Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Ketololan beraksi


__ADS_3

Bentangan rasa senang yang dalam sudah mulai terasa dalam hati sanubari Salsa, pertemuan dengan Sahabat lamanya Yuli seolah pembuka perjalanan hidupnya, sungguh baru kali ini lagi Ia rasakan kembali perasaan bersua seperti dulu, karena segala masalah yang menjadi sebab untuk menyudutkannya, Sehingga melupakan kejernihan pikiran untuk bergaul dengan sesamanya yang terabaikan, sungguh ngiris memang nasibnya bila dirasakan, hanya hal kesedihan dan penderitaannya yang Ia gelayuti, lalu menjauh menutup dunia luas dengan kepahitan dan rasa dendamnya.


"Ibu tadi Salsa bertemu Yuli," ucap Salsa pada Ibunya Juariah memberi tahu,


"Oh, Ya! Gimana kabarnya Dia?" tanya Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa dengan rasa penasaran,


"Dia sudah bekerja di perusahaan swasta." jawab Salsa pada Ibunya sambil melirik Anaknya,


"Wah, hebat dong! Sudah lama juga gak ketemu, masih tinggalnya di rumah dulu?" tanya Ibu Juariah lagi pada Salsa Anaknya pula,


"Masih, Dia juga bilang salam buat Ibu." jawab Salsa pada Ibunya Juariah memberi tahu,


"Salam kembali, senangnya bertemu Orang- orang yang kita kenal dulu, jadi rasa kangen itu ada." ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa sambil pandangannya menatap ke depan,


"Iya, dan lagi Salsa sudah lama tidak pernah bertemu sahabat- sahabat lama, hanya memikirkan masalah terus, kenapa Kita lupakan pergaulan dulu yang sangat menyenangkan, bodoh sekali Kita." jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan merasa bersalah dalam jiwanya,


"Mulai sekarang, Kamu harus melupakan segala masalahmu, bergaulah seperti dulu, supaya semua penderitaan melupakanmu." ucap Ibunya Juariah pada Salsa dengan penuh rasa perhatiannya,


"Yuli pun ingin membantu Salsa mencari pekerjaan, Ia akan Coba memasukan Salsa pada Perusahaan tempat di mana Yuli bekerja, dan Surat lamaran Salsa pun diambilnya, jadi Salsa tinggal nunggu kabar dari Dia, Doakan saja, Bu!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan segala rasa pengharapannya,


"Itu sudah pasti Ibu doakan, Ayo Kamu buktikan pada Orang yang menghinamu, dengan cara membuktikan kemajuan Kita." jawab Ibunya Juariah pada Salsa dengan rasa antusiasnya.


Kebahagiaan pun datang bila bersama orang terkasihi, mimpi untuk melihat Anaknya Salsa berubah bahagia sudah nampak, perjalanan hidupnya dulu mungkin akan Ia tinggalkan, dengan menempuh lingkup perjuangan untuk pergi menuju pergaulan perubahan yang bisa membuka akan hidupnya, begitu perangai cinta Ibu Juariah pada Anaknya Salsa terbersit dalam segala harapan- harapannya.


Hari minggu pagi Kedua Orang Tua dan Ovi Anak bungsunya berkunjung ke rumah Darwis, dari jauh tampak Darwis sedang sendirian di teras depan rumahnya, wajahnya terlihat kusut, matanya memandang ke depan dengan tatapan kosong, suasana sekitar tak Ia perdulikan, hingga tiba- tiba Ia dikagetkan oleh Ucap Salam Seseorang,


"Assalamualaikum," ucap Mama Suci pada Darwis sambil menghampirinya,


Dengan rasa kaget, seolah membangunkan dirinya dari lamunan hidupnya, dengan segera Ia menjawab,


"Waalaikum Salam," jawab Darwis pada Mama Suci dengan rasa malunya,

__ADS_1


"Pagi- pagi sudah melamun, gimana ini?" ucap Papanya Hanapi pada Darwis dengan menggeleng- gelengkan kepalanya,


"Mana di depan rumah lagi, gak malu dilihat tetangga." ucap Mama Suci menimpali,


Betapa malunya Darwis oleh kedua Orang Tuanya, dengan sedikit memberanikan diri Ia pun berucap,


"Anu, biasalah namanya Orang hidup, ada saja masalah." jawab Darwis pada Kedua Orang Tuanya menahan malunya,


"Kemana Istrimu, Yohana?" tanya Mama Suci pada Anaknya Darwis ingin tahu,


"Yohana dan Ibunya lagi ke pasar, bentar juga pulang, tunggu saja, Ma!" jawab Darwis pada Mamanya Suci menjelaskannya,


"Ya sudah Ibu tunggu!" ucap Mama Suci pada Darwis menjelaskannya.


"Sebentar Darwis ke dapur dulu mau membuat minum buat Mama dan Papa," ucap Darwis pada kedua Orang Tuanya sambil berjalan ke dapur,


"Sudah jangan repot- repot, Wis!" jawab Mamanya pada Darwis mengingatkannya.


Setelah mereka berkumpul bertiga, mereka pun berbincang dengan santai, sela canda dan tawa seolah sebagai penyadap untuk segala percakapannya, butiran paham yang mengusik diri Darwis seolah membulatkan tekadnya untuk keinginannya.


"Darwis ingin restu dari Papa dan Mama, Darwis ingin melaksanakan niat dulu." ucap Darwis pada kedua Orang Tuanya dengan sekonyong- konyong bicara tak berpikir,


Mendengar ucapan itu Kedua Orang Tua Darwis menjadi penasaran, terlebih lagi dengan Papa Hanapi yang meresponnya dengan serius, membuat rasa khawatir Mama Suci akan niat konyol putranya yang Ia tahu dari mulut Darwis sendiri,


"Niat apa? Kok kayaknya seolah sangat penting, meminta restu segala." ucap Papa Hanapi pada Anaknya Darwis dengan perasaan penasarannya,


"Kalau niatnya konyol, mending gak usah di ceritakan, buang waktu saja." ucap Mama Suci pada Darwis seolah mengingatkan sesuatu pada Anaknya itu,


"Begini, dulu Darwis pernah bilang bahwa Darwis sudah punya pilihan, sebelum menikah dengan Yohana, hati yang Darwis rasakan masih tetap menginginkannya, tanpa diduga Darwis bertemu setelah lama mencari, dan sekalian niat ituada, dan akan Darwis laksanakan, Darwis ingin menikah lagi." ucap Darwis pada Kedua Orang Tuanya dengan tidak memperdulikannya,


Mendengar bicara begitu, sontak sekujur tubuh Papa Hanapi seolah bergetar hebat, sorot matanya memancar seolah ingin menusuk Anaknya, dan hatinya hancur terkoyak oleh keinginan konyol Anaknya, Mama Suci pun luluh tak bergeming, otaknya berputar mencari pegangan, dan batinnya punah lantaran keinginan yang tak wajar dari Anaknya, ditambah lagi perang emosi tak terkendali bakal terjadi menimpanya,

__ADS_1


"Apa katamu? Menikah lagi!" jawab Papa Hanapi pada Darwis dengan emosinya yang tinggi,


"Ya, Darwis ingin menikah lagi!" jawab Darwis pada Papa Hanapi seolah tak takut pada mereka,


"Kamu mengigau atau sudah gila, masih syukur Bapak Maruli masih mau menerimamu sebagai menantunya, Apakah Kamu gak berpikir ke arah situ? Tiada angin tiada hujan, sekonyong- konyong bicara dengan mudahnya untuk kawin lagi, Wanita seperti apa yang akan Kamu nikahi itu? Papa ingin tahu?" ucap Papa Hanapi pada Darwis Anaknya seolah emosinya sudah memuncak di kepalanya,


"Sudah jangan macam- macam, sudah mending Kamu bisa mempersunting Yohana, Bapak Maruli sangat bijak terhadapmu dulu, Apakah Kamu tidak sadar apa yang telah kamu ucapkan?" tanya Mama Suci pada Darwis dengan rasa benci dalam hatinya,


"Sungguh Darwis tidak bermaksud membuat Papa dan Mama marah, Apakah tidak boleh seorang Darwis berpoligami?" jawab Darwis pada kedua Orang Tuanya dengan tak tahu malu,


"Ohh, itu sandaranmu dalam melihat perkawinan, Enaknya Kamu bicara, poligami itu bukan untukmu, tapi untuk Orang lain, kamu tak pantas berpoligami, masih menyusahkan Orang Tua saja sudah berulah, dasar Sontoloyo!" ucap Papa Hanapi pada Darwis dengan sumpah serapahnya,


"Dimana akal sehatmu itu, percuma Kamu disekolahkan tinggi bila akhirnya seperti ini," ucap Mama Suci pada Anaknya Darwis dengan penuh kesal sambil berlinang air matanya,


"Terserah, Darwis akan tetap dengan pendirian, akan menikah lagi!" jawab Darwis pada Mereka berdua seolah menantang,


"Apa Kamu sudah berani sama Orang Tua, dasar bedebah tak punya otak, kalau Kamu menikah lagi Aku tak sudi untuk menganggapmu Anak lagi, percuma punya Anak hanya untuk memberikan kotoran terus, sadar jangak sok," ucap Papa Hanapi pada Darwis sambil berjalan untuk menghampirinya,


Melihat Suaminya semakin naik pitam, Mama Suci semakin kencang terdengar suara tangisannya, Dia sudah tak bisa berbuat apa- apa lagi untuk menahan niat konyol Anaknya itu.


Plak! Plik! Pluk!, bunyi tamparan keras Papa Hanapi pada Darwis yang membuat Darwis tersungkur, dan dengan wajah merah serta telunjuk yang menunjuk Darwis dengan berangnya, serta Sumpah serapah seorang Ayah pada Anak yang tak tahu diri itu,


"Aku tak terima Yohana Kamu sia- siakan, Dan Aku tak sudi juga punya Anak tak tahu diri macam Kamu, berlakulah semaumu Aku tak akan perduli lagi, Cam kan itu!" ucap Papa Hanapi pada Anaknya Darwis dengan marahnya.


Darwis hanya bisa menunduk melihat kejadian tak pantas dengan Orang Tuanya, diiringi dengan segala amarahnya yang sangat tinggi, ditambah suara tangis yang menjadi, yang seakan tak pernah terlukis sedikit pun dalam otaknya untuk bakalan seperti itu,


"Ayo kita tinggalkan Anak setan sepeti Dia, jangan Kamu hiraukan Dia, dan mulai detik ini Aku tak sudi melihatmu lagi, Anak brengsek!" ucap Papa Hanapi pada Darwis sambil bergegas menarik tangan Istrinya untuk segera beranjak pergi dari situ,


"Awas kalau Mama dengar Kamu menyia- nyiakan Yohana, Mama tak akan segan- segan menghancurkanmu!" ucap Mama Suci pada Anaknya Darwis dengan sebegitu amarahnya,


Dengan tergopoh- gopoh mereka berjalan keluar, masih terdengar sumpah serapah kedua Orang Tuanya sambil berjalan menjauh, membuat Darwis hanya diam terpaku, dirinya seolah pasukan berani mati untuk sebuah misinya, tapi setelah Mereka pergi meninggalkannya setan pun menjauh, tinggal hanya ketidak enakan dan rasa penyesalan untuk memaksakan niatnya.

__ADS_1


"Aku tahu niat untuk menikah lagi belum terbiasa menurut Orang awam seperti mereka, tapi rasa pedih lantaran cinta yang akan menuntut balas atas semuanya, dan demi untuk menggapainya, Maafkan Aku, Papa! Dan Maafkan Aku, Mama!" ucapnya di dalam hatinya.


__ADS_2