
Rumah Bapak Wijaya seolah berantakan, pot bunga dan kursi teras rumahnya, serta pernak- pernik hiasan dinding depan rumahnya menjadi hancur, di tambah parkir mobil yang semaunya oleh sebastio, yang membuat seolah kacau balau dibuatnya,
Mereka semua akhirnya berkumpul semua di ruang tamu, tidak terkecuali dengan Arjuna, setelah Salsa mengancamnya itu, membuat Arjuna seolah menjadi enggan untuk berkumpul, rasa bersalahnya seolah terus berjalan dengan perjalanan panjang kepedihannya itu, dengan tak kuasa menahan sakit hatinya, akhirnya Arjuna pun berjalan pada mereka, lalu segera bicara,
"Maaf, Om dan Tante semua, Arjuna masuk ke kamar dulu, mau rebahan!" ucap Arjuna pada Mereka semua dengan kepalanya menunduk,
"Ya, silahkan!" jawab Ibu Widury pada Arjuna seolah tak tahu rasa kepedihan dalam hatinya itu,
Arjuna berjalan menuju ke kamarnya, dan Salsa dengan sengaja menghalangi jalannya, hingga Arjuna pun tak kuasa berpapasan dengan Salsa, yang seolah- olah Salsa memandang mereka semua dengan matanya itu, setelah mendekat Salsa pun bicara pada Arjuna, dengan sedikit berbisik sehingga semua yang disitu tidak mendengarnya,
"Lihatlah, Arjunaku Setan! Semua orang tua kita berkumpul dengan leganya, tapi untuk dirimu tetap Aku akan menyiksamu dengan perasaan bersalahmu itu, dan tidak ada itikad sedikit pun untuk memaafkanmu, itu semua kulakukan atas penderitaan Anakku itu, pengecut!" ucap Salsa pada Arjuna dengan memaksakan tersenyum, agar mereka tidak tahu yang sebenarnya itu.
Mendengar Salsa bicara padanya dengan rasa benci dan ancaman, membuat hati Arjuna seolah tersayat sembilu, hatinya seolah hancur, dan semangat hidupnya seolah tak ada, yang ada rasa malu dan bersalah dalam dirinya itu,
Saking Asiknya mereka berkumpul, tiba- tiba Bapak RT datang bersama Hansip desa menghampiri mereka,
"Assalamualaikum," ucapa Pak RT Somad pada mereka Semua yang sedang bercengkrama sehabis perang itu,
"Waalaikum Salam," jawab Bapak Wijaya pada mereka berdua sambil menghampirinya,
Mereka berdua pun akhirnya menegur Bapak Wijaya, karena para tetangganya merasa keberatan atas keributan di rumah Bapak Wijaya itu, dengan sedikit perasaan malu di hatinya itu, Bapak Wijaya pun bicara pada mereka berdua,
"Kami mengaku salah membuat gaduh dan ribut- ribut disini, hingga mengganggu para warga yang lain, Untuk itu Kami minta maaf, Pak RT!" ucap Bapak Wijaya pada Mereka berdua dengan merasa bersalah dalam dirinya itu,
Mereka pun Akhirnya mengerti dan memaklumi setelah Bapak Wijaya menjelaskannya, tak lama berselang mereka pun akhirnya pamit juga.
Setelah seolah terdiam sejenak, tiba- tiba Sebastio bicara pada Wijaya dengan lantangnya itu,
"Itu semua barang- barang yang Aku rusak, nanti Aku ganti, Wijaya!" ucap Sebastio pada Wijaya dengan menerangkan,
__ADS_1
"Gak usahlah, biar nanti Aku bereskan semua!" jawab Wijaya pada Sebastio menjelaskannya,
Lalu mereka pun seolah- olah merasa lupa dengan apa yang telah terjadi pada mereka itu.
Salsa merasa ada sesuatu yang merasa kurang dalam dirinya, Ia melirik Ibu Widury dan memanggilnya sambil tangannya di lambaikan padanya, dan dengan segera Ibu Widury pun menghampirinya,
"Salsa, ada apa?" tanya Ibunya Widury pada Salsa dengan ingin tahu,
"Dari tadi Salsa tidak melihat Kang Joni, tidak kelihatan, Kemana ya, Bu?" tanya Salsa pada Ibu Widury dengan rasa penasaran,
Mata Ibu Widury melihat kanan- kiri mencari keberadaan Kang Joni itu, karena tak ada, akhirnya Ibu Widury bertanya lagi pada Salsa,
"Bukannya sewaktu turun tadi, Kang Joni di belakang Kamu, Sa?" tanya Ibu Widury pada Salsa menjelaskannya,
"Iya, tapi langsung kemana Dia?" jawab Salsa pada Ibu Widury dengan penasaran,
Lalu Sekonyong- konyong Kang Joni datang sambil tangannya memegang perutnya itu, dan mengelus- elusnya, lantas Ia berkata pada Salsa dan Ibu Widury,
Lalu dengan sekedar ingin tahu, Salsa pun bertanya padanya,
"Kang Joni, Habis dari mana?" tanya Salsa pada Kang Joni ingin tahu,
Dengan sambil tertawa lucu, Kang Joni pun menjawabnya,
"Habis dari kamar mandi, Non!" jawab Kang Joni pada Salsa memberi tahunya,
"Jadi dari tadi Kang Joni di kamar mandi?" tanya Ibu Widury pada Kang Joni dengan penasaran padanya itu,
"Iya, Bu! habis perut ini mules!" jawab Kang Joni pada Ibu Widury dengan tertawa lebarnya.
__ADS_1
Dan akhirnya drama yang menakutkan dan membikin gempar itu usai juga, mereka saling berpelukan untuk saling memaafkan atas semuanya itu, tapi tiba- tiba Ibu Widia bertanya pada Salsa dengan harapnya,
"Salsa, berapa umur anakmu itu?" tanya Widia pada Salsa dengan ingin tahunya itu,
"Mau jalan satu tahun, Bu!" jawab Salsa pada Ibu Widia dengan sedikit merasa kesal padanya itu,
"Berarti sudah lama juga Kamu mengurus Anakmu itu, dan seharusnya itu Cucu Ibu juga!" ucap Ibu Widia pada Salsa dengan tersenyum gembira,
Mendengar ucapan Ibu Widia pada Salsa seperti itu, membuat hati Salsa bergetar menahan sakit, dan batinnya menangis dibuatnya, dan tatapannya seolah benci pada Ibu Widia itu, dengan menahan rasa benci dan jengkel dalam dirinya, lalu Salsa pun menjawabnya,
"Untuk sekarang ini, tolong jangan ganggu Anakku dulu, biarlah Ia urusan Salsa sendiri, dan tiada yang berhak mengakuinya selain Salsa sendiri!" jawab Salsa pada Ibu Widia dengan tegasnya bicara sambil berjalan ke arah mobilnya itu,
Dengan menggeleng- gelengkan kepalanya, Ibu Widury pun bicara pada Ibu Widia itu,
"Jangan dimasukan ke hati atas ucapannya tadi, Dia seolah melarang semuanya untuk mendekati Anaknya itu, seakan - akan semua akan mengambilnya, kadang watak seperti itu muncul dengan tiba- tiba," ucap Ibu Widury pada Ibu Widia menjelaskannya,
"Aku mengerti, semua itu lantaran tekanan penderitaannya itu, yang membuatnya kadang tak bisa mengendalikan dirinya itu, gak apa- apa Aku memakluminya!" jawab Ibu Widia pada Ibu Widury dengan senyum senang dalam hatinya itu,
Dan mereka pun Akhirnya pamit pulang, dan terlihat dari roman wajah semuanya seolah berseri, karena sesuatu yang ditakutkannya kini sudah pergi meninggalkan mereka.
Dalam perjalanan pulang, mereka semua seakan bersyukur, karena sesuatu yang di khawatirkannya tak terjadi.
Berbeda dengan Arjuna, sepeninggal mereka itu, tampak amarah Arjuna semakin tinggi dalam dirinya itu, rasa kecewa dan bersalahnya kini mulai menggerogoti hatinya, dan saking sakitnya Arjuna pun teriak dengan kerasnya,
"Ahhhh! Setannn!....Aku tak berguna!" teriak Arjuna dengan kerasnya, dengan pandangan menatap penuh rasa bersalah pada dirinya itu,
Mendengar teriakan keras itu, membuat kedua orang tuanya menghampiri Arjuna, lalu bertanya pada Arjuna dengan penasaran,
"Ada apa Arjuna? Kenapa Kamu teriak- teriak begitu?" tanya Ayahnya Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan rasa ingin tahu,
__ADS_1
Mendengar Ayahnya bertanya seperti itu, membuat diri Arjuna seolah semakin sakit dibuatnya, hingga rasa pusing di kepalanya terasa, dan ungkapan hati yang merana pun kini Ia lontarkan pada kepada kedua Orang Tuanya itu, sambil menangis Arjuna bicara,
"Arjuna merasa malu dan tak berharga di mata Salsa, sungguh Arjuna itu seorang pengecut, dan hanya bisa membuat darah daging Arjuna merana dengan ulah Arjuna yang bodoh ini, Arjuna Malu atas semua yang terjadi ini, Bu!" ucap Arjuna pada Mereka berdua dengan menangis sejadi- jadinya sambil memeluk Ibunya dengan sangat eratnya itu.