Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Lelah Kepusingan


__ADS_3

Di kantornya Bapak Wijaya terlihat gelisah, beban dalam pikiran mengenai Anak satu- satunya yang membuat ulah sehingga pikirannya sering kalut, di tambah Istrinya di rumah yang selalu menangis bila mengingat sosok Anaknya itu.


Hari demi hari di mana Ia berada selalu bayangan akan kepunahan reputasi dan nama baiknya selalu muncul, membuatnya tak habis berpikir, mungkinkah selama ini Ia salah dalam bertindak terhadap Anaknya, pikiran itu tak henti- hentinya terbayang di kelopak matanya, yang membuat Ia susah tidur dan kurang fokus dalam bekerja,


"Maaf Pak Wijaya, dari tadi Saya perhatikan melamun terus, pasti sedang ada yang dipikirkan, sampai Saya ketuk pintu ruang Bapak tidak ada jawaban, Akhirnya Saya beranikan diri masuk keruang Bapak." ucap Luna sekretarisnya pada Bapak Wijaya ingin tahu,


Melihat Luna bicara dan datang menghampirinya Bapak Wijaya merasa kaget dibuatnya, Karena saking dalam memikirkan masalah Arjuna hingga Ia hilang fokus kerjanya,


"Ini ada masalah sedikit tentang Anakku di rumah, biasalah masalah keluarga," jawab Bapak Wijaya pada Sekretarisnya Luna memberi alasan,


Sang Sekretaris pun tersenyum melihat wajah Bapak Wijaya atasannya kaget saat dirinya datang,


"Mana yang harus Saya tanda tangani segera?" tanya Bapak Wijaya pada Sekretarisnya Luna,


"Ada dua, Pak! Satu proyek yang sedang dilaksanakan, dan satunya lagi persetujuan hasil rapat perusahaan Kita Kemarin." jawab Luna pada Bapak Wijaya membeberkan semuanya,


Dan segera Luna menyerahkan surat yang harus ditanda tangani atasannya itu, setelah dibaca tanpa ragu langsung surat itu ditanda tangani Bapak Wijaya.


"Terima Kasih, Pak!" ucap Luna pada Bapak Wijaya sambil membereskan berkas- berkasnya,


"Sama- sama," jawab Bapak Wijaya pada Luna Sekretarisnya dengan senang hati.


"Oh, Ya! Hampir lupa, Big Boss Bapak Sebastio rencananya mau mampir kemari sore ini, tadi Sekretarisnya Rani mengabarkan." ucap Luna pada Bapak Wijaya atasannya lagi,


"Apa sore ini, Baiklah terima kasih infonya, jadi Aku bisa bersiap- siap untuk menyambutnya." jawab Bapak Wijaya pada Sekretarisnya Luna sambil mengangguk.

__ADS_1


Akhirnya Luna pun pergi meninggalkan ruangan Bapak Wijaya kembali ketempatnya.


Bapak Wijaya dulunya adalah karyawan yang rajin lagi berprestasi, karena kerja kerasnya perusahaanya maju pesat, hingga Ia dipercaya sampai sekarang memegang kendali salah satu perusahaan milik Bapak Sebastio.


Orang yang ditunggu pun Akhirnya tiba juga, tampak Bapak Wijaya menyambut pemilik perusahaan yang sekaligus atasannya Bapak Sebastio di ruangannya,


"Selamat sore Bapak Wijaya, senang saya melihatmu lagi." ucap Bapak Sebastio pada Bapak Wijaya dengan ramahnya,


"Sama- sama, tumben mampir ada apa ini?" jawab Bapak Wijaya pada Bapak Sebastio berkelakar,


"Tadi niatnya langsung pulang, tapi kepikiran mampir kemari, sekalian lihat Kamu." ucap Bapak Sebastio sambil memegang sesuatu di tangannya,


Hari itu memang Bapak Wijaya terlihat tak bergairah, mungkin karena letih memikirkan masalah tentang Anaknya, membuat Bapak Sebastio angkat bicara,


"Dari tampangnya kelihatan lagi sakit, Apa betul Kamu lagi sakit?" tanya Bapak Sebastio pada Wijaya ingin tahu,


"Memang Kenapa dengan Anak lelakimu itu?" tanya Sebastio lagi pada Bapak Wijaya penasaran,


Akhirnya tanpa sungkan karena sudah Akrab, Bapak Wijaya menceritakan kisahnya tentang Anaknya Arjuna dengan perasaan sedih.


Setelah mendengarkan cerita tentang masalah yang dihadapi Bapak Wijaya, Bapak sebastio pun mangut- mangut seolah Dia tahu solusinya,


"Dilihat dari ceritamu itu kayaknya Anakmu perlu perhatian, pernikahannya Kamu tentang dengan alasan Ibunya janda dan kelihatannya mantan orang gak benar, jadi Kamu tidak merestuinya padahal lagi Anakmu sudah menghamilinya, lalu dimana letak adil dan bijaknya Kamu sebagai Orang Tua terhadap Anakmu itu?" ucap Bapak Sebastio pada Bapak Wijaya dengan lantang memberi masukan,


Mendengar ucapan dari pemilik perusahaannya Bapak Wijaya mulai teringat kembali dimana Ia menghina dan merendahkan Salsa dengan Istrinya kala itu, Pak Wijaya menunduk sambil napasnya terdengar seolah sedang menahan beban yang dalam,

__ADS_1


"Kamu salah besar, menjauhkan Anakmu dari masalah yang harus di pertanggung jawabkannya, Ia sudah jujur mau mengakui perbuatannya menghamili anak gadis Orang itu, itu menurutku sudah bagus, malah Kamu jauhkan dengan alasan inilah- itulah tidak melihat penderitaan perempuan yang dihamilinya, mungkin sampai sekarang Ia merasakan sakitnya yang tak akan hilang sampai mati, Apakah hal kemanusiaan itu tidak Kamu pikirkan?" ucap Bapak Sebastio pada Bapak Wijaya dengan panjang lebar menjelaskan,


Muka Bapak Wijaya memerah, rasa sedih dan menyesal dalam hatinya seakan tumpang tindih membayanginya,


"Tadinya Saya berpikir dengan begitu Arjuna jera akan sikapnya, niatnya untuk Saya mandirikan, ternyata malah kebablasan dengan barang haram itu, Saya menyesal menjauhkannya." jawab Bapak Wijaya pada Bapak Sebastio dengan sedihnya,


"Sudahlah Kita ambil hikmahnya, perhatikan Anakmu dengan tulus, cintai Dia, supaya cinta Anakmu nanti beralih mencintai Orang Tuanya, bukan pada Narkoba lagi sebagai pelariannya." ucap Bapak Sebastio pada Bapak Wijaya sambil tangannya memainkan secarik kertas seperti foto dulu di tangannya.


Sambil mendengarkan ucapan Bapak Sebastio, mata Bapak Wijaya tertuju pada tangan Bapak Sebastio yang tak lepas memegangi kertas mirip foto itu, saking penasarannya akhirnya Bapak Wijaya memberanikan diri untuk bertanya,


"Dari semenjak Bapak datang, Saya lihat Bapak tak lepas memegangi secarik kertas mirip foto di tangan, kertas apa itu?" tanya Bapak Wijaya pada Bapak Sebastio penasaran,


"Oh ini! Memori lama yang membuat Aku teringat masa lalu, tadi tak sengaja Aku temukan di laci lemari kerjaku, ini foto Anak dari Mantan Istriku yang dulu," jawab Bapak Sebastio pada Bapak Wijaya sambil memperlihatkan foto itu,


Bapak Wijaya dengan rasa penasarannya langsung melihat foto itu, Ia memperhatikannya dengan seksama foto seorang gadis kecil usia Lima tahun lebih, wajahnya cantik jelita sedang memegang boneka sambil tersenyum, sedang digendong bersama Ibunya,dari senyum dan wajahnya Bapak Wijaya mengingat seseorang yang tidak asing baginya,


"Kenapa Cantik, Ya! Namanya Salsa, usia di foto itu paling hampir enam tahun,sedangkan yang menggendongnya itu mantan Istriku, kini Ia hidup dengan Ibunya, entah kenapa Aku ingin bertemu dengannya, kangen." ucap Bapak Sebastio pada Bapak Wijaya panjang lebar menjelaskan Anak di foto itu padanya,


Seolah mendengar halilintar di tengah gurun, dan percikan apinya yang sangat hebat menghantamnya, Bapak Wijaya sangat kaget dibuatnya. Yang dilihatnya memang foto Salsa, gadis yang dihamili Anaknya, serta yang dihina dan direndahkan olehnya, ternyata Ia anak Bapak Sebastio, terlebih lagi dalam foto itu Ibu Juariah terlihat jelas menggendong Salsa dengan cantiknya, pucat pasi wajah Bapak Wijaya semakin nampak, rasa takut dalam dirinya semakin besar, rasa ngeri dan bergetar jiwanya karena takut Bapak Sebastio mengetahuinya,


"Kenapa Kamu, mukamu tambah pucat dan badanmu menggigil, Kamu harus segera ke dokter," ucap Bapak Sebastio pada Bapak Wijaya dengan rasa penasarannya,


"Ini mungkin efek masalah itu, gak tahu Saya pun bingung!" jawab Bapak Wijaya pada Bapak Sebastio mengelak,


"Ya, sudah! Kamu Istirahat, jangan hanya fokus memikirkan Anakmu saja, pikirkan juga kesehatanmu, Sudah Aku pamit!" ucap Bapak Sebastio pada Bapak Wijaya bergegas berjalan untuk kembali meninggalkan Bapak Wijaya seorang diri.

__ADS_1


Sepeninggalnya Bapak Sebastio, ketakutan semakin menjadi hingga Ia lupa hari telah malam.


__ADS_2