
Hari- hari menjelang rencana perkawinan Ibu Juariah dan Zaki itu sudah tersebar kabarnya sampai ke pelosok desa, padahal undangan pun belum di buatnya, dan secara resmi dari kedua keluarga pun belum dilakukan, sehingga ketakutan dan rasa kekhawatiran pun mulai muncul dalam hati Ibu Juariah itu.
"Sungguh Aku tak menduganya, kabar akan rencana untuk perkawinan itu sudah sampai ke pelosok desa," ucap Ibu Juariah pada dirinya itu,
Mata Ibu Juariah menatap ke langit biru, seolah sedang bertanya mengapa secepat itu kabar perkawinannya tersebar luas, jeruji ketakutan dan keraguan untuk melangkah seolah semakin besar terasa, menjadikan perasaan itu sesuatu yang mengganjal dalam hatinya itu.
Tiba- tiba datang Zaki dengan merasa penasaran kekasihnya itu sedang merenung sambil menatap langit biru yang luas, dengan rasa penasaran di hatinya Zaki pun bertanya,
"Kayaknya sedang memikirkan sesuatu yang besar kekasihku ini, terlihat sedari tadi pandangannya ke langit biru nan luas di atas sana!" ucap Zaki pada Ibu Juariah dengan candanya itu,
Mendengar Zaki bicara dengan penuh humoris, sambil wajahnya tersenyum, Ibu Juariah pun lantas menjawabnya,
"Aku memikirkan tentang perahu, yang akan membawa cinta kita ke Nirwana, dengan biduk rumah tangga kita nanti!" jawab Ibu Juariah pada Zaki bak pujangga besar bersabda,
Mereka berdua akhirnya tertawa lepas, saling meledek dan saling memberikan perhatian yang tampaknya sebagai kekuatan akan cinta mereka itu,
"Itu rencana resepsi kita nanti akan dirumah ini atau di gedung pertemuan yang kita sewa!" ucap Zaki pada Ibu Juariah seolah ingin tahu,
Kepala Ibu Juariah di geleng- gelengkan kepada Zaki, sambil matanya tetap memandang kearah langit luas, dan tangannya menarik tangan kekasihnya itu, dan merangkulnya dengan penuh cinta,
"Sebenarnya kalau Aku sih, dimana saja resepsi itu dilangsungkan, bagiku sama saja, yang paling penting bagiku adalah keberadaan cintamu ini padaku, itu saja!" ucap Ibu Juariah pada Zaki dengan penuh penjiwaan dalam dirinya itu,
"Apakah Ibu sayangku meragukan akan cintaku ini?" tanya Zaki pada Ibu Juariah sambil merangkul dan mencium pipi Kekasihnya itu,
Sambil tertawa girang, lalu Ibu Juariah pun merespon sikap manja Zaki itu dengan kecupan sayang dibibirnya.
Hari itu terlihat Ibu Sandy ibu kandung dari Zaki, sedang duduk sendirian di teras depan rumahnya, pikirannya terus memikirkan tentang perkawinan Anaknya itu, dalam benaknya terpampang beribu keraguan dan kekhawatiran yang selalu mengikuti kemana langkah kakinya pergi, dalam benaknya selalu bertanya,
__ADS_1
"Apakah Zaki bisa menjadi Suami bagi Dia, mengingat dulu Ia seorang Istri Orang kaya, sedangkan Zaki masih belum bekerja sampai saat ini." begitu ketakutan dalam diri Ibu Sandy pada Anaknya,
Disaat Ibu Sandy merenung Akan Anaknya itu, sekonyong- konyong Ibu Juariah dan Zaki datang bertandang kerumahnya itu, lantas Ibu Juariah pun unjuk Salam padanya,
"Assalamualaikum," ucap Ibu Juariah pada Ibu Sandy yang sedang melamun sendirian itu,
Melihat Mereka datang berdua, dengan cepat Ibu Sandy berdiri untuk menghampiri mereka berdua sambil menjawab Salamnya itu,
"Waalaikum Salam," jawab Ibu Sandy pada Mereka berdua dengan nada senangnya,
Lalu mereka pun langsung masuk ke dalam rumah, dan tak lama mereka duduk bersama untuk membicarakan tentang rencana perkawinannya itu nanti,
"Tadi Ibu memikirkan tentang rencana perkawinan kalian itu, terus bagaimana menurut kalian, Ibu ingin tahu?" tanya Ibu Sandy pada Mereka berdua dengan rasa penasarannya.
Lalu merekapun saling memandang satu sama lain, seolah ingin mereka bersama untuk menceritakannya.
Detak kekhawatiran justru terselip pada diri Salsa, Ibu yang sangat dicintainya akan menikah dengan Zaki, yang Salsa tahu Zaki belum bisa mandiri, pikirannya selalu tertuju pada rencana perkawinan Ibunya itu, kadang Ia berpikir bagaimana memberi tahu supaya Ibunya itu mau mengerti,
Saat dirinya terhanyut dengan pikiran- pikirannya itu, tiba- tiba Davi datang menghampirinya, lalu bertanya padanya,
"Sedang mikirin apa sih, kelihatannya kok serius amat?" tanya Davi pada Salsa ingin tahu,
Sambil menatap Davi kekasihnya itu dengan senyumnya, lalu tak lama Salsa pun menjawabnya,
"Ini masalah rencana perkawinan Ibu itu!" jawab Salsa pada Davi memberi tahunya,
"Lantas apa yang menjadi pikiran?" tanya Davi lagi pada Salsa seolah ingin tahu,
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Davi terhadapnya itu, membuat Salsa semakin bingung untuk menjawabnya, dan setelah merasa yakin akan jawabannya itu, akhirnya Salsa mau juga bicara pada Davi,
"Aku tahu Zaki belum bekerja, sedangkan Ibu tahu Ia sangat loyal orangnya, Aku takut jika mereka jadi menikah hanya sebentar, lalu menjadi bahan pergunjingan miring tetangga lagi ujung- ujungnya, bagaimana ya, Dav?" tanya Salsa pada kekasihnya Davi dengan rasa penuh haru di hatinya itu,
Mendengar Salsa mengeluh seperti itu, membuat Davi merasa kasihan pada kekasihnya itu, rasa takut dan khawatir dalam dirinya itu yang menjadi dirinya kadang lupa dengan kesehatannya sendiri, laku dengan senyum manis diwajahnya lantas Davi pun menjawabnya,
"Wajar jika Kamu mengkhawatirkan hal itu, karena menurutku, ekonomi adalah tonggak dasar dalam rumah tangga setelah cinta," jawab Davi pada Salsa sambil memegang bahu kekasihnya itu,
Salsa sejenak diam, seolah sedang memikirkan ucapan kekasihnya itu, sambil tersenyum pada Davi, Salsa pun bicara lagi,
"Nah itu sebenarnya yang ada dalam ketakutanku itu, Nanti jika hanya mengandalkan hidup dari Ibu saja, itu tidaklah adil, bisa- bisa Zaki hanya menjadi benalu doang saking keenakannya!" ucap Salsa pada Kekasihnya Davi sambil merebahkan kepalanya di pundak Davi dengan manjanya,
"Tapi itu semua tak lepas dari pikiran Ibumu sendiri, bila kita menceritakan jujur pada Ibu, sekilas kedengarannya seperti menjelekkan Zaki padanya, bila Ia tidak menerima masukan dari kita itu, bisa- bisa Ibumu akan marah besar pada kita," jawab Davi pada Salsa sambil tangannya membelai rambut indah kekasihnya itu,
"Lalu harus bagaimana, dong?" tanya Salsa pada Davi kekasihnya itu,
Davi hanya menggeleng- gelengkan kepalanya, seolah tak percaya pada masalah ini, dengan perlahan Davi pun menjawabnya,
"Walau bagaimanapun, tetap kita mesti memberikan masukan pada Ibumu itu, suka tidak suka hanya itu yang bisa kita lakukan selain berdoa!" jawab Davi pada Salsa kekasihnya itu dengan senyum di wajahnya,
"Semoga saja Ibu mendapat keajaiban untuk mau mendengar masukan- masukan dari kita!" ucap Salsa pada Davi seolah mengharap bintang jatuh dari langit,
"Ya, semoga saja begitu." jawab Davi pada Salsa sambil bergegas pergi ke parkiran untuk mengambil motornya itu,
Sambil menunggu Davi Datang, pikiran- pikiran tentang Ibunya itu seolah tak mau pergi dari otaknya, dengan sekuat tenaga Salsa berusaha untuk mengusirnya, tapi seolah semakin kuat nampaknya masalah itu menekannya,
Setelah datang Davi dari mengambil motornya, lantas Salsa pun segera naik, dan dengan segera Davi pun memacu motornya dengan cepat- cepat menuju rumah kekasihnya itu, karena malam telah tiba.
__ADS_1