
Keheningan malam membuat semua Orang terlena akan jiwa, taburan bintang yang bersinar mengajak cinta untuk bertahta, langit menjadi saksi, dan bulan menjadi syahdu, seakan merekah menenggelamkan suasana Jiwa.
"Kamu belum tidur, Pak!" ucap Ibu Widia pada Bapak Wijaya,
"Belum, gak tahu mata susah dipejamkan." jawab Bapak Wijaya pada Ibu Widia lagi,
"Sudah, gak usah banyak pikiran!" ucap Ibu Widia pada Bapak Wijaya lagi,
"Inginnya seperti itu, tapi tak bisa," jawab Bapak Wijaya pada Ibu Widia pula.
Pikiran Bapak Wijaya melayang terbang pada sosok Arjuna, yang berada di balik jeruji besi, rasa ingin berjumpa semakin mendesaknya,
"Besok Kita besok Arjuna, Bu!" ucap Bapak Wijaya pada Ibu Widia dengan kangennya,
"Ibu juga kangen, Pak!" jawab Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan penuh harapan.
Mereka merasa ingin Anaknya di sampingnya, kesalahan dulu menjadi wujud perhatian yang seharusnya tidak terjadi.
Besoknya mereka pun pergi membesuk Arjuna, dengan sejinjing cerita dan sebongkah rahasia yang akan mereka lontarkan pada Anak tersayangnya Arjuna,
"Gimana Keadaanmu?" tanya Ibu Widia pada Anaknya Arjuna ingin tahu,
"Baik, tumben agak pagi kesininya." jawab Arjuna pada Ibunya Widia penasaran,
"Sengaja, Supaya bisa agak lama mengobrolnya," jawab Ibu Widia pada Anaknya Arjuna menjelaskan,
"Memangnya mau lama, mau ngobrol apa?" tanya Arjuna pada Ibunya Widia lagi,
Ibu Widia terus menatap Arjuna dengan perasaan sedihnya, rentetan rasa bersalahnya terbentang dalam hamparan ketidak bahagiaan bagi hidupnya, tak lama Ia pun bicara sambil melirik Suaminya,
"Dulu Ibu merendahkan dan menghina Salsa seenaknya, tanpa berpikir panjang, ternyata sombong nya Kita itu hanya menbuat malu dan ketakutan akibatnya, membuat Bapak dan Ibu tak bisa tidur." ucap Ibu Widia pada Anaknya Arjuna dengan nada menyesal,
"Bukannya dulu Ibu dan Bapak merasa puas untuk itu." jawab Arjuna pada Ibunya Widia menyinggungnya,
__ADS_1
Ibu Widia termenung dan diam mendengar Anaknya bicara seperti itu, acap kali lirikan mata pada Suaminya dengan seolah ingin melihatnya,
"Kamu pun kaget bila tahu siapa itu Salsa." ucap Bapak Wijaya pada Arjuna menimpali mereka bicara,
"Mau siapapun Salsa, itu semua Arjuna sudah tidak ambil perduli, Arjuna malu dan merasa rendah di mata Dia," ucap Arjuna pada Mereka berdua dengan perasaan tak enak,
"Jangan begitu, dong! Ayo semangat lagi, hidup Kamu masih panjang." jawab Bapak Wijaya pada Arjuna sambil mengusap- usap punggung Arjuna,
"Maafkan Kami berdua, Karena Kami semua kendala ini harus Kamu rasakan." ucap Bapak Wijaya pada Arjuna dengan perasaan bersedih,
Mereka merasakan rasa haru dengan segala beban dihati yang terkoyak, terbelah menjadi kepahitan yang tidak bisa mereka tahan.
"Salsa itu Anaknya Bapak Sebastio, atasannya Bapak, sengaja Ibu bilang sekarang pada Kamu." ucap Ibu Widia pada Arjuna lagi,
"Coba Ibu tahu itu dulu, mungkin ucap hinaan dan sapaan merendahkan tak akan terlontar yang membuat Salsa memderita, sampai Salsa mati pun mungkin tak akan bisa melupakannya." jawab Arjuna pada mereka berdua dengan nada menyinggungnya,
Mereka berdua seolah tergampar ucapan Anaknya sendiri, malu dan membuat seolah mati kutu akibat ulahnya kala itu.
"Apa Kamu masih ada hati pada Salsa?" tanya Ibu Widia pada Arjuna ingin tahu,
"Kok pertanyaan Ibu tak dijawab," ucap Ibu Widia pada Arjuna dengan rasa penasaran,
"Iya, Bapak pun merasa ingin tahu, jadi bisa menentukan langkah kedepannya." ucap Bapak Wijaya pada Arjuna dengan nada pesimis,
"Ada rasa sekalipun tak akan bisa menghapus penderitaan Salsa, Sudahlah jangan bawa hidup Salsa dalam pelurusan atas kesalahan kalian dulu, Arjuna gak mau tahu." jawab Arjuna pada Mereka berdua dengan tegasnya.
"Maksudnya, Ibu bisa ikut mencarinya untuk Kamu, gitu!" jawab Ibu Widia pada Arjuna menerangkan,
"Ibu gak tahu malu, disaat Salsa tak punya dihina, setelah tahu Kaya malah di cari, Apakah gak ada nurani dalam jiwa Bapak dan Ibu, sampai nurani cinta sesama tak melekat dalam diri, hanya untuk mementingkan ego sendiri." ucap Arjuna pada Kedua Orang Tuanya dengan panjang lebar menjelaskan,
Besuk hari itu adalah hari yang harus mereka menerima segala kesalahan akan kesalahannya dulu, rencana pasang strategi malah menjadi bahan ledekan dan singgungan Anaknya sendiri, betapa ngiris bila kita melihatnya, diam seolah bingung apa yang harus mereka bicarakan, melihat Arjuna selalu menolak dan tak sepaham pada mereka.
Lain hal dengan Yohana, Semenjak menikah dengan Darwis hidupnya lebih berarti dan bahagia, padahal dalam sosok Darwis masih tertanam rasa cinta yang lain dan tak mungkin Ia hilangkan,
__ADS_1
"Say, Aku pergi dulu!" ucap Darwis pada Istrinya Yohana pamit hendak berangkat kerja,
"Ya, hati- hati di jalan." jawab Yohana pada Darwis Suaminya dengan bahagianya.
Biduk berdua dalam satu dekapan, satu keinginan dalam dua kenyataan, yang menoreh rasa ingin untuk memilikinya, lalu menunggu kejujuran yang bisa meluangkan waktu untuk bertemu.
Kehidupan sehari- hari Darwis pun sekarang merasa sangat bahagia, bayangkan yang tadinya hanya ampas dari ujung- ujung kesalahan yang tak bisa berjalan, kini tumbuh menjadi semangat dan tekad untuk berjalan dalam satu makna rasa cinta.
"Ibu dari tadi memperhatikan Yohana, Bukan?" tanya Yohana pada Ibu Gayatri dengan perasaan malu,
"Anak Ibu sudah dewasa sekarang, Ibu senang melihatnya." jawab Ibu Gayatri pada Yohana dengan rasa gembira,
Lalu mereka berdua ngobrol dengan asik dan santainya, cerita tentang Asa bahagia yang semerbak menebar harumnya, canda dan tawa mengirngi mereka yang saling tanya, perubahan demi perubahan membuat dewasa, lalu tumbuh dengan ranting- ranting keutamaan jiwa yang merasa sadar dan merenungi hati.
Dan perkawanan antara Anwar dan Arjuna seakan terpatri merekat dengan rekapan cinta Darwis atas Keponakannya dan setelah kejadian dulu yang menghantam dengan tak mengetahui arah datangnya jiwa- jiwa yang terbelunggu keasikan cinta.
"Wah, Kayaknya Sang problem dulu telah berubah bahagia." ucap Ruslan pada Darwis dengan menatap Sahabatnya datang dengan senyum di bibirnya,
Darwis berhenti sejenak, dengan rasa jiwanya yang terbuai angan cintanya, Lalu segera menjawab,
"Iya, dong! Rugi kalau hidup tak bisa bahagia," jawab Darwis pada Ruslan dengan senangnya,
"Aku senang melihatnya." ucap Ruslan pada Darwis dengan rasa simpatinya yang dalam,
"Semua itu tak lepas dari masukan sang teman yang hebat, Aku sangat beterima kasih padamu, sobat!" jawab Darwis pada Ruslan sambil bercanda,
Tak lama berselang, Anwar pun datang ikut nimbrung dengan mereka,
"Wah, heboh amat kedengarannya," ucap Anwar pada mereka berdua dengan penasaran,
"Biasa lihat Darwis terlihat berbeda, agak gantengan, War!" jawab Ruslan pada Mereka berdua meledek,
"Dari pada mikir yang bukan- bukan, lebih baik sendirian tapi senang." ucap Darwis pada mereka berkelakar sambil tersenyum.
__ADS_1
Alangkah senangnya hidup di antara Orang- Orang yang perduli dan bersimpati pada Kita.