
Seno merasa penasaran atas tuduhan Salsa pada dirinya, dia berpikir apakah ada orang yang memang telah membuat masalah dengan Davi, terlebih masalah itu seolah terhubung dengan dirinya itu.
"Siapa Orang yang menendang Davi itu, ini sungguh merasa sangat aneh menurutku, karena tepat berbarengan dengan gagalnya niatku untuk memberikan seikat kembang itu pada Salsa!" Ucap Seno pada dirinya itu kesal.
Melihat Seno termenung sendiri di malam itu, lantas Ibu Komariah menghampiri Seno dengan merasa ingin tahu.
"Malam begini bukannya tidur malah melamun, Ada masalah apa?" Tanya Ibunya Komariah pada Anaknya itu Seno penasaran.
Seno menatap Ibunya itu dengan perasaan berharapnya itu, sambil wajah ditekuknya Seno pun menjawabnya.
"Ini ada masalah yang membuat Seno tak habis pikir, Bu!" Jawab Seno pada Ibu Komariah menjelaskan.
Ibu Komariah pun penasaran, lantas dia bertanya lagi pada Anaknya itu Seno.
"Maksudmu, tidak habis pikir bagaimana?" Tanya Ibu Komariah pada Anaknya itu Seno ingin tahu.
Lantas Seno menjawab pada Ibunya itu, dia membeberkan masalah tuduhan Salsa itu kepadanya, terlebih lagi niatnya untuk memberikan seikat kembang itu gagal dan seolah memperkuat tuduhan Salsa kepadanya itu.
"Jadi sekarang Salsa menuduh Akulah pelakunya, karena bukti secarik kertas yang tertera namanya itu, padahal seikat kembang itu untuknya tapi gagal Seno berikan, Bu!" Ucap Seno pada Ibunya Komariah menjelaskan.
Lalu Ibu Komariah berpikir dalam benaknya itu, dia memberikan masukan pada Anaknya iti.
"Mungkin ada seseorang yang benci dan melihat kelakuan Davi yang tak sepantasnya itu pada Salsa, karena merasa kasihan pada Salsa, lalu dia langsung menendangnya." Ucap Ibu Komariah pada Seno Anaknya itu menduga.
Davi mengangguk pada Ibunya itu Komariah, dalam pikirannya tak henti memikirkan masalah penendangan itu terhadap Salsa.
"Siapa orang yang menendang Davi itu? Sejujurnya dari lubuk hati ini Aku merasa bersyukur karena telah membela Salsa dari Davi Si lelaki Brengsek itu!" Begitu pikiran Seno dalam benaknya.
Melihat Seno diam, lantas Ibu Komariah bicara untuk mengulangi dugaannya itu.
"Jika memang Salsa marah dan menganggap Kamu sebagai pelakunya, mungkin wajar karena seikat kembang yang tercecer di jalan dan tertulis namanya itu yang dia temukan, itulah bukti kekuatan sesungguhnya untuk menuduhmu, dan lagi Kamu tidak bisa menguatkan alasanmu itu!" Ucap Ibu Komariah lagi untuk mengulang dugaannya itu.
Seno mengangguk pada Ibunya itu Komariah, walaupun dia merasa sangat sedih karena Salsa tak percaya padanya, sehingga niat untuk mendekatinya kini seakan- akan menjauh darinya.
"Memang masuk akal juga dugaan Ibu itu, tapi biarlah mungkin Aku ini tak layak buatnya!" Jawab Seno pada Ibunya itu mengeluh.
Melihat keraguan dalam diri Anaknya itu, lalu perasaan sedih dalam hati Ibu Komariah itu pun muncul, dan tak lama dia pun bicara pada Seno merasa Iba.
"Jangan bersedih seperti itu, masalah ini tidak ada hubungannya dengan hubungan Asmaramu itu, percaya pada Ibu!" Ucap Ibunya Komariah pada Seno lagi menghiburnya.
Seno menunduk malu mendengar Ibunya memberi masukan kepadanya, lalu dia bergumam dalam benaknya atas keinginannya itu.
"Jauh di dalam diriku merasa ingin bersamanya, tapi apadaya semuanya itu merasa berat untuk menggapainya. Ataukah ini hanya keterpurukan diriku saja?" Tanya Seno pada dirinya itu.
Melihat hari sudah larut malam, Akhirnya Ibu Komariah bicara pada Seno mengingatkan.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan masalah ini, karena jodoh itu sudah ada yang mengaturnya, sekarang Kamu Istirahat dulu, karena waktu telah beranjak malam, Tidurlah!" Ucap Sayang Ibunya pada Seno dengan perhatian.
Seno mengangguk mengerti pada Ibu Komariah itu sambil tersenyum padanya dengan sayang.
"Terima Kasih, Bu!" Ucap Seno pada Ibunya itu Komariah.
Besoknya di tempat kerja Salsa sedang berbincang dengan dua sahabatnya itu, mereka berbincang seputar siapa orang yang menendang Davi itu.
__ADS_1
"Bagaimana, sudah Kamu temui Seno?" Tanya Yuli ingin tahu pada sahabatnya itu.
Salsa mengangguk pada sahabatnya itu lantas diapun menjawabnya.
"Sudah, bahkan Aku sudah menanyakan kepadanya, tapi dia menjawab bukan dia pelakunya, sampai Aku berulang- berulang kali menanyakannya!" Jawab Salsa pada Yuli menjelaskan.
Wanti mendengarkan mereka berdua bicara, lalu dia pun menimpali pembicaraan mereka itu.
"Kalau bukan Seno siapa lagi menurutmu?" Tanya Wanti pada mereka berdua menimpali.
Salsa menggeleng- gelengkan kepalanya pada mereka berdua merasa bingung, lantas dia bicara lagi.
"Gak tahulah, Aku pun bingung!" Ucap Salsa mengeluh pada mereka itu.
Dan tak lama Salsa pun mohon pamit pada kedua sahabatnya itu, untuk segera pulang.
"Aku pulang sekarang, Ya! Kalian mau ikut pulang bersamaku?" Tanya Salsa pada mereka berdua menawarkan.
Lalu Yuli bicara pada Salsa menimpali pertanyaannya itu.
"Aku mau mampir dulu ke pasar bersama Wanti, Kamu pulang saja duluan!" Jawab Yuli pada Salsa menjelaskan.
Akhirnya mereka pun berpisah, Salsa langsung berjalan sendirian menuju kedepan jalan untuk menunggu Kang Joni menjemputnya, sesampainya disana Salsa memandang kiri dan kanan melihat siapa tahu Kang Joni Sudah menjemputnya, tak lama Hpnya berdering.
Tut! Tut! Tut!
Lantas Salsa pun melihat pada Hpnya, siapa yang memanggilnya itu, dan ternyata Kang Joni.
"Halo, Kang Joni ada apa?" Tanya Salsa pada Kang Joni ingin tahu.
"Maaf Neng Salsa menjemputnya agak telat , ini Kang Joni sedang ada di bengkel karena ban mobilnya bocor!" Jawab Kang Joni menjelaskan.
"Baik, akan Salsa tunggu du warung es depan gerbang ya!" Jawab Salsa memberi tahu,
"Iya, Neng, nanti Kang Joni kesana!" Jawab Kang Joni menegaskan.
Salsa menutup teleponnya, dia lantas berjalan menuju warung es di depan gerbang itu.
Di saat Salsa hendak menyebrang jalan lalu terdengar seseorang berteriak memanggilnya dengan keras.
"Salsa, tunggu!" Ucap Orang itu pada Salsa.
Salsa lantas menoleh ke asal suara yang memanggilnya itu, saat dilihat ternyata Davi berlari sambil wajah bencinya terlihat jelas.
Seketika Salsa merasa resah dan ketakutan akan hinaan Davi kepadanya di dalam benaknya itu.
"Hey! Janda gatel. Mana pahlawanmu itu?" Tanya Davi pada Salsa merasa benci padanya.
Salsa sejenak diam, pikirannya bertanya mau apa Davi mengejarnya itu.
"Mau apa? Aku tidak ada waktu melayanimu!" Jawab Salsa pada Davi sambil menyeberang jalan itu.
"Wah berani sekali Si Janda gila ini bicara kepadaku. Mana pahlawanmu itu biar Aku hajar jangan beraninya main belakang saja!" Ucap Marah Davi pada Salsa sambil tangannya menarik tangan Salsa.
__ADS_1
Merasa tangannya ditarik Davi lantas Salsa menepisnya.
"Shuut!" Yang membuat Davi semakin marah padanya itu.
Sehingga Davi bicara debgan kasar pada Salsa.
"Sudah berani sekarang rupanya Janda liar! Aku sudah muak melihatmu dan Aku kemari hanya ingin bilang padamu agar jangan macam- macam lagi kepadaku, Aku tak segan- segan menamparmu, mengerti! Bilang Sana pada lelaki pengecutmu itu!" Ucap kasar Davi pada Salsa merasa sangat marahnya.
Salsa hanya diam dia menunduk sambul air matanya menetas di kedua pipinya itu.
"Kalau Kamu memang tak laku sudahlah, jangan sok cantik, sudah Janda sok gaya lagi!" Ucap Davi pada Salsa menghinanya.
Mendapat penghinaan itu Salsa tak terulima, lantas dia pun menjawabnya.
"Apa urusanmu dengan penampilanku, mau apa saja Apa pedulimu!" Ucap Salsa pada Davi memberanikan diri melawan.
Mendengar Salsa menjawab dengan berani, perasaan marah Davi semakin menjadi- jadi pada Salsa.
"Dasar Janda liar, dengarkan Aku, Kamu harus bicara pada Lelakimu itu agar jangan macam- macam terhadapku, dan jangan kamu suruh lelaki bodoh itu lagi untuk membelamu, jadi merasa tak bisa memiliki Aku, Kamu akan membuat Aku menderita, begitu?" Tanya Davi pada Salsa merasa amarahnya sudah di atas kepala.
Mendengar Davi bicara semaunya, lantas Salsa bicara dengan tegas.
"Yang menendangmu itu bukan lelakiku, dan Aku tidak menyuruh siapapun untuk membelaku, pikir dulu! Mungkin kelakuanmu yang buruk jadi banyak orang yang membencimu!" Jawab Salsa pada Davi merasa geram.
Davi semakin naik pitam mendengar Salsa bicara begitu kepadanya.
"Dasar sinting! Mengelak lagi, semua orang sudah tahu akan segala kebusukanmu itu, dasar Janda brengsek!" Ucap Davi merasa emosi pada Salsa tak bisa menguasai amarahnya.
Salsa lantas menjawabnya sambil wajahnya dia palingkan, karena benci padanya.
"Bodo, Ah!" Jawab Salsa pada Davi dengan acuh.
Melihat itu dengan sekonyong- konyong tangan Davi tak tahan ingin menampar Wajah Salsa, tapi tiba- tiba sesosok berbaju hitam dan memakai Helm sehingga wajahnya tak terlihat, menarik tangan Davi lalu memukul tubuhnya itu.
"Bakk! Bikk! Bukk!" Pukulan telak ke tubuh Davi hingga Davi tersungkur dan jatuh ke trotoar jalan.
"Ahk…Aww…Ahh!" Davi merintih sambil memegangi perutnya yang terkena pukulan lelaki itu.
Melihat kejadian itu di depannya, lantas Salsa berteriak keras.
"Sudah!...Sudah! Jangan berkelahi!" Ucap Salsa pada mereka berdua.
Tiba- tiba Kang Joni berlari menghampiri Salsa sambil bertanya padanya itu.
"Ada apa, Neng Salsa?" Tanya Kang Joni pada Salsa sambil melihat seseorang berbaju hitam itu berlari kencang kabur menjauh dari tempat itu.
Davi duduk ditrotoar jalan sambil terus merasakan sakitnya akibat pukulan Orang misterius itu, lalu Kang Joni menghampiri Davi dan bertanya.
"Kenapa Kamu, Dav?" Tanya Kang Joni ingin tahu.
Salsa menangis lantaran melihat kejadian itu, ini sungguh membuatnya bingung lagi.
"Siapa lagi sosok bayangan hitam itu!" Begitu pikirnya dalam benak Salsa bertanya.
__ADS_1