Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Rasa mencekam dan mendebarkan


__ADS_3

Semua kejadian itu tak lepas dari rasa amarah dan emosi yang besar dan tak bisa di kendalikannya, sungguh tragis bencana mencekam itu terjadi pada Keluarga Wijaya dan Ibu Widia, jeritan dan teriakan seolah bumbu penyedap bagi Sebastio yang memang sedang menjelma setan dalam dirinya itu, karena rasa emosi dan amarahnya itu.


"Lihatlah kalian semua, seolah rongsokan rusak yang tak berupa, memohon ampun padaku, seolah Aku ini akan memgampunimu, Monyet Sialan!" ucap Sebastio pada mereka dengan tangannya terus mencekik leher Wijaya dengan kustnya dan hendak Ia banting ke lantai,


Pada saat tangannya keatas, dengan sekuat tenaganya hendak melemparnya,


Tiba- tiba Salsa berlari dengan sangat kencangnya sambil mulutnya berteriak dengan keras,


"Tahan emosimu Ayah! Jangan...jangan Ayah lukai mereka itu, sadar Ayah, sadar!" teriak Salsa dengan keras pada Ayahnya itu sebastio sambil berlari menghampirinya,


Mendengar Anaknya Salsa berteriak padanya, membuat tangan yang mencekik Wijaya pun Ia lepaskan, sambil berucap padanya,


"Lihat Anakku yang kau hina itu, Ia masih mau membelamu walau penderitaanya karena ulahmu itu, masih Ia rasakan!" ucap Sebastio pada Wijaya dengan menendangnya, Bukk! Wijaya terjatuh lagi ke lantai,


"Sudah Ayah, jangan dengan kekerasan, biarkan mereka hidup dengan disiksa oleh rasa bersalahnya itu." ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio sambil merangkulnya,


"Ayah sudah tak bisa mengendalikan diri lagi, setelah melihat tampang- tampang mereka ini!" jawab Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan tubuhnya bergetar menahan emosinya itu,


Tak lama Salsa pun melihat Pamannya Anwar, yang sedang memperhatikannya dengan tatapan matanya yang tajam, dan kemudian melihat Ibu Widia dengan kuat dan sambil menangis memeluk Arjuna seolah sedang membentenginya dari Sebastio, lalu Salsa pun bicara,


"Inilah yang selama ini Salsa takutkan, dengan menutupinya selama ini, atas ulah kalian pada Ibu dan Salsa dulu, Salsa tutupi sekuat mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain, hingga keributan ini terjadi dengan hebatnya ini, itu bukan kemauan Salsa!" ucap Salsa pada mereka semua sambil berlari ke arah Pamannya Anwar,


"Dan Paman, sekarang dengan mata kepala sendiri melihat Sosok yang menghamili Salsa dan menghina Ibu itu, jadi mulai sekarang jangan bertanya- tanya lagi pada Salsa, Siapa Orangnya yang telah menghamili Salsa itu!" ucap Salsa lagi pada Anwar agar mengerti,

__ADS_1


Mendengar Salsa bicara padanya, Anwar pun menangis sedih, dalam hatinya bicara, sungguh tegar Salsa menghadapi itu semua, dengan sedikit pun tidak ada rasa amarah di hatinya itu, dengan rasa sedihnya Ia pun menjawabnya


"Sungguh luhur budimu, Salsa! Melihat orang yang telah menyakitimu pun tak sedikit berniat untuk menghajarnya!" jawab Anwar pada Salsa sambil terus mendekap keponakannya itu dengan harunya,


Dan sekonyong- konyong Ibu Widury dengan linangan air mata di pipinya, menghampirinya seolah memberikan kekuatan bagi Salsa, dan dengan tegasnya Ibu Widury pun bicara pada keluarga Wijaya itu yang tak berdaya,


"Kalian sudah lihat semua, betapa berbudinya Salsa itu, yang dulu kalian rendahkan hanya demi gengsi belaka, ternyata mendatangkan petaka yang sangat besar ini, dengan perasaan tergores hatiku melihat Anakku menangis, Aku harap kalian semua meminta maaf pada Salsa dengan perasaan jujur, dan berharap ini pelajaran bagi kalian untuk lebih menghargai orang lain." ucap Ibu Widury pada mereka dengan terus menghampiri Suaminya itu Sebastio,


Mendengar Ibu Widury berucap seperti itu, perasaan lega terasa dalam hati Ibu Widia, Ia dengan sangat merasa bersalah atas perlakuannya dulu pada Salsa dan Ibunya itu, lalu dengan memberanikan diri, Ibu Widia pun akhirnya bicara,


"Salsa, Ibu atas nama semua, Minta maaf atas perlakuan terhadapmu dan Ibumu dulu, sungguh Ibu menyesal karenanya, walau mati pun, sungguh memang layak untuk perlakuanku dulu terhadapmu, Salsa!" ucap Ibu Widia pada Salsa sambil berlari menghampiri dan memeluknya,


Mereka berdua berpelukan sambil menangis, membuat semua yang ada disitu ikut menangis karenanya itu, dengan tulus dari hatinya Salsa pun bicara,


"Semua luka lama atas hinaan itu, sudah Salsa usir dengan kesendirian, rasa sakit atas itu pun sudah Salsa tinggalkan dengan kefanaan, sekarang, Sudahlah jangan menangis, biarkan seonggok cinta memenuhi hati kalian itu, tanpa gengsi!" jawab Salsa pada Ibu Widia dengan sepenuh hatinya bicara,


Wijaya terbangun, lantas berjalan menuju Salsa yang sedang memeluk Istrinya itu, dan seolah semua kedamaian itu, akibat torehan hati Salsa yang terdalam,


"Salsa, Bapak pun minta maaf, atas semua kesalahan padamu dan Ibumu itu, rasa bersalah dalam diri ini membuat harus merasakan sakit dari akibat rasa angkuh dan sombongku dulu kepadamu," ucap Bapak Wijaya pada Salsa dengan memaksakan diri untuk memeluk mereka berdua itu,


Pikiran Sebastio seolah bingung dibuatnya, rasa panas di hatinya kini, berangsur- angsur hilang meninggalkannya, terlebih lagi Istrinya Widury berada disampingnya dengan segala rasa bijaknya itu, dan dengan perubahan sikap atas Sebastio dengan seketika itu, membuat Wijaya pun senang adanya, dan dengan perasaan tak enak, dan memberanikan diri Ia pun menghampiri Sebastio itu, lalu berucap padanya,


"Aku sungguh merasa menyesal atas semua yang terjadi, dan Aku mau akibat huru- hara ini, tidak menjadikan silaturahmi kita menjadi hancur, Sebastio!" ucap Bapak Wijaya pada Sebastio dengan merangkulnya tanpa menunggu,

__ADS_1


Melihat itu, semua yang ada disitu menjadi terharu, dan dengan perasaan gundahnya, Sebastio pun berucap padanya,


"Hal yang kulakukan padamu dan keluargamu itu di luar dari kendali diriku ini, Aku pun tak mau melakukannya, dan dengan berat hati Aku bicarakan ini padamu, Wijaya!" ucap Sebastio pada Wijaya dengan rasa haru di hatinya itu,


"Aku mengerti, Sebastio! Dan dari lubuk hati yang paling dalam, Maafkan Aku! Dan Maafkan keluargaku ini, Sebastio!" ucap Wijaya pada Sebastio sambil menangis pilu,


"Yah, Sama- sama!" jawab Sebastio pada Wijaya dengan penuh keharuan dalam dirinya itu.


Melihat semuanya seolah hilang dari ketegangan hatinya, terlihat Arjuna seolah berat untuk berdiri, kepalanya terus menunduk menahan malu, dan pikirannya seolah hancur karena tak berharganya dirinya itu,


Salsa seolah tahu apa yang sedang dirasakan Arjuna itu, tapi bias rasa benci atas nama Andreas anaknya itu, tak pernah hilang dalam hatinya, dengan berpura- pura mendekatinya, agar semua yang ada di situ tidak mendengarnya, lantas Salsa pun berjalan menghampiri Arjuna yang sedang duduk di lantai sambil menunduk malu itu,


Melihat Salsa mendekatinya, lalu Arjuna pun bicara padanya,


"Aku minta maaf, Salsa! Semua penderitaanmu itu semua salahku!" ucap Arjuna pafa Salsa seolah ingin mencairkan perasaan hatinya itu,


Mendengar ucapan maaf dari Arjuna itu, tiba- tiba wajah Salsa berubah merah, emosi dan amarahnya seakan- akan mengendalikan perasaan jiwanya, dengan tatapan seolah ingin membunuh Arjuna, lalu Salsa pun bicara pada Arjuna dengan rasa jengkelnya,


"Sejak kapan Aku menjual maaf padamu, hidupmu seolah hanya untuk mempermainkanku, sepicik itukah pikiranmu itu terhadapku, Arjuna ku Setan!" jawab Salsa pada Arjuna dengan marahnya bicara,


Mendengar itu, Arjuna pun seolah tak bisa bicara, hatinya semakin hancur dan pikirannya seolah tak bertuan menjauhi dirinya itu,


"Maafkan, Aku ini, Salsa!" ucap Arjuna lagi pada Salsa dengan rasa pilu di hatinya itu,

__ADS_1


"Apa Memaafkanmu? Justru Aku ingin menyiksamu, Arjuna!" jawab Salsa pada Arjuna sambil meninggalkan Arjuna dengan perasaan bersalah yang amat besar itu,


Arjuna menangis sejadi- jadinya, atas sikap Salsa yang masih membencinya dengan tanpa memaafkannya.


__ADS_2