Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Seakan kembali bersinar


__ADS_3

Hari yang cerah dalam relung jiwa, coretan tentang nasib membawa kita pada kehebatan diri yang seolah terlahir, cinta dan asa menjadikan kepiawaian akan jernihnya hati, perjalanan penderitaan memberikan kekuatan untuk kesabaran hakiki.


Jauh sudah Salsa berjalan, suka duka tentang cinta dan keegoisan yang mewarnai gejolak asmaranya, yang membuatnya seakan tak henti mengayuh hidupnya dengan dayung kepedihan penderitaannya.


Ibu Juariah sudah beberapa hari pulang dari Rumah Sakit, keadaannya semakin membaik, dan segala kehilangannya kini seolah tumbuh lagi, rasa perhatian pada Salsa seolah selalu hadir di setiap kesempatan, cinta dan kasih, serta seluruh perhatian hidupnya selalu Ia curahkan untuknya, lalu dengan tiba- tiba Salsa datang lantas bicara,


"Sudah hampir seminggu Salsa gak masuk kerja, kangen rasanya, Bu!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah untuk bisa mengawali kerjanya pagi itu, lalu Ibunya pun berkata,


"Karena Ibu, Kamu korbankan pekerjaanmu!" jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan perasaan sedih di hatinya,


Melihat Ibunya merasa bersalah, Salsa langsung menghampiri Ibunya dengan merangkulnya, Ia berharap rasa bersalahnya tidak membuat Ibunya itu mendalam memikirkannya, dengan sambil mencium tangan Ibunya, Ia pun berkata,


"Sudah sepantasnya seorang Anak memperjuangkan Orang Tuanya, walaupun pengorbanannya itu tidak seberapa di bandingkan dengan pengorbanan Orang Tua pada Anaknya, layaknya hamparan lautan yang luas sejauh kita memandang," ucap Salsa pada Ibunya Juariah sambil wajahnya tersipu- sipu dengan senyumnya,


"Ah, bisa saja Kamu!" jawab Ibunya Juariah lagi pada Anaknya Salsa sambil membelai sayang rambut Anaknya itu,


"Itu benar, Bu! Salsa tahunya dari buku!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah sambil meledeknya,


Melihat Anaknya meledek seperti itu, Ibu Juariah pun tertawa, dengan perasaan lucu, lalu Ibu Juariah pun kembali bertanya pada Salsa pula,


"Anakmu sudah Kamu beri makan, belum?" tanya Ibu Juariah pada Salsa seolah ingin tahu,


"Sudah tadi, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah memberi tahu,


"Kalau begitu, sudah cepat berangkat, nanti kesiangan!" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa mengingatkan,


"Salsa ragu, Bu!" jawab Salsa pada Ibu Juariah sambil memandang dengan penuh tanya pada Ibunya itu,


"Ragu kenapa?" tanya Ibu Juariah pada Salsa dengan perasaan bingung,


"Salsa merasa gak tega dan kasihan pada Ibu, gak tahu bingung jadinya, Salsa menitipkan Andreas pada Ibu seolah gimana gitu?" ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan rasa tak enak,


"Sudah sana berangkat, jangan banyak pikiran, Ibu bisa kok!" jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan perhatian dan senyum dihati,

__ADS_1


Dan dengan perasaan berat dihati, akhirnya Salsa pun pergi berangkat kerja dengan segala rasa keraguan dalam dirinya pada Ibunya itu.


Siang itu, dengan penantian dan rasa sayang yang besar pada Cucunya Andreas, sambil bersenandung kecil terdengar suara Ibu Juariah dengan hatinya, dan tiba- tiba Sebastio dan Istrinya Ibu Widury datang untuk berkunjung ke rumahnya,


"Assalamualaikum," ucap Sebastio pada Ibu Juariah yang sedang mengais Andreas di pangkuannya,


"Waalaikum Salam," jawab Ibu Juariah pada mereka berdua dengan perasaan senangnya,


Lalu Ibu Widury menghampiri Ibu Juariah dan dengan senangnya menggoda Andreas dengan perasaan geregetan, sambil melirik kiri- kanan akhirnya Sebastio bertanya,


"Salsanya mana?" tanya Sebastio pada Ibu Juariah ingin tahu,


"Dia berangkat kerja," jawab Ibu Juariah pada Sebastio menjelaskan,


Mendengar itu, wajah Sebastio berubah memerah, seolah menahan emosi dalam dirinya itu, mungkin merasa Ibu Juariah masih belum siap untuk mengerjakan itu,


"Keterlaluan, masa Ibunya yang baru sembuh dari sakitnya harus mengurus Anaknya, hadeuh!" ucap Sebastio pada mereka berdua seolah sedang kesal pada Salsa,


Dengan mendengar ucapan mantan Suaminya, yang seolah menyalahkan Anaknya itu, lantas Ibu Juariah pun tak terima, hatinya seolah sedih dan matanya terlihat berkaca- kaca menahan air mata yang sudah di pelupuk matanya itu, dengan rasa sedih di hatinya Ia pun menjawabnya,


Tatapan Ibu Juariah pada Sebastio seolah melarangnya untuk menyalahkan Anaknya, Salsa, dengan rasa perhatiannya pada Ibu Juariah, Ia pun bicara lagi,


"Dengan alasan apapun tetap Salsa salah, seharusnya Dia berpikir bahwa Ibunya masih lemah secara fisik, belum sembuh benar!" jawab Sebastio pada Ibu Juariah dengan rasa tidak mengerti di otaknya,


Melihat perbedaan sudut pandang dari mereka berdua, akhirnya Ibu Widury pun mencoba menenangkannya,


"Mungkin Salsa merasa tidak enak karena sudah beberapa hari Dia tidak masuk kerja, dan lagi Dia mungkin takut kehilangan pekerjaannya, yang di dapatnya dari hasil perjuangannya, harus kita hargai itu!" ucap Ibu Widury pada Mereka berdua seolah mengajaknya untuk berpikir bijak,


Dengan cepat Ibu Widury pun langsung mengambil Andreas dari pangkuan Ibu Juariah itu, lalu Ia gendong untuk berjalan keluar seolah ingin menjauh, karena Dia tahu mereka berdua pasti ada yang akan dibicarakannya,


"Mas, sebetulnya ada yang harus Aku bicarakan padamu, dan kebetulan hari ini pas untuk membicarakannya," ucap Ibu Juariah pada mantan Suaminya Sebastio menegaskannya,


"Mau bicara apa padaku, Ju?" tanya Sebastio pada Ibu Juariah dengan rasa penasarannya,

__ADS_1


"Ini soal kita dan keluarga!" jawab Ibu Juariah pada Sebastio dengan memberi tahu padanya,


Sebastio merasa berpikir, ada apa dengan Ibu Juariah atas segala permasalahannya itu,


"Sudah ceritakan saja, jangan sungkan!" ucap Sebastio pada Ibu Juariah dengan rasa ingin tahu dan penasarannya,


Sambil memandang mantan suaminya, lalu dengan menahan segala perasaan dalam dirinya, akhirnya Ibu Juariah pun bicara padanya,


"Sekarang Aku berani mengatakannya, Kamu sekarang lebih tahu tentang keadaan Anakmu Salsa, berbagai penderitaan telah menghujamnya, Aku ingin dan berharap agar Salsa menjadi pengawasanmu, Dia butuh pelindung dan perhatian darimu, Dia pribadi yang mandiri, walaupun wataknya keras, dan lagi Aku sudah bicara padanya, Bahwa Ibu Widury itu Ibunya juga, lalu selanjutnya bagaimana caranya itu terserah kamu!" jawab Ibu Juariah pada Sebastio dengan segala perhatiannya itu,


Sejenak Sebastio terdiam mendengar mantan Istrinya bicara tentang harapan dan keinginannya itu padanya, dengan menarik napas panjang, Ia pun menjawab,


"Ya Kamu benar, Ju! Aku coba sedikit- sedikit untuk mengenalnya lebih dalam, tolong bantu Aku, Ju!" jawab Sebastio pada Ibu Juariah dengan rasa ragunya dalam hati,


"Manfaatkan Andreas untuk menjembatani kedekatan kalian dengan Salsa, pasti demi Anaknya Salsa akan menurut, dan lama kelamaan rumahmu menjadi rumahnya juga nantinya," ucap Ibu Juariah pada mantan Suaminya Sebastio dengan memberi masukannya,


Seolah mendapat sesuatu yang menggembirakan, sontak wajah dan semangat Sebastio seolah datang dengan tiba- tiba, dengan merasa sangat bersemangat Ia pun bicara pada Ibu Juariah lagi,


"Kenapa Aku tak berpikir kearah situ, Kamu memang pintar, Ju!" jawab Sebastio pada Ibu Juariah sambil menertawakan dirinya sendiri,


Di tempat kerja tampak Salsa dengan perasaan kangen pada teman dan pekerjaannya, terlihat Salsa sedang berbincang dengan antusiasnya, rasa kangen pada teman- temannya membuatnya lupa, dengan penuh rasa penasaran Davi pun bertanya pada Salsa,


"Bagaimana keadaan Ibumu, Salsa?" tanya Davi pada Salsa dengan rasa ingin tahunya,


"Alhamdulillah, semakin membaik!" jawab Salsa pada Davi dengan memberi tahunya,


"Syukur deh, tapi Andreas dengan siapa?" tanya Davi lagi pada Salsa pula,


"Ya, dengan Ibuku, memang kenapa, salah?" jawab Salsa pada Davi seolah merasa kesal di berondong pertanyaan oleh Davi, tak lama Davi pun menjawab lagi sambil meledeknya,


"Jangan marah begitu, jelek tahu!" ucap Davi lagi pada Salsa sambil meledeknya dan lari, lalu Salsa pun mengejarnya layaknya di film India, seraya menjawabnya,


"Biarin jelek juga, wew!" jawab Salsa pada Davi sambil kembali meledeknya,

__ADS_1


Perasaan keduanya seolah terpaut kedekatan dengan rasa dalam hatinya, membuat semua yang menyaksikannya merasa iri pada mereka berdua.


__ADS_2