
Alhasil dari mimpinya semalam, tiada henti Ibu Juariah lepas dari ingatannya, Sosok Suami kaya di sampingnya kala itu, cinta tumbuh dan berkembang alami tanpa beban, mewujudkan Impian dengan cinta terlahirlah putri cantik jelita Salsa melengkapinya.
Walaupun setelahnya Ia berulah tanpa makna, mengguncang persendian nadi bahtera keluarga,
menghunuskan pedangnya lalu merobek jalinan kisah yang telah tumbuh subur dengan perangkap birahi setannya.
Sungguh ngiris dan sakit hati memang, membayangkan detik- detik kekonyolan itu terjadi dalam pikiran hati Ibu Juariah, Dengan Nila setitik rusak susu sebelanga, begitu mungkin pantasnya menilai,
Akhirnya hidupnya hancur, biduk rumah tangganya bocor terbentur dinding tirani yang membawanya dalam kehidupan pelayaran yang tak ada ambang batas untuk diikutinya, semua kehebatan dan kehormatannya pergi entah kemana, meninggalkan segalanya yang dulu telah Ia punya, dengan setahap demi setahap menjauh berganti dengan kesedihan kenyataan di alam fana ini.
Suara lantang penjual menjajakan dagangannya, dan hilir mudik para pembeli serta lalu lalang kendaraan yang seolah memecahkan telinga orang yang asik dalam lamunannya,
Pagi itu Ibu Juariah tampak diantara pengunjung pasar dengan langkah cepatnya, tatapan, pandangan dan penglihatannya tertuju pada barang- barang yang dijual pedagang, dalam hatinya mengingat sesuatu apa yang akan di belinya hari ini, dengan tidak memperdulikan orang kiri- kanan, tiba- tiba Ia bersenggolan dengan Sosok Ibu setengah Tua, yang langsung mengomel terhadapnya,
Bughh!!, suara bertubrukan Wanita itu dengan Ibu Juariah, membuat mereka berhenti berjalan dengan wajah saling emosi,
"Kalau jalan jangan sambil melamun, bikin susah Orang mau lewat!" ucap Wanita itu pada Ibu Juariah dengan sinisnya,
"Maaf, Saya tak sengaja." jawab Ibu Juariah pada Wanita itu sambil menganggukan kepalanya sambil menatap Wanita itu,
"Pagi- pagi gini sudah melamun, jangan ke pasar kalau masih melamun!" ucap Wanita itu pada Ibu Juariah yang sedang menatapnya seolah ingat sesuatu,
Langkah berbenturan mengakibatkan rasa emosi datang tiba- tiba untuk balik mendampar apa yang telah terjadi, tapi tiba- tiba hari ini Ibu Juariah berbeda, tidak spontan balik menyerang orang yang menyenggolnya, seperti hari- hari biasanya, Ia tertegun sejenak sambil berpikir keras,
"Seolah wajah Ibu itu tidak asing bagiku, tapi di mana?" tanya Ibu Juariah sambil berpikir dalam benaknya.
Melihat Ibu Juariah diam seolah mengingat sesuatu, Wanita itu pun hendak melangkah pergi, tapi disaat Kaki kanannya Ia akan langkahkan, tiba- tiba ingatan menemukan pencariannya, dengan spontan tanpa bisa ditahan mulut Ibu Juariah bertanya dengan nada lantang dan keras terdengar,
"Sebentar! Ibu seperti Rani Yang Aku kenal." tanya Ibu Juariah pada Wanita itu seolah menebaknya,
__ADS_1
Spontan Wanita itu diam, sambil matanya menatap Ibu Juariah dari kaki sampai kepalanya, mungkin dalam otaknya Ia bertanya, mengenal atau tidak sosok Seorang Perempuan di hadapannya,
"Maaf Apakah Saya tidak salah, betul Ibu Rani Sekretaris Bapak Sebastio?" tanya Ibu Juariah lagi pada wanita itu dengan penasaran ingin segera tahu,
Karena Wanita itu hanya diam saja, akhirnya Ibu Juariah pun tersenyum padanya sambil kakinya hendak Ia langkahkan sambil seraya berkata,
"Maaf, mungkin Saya salah Orang." ucap Ibu Juariah pada Wanita Itu dengan merasa malu tidak ada respon,
Mendengar Ibu Juariah mengucapkan Bapak Sebastio, rasa semakin tahu Wanita itu pun semakin besar untuk mengenalinya, dan setelah beberapa lama Ia mengingat, tak lama mulai mengenalnya,
Bagai angin menghantam gunung, serta merta Wanita itu pun teriak sambil senyumnya terbuka lebar saking merasa senangnya,
"Ini Ibu Juariah, benar Ini Ibu Juariah mantan Istri Bapak Sebastio!" ucap Wanita ini pada Ibu Juariah dengan senangnya,
Mendengar ucapan Wanita itu Ibu Juariah terus mengangguk, lalu Wanita itu terus merangkul Ibu Juariah dengan eratnya, rasa senang terpancar dari raut wajah keduanya, yang sudah hampir puluhan tahun tidak bertemu,
"Sungguh tidak disangka dan Aku duga, Kita bisa bertemu di pasar becek ini." ucap Rani pada Ibu Juariah dengan senangnya,
"Alhamdulillah baik, Ibu sudah tua pun masih cantik aja." jawab Rani pada Ibu Juariah memujinya,
"Ah, Kamu bisa aja, masih bekerja seperti yang dulu?" tanya Ibu Juariah lagi pada Rani ingin tahu,
"Masih, lalu ibu bagaimana?" jawab Rani pada Ibu Juariah ingin tahu,
"Ya, seperti yang Kamu lihat!" jawab Ibu Juariah pada Rani sambil tertawa lepas,
"Ibu tahu, Bapak Sebastio sering cerita tentang Ibu?" tanya Rani pada Ibu Juariah dengan senyum dibibirnya,
"Masa, sih?" jawab Ibu Juariah pada Rani dengan rasa malunya,
__ADS_1
"Benar, Ini Rani serius, malah Rani dengar Bapak Sebastio sedang mencari Ibu dan Anak Ibu!" ucap Rani pada Ibu Juariah dengan lepasnya,
"Kamu tahu dari Siapa kabar itu, Ran?" tanya Ibu Juariah lagi pada Rani pura- pura dalam hatinya,
"Dari salah satu Orang kepercayaan Bapak Sebastio, memang Ibu selama ini kemana? Atau jangan- jangan Ibu tak ingin menemuinya?" tanya Rani pada Ibu Juariah yang seolah ingin tahu banyak,
Mendengar pertanyaan Rani seperti itu, seluruh tubuh Ibu Juariah bergetar hebat, perasaan haru atas cinta yang tersimpan di dalam hatinya membuat wajahnya memerah memendam malu yang teramat sangat mengganggunya, lalu Ibu Juariah tersenyum pada Rani, dan seraya berucap,
"Kadang Aku ingin bertemu, tapi waktu jua yang membatasinya, Aku sekarang menjadi single parents, dengan usaha aset kontrakan untuk hidup dengan Putriku, biasalah kecil- kecilan, Ran!" jawab Ibu Juariah pada Rani yang seakan merasa menutupi rasa penasarannya,
"Maaf gak bisa lama- lama, Itu di tempat parkiran Suami sudah menunggu sedari tadi, kasihan!" ucap Rani pada Ibu Juariah dengan segera mengingatkannya,
"Oh, Iya! nanti kapan- kapan Aku mampir ke rumahmu, Ran!" jawab Ibu Juariah pada Rani sambil memeluknya dengan penuh rasa senang,
"Terima Kasih, Bu!" jawab Rani pada Ibu Juariah sambil melangkahkan kakinya yang terhenti,
"Hati- hati di jalan, Salam buat Suami dan Keluargamu " ucap Ibu Juariah pada Rani sambil melambaikan tangannya pada Rani.
Akibat dari pertemuannya itu dengan Rani, rasa percaya atas mimpinya itu menjadi bertambah besar dalam pikirannya, apa yang dikabarkan Rani padanya seolah bukti nyata yang bisa Ia rasakan,
Di tempat Parkir mobil, terlihat Suami Rani sedang jenuh menunggu, Bapak Willy sedang duduk di kursi kemudi mobilnya sambil sesekali mulutnya menguak saking lamanya menunggu Rani berbelanja,
"Lama amat sih, Bu?" tanya Bapak Willy pada Istrinya dengan nada kesal di hati,
"Tadi tak diduga Aku bertemu dengan Ibu Juariah mantan Istri atasanku, jadi akhirnya Aku ngobroll sebentar," jawab Ibu Rani pada Suaminya Willy menerangkan,
"Oh, Begitu! Sekarang cepatlah naik dalam mobil, Kita pulang sekarang! Kelamaan nunggu Aku sudah merasa jenuh!" ucap Bapak Willy pada Istrinya Rani memberi tahu,
"Baiklah, kita pulang sekarang!" jawab Ibu Rani pada Suaminya Bapak Willy dengan bergegas untuk masuk ke dalam mobil,
__ADS_1
Dan Akhirnya keduanya pergi meluncur pulang dengan mobilnya.