
Kehidupan yang dirasakan Ibu Juariah semakin tak menentu, rasa penat dan frustasi seolah mengiringi setiap langkah dirinya, semua tentang kisah hidupnya, kini terasa semakin menuntutnya, untuk berpaling dari gaya hidupnya yang lalu.
"Entah sampai kapan hidupku ini berubah, rasa keinginan untuk meraih kebahagiaan dalam hidupku, seolah- olah pergi dengan tiba- tiba dalam diriku ini!" ucap Ibu Juariah pada diri sendiri dengan bingungnya itu,
Sambil merenung dengan hati yang pilu, dan tatapan mata yang sendu, Ibu Juariah pun duduk sendirian dengan perasaan hati yang seolah tak menentu sambil memandang langit yang luas.
Tak lama dengan tiba- tiba Zaki datang dengan motor hitamnya itu, sambil tersenyum pada Ibu Juariah yang sedang duduk dengan rasa gundah dalam dirinya itu
"Assalamualaikum," ucap Zaki pada Ibu Juariah dengan rasa penasaran dalam hatinya itu,
"Waalaikum Salam," jawab Ibu Juariah pada Zaki kekasihnya itu,
Tak lama merekapun akhirnya bercengkrama dengan canda dan tawa, yang semakin terasa akrab dan hangat melihat mereka berdua bercengkrama.
"Sedari tadi Aku lihat, termenung terus seolah memikirkan masalah yang berat, ada apa?" tanya Zaki pada Ibu Juariah dengan penasaran,
Tarikan napas Ibu Juariah dengan dalamnya, sampai terasa seolah menembus jantungnya, saking merasakan himpitan dalam jiwanya itu, tak lama Ia pun menjawabnya,
"Akhir- akhir ini Aku merasa, hampir semua Orang yang kita temui, seakan- akan menginginkan kita untuk berpisah, dengan alasan yang sama, tabu!" jawab Ibu Juariah pada Zaki dengan rasa sedih di dadanya itu,
Dengan perasaan khawatir dalam dirinya, Zaki seolah pikirannya sedang bimbang, hantaman gosip miring dan omongan orang akan hubungannya itu semakin santer terdengar, dengan menahan segala kekesalan dalam dirinya, Ia pun segera menjawabnya,
"Benar, Aku merasakan hal yang sama, terlebih lagu Ibuku selalu merasakan kekhawatirannya, kadang Aku juga merasa kasihan pada Ibuku itu!" jawab Zaki pada Ibu Juariah dengan sedihnya,
__ADS_1
Tatapan sayu mata Ibu Juariah pada Zaki seakan- akan ingin menolongnya, tapi perasaan tak berdaya atas pilihan hidupnya itu, yang membuatnya tak mampu,
"Semua orang tua akan seperti itu, dan akan selalu memikirkan nasib Anaknya itu," jawab Ibu Juariah itu pada Zaki kekasihnya itu,
Keharuan dalam diri mereka seolah ganjalan bagi mereka berdua, rencana pernikahan mereka adalah momok bahan gosip dan omongan miring bagi para tetangga dan orang- orang sekitarnya,
"Tapi semua itu tergantung dari mana mereka memandangnya, karena semua tahu hidup itu pilihan," ucap Ibu Juariah pada kekasihnya Zaki dengan memeluknya dengan mesra,
Dan tak lama sambil menatap Zaki dengan tatapan kasihan, lantas Ibu Juariah pun berkata pada Kekasihnya itu,
"Aku tak akan memperdulikan semua yang menghinaku, tapi Aku harus tahu juga tentang cintamu padaku nanti setelah kita menikah?" tanya Ibu Juariah pada Zaki seolah sedang mengujinya,
Zaki terdiam sesaat mendengar Ibu Juariah berkata itu, dan tak lama Ia pun menjawabnya,
Tersenyum Ibu Juariah mendengar kekasihnya Zaki mengutarakan cintanya dengan hati, seraya tersenyum padanya Ibu Juariah pun dengan bahagia berucap lagi,
"Aku percaya padamu, tapi apa yang bisa Kamu lakukan setelah nanti menikah denganku, Zaki?" tanya Ibu Juariah pada Zaki yang seolah merasa penasaran di hatinya,
"Maksudmu?" ucap Zaki pada Ibu Juariah balik nanya,
"Orang selalu meragukan tentangmu, jika Aku menikah denganmu itu, Apakah Kamu bisa menafkahiku? Itu pertanyaan yang mengusik sanubariku ini, bisa Kamu jawab, Sayang?" ucap Ibu Juariah pada Zaki dengan tidak sebenarnya di dalam hatinya itu,
Zaki diam sejenak, mungkin pikirannya sedang berpikir tentang nasibnya itu, kepalanya tertunduk seolah menahan rasa malu yang amat sangat dalam hatinya, dan dengan rasa sedihnya itu, Zaki pun menjawabnya,
__ADS_1
"Itu pula yang menjadi momok kekhawatiran Ibuku padaku ini, tapi selalu Aku jawab, Ibu Doakan saja biar Zaki mendapat pekerjaan secepatnya, agar omongan miring orang lain itu menjauh, begitu!" jawab Zaki pada Ibu Juariah bercerita seolah jawabannya tidak ada lagi dalam otaknya itu,
Mendengar itu, tak disangka- sangka Ibu Juariah sambil menangis memeluknya, dan mencium mesra kedua pipi Zaki dengan cintanya itu, lantas berkata,
"Sebenarnya tanpa Kamu kerjapun Aku mampu menghidupi kita berdua dengan semua usaha kontrakkanku itu, dan bila perlu Aku beri buat modal usahamu kelak, tinggal bagaimana kemauan dan niatmu saja, itu rencana setelah kita menikah nanti dalam otakku ini, jadi orang tahu Kamu itu punya usaha!" ucap Ibu Juariah pada kekasihnya Zaki dengan rasa cintanya yang besar itu.
Mendengar ucap Ibu Juariah itu, sontak Zaki menangis bangga, tak pernah Ia berpikir kearah sana, ternyata ucapan orang tentang kekasihnya itu hanya mencari kepuasan saja, atau obat awet muda katanya, tapi ternyata memang sudah mempersiapkan untuk biduk perkawinannya nanti, dengan terbata- bata karena menahan perasaan sedih yang teramat sangat di dalam dirinya itu, lantas Zaki pun bicara,
"Sungguh Aku bangga pada calon Istriku ini, tidak membuat Aku merasa kecil di mata orang lain, semuanya demi rencana besar perkawinannya itu," ucap Zaki pada Ibu Juariah dengan langsung memeluknya dan mencium keningnya itu,
Lalu mereka pun terhanyut dalam buaian kemesraan yang tiada tara, yang mengilhaminya untuk menyelami hasrat dan cinta mereka itu.
"Berarti Kamu sudah siap segalanya, dan sekarang Kita pergi kerumah Adikku Anwar, untuk meminta izin darinya, karena hanya Dia yang bisa menjadi wali buatku nanti, Apakah Kamu sudah siap lahir dan batin, Sayang!" ucap Ibu Juariah pada Zaki sambil sedikit berkelakar,
Sambil tersenyum lucu dengan guyonan Kekasihnya itu, lantas Ia pun menjawabnya,
"Siap tak siap, itu memang sudah seharusnya, yang pasti Aku tak akan mengecewakan dirimu, Sayang!" jawab Zaki pada Ibu Juariah sambil mencium jari jemari tangan Ibu Juariah itu dengan mesranya itu,
Dan tak lama, mereka pun menghujamkan semua keresahan dan kekhawatirannya pada kekuatan cinta mereka semata, dan di landasi dengan kepercayaan penuh tanpa batas, yang sanggup memporak porandakan seisi dunia dengan kekuatan hubungan cintanya itu.
Dan tak lama meraka pun bersiap untuk pergi ke rumah Anwar, memang seharusnya Itu di lakukan oleh pasangan ini, mengingat hanya Anwarlah yang bisa menjadi Wali pernikahan untuk Ibu Juariah nanti, disaat perkawinan berlangsung kelak.
Tak lama keduanya pun akhirnya pergi juga ke rumah Anwar, dengan berboncengan layaknya Romy dan Juli di kisah drama India itu, selaras dengan rencananya yang akan membungkam dunia dengan rasa cinta dan pilihan hidupnya itu.
__ADS_1