
Hari- hari kelabu menaungi kediaman Bapak Hanapi, setelah berbagai masalah mengantarkannya untuk meninggalkan Dunia fana ini, dengan segala kekhawatiran yang tersimpan di hatinya kini Ia bawa pergi, dengan perasaan sesak di dadanya pun kini hilang entah kemana.
Hari itu Papa Hanapi tutup usia, di saat Anaknya tak kuasa menahan cintanya, dan disaat rasa bersalahnya memburunya karena prilaku Anaknya, napasnya di tarik Sang Maha Pencipta.
Tampak Anaknya Ovi menangisi mendiang Ayahnya itu, dan terlihat para tetangganya membantu membereskan kursi dan segala keperluan untuk mendiang Hanapi yang telah pergi,
"Sudah Kamu telpon Mamamu, Vi?" tanya Ibu Romlah tetangganya pada Ovi yang sedang menangis dengan pilunya,
"Sudah, tapi tadi sebelum Papa meninggalkan, paling Mama sedang di jalan menuju pulang." jawab Santi pada Ibu Romlah dengan suara lirihnya menahan tangis,
Mendengar itu, Ibu romlah pun segera pergi untuk membantu membereskan rumah untuk para pelayat nanti.
Mama Suci memaksa Darwis untuk ikut, Lalu dengan marahnya Ia bicara pada Darwis,
"Cepat Kamu ikut, pake mobilmu, biar Mama pake motor, kasihan Papamu itu!" ucap Mama Suci pada Darwis dengan marahnya,
Lalu Darwis pun segera berganti pakaian langsung menuju ke mobilnya,
"Ayo, Kamu ikut denganku!" ucap Darwis pada Istrinya Yohana dengan tergesa- gesa,
Dan segera mereka pun pergi untuk menuju rumah Orang Tuanya,
Dalam kekalutan setitik firasat datang menghampiri, dalam pikiran Mama Suci terlihat Suaminya Hanapi pamit hendak pergi jauh, saking meresapi bayangan Suami dalam pikirannya, motor yang ditumpanginya hampir terpeleset, untung keburu ditahannya, dengan perasaan ingin cepat- cepat sampai di rumah.
Akhirnya Mama Suci tiba di gang rumahnya, keanehan muncul, dari gerbang gang menuju rumahnya tampak bendera kertas kuning terpasang, terlihat dari jauh banyak Orang keluar masuk rumahnya, kebingungan dan rasa penasaran Mama Suci semakin menjadi, dan akhirnya Ia pun tahu,
Ia parkirkan sepeda motornya dengan cepatnya sambil berlari menuju ruang pembaringan Suaminya dan disaat melihat Suaminya terbujur Kaku ditutupi kain dan Ovi disebelahnya sambil menangisi Suaminya,
Melihat Mamanya Datang langsung Ovi berlari sambil menangis,
"Mama, papah sudah meninggal!" ucap Ovi pada Mamanya Suci dengan rasa sedihnya yang dalam,
Mama Suci tak kuasa menjawab, Ia mendekati Suaminya lalu merangkulnya, dan mencium jasad Suaminya dengan menahan perasaan sedih yang dalam, sambil berucap,
__ADS_1
"Maafkan Aku Suamiku, disaat hari- hari terakhirmu Aku tak bisa menemanimu, mungkin ini sudah menjadi jalan terakhirmu, selamat jalan Suamiku tersayang!" begitu ucap Mama Suci pada mendiang Suaminya Hanapi sambil mencium keningnya.
Tak lama Darwis datang bersama Yohana menghampiri, lalu Darwis pun meraung menangisi Papanya yang sudah terbujur Kaku dihadapannya,
"Lihat Kamu Darwis, di saat- saat terakhirnya Papamu tak bisa melihatmu," ucap Mama Suci pada Darwis dengan sangat sedihnya.
Darwis menangisi Papanya, segala sesal didalam dadanya yang semakin parah rasa sedihnya dalam jiwanya, detik- detik terakhirnya hanya meninggalkan segala kecewa dan penderitaan yang dibuatnya, sengsara di ujung kematiannya.
Prahara cinta yang meluluh lantahkan kepribadian Darwis, yang tak kuasa untuk menahannya, rasa penuh siksa kini terasa dalam jiwa Darwis pada Papanya yang telah tiada, penyesalan akhirnya yang bertuan dalam dirinya tiada yang lain.
Semua menyaksikan keluarga Hanapi dirundung duka yang teramat dalam, karangan bunga serta ucapan bela sungkawa dari handai taulan dan koleganya berdatangan ke rumah duka, seolah menjadi hiasan pengiring mendiang hari itu.
Selang tujuh hari dari meninggalnya Papa hanapi tampak Kediaman mereka masih diliputi rasa sedih yang mendalam, seolah mereka enggan ditinggalkan,
"Sekarang Kamu yang harus menggantikan Papamu, sebagai Anak lelaki satu- satunya," ucap Mama Suci pada Darwis dengan rasa sedih di hati.
Darwis hanya bisa diam, perasaan penyesalannya tak bisa Ia hilangkan, terbayang masa- masa dimana Ia berulah membuat masalah yang menimbulkan pikiran Papanya,
"Maafkan Darwis, Pa!" begitu ucapan yang terlontar dari mulut Darwis pada dirinya.
"Salsa, tunggu Aku!" ucap Rekannya Davi pada Salsa menghampirinya,
"Ada apa, Dav?" tanya Salsa pada Davi ingin tahu,
"Mau ngajak makan bareng!" jawab Davi pada Salsa menjelaskan,
"Dimana?" tanya Salsa lagi pada Davi ingin tahu,
"Di kantin dekat kantor aja, kejauhan gak enak!" jawab Davi pada Salsa menjelaskan,
"Boleh," jawab Salsa lagi pada Davi pula.
Mereka akhirnya berjalan bersama menuju ke kantin yang telah di sepakati.
__ADS_1
Davi adalah teman Salsa yang sangat perhatian, setiap hari selalu mengingatkan Salsa untuk hal apapun, sehingga keakrabannya terlihat jelas.
"Besok libur Aku kerumahmu, Ya!" ucap Davi pada Salsa dengan senyum dibibirnya,
"Mau ngapain, nanti gak betah ada Anakku ganggu!" jawab Salsa pada Davi mengingatkannya,
"Memang kenapa ada Anakmu, justru Aku senang ada bocah cilik yang imut dan lucu, nyenengin tahu!" ucap Davi pada Salsa menjelaskan,
"Wah, memang Kamu suka anak- anak?" tanya Salsa pada Davi sekedar ingin tahu,
"Iya, ponakanku banyak jadi disaat Aku jenuh Aku ajak main salah satu ponakanku itu." jawab Davi pada Salsa menerangkan.
Mereka asik makan dengan lahapnya, sambil diselingi canda dan tawa mereka, jadi menambah seru makan siang hari itu.
Setelah kejadian yang membuat Yohana merasa takut itu, disaat Darwis meledak ngamuk layaknya kesurupan, perasaan hati Yohana pada Darwis semakin berbeda, Ia lebih banyak diam pada Suaminya itu, mungkin takut tersinggung lalu kisah mengamuk Suaminya teralami lagi, melihat perbedaan sikap pada Suaminya, akhirnya Darwis pun bertanya padanya,
"Aku perhatikan sikapmu terhadapku akhir- akhir ini jauh berbeda, Ada apa?" tanya Suaminya Darwis pada Istrinya Yohana ingin tahu,
Yohana diam sejenak seolah memastikan diri Suaminya benar- benar dalam keadaan sadar, dan tak lama Yohana pun menjawabnya,
"Berbeda kenapa?" jawab Yohana pada Darwis seolah tak tahu,
"Kamu lebih pasif dari Yohana yang Aku kenal," ucap Darwis pada Istrinya menjelaskan,
"Oh itu, Karena batinku masih takut kepadamu?" jawab Yohana pada Suaminya Darwis dengan ragunya,
"Takut lantaran apa?" tanya Suaminya Darwis pada Istrinya Yohana dengan penasarannya,
"Takut Kamu ngamuk lagi ingin kawin, yang membuat hati ini sangat sakit!" jawab Yohana pada Suaminya Darwis dengan perasaan jengkel,
Mendengar Istrinya jujur bicara tentangnya, membuat segenap hati Darwis bersedih, rasa malu dan harap akan dirinya untuk Istrinya terabaikan, lalu dengan rasa yang menderanya dengan sedihnya Darwis pun berkata pada Istrinya,
"Maafkan Aku Yohana! Sungguh Aku khilaf pada saat itu dan lagi minuman yang telah mempengaruhi rasa sadarku dulu, tapi untuk sekarang dan seterusnya Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Suaminya Darwis pada Istrinya dengan segenap jiwa raganya,
__ADS_1
Lalu dengan sayang Darwis memeluk Istrinya Yohana dengan sayangnya, lalu menggendongnya masuk kedalam kamar untuk menuntaskan masalahnya dengan curahan birahi hasratnya.