
Keharuan hati yang terkapar, terbeliak melihat tatap sendu yang memancar keingintahuan jiwa merana, terucap gerak menjadi tangis yang menggelora dalam kesenduan nurani jiwa,
Begitu kita melihat decak sendu Darwis seolah melihat Salsa bak pelangi yang usang, yang tatapnya selalu bergumam dalam hatinya menjadi tanpa sadar atas cinta dan suka menyertai membuatnya lupa akan dirinya,
Melihat Darwis menghampiri dengan seolah tak menyadari Anwar dan Istrinya memperhatikannya dengan penasaran, Salsa pun merasa kikuk dibuatnya,
"Aku cari Kamu kemana- mana tapi tak kutemukan, tapi tuhan berkehendak lain, Kita bisa bertemu disini." ucap Darwis pada Salsa mengungkapkan kekecewaan hatinya dulu,
Salsa melepaskan tangan Djamilah dan diam seolah Ia sedang berpikir, tak lama Ia pun berkata,
"Sudah Aku lupakan masa dimana Aku pernah bersamamu, jangan seperti itu, Malu dilihat Pamanku!" kata Salsa pada Darwis memberi tahu,
"Rupanya Kalian sudah pada kenal, kelihatannya ada sesuatu gitu?" ucap Anwar pada mereka ikut nimbrung,
"Kenalan lama, Paman." jawab Salsa pada Anwar sedikit menutupi,
"Wis, Kamu gak bilang kenal keponakanku?" tanya Anwar pada Darwis pula,
"Sesuatu yang tersimpan di hati, dan yang tak bisa Aku lupakan sampai mati!" jawab Darwis pada Anwar dengan sedikit misterius,
Salsa bingung dalam pikirannya, Bagaimana bisa bertemu dengan Darwis di tempat yang tak terduga sama sekali, Salsa pun duduk bersama- sama mereka, tak henti Darwis memandang Salsa, membuat malu perasaan Salsa dalam hatinya,
"Sewaktu kalian di Bidan, Kamu langsung Kemana? Aku mencari sampai rumah Kamu yang dulu, Kamu gak dirujuk ke Rumah Sakit kan?" tanya Darwis pada Salsa ingin tahu,
"Sudah jangan cerita itu, Aku sudah lupa." jawab Salsa pada Darwis dengan ketusnya,
"War, benar Salsa keponakanmu?" tanya Darwis pada Anwar merasa penasaran,
"Iya, memang kenapa?" jawab Anwar pada Darwis bertanya balik,
__ADS_1
Mendengar ucapan Anwar Darwis pun mangut- mangut seolah tak bisa di percayainya,
"Aku berusaha mencari keponakanmu siang- malam, dan Ibu ku turut mendampingi Aku mencarinya sampai akhirnya Aku pasrah," ucap Darwis pada Anwar menuturkan kisahnya,
Dalam otak Anwar beribu pertanyaan tentang Darwis dan Salsa yang dilihatnya seperti menyimpan sesuatu yang dalam bila dilihatnya,
"Sebentar, sebentar! Jadi Ibu mu Ikut mencari keberadaan Aku tempo hari?" ucap Salsa pada Darwis seolah tak percaya,
"Iya, malah Dia yang memberi semangat untuk mencarimu." jawab Darwis pada Salsa menjelaskan,
"Loh, kok bisa!" jawab Salsa pada Darwis seolah tak percaya,
"Aku ceritakan semua tentang Kamu dan aibku itu, malah Ibu seolah menolak rencana perjodohan Aku, tapi Kamu dan Ibumu menghilang seolah menjauhi Aku, sebetulnya Aku berniat menikahi Kamu tempo hari, itu tekadku bila Kamu Aku temukan." jawab Darwis pada Salsa dengan rasa kecewa,
Sontak mendengar cerita Darwis bersedih, sungguh kasihan dalam hatinya, andai saja Ibu tak menyuruh untuk pindah, mungkin Aku sudah menjadi Istrinya, saking meresapnya perasaan Salsa atas cerita Darwis membuat tak terasa air matanya menetes,
Melihat Salsa menangis Anwar dan Istrinya Novi bingung dibuatnya, mereka terheran- heran atas sikap Salsa pada Darwis,
"Pasti ini ada hubungannya dengan pindahnya Kamu ke rumah baru lantaran menjauh dari si pecundang itu, bukan?" tanya Anwar pada Salsa dengan nada keras seolah berontak,
Salsa hanya mengangguk, tak menjawab karena perasaan sedihnya yang menggelayutinya,
Melihat Salsa menggangguk dan bersedih, tak disangka dan tak dinyana, lalu tanpa tedeng aling- aling, Anwar menghampiri Darwis dengan marah di kepalanya, seolah akan membakarnya, dan matanya melotot seolah ingin melahap Darwis bulat- bulat, Salsa dan Novi pun bingung, ada apa sebenarnya,
Anwar berdiri dengan bringasnya dan, Brakk!!, kursi ditendangnya, lalu Ia menarik, leher Darwis dengan kedua tangannya, hingga Darwis berdiri tak kuasa,
"Jadi Kamu, Si Pecundang yang telah berani memperkosa Salsa selagi tak berdaya, Dasar Setan Alas!" bentak Anwar pada Darwis serta merta tangannya, Bakk! Bikk! Bukk! Menghantamnya,
Plak! Plik! Pluk!, wajah Darwis kembali terhantam tamparan keras Anwar, membuat Darwis tersungkur sambil memegang bibirnya yang keluar darah segar,
__ADS_1
Anwar dengan kalapnya tak bisa dibendung dan tak bisa dikendalikan, Amarahnya yang sudah mencapai puncak ubun- ubun, sambil sumpah serapahnya terlontar bebas keluar,
"Dasar Babi bunting, monyet edan, seperti orang tak tahu dosa!" begitu terdengar bahasa- bahasa setan terdengar dari mulut Anwar pada Darwis, lalu Bakk! Bikk! Bukk!, Bogem mentah Anwar mengenai perut Darwis tiga kali membuat Darwis tersungkur jatuh di lantai,
Melihat pertempuran tak berjiwa itu, dengan perasaan kasihan, sambil menangis Salsa menghampiri mereka untuk menengahi, dengan terus berucap,
"Cukup, Cukup Paman! Jangan berkelahi lantaran Aku, Semua sudah berlalu, Kalau Paman Sayang sama Salsa, tolong hentikan, Paman!" ucap Salsa pada Anwar Pamannya Sambil bersimpuh memegangi kakinya,
"Tapi Dia sudah berani memperkosamu, tanpa sedikitpun rasa kasihan layaknya setan!" jawab Anwar pada Salsa seolah ingin terus menyiksa Darwis,
"Iya, sudah! Mau magrib begini, malu sama tetangga, Pak!" ucap Novi pada Suaminya sambil menepuk pundak Suaminya,
Darwis segera bangun, dan langsung memegang tangan Anwar seraya berucap pada Anwar,
"Pukulah terus! Jangan Kamu beri ampun pada Sang pecundang seperti Aku, Aku tak akan melawanmu, Justru Karena hantaman tangan Kamulah mungkin hukuman atas salahku dulu bisa kurasakan, pukulah lagi biar Kamu puas, War!" ucap Darwis pada Anwar sambil menatap Salsa yang semakin menangis,
"Anwar menunduk, menahan segala amarahnya yang telah menguasai seluruh jiwanya, dengan menahan emosi Anwar pun duduk,
Lalu Darwis menghampiri Salsa, yang sedang menangis di lantai, Darwis menuntunnya untuk bangun, terus memapahnya menuju kursi dengan ucapnya mengiringi Salsa,
"Tabiat buruk yang ku ukir tak akan membuatku untuk melupakan pahatanku, perangai burukku terhadapmu tak akan membuatmu lupa, walau mendung di langit seolah mau turun hujan, tapi angin yang menghantamnya menuju peraduan sunyi untuk hati, Aku Mencintaimu, Salsa!" ucap Darwis pada Salsa dengan perasaannya,
Mendengar Darwis mengucapkan kata dari lubuk sanubarinya, membuat Salsa terbuai, tak terasa Ia memeluk Darwis dengan harunya, Salsa pun berucap dengan suasana perasaan hatinya,
"Ketidak percayaan membuat tahu akan tuannya, laku menjauh menerobos relung jiwa, pancaran rasa dengan penuh makna, menjelajahi sayang untuk dihantarkan, Aku pun rindu melihatmu, Wis!" ucap Salsa pada Darwis sambil mencium jari Darwis layaknya di sinetron cinta,
Anwar dan Istrinya Novi tercengang dibuatnya, Amarah yang telah merasuki Anwar seolah terhapus perasaan mereka berdua, dan decak hidmat haru terasa membuat Novi terperangah sendu memikatnya,
"Entah Aku sedang melihat apa, Aku bingung melihat kalian bertatap dan bicara jauh dari lorong sanubarimu, hati kalian seolah mengharapkan bersatu, Apakah itu mungkin?" tanya Anwar pada mereka berdua dengan rasa hati yang terharu,
__ADS_1
Mendengar Anwar berkata padanya, Darwis dan Salsa pun saling memandang, seolah harapan yang bertuas telah mereka lemparkan keatas menunggu pantulan- pantulan cinta menapak menandai rasa rindu tiba, lalu sayatan sakit masa lalu yang membuatnya terus ingin bersatu, entahlah.