
Suasana hati hari itu terasa tak menentu bagi Ibu Juariah, Anaknya dengan merasa benci akan hubungan Ibunya itu dengan Zaki, cerita sekitar gosip miring tetangganya seolah merebak, cinta kasih yang tertambat dalam lubuk sanubari Ibunya kini sudah terukir indah, jeritan isi hatinya yang kini tertuang dalam benaknya itu,
"Aku tahu betapa marahnya Salsa padaku, itu Aku maklumi, biarkan saja toh nanti juga akan kembali baik lagi!" ucapnya dalam hati.
Pagi itu Ibu Sandy sedang berbincang dengan Anaknya Zaki, celoteh miring dan penilaian akan hubungannya dengan Ibu Juariah yang membuat perasaan dan hatinya merasa tak tenang.
"Sudah Kamu pikir dengan matang belum? Ibu Juariah itu orangnya baik, dan lagi Ia sudah tak merasa sungkan, Dirinya menganggap bukan siapa- siapa lagi dengan Kita, cuma perbedaan usia saja yang membuat sedikit persoalan, tapi kalau Kamu mencintainya itu bukan masalah," ucap Ibu Juariah pada Zaki megingatkannya,
Mendengar itu Zaki diam tak bicara, pikirannya berkutat pada hubungannya dengan Ibu Juariah kekasihnya itu, tak lama Ia pun bicara,
"Aku tahu itu, Ibu! Usia adalah momok penilaian orang yang seolah tabu, tapi biarlah itu urusan mereka, toh Zaki senang bersamanya!" jawab Zaki pada Ibunya Sandy dengan rasa percaya diri,
Mereka lalu bercakap- cakap dengan sangat serius, demi kelangsungan hubungan perkawinan Anaknya itu kelak.
Omongan miring dan dan gosip tentang mereka berdua seakan sudah tersebar luas diantara tetangga, sampai mereka sudah menjadi objek pembicaraan sehari- hari bagi para tetangganya itu, hingga seolah mulut mereka merasa tak kuasa ingin selaku membicarakannya,
"Nasib Zaki kali, bertemu cintanya pada Ibu Juariah yang cantik itu!" Ucap Ibu Wina pada Ibu Yulia dengan berjalan menuju rumahnya itu.
"Pasangan beda umur yang jauh, tapi ini mungkin masalah hati saja, sehingga mereka bisa saling mencintai," jawab Ibu Yulia pada Ibu Wina menjelaskannya,
"Tapi Ibu Juariah seolah tidak malu!" ucap Ibu Wina lagi pada Ibu Yulia pula,
"Kalau sudah saling cinta, semua terasa indah, bahkan tai kotok pun terasa coklat, bukankah begitu, Bu!" jawab Ibu Yulia pada Ibu Wina sambil tertawa dengan sedikit celotehan lucu padanya.
Hari itu, tampak hiruk- pikuk Orang- orang di pasar terdengar dengan riuhnya, dan lalu lalang pengunjung pasar seolah tak berhenti bergantian, teriak pedagang dan pembeli saling tawar menawar barang, dan suara pluit tukang parkir terdengar saling bergantian mengatur kendaraan yang silih berganti saling berdatangan ke pasar itu,
Terlihat Yuli sedang berbelanja seorang diri, Ia mencari keperluan untuk memasak hari itu, saking seriusnya melihat dan mengingat barang apa yang mesti di belinya, hingga Ia tak memperhatikan Ibu Juariah memperhatikannya, lalu bertanya padanya,
"Kamu Yuli, Bukan?" tanya Ibu Juariah pada Yuli dengan perasaan ingin tahu,
Dengan menatap tajam pada Ibu Juariah, sambil mengingat dalam pikirannya, dan tak lama Yuli pun menjawabnya,
__ADS_1
"Benar, Tante Ini pasti Ibunya Salsa!" jawab Yuli pada Ibu Juariah dengan merasa senangnya,
Ibu Juariah mengangguk, dengan senyum manis di bibirnya, Ia pun bicara lagi,
"Apa kabarnya, Yul?" tanya Ibu Juariah pada Yuli ingin tahu,
"Baik, Tante!" jawab Yuli pada Ibu Juariah dengan tersenyum ramah padanya,
"Kamu sendirian?" tanya Ibu Juariah pada Yuli dengan rasa penasaran,
Yuli tak menjawab hanya diam, sambil matanya mengamati barang- barang yang ada di hadapannya itu, lantas Yuli pun bertanya,
"Tante, Salsanya gak ikut?" tanya Yuli pada Ibu Juariah dengan rasa ingin tahunya itu,
"Enggak, Dia sudah lama tinggal bersama Ayahnya!" jawab Ibu Juariah pada Yuli memberi tahunya,
Dan mereka pun akhirnya saling bincang dengan akrabnya, tawa dan canda mengiringi mereka berdua berbincang, dan tak lama Yuli pun bicara pada Ibu Juariah lagi, seakan- akan Ingin tahu,
Mendengar tanya dari Yuli perihal pernikahannya itu, lantas Ibu Juariah pun menjawab sambil tersenyum di bibirnya,
"Kamu tahu dari siapa?" tanya Ibu Juariah pada Yuli dengan rasa penasaran,
"Berita Tante mau menikah lagi, sudah bukan rahasia lagi!" jawab Yuli pada Ibu Juariah dengan menerangkannya,
"Ohhh, tapi itu hanya baru rencana, nanti tunggu pastinya setelah ada undangan kepadamu, Yul!" ucap Ibu Juariah pada Yuli menegaskan padanya,
"Semoga saja pernikahannya lancar, Tante!" ucap Yuli lagi pada Ibu Juariah dengan merasa senang di hatinya.
"Aamiin." jawab Ibu Juariah lagi pada Yuli pula.
Mereka akhirnya bercakap- cakap, dengan di selingi oleh pertanyaan dan rasa penasaran yang membuat keduanya lupa diri, dan membuat mereka sedikit melupakan waktu, lalu Akhirnya Yuli pun segera pergi pamit untuk segera pergi dari situ,
__ADS_1
"Tante, Yuli pamit dulu!" ucap Yuli pada Ibu Juariah dengan merasa tak enak di buatnya,
"Ya. Hati- hati di jalan, dan salam buat keluarga di rumah, Yul!" jawab Ibu Juariah pada Yuli yang terus bergegas berjalan masuk ke dalam pasar.
Pagi hari itu, tampak Salsa sedang bermuram durja, wajahnya ditekuknya, dan matanya memandang kosong ke depan, dan pikirannya seolah jauh memikirkan tentang hubungan Ibunya dengan Zaki, serta- merta Ia pun bicara sendiri,
"Aku merasa malu, Ibu sudah dapat pilihan pendampingnya, tapi sayang Ia melupakan penilaian orang lain, akan calon suaminya itu yang masih sangat muda itu, Zaki!" ucap Salsa pada dirinya sendiri dengan resahnya itu,
Seolah tak tenang dengan segala gosip dan omongan miring para tetangga, dan orang- orang sekelilingnya itu, jauh di lubuk hatinya merasa sangat tak tega bila Sosok Ibunya itu menjadi momok pembicaraan tabu orang lain, akibat hubungan percintaannya dengan Zaki Anak baru gede itu,
"Apakah Aku harus bicara dengan Zaki, tapi bila dilihat semua ini bukan salahnya, dan pasti Ia kena rayuan gombal dari Ibunya itu," begitu pikiran Salsa dalam otaknya,
Tak di duga dengan sekonyong- konyong Davi datang dengan sepeda motornya, dan langsung berhenti di depan Salsa yang sedang bengong dan melamun, dengan menggeleng- gelengkan kepalanya lantas Davi pun bertanya pada Salsa,
"Jangan melamun terus, Salsa! Malu pada Orang yang lewat lalu melihatmu!" ucap Davi pada Salsa dengan terus menghampirinya,
Mendengar kekasihnya itu bicara padanya, Salsa pun segera menundukkan wajahnya dengan rasa malu dalam hatinya, lantas kepalanya Ia geleng- gelengkan, dan akhirnya Ia pun menjawabnya,
"Ehh, Kamu Dav, kirain siapa!" jawab Salsa pada Davi sambil menahan malu pada dirinya itu,
"Ngelamunin apa sih? Sampai sebegitu seriusnya hingga suara motorku saja tak membuat Kamu berpaling!" ucap Davi pada Salsa menjelaskan padanya,
"Gak ada, hanya merasa letih dan cape tubuh ini, hingga tak terasa rasa gak fokus,!" jawab Salsa pada Davi kekasihnya itu dengan berbohong,
"Yang benar, sudah jangan bohong padaku, ceritakan saja siapa tahu kita bisa mencari solusinya untuk permasalahanmu itu!" ucap Davi pada Salsa dengan merasa sangat terharu di buatnya,
Salsa hanya diam, karena berat rasanya menceritakan tentang masalah tentang hubungan Ibunya Dengan Zaki itu, lalu pikirannya terus berputar mencari jawaban atas pertanyaan Davi tersebut, tak lama Ia pun bicara pada Davi,
"Semua persoalan yang ada dalam diriku ini, hanya segelintir dari yang lainnya dalam hidupku, jadi jangan khawatirkan tentang hidupku ini, Aku tahu Kamu sangat mengkhawatirkan Aku, Sayang!" ucap Salsa pada Davi dengan senyum cintanya pada Davi.
Mereka pun saling berangkulan, dengan semua perasaan yang ada dalam hatinya itu.
__ADS_1