
Hari itu terlihat Salsa menahan perasaan marahnya, detak jantungnya seolah terus cepat bergerak, rasa tak percaya dan jeraguan kini menyelimuti hatinya,
"Kenapa dengan Kamu? Tidak merasa senang Anakmu Andreas ada disini?" tanya Ayahnya Sebastio pada Salsa ingin tahu,
Pertanyaan Ayahnya itu seakan menusuk dirinya, rasa ingin sejelasnya untuk mengetahui alasan dari semua ini, yang membuatnya segera bertanya pada Ayahnya itu,
"Bukan tidak senang Andreas berada Disini, tapi rasa sangat menerima Ibu Widury pada Andreas yang membuat Salsa merasa malu, Ayah!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan rasa malu di hatinya,
"Gak usah dibikin malu atas semuanya, toh Ibu Widury juga Ibumu Salsa, gak usah sungkan!" ucap Ayahnya Sebastio pada Salsa mengingatkannya,
Ucapan yang terlontar dari mulut Ayahnya itu, membuat Salsa berpikir dalam dirinya, mengapa segala kemudahan ini baru sekarang Ia rasakan, kenapa tidak dari kemarin- kemarin datang menghampirinya,
"Salsa merasa bahagia karenanya, Andreas sejak lahir tak pernah merasakan kemewahan yang seperti sekarang Ayah dan Ibu Widury tunjukan pada Salsa, Salsa senang merasakannya. Ayah!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan matanya yang berkaca- kaca,
Melihat Salsa menangis sedih, langsung Ibu Widury berkata dengan cintanya pada Salsa,
"Rumah ini dan seisinya adalah milik Kamu juga, mulai sekarang Kamu tinggal disini bersama Anakmu, Ibu dan Ayahmu akan merasa senang jika kalian tinggal disini!" ucap Ibu Widury pafa Salsa dengan harapan kuatnya pada Anakknya itu,
"Tapi Bu, Bagaimana dengan Ibu disana, pasti Ia pun menunggu Salsa pulang!" ucap Salsa pada Ibu Widury memberi tahukan,
Lalu dengan sambil tertawa Ayah Sebastio pun berucap padanya,
"Ibu mengijinkan Kamu dan Andreas menginap disini, mungkin seterusnya Kalian tinggal bersama kami, sedangkan Ibumu sedang masa - masa penyembuhan yang perlu ketenangan jiwa, agar proses sembuhnya cepat!" jawab Ayah Sebastio pada Salsa menjelaskannya,
"Tapi Ayah Salsa ingin terus bekerja, gak mau berhenti!" ucap Salsa pada mereka berdua,
"Siapa yang menyuruhmu berhenti bekerja?" tanya Ayah Sebastio pada Salsa menegaskan,
"Lalu siapa yang akan menjaga Andreas nanti, Ayah?" tanya Salsa pada Sebastio dengan perasaan bingung,
"Biar Ibu Widury yang menjaganya, jikalau gak bisa juga , nanti Ayah mencari Baby Sitter untuk Andreas, gimana?" jawab Ayahnya Sebastio pada Salsa menegaskan.
__ADS_1
Harapan dan angan seseorang biasanya terbentur dengan segala keadaan yang memaksanya, keinginan berubah untuk kehidupan yang mapan dan selalu ada adalah idaman dari semua insan di dunia ini.
"Sebentar Ayah, Salsa menghampiri Davi dulu, dari tadi kita bicara, tapi Dia sendirian disana!" ucap Salsa pada mereka berdua dengan segera pergi keruang tamu untuk menghampiri Davi yang seorang diri dalam benaknya itu,
"Maaf ya, Dav! Kamu sendirian dari tadi!" ucap Salsa pada Davi menerangkan,
"Gak apa- apa, demi kebaikanmu Aku tak akan marah!" jawab Davi pada Salsa menerangkan.
Lalu mereka pun saling berbincang, rasa hangat senantiasa menjalari jiwa- jiwa yang sedang dalam kebutaan dari hilangnya rasa cinta yang terbelenggu karenanya.
Saat mereka berdua berbincang, tiba- tiba Bapak Sebastio dan Ibu Widury menghampiri, dan dengan senyum simpul terlihat di bibirnya,
"Kalian pasti belum pada makan, sana makan dulu!" ucap Bapak Sebastio pada Mereka seolah mengingatkan,
"Iya Kamu makan dulu, dari pulang kerja belum makan apa- apa, makan dulu, Ya!" tanya Salsa pada Davi dengan perasaan perhatiannya,
"Gak usah repot- repot, biar nanti di rumah saja!" jawab Davi pada Salsa menegaskan,
Akhirnya mereka berbincang dengan saling bercanda, tertawa lepas mengiringi perbincangan mereka, walaupun Davi sedikit agak canggung karenanya.
Melihat Davi hendak pergi pulang, perasaan Salsa seakan bersedih, Ia merasa ditinggalkan dengan suasana yang baru dan belum pernah dirasakannya,
"Hati- hati di jalan, jangan ngebut!" jawab Salsa pada Davi dengan segudang rasa indahnya,
"Salam buat kedua orang Tuamu!" jawab Ibu Widury pada Davi dengan santunnya bicara,
"Baik, nanti saya sampaikan!" ucap Davi pada Mereka sambil berjalan keluar diikuti Salsa di belakangnya,
"Sebenarnya Aku pun belum pernah merasakan tinggal disini, Dav?" ucap Salsa pada Davi sambil matanya seolah menahannya,
Sambil berjalan pikiran Davi merasa heran, ada di dunia ini pertalian Anak dan Orang Tua seperti Salsa, celotehnya dalam hati, dan tak lama Ia pun menjawabnya,
__ADS_1
"Bebaskan semua keraguan dan rasa tak percaya pada mereka, mungkin dengan ini Kamu mendapatkan sesuatu yang berguna untuk Kamu dan Andreas ke depan!" jawab Davi pada Salsa dengan nasihat indah terlontar dari mulutnya,
"Ya, semoga saja begitu!" ucap Salsa pada Davi dengan berharap,
Akhirnya Davi pun meluncur pergi untuk pulang ke rumahnya dengan merasa senang di hatinya itu.
Di rumahnya, terlihat Ibu Juariah sedang tersenyum- senyum sendiri, dengan ketermenungannya, pikirannya berjalan seolah sedang menjalani perputaran kembali masa- masa dahulu untuk Ia lihat kembali di balik melamunnya malam itu,
"Sedang apa mereka? Bagaimana dengan Salsa pada Sebastio setelah Ia bisa menahan Andreas demi tujuan mereka," ucap Ibu Juariah pada diri sendiri di benaknya,
Ibu Juariah diam dan matanya tak lepas melihat ke jalan, sambil dirinya tak lelah menunggu,
"Ini Zaki lama sekali, jangan- jangan ada keperluan mendadak yang membuatnya membatalkan pergi!" ucap Ibu Juariah dengan harap pada dirinya sendiri.
Dan tak lama dari kejauhan tampak Zaki berjalan menghampiri Ibu Juariah, lalu Ia berucap,
"Maaf, ban bocor jadi agak telat!" ucap Zaki pada Ibu Juariah menjelaskan,
"Terus mana motornya?" tanya Ibu Juariah pada Zaki serasa ingin tahu,
"Itu masih di bengkel depan, nunggu giliran, di bengkel lagi ramai, Bu!" jawab Zaki pada Ibu Juariah dengan sedikit menjelaskan padanya,
"Yaudah masuk saja, biar nanti motormu itu di ambilnya," ucap Ibu Juariah pada Zaki memberi tahu,
Sambil mengangguk, Zaki pun segera masuk ke dalam rumah, dengan sedikit letih karena sehabis mendorong motornya ke bengkel, lalu Zaki pun segera duduk sambil berceloteh,
"Hadeuh, cape! disiksa motor sendiri!" ucap Zaki pada Ibu Juariah dengan seolah menarik napas yang panjang,
"Kasihan deh, sudah minum dulu!" jawab Ibu Juariah pada Zaki dengan menarik tangannya untuk duduk mesra,
Merasa cinta dan harapan Ibu Juariah sudah Ia tambatkan, perasaan ingin berlabuh dengan biduk mahligai rumah tangga seperti orang lain, kini Ia kukuhkan dengan nyata,
__ADS_1
"Sudah jangan mengeluh, sebentar lagi kita pergi ke bengkel, untuk mengambil motormu, lalu kita pergi berdua untuk menikmati panorama malam ini, gimana?" tanya Ibu Juariah pada Zaki dengan harapan asanya itu,
"Aku sih siap terus, selama bersamamu!" jawab Zaki pada Ibu Juariah dengan terkulum senyum indah di bibirnya itu.