Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Kisruh, sangat Menegangkan


__ADS_3

Wajah Sebastio seolah Monster kejam yang meluluh lantahkan semuanya, tamparan dan pukulan mendarat di tubuh Arjuna yang diam tak melawan, hingga tendangan Sebastio telak mengenai perutnya itu, Bukk!!.


Arjuna oleng dan tersungkur ke lantai sambil bersimpuh di depan Sebastio, tangannya memegang perutnya menahan rasa sakit karena hantaman tendangan Sebastio yang telak itu,


"Maafkan Arjuna, Om!" ucap Arjuna pada Sebastio sambil menahan sakit di perutnya itu,


"Apa Maafkan? Dulu kamu menghamili Anakku, lalu seenaknya Kamu tinggalkan, hingga Salsa menderita sampai detik ini, bedebah!" jawab Sebastio pada Arjuna sambil tangannya mencekiknya dengan keras, Aughkk!!


Melihat Anaknya di cekik dengan kuatnya, hingga Arjuna tak kuasa seolah hendak menemuai ajalnya, Ibu Widia berlari dengan sekuat tenaganya, lalu Ia menepiskan tangan Sebastio pada Anaknya itu, hingga tubuhnya terduduk membungkuk di depan Sebastio, dan tanpa rasa kasihan wajah Ibu Widia pun di tamparnya, Plakk! Plikk! Plukk!, Ibu Widia terjatuh dan dari mulutnya mengeluarkan darah karena tamparan keras Sebastio, dan tangisan tersedu- sedu keluar dari mulut Ibu Widia yang merasakan sakit akibat tamparan Sebastio itu,


Dan dengan dengan sekuat tenaga, Wijaya menggendong Istrinya menjauh dari angkara murka Sebastio, lalu bicara pada Sebastio,


"Aku tahu Aku bersalah pada Anak dan Istrimu itu, Sebastio," ucap Wijaya pada Sebastio yang sedang menyeret Arjuna ke hadapan Wijaya seraya berkata,


"Aku sudah tak mau mendengarkan ocehan busukmu itu, Wijaya!" jawab Sebastio pada Wijaya dengan menghempaskan Arjuna di depannya,


Wijaya langsung menghampiri Arjuna dengan rasa kasihan di dadanya itu, lalu Ia memeluk Anaknya itu seraya berkata,


"Kamu tak sepantasnya menyiksa Anakku ini, Ia tak bersalah, Sebastio!" ucap Wijaya pada Sebastio sambil menangis sedih dengan merangkul Anaknya Arjuna dengan perasaan sedihnya itu,


"Lalu Siapa yang pantas Aku salahkan, melihat Anakku hamil dan melahirkan Anaknya tanpa seorang Suami di sampingnya, Siapa Wijaya?" tanya Sebastio pada Wijaya dengan menendang Arjuna dengan rasa kesalnya, Blukkk!!,


"Akulah yang berhak Kamu salahkan, jangan Istri dan Anakku itu, Sebastio!" ucap Wijaya pada Sebastio dengan perasaan Iba pada keduanya,


"Monyet kalian semua, masa lalu Anakku membuat dirinya tak pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, itu lantaran Kau, Wijaya!" jawab Sebastio pada Wijaya dengan murkanya itu.


Bukk!! Bikk!! Bukk!!, Pukulan kembali bersarang di dada Wijaya hingga Ia tersungkur dan dari mulutnya keluar darah, hingga rasa sakitnya mulai menjalar di tubuhnya itu, lalu Sebastio menjambak rambut Arjuna dengan sadisnya, hingga rasa sakit tak terhingga di rasakan Arjuna dengan sakitnya itu, Ia pun meringis kesakitan, Uhh! Uhh! Uhh!!,

__ADS_1


Disaat tangannya hendak memukulnya lagi pada Arjuna, sekonyong- konyong Anwar datang dengan sepeda motornya, seraya berkata pada Sebastio,


"Jangan!....tahan, Mas Sebastio!" ucap Anwar pada Sebastio dengan menghentikan motornya, lalu bergegas menghampiri Sebastio dengan rasa penasarannya itu,


Sebastio pun seolah diam tidak meneruskan untuk memukul Arjuna, malah tubuh Arjuna Ia hempaskan tak kuat dengan bencinya pada Arjuna itu,


"Sabar...sabar, jangan pake kekerasan!" ucap Anwar pada Sebastio memberi tahunya,


Lalu dengan menatap ke angkasa biru nan luas, Sebastio pun bicara pada Anwar dengan menunjuk sambil bertolak pinggang,


"Monyet- monyet inilah yang telah membuat Salsa dan Ibunya itu menderita, dengan seenaknya menghina dan merendahkan mereka berdua untuk menjaga gengsinya, tak perduli Salsa sedang hamil karena kelakuan Anaknya itu, dasar Setan Alas!" jawab Sebastio pada Anwar dengan kakinya menendang keras Arjuna hingga terjerembab ke lantai, Bukkk!!!, Aauuwwh!!, Arjuna merintih sakit,


Mendengar ucapan Sebastio itu, tanpa di sangka- sangka Emosi Anwar tersulut, hatinya terbakar setelah mendengar ucapan Sebastio itu, dan dengan emosi Anwar pun bicara,


"Oh, jadi ini orangnya yang telah menghamili Salsa, dan terus meninggalkan dengan teganya itu!" ucap Anwar pada Sebastio dengan langsung menghampiri Arjuna, lantas menjambak rambutnya itu,


Lalu terdengar teriakan Arjuna dengan meronta, Akibat tangan dan kaki Anwar dengan tidak tahan menghajarnya tanpa ampun,


"Ampun....Ampunnn!" teriak Arjuna pada Anwar yang dengan emosi menyiksanya.


"Ampun seenak udelmu, Salsa menderita karena ulahmu itu, mana Salsa memohon Ampun kepadamu, dasar Brengsek!" ucap Anwar pada Arjuna dengan tatapan bengisnya karena emosi itu,


Sekonyong- konyong Ibu Widia berlari untuk segera merangkul tubuh Arjuna yang tak berdaya itu, seraya berkata pada Anwar,


"Sudah, jangan Kamu siksa Anakku itu, kalau mau bunuhlah Aku!" ucap Ibu Widia pada Anwar dengan beraninya bicara,


Karena merasa kesal seolah- olah dihalangi, Anwar pun menampar Ibu Widia tanpa ampun,

__ADS_1


Plakk! Plikk! Plukk!, terdengar suara tamparan keras di pipi Ibu Widia hingga Ia pun menjerit sakit, Aauuuwwwh!! Uhhk!,


Sekujur tubuh Ibu Widia dengan kuatnya terus merangkul Anaknya Arjuna, Ia sengaja menjadi tameng agar Anaknya itu tak disiksanya,


"Hey, Wanita sialan, berani- beraninya Kamu menghalangiku, dasar sontoloyo!" ucap Anwar pada Ibu Widia yang sedang merangkul Arjuna dengan kuatnya sambil menangis pilu,


Lalu Anwar pun berpaling menatap Sebastio yang sedari tadi melihatnya menampar Ibu Widia, dan dengan rasa ingin puas, Anwar pun bicara pada Sebastio,


"Mas Sebastio, Kita apakan mereka semua ini, Aku sudah tak tahan untuk menghancurkannya?" tanya Anwar pada Sebastio dengan kesal sambil berjalan menghampirinya,


"Sebetulnya mataku sudah muak memandang mereka ini, tapi rasa sakit yang di derita Anakku Salsa itu, sungguh membuat Aku semakin ingin menyiksanya lagi!" jawab Sebastio pada Anwar dengan rasa amarah yang tak mungkin bisa Ia kendalikan itu,


Terlihat Wijaya dengan tergopoh- gopoh berjalan menghampiri Istri dan Anaknya itu, lalu dengan memberanikan diri Ia pun bicara pada mereka berdua,


"Jika Kami ini tidak layak untuk menerima maaf darimu, kalian bunuh saja kami sesuka kalian, agar kalian puas!" ucap Wijaya pada mereka berdua dengan menatap mereka dengan pasrahnya,


Mendengar ucapan Wijaya dengan perasaan yang pasrah itu, membuat sekujur tubuh Anwar pun seolah sedikit berpikir, matanya menatap Wijaya dengan tajam, terlihat bercak darah di mulutnya, lalu pandangannya beralih ke Ibu Widia yang sedang menangis sambil merangkul Anaknya itu Arjuna, lalu pandangan Anwarpun melihat ke sekeliling yang porak poranda akibat emosi dan amarah Sebastio, tak lama lalu Anwar pun berkata,


"Yang Aku tak pahami, kenapa dulu- dulu kalian tidak ada itikad baik untuk meminta maaf, hingga saat sekarang disaat amarah dan emosi kami sedang tinggi di dalam kekecewaan kami ini, hingga rasa ini ingin menghancurkan kalian semua!" ucap Anwar pada Mereka dengan menahan segala rasa sakit di dalam dirinya itu,


Tiba- tiba Sebastio menimpali Anwar masih dengan emosi dan amarah yang memuncak dalam dirinya itu,


"Jangan beri ampun mereka, Aku akan menghancurkan mereka semua dengan tanganku ini, sebagai pengganti penderitaan Salsa selama bertahun- tahun!" ucap Sebasrio pada Anwar yang langsung menendang semua yang menghalanginya, Bang! Bing! Bung!, terus menghampiri Wijaya itu, lalu menjambaknya dengan kuat, hingga Wijaya tak kuasa berdiri,


"Hey, Bedebah Wijaya, tahu rasa sakitku atas semua hinaanmu pada Anakku itu?" tanya Sebastio dengan garangnya bicara di telinga Wijaya dengan geram.


Wijaya pun menggeleng- gelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2