anwar lagi,
"Gak apa- apa hanya air doang." jawab Anwar pada Darwis pula,
Tak lama Novi pun kembali sambil membawa air sirop dan makanan di bakinya lalu Ia letakan di meja, seraya berucap,
"Minumlah dulu!" ucap Novi pada Darwis menawarkan,
Lalu Darwis pun meminumnya, mereka berdua saling mengobrol dan bercakap, dengan akrabnya,
Tiba- tiba Anwar berucap pada Istrinya, saat pandangannya ke depan, terlihat Salsa berjalan sambil memegang tangan anaknya Djamilah berjalan menghampiri,
"Itu Salsa dan Djamilah dari mana, Bu?" tanya Anwar pada Istrinya Novi sambil keduanya melirik Anaknya Djamilah dan Salsa berjalan,
"Dari warung, Si Djamilah merengek minta jajan." ucap Novi pada Anwar lagi,
Saking penasaran siapa Salsa dan Djamilah itu, seketika itu pula Darwis menengok kebelakang,
Astaga! Alangkah terkejutnya, ternyata wanita yang dilihatnya di hadapannya itu adalah Salsa. Orang yang dicarinya, yang menyisakan perasaan yang dalam di jiwanya, dengan spontan serta merta Darwis berlari tanpa sadar menghampiri Salsa, dengan ekspresi gembiranya Ia dengan keras memanggil,
"Salsa! Ini Aku, Darwis!" ucap Darwis pada Salsa yang sedang menuntun Djamilah dengan kagetnya,
__ADS_1
Pemandangan itu menjadikan Anwar dan Novi tercengang, kaget dibuatanya, lalu timbul dalam pikiran Anwar rasa penasaran yang besar, untuk ingin tahu siapa Darwis ini.