
Semua orang memandang Jaenab dengan rasa penasarannya, ucapan yang terlontar di dalam mulutnya, menjadikan semua serasa ingin tahu kebenarannya, lalu dengan wajah lesunya, Ayahnya Hanapi menghampirinya, lantas bicara padanya,
"Kenapa Kamu, Nak? Apa benar yang Kamu ucapkan itu?" tanya Ayahnya Hanapi pada Jaenab sambil merangkulnya dengan sedih,
Jaenab tak menjawab hanya mengangguk pada Ayahnya itu, sambil menangis dengan tersedu- sedu, perasaan dan ketakutannya kini sedang menghimpitnya, yang membuat dirinya itu lebih menderita karenanya,
Tiba- tiba Rosid pun datang menghampirinya, seraya berkata padanya itu,
"Benar Kamu di perkosa Herman, Nab?" tanya Rosid pada Jaenab dengan rasa ingin tahu padanya,
Lalu Jaenab menjawab, dengan deraian air mata di kelopak matanya itu,
"Benar, Paman!" jawab Jaenab pada Rosid dengan perasaan sakitnya itu,
Lalu Rosid berbalik, berjalan menuju Herman yang ketakutan karena ulahnya itu,
"Setan apa yang ada dalam dirimu, yang membuat dengan tega memperkosa Jaenab, Setan Alas!" ucap Rosid pada Herman dengan tangannya menampar Herman dengan rasa bencinya itu, Plakk! Plikk! Plukk!, suara tamparan Rosid telak bersarang di kedua pipi Herman, yang sontak Herman merintih kesakitan,
"Aauww...Akhhh, Sakit Paman!" jawab Herman pada Rosid sambil kedua tangannya memegang pipi yang merah lebam kena tamparan itu,
Rosid seolah menahan emosi dalam dirinya, terlihat Rosid tak mau diam, pandangannya menatap Herman dengan amarahnya itu, hingga tendangan kakinya keluar juga, Bughhh!!,
Serta merta Herman terpelanting menjauh dari duduknnya itu, hingga suasana panas tidak bisa dielakan lagi,
"Ini sudah diluar batas normal manusia, apakah Kamu waras atau tidak, yang pasti ini tidak bisa di maafkan!" ucap Rosid lagi pada Herman dengan geramnya,
Dan tak lama Sony manghampiri Rosid, lantas bertanya kepadanya,
"Ini sudah sangat memalukan, kalau hanya persoalan pengeroyokan itu, Aku bisa memakluminya, tapi masalah perkosaan ini, dengan berat hati tak bisa diampuni!" ucap Sony pada Herman sambil berdiri di samping Rosid,
Rosid pun mengangguk kepadanya, tanda setuju atas ucapan Sony itu, lalu Dia pun bicara lagi padanya,
"Kita akan limpahkan mereka semua ke pihak berwajib untuk diproses hukum, supaya jera dibuatnya!" ucap Sony lagi pada mereka semua,
Tak lama semua berangkat ke kantor polisi, Jaenab pun turut dari belakang di bonceng keponakannya Arjuna.
__ADS_1
Semua merasa kecewa atas kelakuan Herman pada Jaenab, yang sangat memprihatinkan itu, tapi proses hukum tetap berlaku, untuk diikutinya.
Dan Akhirnya proses peradilan menunggu Herman, untuk duduk di kursi pesakitan itu,
Di lain tempat, Ovi merasa sangat kaget, karena kedua Kakaknya Darwis dan Yohana mengenal Davi, yang seakan- akan sudah akrab duluan dari pada Ovi itu,
Dengan roman cemberut, dan hati panas di dalam hatinya itu, lantas Ovi pun lagsung bicara pada Davi,
"Apa betul yang dikatakan Kak Darwis itu, Dav?" tanya Ovi pada Davi dengan perasaan resahnya itu,
Davi tak menjawab, hanya diam membisu, yang membuat Ovi terpancing amarahnya lagi,
"Kok diam tidak menjawab pertanyaan dari Aku itu?" tanya Ovi pada Davi dengan rasa ingin tahunya itu
"Harus jawab apa?" tanya Davi Pada Ovi sambil berpikir dalam benaknya itu,
Lalu dengan tampang marahnya pada Davi, lantas Ovi pun bicara lagi pada Davi, dengan mengusir Davi dari situ, seraya berkata padanya,
"Kalau memang begitu, sekarang juga Kamu pergi dari sini, dan tinggalkan rumah ini!" ucap Ovi pada Davi dengan terus bergegas masuk tanpa menghiraukan mereka,
"Ovi tunggu Aku! Nanti bisa Aku jelaskan kepadamu!" teriak Davi pada Ovi dengan merasa resah tak enak hati,
Ovi tidak menghiraukan Davi memanggilnya, Ia terus berlari masuk ke dalam rumah, dalam hatinya yang ada hanya kepedihan, karena pacarnya itu menduakan,
"Ovi tunggu, Ovi!" ucap Davi pada Ovi dengan teriak sangat keras padanya itu,
Karena tak berhasil, dengan merasa malu pada dirinya, akhirnya Davi pun berbalik menghampiri Yohana dan Darwis, yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua,
"Sebaiknya kita bicara, Dav!" ucap Darwis pada Davi dengan penasaran padanya itu,
"Baiklah, kita bicara!" jawab Davi pada Darwis dengan rasa jengkelnya itu,
Akhirnya mereka bercengkrama di teras samping, untuk memberikan masukan yang jelas terhadap hubungan mereka itu,
"Aku merasa bingung padamu, Dav!" tanya Darwis pada Davi dengan resah dalam hatinya,
__ADS_1
Sejenak Davi terpaku, tak menjawab sedikit pun pada Darwis itu,
"Bingung untuk apa?" tanya Davi pada Darwis sambil melirik Yohana,
Dengan seakan berat untuk bicara pada Davi, tapi karena keharusan, maka Darwis pun segera bicara lagi,
"Kamu masih pacaran sama Salsa, Dav?" tanya Darwis pada Davi dengan rasa penasaran,
Davi hanya mengangguk pada Darwis, dengan tatapan yang dalam pada dirinya itu, dan benaknya pun seolah berputar- putar, mencari alasan untuk mengelak pada mereka berdua itu,
"Kalau begitu, kedekatan Kamu dengan Ovi itu, seperti apa, hanya teman atau pacar?" tanya Yohana pada Davi dengan menimpali obrolan mereka berdua itu,
Wajah Davi menunduk malu pada mereka itu, lalu dengan getirnya Davi pun menjawab pada Yohana,
"Ovi hanya teman akrab saja, tak lebih dari itu, walaupun mungkin Ovi, tanggapannya berbeda dengan Aku!" jawab Davi pada Yohana dengan menutupinya,
"Masa? Kelihatannya kok lain, jujur Kamu, Dav?" tanya Yohana lagi pada Davi dengan tidak percaya padanya itu,
Dengan merasa tak enak, karena Yohana sudah merasa curiga kepadanya, lalu Darwis pun ikut menimpali mereka bicara,
"Aku bukan hendak memvonis atau apa? Hanya sekedar mengingatkan itu padamu, karena Ovi itu adalah adikku, makanya Aku titip jangan permainkan Adikku itu, Dav!" ucap Darwis pada Davi dengan merasa tak enak padanya
Davi seolah mendapat teguran dari Darwis atas hubungannya dengan Adiknya itu Ovi, ketakutan akan adiknya itu sangat jelas terlihat, yang membuat pikirannya sedikit kalut,
"Jika waktu pun bisa aku atur, mungkin akan lain ceritanya, Aku akan memilih Adikmu itu Ovi untuk menjadi calon Istriku itu!" ucap Davi pada mereka berdua dengan galaunya itu,
"Dan lagi jika kalian pacaran, kasihan dengan Salsa, bagaimana perasaan dirinya itu, jika melihat Kamu pacaran dengan Adiknya Darwis!" ucap Yohana pada Davi dengan sedikit memberi masukan kepadanya itu,
Davi menggeleng- gelengkan kepalanya, pertanda tak percaya hal ini bakal terjadi, pikiran kecewa dan khawatir dalam diri mereka berdua itu mulai terasa, lalu Darwis pun bicara lagi pada Davi dengan mengingatkan padanya,
"Sudahlah, jangan Kamu pacari Adikku itu Ovi, kasihan Salsa, Dia sudah banyak menderita, jangan Kamu tambah lagi lukanya, Dav?" ucap Darwis pada Davi dengan parasaan herannya itu,
"Sudah Aku bikang, Aku tidak pacaran dengan Ovi, hanya teman akrab, layaknya Sahabat, begitu!" jawab Davi pada Darwis dengan rasa gusarnya dalam hati.
Saking seriusnya mereka bicara, dengan topik Davi dan Salsa, lalu dengan sekonyong- konyong, Ovi datang dengan wajah cemberut, lalu matanya menatap dengan tajam kearah Davi, hingga semua yang di situ merasa penasaran, kenapa dengan sosok Ovi itu?.
__ADS_1