
Kesan cinta yang terlukiskan dari hati, yang sedang terjerumus dalam buai keindahan, Cerita sayang kepatuhan untuk pengorbanan, dan derita pilu akan cinta tentang kesendirian yang menghantam jiwa.
Bisik gelap Arjuna yang terdengar ke telinga Yuli, mengharuskan Ia siap untuk menerimanya, pandangan miring tentang dirinya yang seakan melekat kuat pada Sosok Arjuna itu,
"Kamu memang sudah siap untuk menjadi pacarku, Yul?" tanya Arjuna pada Yuli menegaskan,
Yuli tersipu malu mendengar tanya dari Arjuna itu, wajahnya seolah memerah dan hatinya tanggelam dalam lubuk keraguan akan itu, dan tak lama dengan berat hati Ia pun menjawab,
"Semua perasaanku sudah bisa Kamu tebak sendiri, dan kadang Aku juga merasa bingung?" jawab Yuli pada Arjuna menerangkan,
"Kenapa mesti bingung?" tanya Arjuna lagi pada Yuli ingin tahu,
"Gak tahulah, Aku juga bingung untuk menjawabnya." jawab Yuli pada Arjuna dengan tatapan tanya di benaknya.
"Aneh Kamu ini, bingung sendiri kok gak tahu sebabnya?" ucap Arjuna pada Yuli dengan senyum di wajahnya,
Dalam diri Yuli bukan tidak tahu, tapi perasaan tidak enak untuk di ucapkan pada Arjuna, karena semuanya menyangkut penilaian diri Arjuna.
Kedua Orang Tua Arjuna merasa ingin cepat- cepat Arjuna dan Yuli untuk segera menikah, keinginan dan rasa kesepiannya yang membuat mereka ingin segera punya cucu dari Anaknya itu.
Dan terlihat Keluarga Bapak Wijaya, sore itu sedang duduk santai menikmati angin sepoi dengan saling berbincang,
"Bagaimana hubunganmu dengan Yuli, Arjuna?" tanya Ayahnya Wijaya pada Anaknya itu Arjuna,
Mendengar Ayahnya menanyakan tentang hubungannya dengan Yuli, membuat dirinya merasa sedikit malu untuk menjawabnya, dan dengan rasa berat hati Arjuna pun menjawab,
"Selama ini sih, baik- baik saja, Ayah!" jawab Arjuna pada Ayahnya Wijaya memberi tahu,
Dan Ibu Widia segera ikut bicara seolah gak mau kalah dengan mereka,
"Ibu sih mengharapkan, kalian cepat- cepat untuk menikah," ucap Ibu Widia pada Anaknya Arjuna menjelaskan,
__ADS_1
"Ayah pun kepikiran seperti itu, Bu!" ucap Ayahnya Wijaya pada mereka menjelaskan,
Keinginan kedua Orang Tuanya itu seolah menjadi beban pada diri Arjuna, betapa tidak, baru saja menjalin hubungan dengan Yuli, sudah terbentur harapan dan keinginan dari mereka itu,
"Arjuna sih, Bagaimana Yuli saja, biar Dia yang berhak memutuskan kapannya!" ucap Arjuna pada kedua Orang Tuanya mengingatkan,
"Tapi gak begitu juga, Kamu pun berhak untuk memutuskannya, asal bicara dulu sama Yuli tentang keinginanmu itu !" jawab Ibu Widia pada Arjuna dengan senyum senang di wajahnya,
"Pokoknya Ayah ingin segera punya Cucu darimu, Arjuna!" ucap Ayahnya Wijaya pada Arjuna memberi tahu.
"Doakan saja, supaya hubungan Arjuna dan Yuli senantiasa bisa sampai ke palaminan." jawab Arjuna pada mereka berdua dengan harapannya.
Sedangkan nun jauh disana, Mama Suci sedang merasakan kebahagiaan dalam dirinya, bagaimana tidak, Yohana menantunya, melahirkan pada hari itu,
Terlihat senyum bahagai tergambar dari senyum di wajahnya itu,
"Alhamdulillah, Anakmu perempuan dan cantik lagi, mirip Ibunya!" ucap Mama Suci pada Darwis dengan senang di hati,
Darwis seolah mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar dirasakan dalam dirinya, pikiran khawatir dalam dirinya kini musnah sudah, cerita tentang rasa syukurnya itu hingga membuat wajahnya berseri- seri.
"Kamu harus bersyukur pada Tuhan atas Karunia ini, dan harus sayang pada mereka!" jawab Mama Suci pada Anaknya Darwis dengan menasehatinya,
Kebahagiaannya terpancar dari wajahnya, setelah Istri tercintanya melahirkan, Darwis merasa lengkap sudah atas kebahagiaannya itu.
"Say, Anak kita perempuan cantik mirip Kamu!" ucap Darwis pada Yohana Istrinya dengan senang di hati,
"Aku sangat bahagia karenanya, nanti kita cari nama yang bagus untuk Anak Kita!" jawab Yohana pada Suaminya Darwis dengan rasa senang di hatinya,
"Nanti rumah kalian akan merasa ramai dan hangat, dengan kehadiran Anakmu itu!" ucap Mama Suci pada mereka berdua menjelaskan.
Saking asyiknya mereka bertiga merasakan kebahagiaan itu, tiba - tiba terdengar Ayahnya Yohana datang untuk menengok Cucunya itu
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Bapak Maruli pada mereka dengan perasaan senangnya,
"Waalaikum Salam," jawab Mama Suci pada Bapak Maruli sambil tersenyum bahagia,
Melihat Ayahnya datang sendirian, Yohana pun segera bertanya pada Ayahnya itu,
"Ayah, kok Ibu gak ikut?" tanya Yohana pada Ayahnya ingin tahu,
"Nanti Ibumu menyusul kemari!" jawab Ayahnya Maruli pada Yohana memberi tahunya,
Semua seolah merasa bahagia karenanya, dan rasa syukur terucap dari mulut- mulut orang yang mencintainya,
"Aku merasa bahagia Cucuku lahir, Andai saja Ayahmu masih hidup, mungkin rasa bahagianya sama dengan yang Aku rasakan sekarang ini!" ucap Bapak Maruli pada Mereka dengan perasaan bersedih karenanya,
Tanpa sadar Mama Suci merasakan kesedihan dalam hatinya, Ia teringat Suaminya Papa Hanapi, yang sangat Ia cintai,
"Mungkin beliau sangat bahagia disana, kalau saja ada disini, pasti senyum bahagianya akan bisa kita lihat dengan perasaan senangnya itu!" ucap Mama Suci pada mereka Semua dengan perasaan sedih di hatinya.
Memang Orang- Orang yang kita cintai selalu menghiasi hati kita, dengan segala kenangan dan perhatian yang sudah terukir indah dalam sanubari Orang yang terkasihi.
Mendengar semua keresahan dalam diri Mama Suci mengingat akan Suami yang telah meninggalkannya, membuat Darwis seolah merasa sangat bersalah lagi, cerita dulu muncul di kelopak matanya, seolah memberi tahu padanya akan bahagianya Ia, karena harapan Akan Anaknya itu bisa terwujud, Darwis dan Yohana resmi menjadi Ayah dan Ibu seutuhnya sekarang, karena Anaknya terlahir.
"Sungguh Aku merasa salah dan berdosa atas segala kelakuanku dulu, kini Anakku tidak bisa bertemu dengan kakeknya!" ucap Darwis pada mereka yang disitu dengan perasaan sedih,
"Sudah jangan terlalu kamu sesalkan, mending Kita berdoa agar dosa dan kesalahan Ayahmu itu di ampuni!" ucap Bapak Maruli pada Dawis sambil menepuk- nepuk bahunya dengan segala perhatiannya itu,
"Benar itu, sudah jangan menangis, biarkan Ia pergi dengan damai, Kita harus mengikhlaskannya!" ucap Yohana pada Suaminya Darwis yang terlihat sedih dan menitikkan air matanya,
"Tinggal kalian harus menjadi keluarga yang rukun, agar keinginan beliau akan keluarganya itu bisa terlaksana, walaupun Ia telah meninggalkan Kita semua!" ucap Bapak Maruli pada mereka semua dengan harapan dan doanya itu,
Terlihat semua yang ada disitu menjadi terharu, cita- cita Almarhum yang menginginkan Darwis dan Yohana hidup rukun, kini memang sudah terbukti adanya, dan terbukti dari hubungan mereka itu terlahir Cucu yang kini baru di lahirkan dengan lancar,
__ADS_1
"Nanti sepulang dari sini, Apa kalian mau tinggal di rumah Ibu dulu, agar Ibu mudah menbantu merawat Anakmu itu, Atau langsung pulang kerumah kalian?" tanya Mama Suci pada Mereka berdua ingin tahu,
Keduanya seolah saling pandang, mungkin karena bingung, tapi dari lubuk hati mereka, mereka ingin kerumah dimana rasa bahagia itu tinggal.