Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Buaian cinta, dan masalah


__ADS_3

   Terlihat Yuli hari itu sudah datang dan berjalan masuk gerbang, Ia begitu letih terlihat, mungkin kurang tidur, dengan wajah sedikit tak bersemangat, lalu Ia menghampiri Davi yang sedang menunggu Salsa datang,


   "Kemana Salsa? Tumben gak barengan hari ini?" tanya Yuli pada Davi dengan penasaran,


   "Ini lagi Aku tunggu, kebetulan hari ini, Aku tak menjemputnya!" jawab Davi pada Yuli seolah acuh tak acuh padanya,


  Dan tak lama Salsa terlihat datang menghampiri dengan tersenyum pada mereka berdua,


   "Met pagi, semua!" ucap Salsa pada mereka dengan rasa segarnya itu,


  Yuli terlihat sedikit agak kikuk, melihat Salsa datang, lalu dengan terpaksa Ia pun menjawabnya,


    "Pagi juga!" jawab Yuli pada Salsa sambil melirik Davi yang berada disebelahnya,


  Melihat Yuli seolah resah atas kedatangannya, Salsa pun lantas bicara pada Davi,


   "Ada apa, kok tumben gak menjemput?" tanya Salsa pada Davi seolah ingin tahu,


  Davi merasa tak enak dalam hatinya, dengan berbohong untuk alasannya, lantas Davi pun menjawabnya,


   "Tadi kesiangan, saking lelapnya tidur!" jawab Davi pada Salsa dengan tertawa lepas,


  Melihat jawaban Davi yang sangat lucu itu, lantas semuanya pun tertawa dengan senangnya itu dan tak lama terdengar bel masuk berbunyi, Tet! Tet! Tet!, Lalu mereka pun akhirnya berhamburan untuk pergi bekerja ke bagiannya masing- masing.


  Davi sambil berjalan masuk, pikirannya seolah sedang pusing dibuatnya, dekapan cinta barunya dengan Ovi, seakan- akan Ia baru terbangun dari tidurnya itu, gejolak perasaan pada Salsa seolah semakin tak sehebat dulu, sebelum bertemu Ovi, hingga Salsa seakan hanya teman, tidak lebih dari itu, di mata Davi dan rasa cintanya itu,


  "Aku akui Salsa memang cantik, Dia wanita yang baik, tapi hati ini seolah mendapatkan tambatan hati yang lebih dari sekedar sosok Salsa, tidak ada ketakutan akan restu orang tua dan gosip miring orang- orang sekeliling, tapi Aku harus bagaimana, mengutarakan pada Salsa, agar dia mengerti seutuhnya itu!" ucap Davi di dalam hatinya sambil bergegas masuk ke ruangannya untuk bekerja.


   Hari itu terlihat Ibu Widia dan Ayah Wijaya sudah bersiap- siap sedari pagi untuk kembali pulang, untuk mengambangi rutinitasnya itu, karena sudah seminggu Mereka menginap di rumah Orang Tuanya itu,


   "Mau pulang jam berapa, Bu?" tanya Ayah Wijaya pada Istrinya itu Widia dengan penasaran,


  Mendengar Suaminya bicara padanya tentang waktu pemberangkatan untuk pulang mereka itu, dengan melirik padanya, lantas Widia pun menjawabnya,


   "Sebentar, Ibu beres- berse dulu, sekalian apa Arjuna sudah siap apa belum, Yah!" jawab Istrinya Widia pada Suaminya dengan bergegas masuk lagi ke dalam kamarnya itu,

__ADS_1


  Lalu terlihat Kakek Hanapi, menghampiri Ayah Wijaya, seraya bicara padanya,


 "Wijaya, kayaknya Arjuna memang jatuh cinta pada temannya Jaenab itu, itu sangat terlihat jelas dari sikap dan keterus terangannya pada Ayah!" ucap Ayah Hanapi pada Wijaya dengan menjelaskannya,


   Wijaya hanya mengangguk pada mertuanya itu, sambil pandangannya terus menatap Mertuanya itu dengan tersenyum, lantas Ia pun menjawabnya,


   "Benar, malah sejak lama Arjuna tak segembira seperti itu, sungguh senang melihatnya!" jawab Ayah Wijaya pada Mertuanya itu Hanapi dengan memberi tahunya itu.


   "Apakah Arjuna akan turut pulang bersamamu, Wijaya?" tanya Hanapi pada menantunya itu Wijaya dengan rasa ingin tahu,


Mendengar Mertuanya bicara seperti itu, lantas dengan rasa bingungnya, Wijaya pun menjawab padanya,


   "Gak tahulah, kalau itu Aku belum tahu, Ayah!" jawab Wijaya pada mertuanya Hanapi dengan rasa gelisahnya itu,


 Mereka berdua akhirnya bercengkrama, menunggu saat berangkat pulang, walau pikiran kegelisahan mereka terpancar dalam guratan wajahnya itu.


  Disaat Ayah Hanapi bercengkrama dengan Menantunya Wijaya, tiba- tiba Jaenab datang dengan tergesa- gesa dan langsung memeluk Ayahnya itu Hanapi, sambil berkata pada Ayahnya itu,


"Maafkan Jaenab, Ayah!" ucap Jaenab pada Ayahnya itu Hanapi,


  Melihat Mertuanya Hanapi dengan Anaknya Jaenab sedang ada sesuatu masalah, lalu dengan diam- diam Wijaya pun meninggalkan mereka, karena merasa tak enak, karena itu ranah keluarga mereka, dan dengan mengangguk pada Ayah Hanapi, Wijaya pun begegas pergi dari situ untuk membiarkan mereka bicara masalahnya itu.


  Setelah Wijaya pergi, Ayah Hanapi pun segera bertanya lagi pada Jaenab, dengan rasa penasaran,


"Tadi Herman berbuat apa sama Kamu, Nab?" tanya Ayah Hanapi pada Jaenab dengan penasaran,


Jaenab terdiam, mendengar Ayahnya itu bertanya tentang Herman padanya, saat itu pula tangis nya semakin kencang terdengar, membuat Ayahnya tak kuasa untuk menahan pilunya itu,


"Jaenab bingung menceritakan dari mana, yang pasti Dia sangat tak menghargai Jaenab, Ayah!" jawab Jaenab pada Ayahnya itu Hanapi dengan sedihnya,


"Sudah jangan bersedih lagi, Ayah telah mengusir Si keparat Herman itu, Ayah muak melihatnya, Sudah jangan menangis lagi, bila seperti itu Ayah pun tak kuasa untuk bersedih, Anakku!" ucap Ayah Hanapi pada Anaknya itu Jaenab dengan merangkulnya dengan Sayang padanya.


 Herman adalah mantan kekasih Jaenab, yang dulu disaat hendak menikah Ia berselingkuh dengan wanita lain, hingga hamil, jadi pernikahannya dengan Jaenab gagal, kini kabarnya Ia datang lagi setelah pisah dari Istrinya itu, dengan tidak menghargai Jaenab untuk cintanya itu.


Tiba- tiba Istrinya Subarkah datang langsung menghampirinya, seraya bicara pada mereka itu,

__ADS_1


"Kenapa tadi Ayah marah- marah pada Herman, Si pecundang itu?" tanya Subarkah pada Suaminya Hanapi dengan rasa ingin tahunya itu,


Ayah Hanapi segera melirik Istrinya Subarkah, dengan wajah sedihnya itu, lantas Ia pun langsung menjawabnya,


"Ayah Usir si bedebah itu dari sini, walapun Ia pergi dengan mengancam, pada semua yang mendekati Jaenab, termasuk Desta, Bu!" jawab Ayah Hanapi pada Istrinya Subarkah dengan memberi tahunya itu,


Mendengar ucapan Hanapi Suaminya itu, lantas Pikiran Subarkah Istrinya menjadi berpikir tentang tragedi pengeroyokan Desta itu, lalu Ia pun bicara lagi,


"Jangan- jangan yang mengeroyok Desta itu adalah Herman, Pak?" tanya Subarkah pada Hanapi dengan rasa penasaran dalam otaknya itu,


Hanapi mengangguk- angguk pada Istrinya itu Subarkah, dalam pikirannya Ia mengkaji ucapan Istrinya itu, dengan pendengaran Dia disaat Herman mengancamnya,


"Pantas saja Santi tidak mengakuinya, orang yang melakukan semua ini adalah Herman, tidak salah lagi pasti Dia, Bu!" jawab Hanapi pada Istrinya Subarkah dengan antusiasnya bicara,


"Karena tadi Dia bilang begitu, mungkin karena emosi, Ia keceplosan bicara seperti itu, Bu!" ucap Hanapi lagi pada Subarkah Istrinya dengan tegangnya itu,


"Apa Kamu pun tahu tentang ini, Nab?" tanya Ibunya Subarkah pada Anaknya itu Jaenab,


Mendengar Ibunya bicara, lantas Jaenab pun mengangguk sambil menjawabnya,


"Tadi Dia pun bicara pada Jaenab, Bu!" jawab Jaenab pada Ibunya Subarkah dengan menegaskannya,


Mereka bertiga seolah dalam suasana resah dan bimbang, masalah Desta ini adalah momok yang harus diselesaikan dengan segera,


"Setelah tahu ini, lalu Kita harus bagaimana, Ayah?" tanya Subarkah pada Suaminya Hanapi dengan rasa kebingungannya,


"Soalnya Rosid dan Sony sedang mencari Informasi tentang ini, jika kita tutupi itu salah besar, kita beri tahu pada mereka, setelah ada waktu yang tepat untuk mengutarakannya, Bu!" jawab Hanapi pada Subarkah dengan rasa gelisah dalam dirinya itu,


"Pokoknya Ayah harus ke sana, beri tahu informasi ini pada mereka itu, lalu terserah apa yang akan mereka lakukan pada Herman itu!" ucap Ibu Subarkah pada Suaminya itu Hanapi dengan jengkelnya itu,


Lalu dengan tiba- tiba Jaenab bicara pada mereka, sambil menangis sendu,


"Betul ucapan Ibu itu, Jaenab sangat setuju sekali, Bu!" ucap Jaenab pada Ibunya itu Subarkah pula.


  Lalu mereka pun tersadar, bahwa Anaknya Widia dan keluarganya hendak pulang hari ini, akhirnya, Ibu Subarkah pun bergegas pergi kekamar Anaknya itu Widia, untuk membantu membereskan barang- barang yang akan dibawanya untuk pulang itu,

__ADS_1


__ADS_2