
Tautan seorang manusia tak lebih dari sekedar rasa cinta dan kasih pada sesama, beratnya tak lebih dari besarnya harapan yang di gapainya dalam hidup, Terkadang semua tak bisa meraihnya untuk dimiliki, dan terkadang juga datang menghampiri untuk di pegang.
Hari itu adalah detik penghancur dari apa yang sudah diputuskan Salsa untuk harapannya, watak keras akan menolak pengakuannya terhadap Ayahnya, kini berangsur sirna, ucapan Darwis yang membuat Salsa terkagum- kagum merasa ini solusi untuknya, masa depan Anaknya kini seolah piranti rencana yang harus Ia dapatkan.
"Kenapa, kok senyum- senyum sendiri, padahal Aku di sampingmu, Awas jangan- jangan?" ucap Darwis pada Salsa menggodanya,
Merasa Darwis meledeknya Salsa pun menjadi kesal terhadap Darwis, muka cemberut di perlihatkannya pada Darwis, lalu Ia pun bicara,
"Jangan meledek terus, Aku kesal tahu!" jawab Salsa pada Darwis memberi tahu,
"Kalau kesal begitu terlihat tambah cantik." ucap Darwis pada Salsa merayunya,
"Merayu, gak ada uang recehan!" jawab Salsa pada Darwis dengan sensinya,
Melihat kedua orang itu, terlihat jelas memang mereka saling membutuhkan, satu sama lain seolah saling melengkapi.
"Bagaimana kabar Istrimu?" tanya Salsa pada Darwis ingin tahu,
"Alhamdulillah, Baik!" jawab Darwis pada Salsa dengan singkat,
"Lalu Istrimu sudah hamil, dong?" tanya Salsa pada Darwis ingin tahu,
Darwis tidak menjawabnya, Ia hanya menggeleng- gelengkan kepalanya pada Salsa.
"Aku tadi mampir ke rumah Ibuku, karena sudah lama Aku tidak menengoknya." ucap Darwis pada Salsa menjelaskan,
"Gimana kabarnya?" tanya Salsa pada Darwis ingin tahu,
"Kabar Ibuku, Baik!" jawab Darwis pada Salsa memberi tahu.
"Kamu harus merasa beruntung, karena kedua orang tuamu masih ada, Kamu harus sering- sering menengoknya." ucap Salsa lagi pada Darwis mengingatkannya.
Mendengar Salsa bicara seperti itu, perasaan hati Darwis seolah luluh atas ucapnya itu, rasa cintanya seolah semakin dalam tertanam di hatinya, sekalipun Ia sudah menikah dengan Yohana, tetap saja rasa itu tak bisa Ia usir dari lubuk hatinya.
"Kamu mengapa, kok langsung diam." ucap Salsa pada Darwis penasaran,
"Mendengar Kamu bicara seperti itu, membuat hatiku bergetar, sungguh Kamu adalah Dewi penasihatku." jawab Darwis pada Salsa memberi tahu,
__ADS_1
"Ah, itu keterlaluan mulutmu bicara," ucap Salsa pada Darwis lagi,
Rupanya pautan hati mereka seolah tak bisa di cegah,
"Iya benar, masa Aku bohong." jawab Darwis pada Salsa memberi tahu,
Salsa terus menatap Darwis dengan sangat bingungnya, tak di pungkiri rasa hatinya ikut tergoda.
"Aku sangat butuh dukunganmu, gak tahu kenapa?" ucap Salsa pada Darwis memberi tahu,
'"Aku tak mungkin tidak mendukungmu, karena Kamu adalah bagian dalam hatiku." jawab Darwis pada Salsa sambil memeluknya.
Mereka melepas rasa kangennya, getaran dawai nada cinta mulai mengalun di telinga mereka berdua, dengan rangkulan cinta yang mendera dalam sanubarinya, detik hasrat dan tekanan birahi kini mereka tuangkan dengan sentuhan- sentuhan nakal bibir Salsa, dan usapan dan jamahan jemari Darwis, membuat seluruh tubuh Salsa bergetar.
Rasa nikmat disertai suara manja yang terdengar berganti berpacu dengan waktu, mereka saling melepaskan rasa saling memiliki, dengan tambatan pesona untuk saling mencintai dengan gugusan rasa sakit dan masalah yang mereka alami.
Darwis lupa bahwa Ia sudah beristri, mungkin perasaan yang ada dalam dirinya hingga melupakan Istrinya Yohana, detik- detik tak kenal malu mereka lakukan hanya meluapkan hasrat sesaat yang saling terpendam.
Lalu mereka berbincang setelah mereka berperang secara terbuka itu,
Darwis terdiam mendengar Salsa berucap seperti itu terhadapnya,
"Aku pun sama, Kita harus merajut cinta Kita menjadi Keluarga, Aku ingin menjadi Suamimu yang selalu ada di sampingmu." jawab Darwis pada Salsa dengan panjangnya bicara,
"Apa itu mungkin, Karena Kamu sudah menikah dan menjadi Suami dari Yohana?" tanya Salsa pada Darwis dengan rasa tak mungkin,
Darwis diam tak menjawab, rasa pengap dalam napasnya membuat ucapan Salsa itu sebagai mimpi buruk baginya, Darwis bingung dan terpuruk oleh keadaannya,
"Kalau tak mungkin untuk mencerai Yohana, Aku akan berpoligamy, Aku sudah putuskan semua itu dalam hidupku." jawab Darwis pada Salsa memberi tahu,
Salsa terkaget- kaget mendengar ucapan panjang Darwis, ingatannya terbayang wajah Yohana yang ditinggalkan Darwis demi memilihnya, dengan menggelengkan kepalanya Salsa pun bicara,
"Jujur, Aku tak mengharapkan Kamu berpisah dengan Yohana, Kasihan Dia." ucap Salsa pada Darwis dengan perasaan berat,
"Lalu maumu Apa?" tanya Darwis pada Salsa dengan penasaran,
"Dalam hubunganku selalu saja terbentur masalah yang susah untuk melawannya, Aku bingung untuk menjawabmu, Wis!" jawab Salsa pada Darwis dengan kesedihan dalam dirinya,
__ADS_1
"Terserahlah, yang pasti Aku akan menikahi Kamu, walaupun taruhannya perkawinanku dengan Yohana." ucap Darwis pada Salsa menegaskan keinginannya,
"Itu gila, Aku gak mau bila Yohana jadi korban." jawab Salsa pada Darwis menerangkan,
"Yaudah, Aku putuskan poligamy, jadi semua menjadi milikku, gak ada yang terabaikan!" ucap Darwis pada Salsa dengan tegasnya bicara.
Mendengar Darwis bicara dengan tegas pada dirinya, Salsa diam tak menjawab, hanya matanya melirik Darwis dengan cintanya.
Dan di saat mereka asik bercengkrama, tiba- tiba Ibu Juariah datang dengan cucunya Andreas,
"Assalamualaikum," ucap Ibu Juariah pada mereka berdua yang sedang galau dibuatnya,
"Waalaikum Salam," jawab mereka berdua dengan kompaknya,
"Sore amat pulangnya, Bu!" ucap Salsa pada Ibu Juariah sambil mengambil Andreas dari gendongan Ibu,
"Tadi pas mau pulang Andreas tidur, akhirnya nunggu Ia bangun dulu, Kasihan." jawab Ibu Juariah pada Salsa menerangkan,
Roman wajah Ibu Juariah berubah merah melihat Darwis ada disitu, lirikannya tajam pada Darwis seolah ingin mengusirnya dari kehidupan Salsa Anaknya,
"Sudah lama Kamu disini, Wis!" ucap Ibu Juariah pada Darwis ingin tahu,
"Lama juga, dari siang disini." jawab Darwis pada Ibu Juariah menerangkan,
"Kamu sudah berkeluarga, jangan lama- lama dirumah wanita lain, takut menjadikan fitnah dan kasihan dengan Istrimu, menunggu!" ucap Ibu Juariah pada Darwis dengan perasaan tak senangnya,
Darwis hanya diam membisu, rasa malu menyelimuti dirinya dengan tanpa ampun, dengan merasa tak enak hati Darwis pun segera pamit,
"Kalau begitu, Darwis pamit dulu, Sa!" ucap Darwis pada Salsa sambil melirik Ibu Juariah dengan jengahnya,
"Iya, Hati- hati dijalan!" ucap Salsa pada Darwis sambil melambaikan tangannya,
Sepeninggal Darwis, Ibu Juariah pun berkata pada Salsa Anaknya,
"Jangan terima Suami Orang berlama- lama di rumah, apa kata orang nanti!" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan menyinggungnya,
Salsa pun terdiam mendengar Ibunya Juariah bicara dengan Normatif, yang membuat Ia merasa tak berharga dan malu.
__ADS_1