Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Rasa Kerancuan Menyelimuti


__ADS_3

Tangis Anaknya Arjuna itu, seakan- akan membawa kedua Orang Tuanya kembali pada saat- saat rasa kekhawatirannya menyelimuti dirinya itu, cerita kekonyolan pengorbanan atas rasa gengsinya dulu, kini menyeruak kembali seolah enggan untuk pergi,


"Sudah, jangan bersedih Arjuna, biarkan waktu yang menunjukkan jalan yang terbaik padamu, sekarang ikuti kata hatimu, lakukan apa yang Kamu bisa, dan berusaha melupakan semua kepahitan dalam hidupmu itu, jalanilah Cinta yang ada di depanmu itu, Anakku!" ucap Bapak Wijaya pada Arjuna dengan panjang lebarnya mengingatkan,


Mendengar nasihat tulus dari Ayahnya itu, lalu Arjuna terdiam, Ia teringat akan kekasihnya sekarang Yuli, hanya dengan Dia semua masalah seolah sirna dalam hidupnya itu, dan tak lama Arjuna pun menjawabnya,


"Betul apa yang Ayah katakan itu, semua kesalahan yang Aku rasakan ini, karena hati ini berpikir dunia itu kecil adanya, padahal masih ada seseorang yang bisa melupakan itu semua, yaitu kekasihku kini, Yuli!" jawab Arjuna pada Kedua Orang Tuanya dengan sisa- sisa kesedihan dalam dirinya itu,


Mendengar Anaknya Arjuna bicara seolah merasa sadar dalam dirinya itu, membuat seluruh perasaan kekhawatiran dalam diri Kedua Orang Tua itu merasa lega, dan dengan rasa gembira di dalam hatinya itu, lantas Ibu Widia pun bicara pada Arjuna,


"Betul apa katamu, sekarang lupakan semua kesedihan dan kepahitan dalam dirimu itu, biarkan hari ini berjalan, dimana kepahitan dan penderitaan hidup Kita ini pergi untuk menjauh selama- lamanya, mulailah dengan perasaan dan dengan hidup baru, Arjuna!" ucap Ibu Widia pada Anaknya Arjuna mengingatkannya.


Lalu dengan tiba- tiba Ayahnya Wijaya memegangi perutnya karena merasakan cacing di dalam perutnya bernyanyi dengan nyaringnya, hingga Istrinya Widia tersenyum pada Suaminya itu,


"Ini perut Ayah sudah keroncongan, Kita makan apa hari ini, Bu?" tanya Bapak Wijaya pada Ibu Widia memberi tahunya,


Mendengar Suaminya mengeluh karena laparnya, lantas Ibu Widia bergegas pergi ke dapur, seraya berkata,


"Sebentar Ibu lihat dulu ke dapur, ada apa yang bisa kita makan hari ini!" jawab Ibu Widia pada Ayahnya Wijaya sambil terus berjalan menuju ke dapur.


Mereka berdua akhirnya menunggu dengan perut yang sudah keroncongan, dan dalam saat menunggunya, Ayahnya Wijaya kembali bicara pada Arjuna Anaknya itu,


"Kamu harus mencari hiburan, atau bagaimana Kita berlibur bersama, sekalian ajak Yuli, lagian Ayah sudah lama tidak berlibur, memikirkan pekerjaan yang membosankan itu, gimana?" tanya Ayahnya Wijaya pada Arjuna yang sedang terdiam membisu,


Mendengar Ayahnya bicara seperti itu, sontak Arjuna pun seolah berpikir dalam benaknya, dan tak lama Arjuna pun menjawabnya,


"Benar juga, bagaimana kalau Kita ke pantai, Yah?" tanya Arjuna pada Ayahnya Wijaya dengan perasaan senang dalam hatinya,


"Terserah kemana menurutmu yang paling tepat untuk Kita berlibur bersama!" jawab Ayahnya Wijaya pada Arjuna dengan menganggukkan kepalanya itu,


Tapi Arjuna seolah seolah ragu untuk mengajak Yuli, karena rutinitas kerjanya yang memang padat itu,


"Tapi, Apakah Yuli bisa Ikut Kita untuk berlibur bersama, Dia kan kerja?" tanya Arjuna pada Ayahnya Wijaya dengan rasa penasaran,

__ADS_1


"Coba telpon dulu, siapa tahu saja Dia mau ikut bersama Kita!" jawab Ayahnya Wijaya pada Arjuna memberi tahunya,


Arjuna pun dengan segera mengambil Hpnya yang berada di atas lemari,


Tiba- tiba Ibu Widia memanggil keduanya untuk segera makan, karena semuanya sudah Ia siapkan,


"Mau kemana Kamu Arjuna?" tanya Ibunya Widia pada Anaknya yang hendak pergi untuk mengambil Hpnya itu,


"Mau Ambil Hp Arjuna, diatas Lemari sana!" jawab Arjuna pada Ibunya Widia dengan menerangkannya,


"Sudah nanti saja, sekarang Kita makan dulu, Ayo cepat!" ucap Ibu Widia pada Anaknya itu dengan menyuruhnya cepat,


Akhirnya niat itu Ia urungkan, lalu Arjuna berjalan menuju meja makan, lalu mereka pun makan bersama- sama, dan dengan sangat lahapnya mereka bersantap, setelah kejadian yang menggemparkan itu, yang menuntut tenaganya keluar dengan ekstra.


Kedekatan hubungan percintaannya dengan Yuli, yang membuat mereka seolah menapaki dunia baru, untuk menoreh kebahagiaan yang ingin mereka raih dengan setulusnya, tanpa di bumbui oleh perasaan dan embel- embelnya itu, mereka tidak mau seperti dulu, yang hanya mementingkan gengsi dan kehormatan, kebahagiaan Anaknya mereka hancurkan.


Davi pagi itu merasa bingung, kekasihnya Salsa tidak Ia temukan di tempatnya biasa bekerja, hingga Ia memutuskan untuk menemuinya lagi, siang sewaktu jam Istirahat makan siang,


"Kemana Salsa, sudah siang begini belum kelihatan batang hidungnya!" ucap Davi pada dirinya sendiri,


"Dav, Davi tunggu sebentar!" panggil Mawar pada Davi dengan teriak kerasnya itu,


Davi pun berhenti, lalu Ia berpaling pada Mawar dan langsung menghampirinya,


"Pasti nyariin Salsa, Yah?" tanya Mawar lagi pada Davi dengan tersenyum,


"Kamu tahu Salsa di mana?" tanya Davi pada Mawar ingin tahu,


"Hari ini Salsa tidak masuk kerja, katanya sih sakit, barusan Salsa telpon Aku!" jawab Mawar pada Davi memberi tahu,


Mendengar kabar Salsa dari Mawar, yang membuat perasaan Davi bertanya- tanya, Sakit apa Dia, tapi kenapa tidak menelponnya, begitu perasaan Davi pada Salsa sedikit merasa kesal,


"Kalau begitu Aku pergi dulu, terima kasih kabarnya!" ucap Davi pada Mawar sambil terburu- buru berjalan karena bel masuk sudah berbunyi.

__ADS_1


Dan Salsa hari itu sedang bermain- main dengan Anaknya Andreas, di pelupuk matanya terlihat masih biru lebam bekas menangis yang panjang dalam huru hara kemarin, yang menguras air matanya untuk keluar, dan terlihat Salsa seolah teringat seseorang,


Tiba- tiba Ibunya Widury, dengan tergesa- gesa bertanya padanya, sambil menghampirinya,


"Loh kok, Kamu gak kerja, Sa?" tanya Ibu Widury pada Salsa mengingatkannya,


Dengan sedikit lesu, Salsa akhirnya menjawab pertanyaan dari Ibunya itu,


"Hari ini Salsa gak masuk kerja, gak tahu badan ini seolah masih lemas, dan pikiran pun belum sepenuhnya tenang, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya Widury menjelaskannya,


"Kalau begitu Kamu istirahat dulu sana, biar Andreas bersama Ibu!" ucap Ibunya Widury pada Salsa dengan rasa penuh perhatiannya itu,


"Jadi ngerepotin, Ibu!" jawab Salsa pada Ibunya Widury dengan manjanya itu,


"Udah cepetan sana, minum obat terus istirahatkan, tidur!" ucap Ibunya Widury lagi pada Salsa pula,


Dengan segera Ibu Widury menggendong Cucunya Andreas, dan terlihat Salsa berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat tidur.


Tak lama Salsa berjalan menuju ke kamarnya, tiba- tiba terdengar Hpnya berbunyi nyaring,


Kring! Kring! Kring!, lalu Salsa pun segera melihat hpnya, siapa yang menelpon dan mengganggunya itu, ternyata kekasihnya Davi, lalu Ia pun mengangkatnya,


"Halo?" tanya Salsa pada Davi yang berada nun jauh disana,


"Katanya Kamu sakit, barusan Mawar memberi tahu Aku?" tanya Davi pada Salsa ingin tahu,


"Iya, badanku lemes dan kepalaku pusing serasa mau pecah," jawab Salsa pada Davi kekasihnya itu,


"Minum obat, setelah itu tidur!" jawab Davi pada Salsa mengingatkannya,


"Gak ah, Maunya obatnya Kamu, cepat kemari Salsa kangen, sayang!" ucap manja Salsa pada Davi memberi tahunya,


"Iya, sehabis pulang kerja Aku kesana, pokoknya istirahat saja, Yah!" jawab Davi pada Salsa mengingatkannya,

__ADS_1


"Kalau nanti siang kelamaan, nanti keburu Aku mati!" ucap.Salsa pada Davi dengan langsung menutup Hpnya itu,


Mendengar Salsa bicara seperti itu, dan menutup telponnya itu, perasaan Davi merasa tak enak, pikirannya bertanya- tanya dan dengan rasa penasaran, Ia pun segera bergegas pergi berlari ke parkiran, dan.....


__ADS_2